
Ketika sedang berbicara tatapan mata Winda mengarah pada jambu biji di atas pohon, serasa melambai-lambai minta dipetik.
{ Itu jambu sudah masak, tapi buahnya di pucuk } batin Winda.
Winda mengabaikan sesaat, tetapi mata melirik kembali.
{ Kok sayang, gak dipetik, busuk percuma nanti } batin Winda.
Nansi menyadari perubahan sikap Winda.
" Lihat apa sih ? Dari tadi lirik-lirik Mulu ke atas ? " tanya Nansi.
" Itu yang di atas pohon " jawab Winda.
" Di atas pohon...??? " Nansi salah tanggap.
" Itu di atas pohon, melambai-lambai " kata Winda.
{ Di atas pohon ? melambai-lambai ? jangan-jangan Winda ? } batin Nansi.
Winda hanya melihat ke arah pohon jambu biji, sementara Nansi sudah mulai berfikir yang tidak-tidak.
" Kamu lihat apa Win ? Di atas pohon ada apa ? " tanya Nansi.
" Itu nah, masa kamu gak lihat " Winda sambil menunjuk.
" Ada apa...??? " tanya Nansi.
" Itu loh...( menunjuk ). Ada buah jambu masak tepat di ujung " kata Winda sambil mengarahkan telunjuknya ke atas.
" Dari tadi kamu lihatin jambu ? " Nansi dengan nada tinggi.
" Iya " jawab Winda.
" Kenapa kamu bilang melambai-lambai ? " Nansi masih sedikit heran.
" Melambai-lambai minta dipetik " jawab Winda datar.
{ Oh... Tuhan... aku yang salah paham rupanya. Kirain ? } batin Nansi merasa lega bercampur sedikit kesal.
Winda berdiri melihat ke sekitar, memastikan kondisi dan situasi aman.
" Mau ngapain ? " tanya Nansi melihat gelagat Winda.
" Kamu awasi ya, kalau-kalau ada murid lainnya lewat. Aku mau panjat, gatal tanganku kalau gak petik itu jambu " kata Winda.
" Ehh...( menarik baju Winda ) sadar diri, kamu pakai rok. Yang benar saja mau panjat-panjat" kata Nansi mengingatkan.
" Aman. Aku pakai celana dalaman kok. Tenang saja, kamu jaga sini ya, nanti aku bagi jambunya " kata Winda.
" Win... Win... jambunya di atas betul itu loh " kata Nansi.
" Sudah diam, jangan berisik. Aku sudah sering panjat " kata Winda.
Winda mengeyel tetap naik ke atas pohon walau pun sudah diperingatkan oleh Nansi. Winda memanjat dengan sangat lancar.
{ Wahh... hebat juga Winda panjat } batin Nansi.
Sesampainya di atas, Winda segera memetik buah jambu tersebut.
" Nansi...!!! Siap-siap ya, tangkap " Winda melemparkan sebuah jambu biji kepada Nansi.
" Hati-hati Win, baik-baik jatuh " kata Nansi.
" HEH...!!! MULUT...!!! Malah ngatain jatuh " kata Winda.
" Aku bilang hati-hati Winda, awas jatuh " Nansi mengulangi ucapannya.
" Iya... iya... ini juga sudah hati-hati " jawab Winda.
Nansi begitu fokus melihat ke arah Winda, sampai tidak menyadari ada orang sudah berdiri di belakangnya.
Nansi menoleh saat merasakan sebuah tepukan halus di pundaknya dan langsung diberi isyarat untuk diam.
{ Astaga...!!! kak...??? } batin Nansi.
" Lihat-lihat sekitar Nansi, siapa tau ada yang datang. Sedikit... lagi..." Winda berusaha memetik jambu namun tangannya tidak sampai.
" Perlu bantuan...??? " kata Rey.
Seketika Winda langsung menoleh karena itu bukan suara Nansi dan bukan hanya seorang tapi ada tiga orang senior laki-laki sedang melihat ke arah Winda. Sangking terkejutnya Winda terdiam beberapa saat tidak berani bergerak.
" Hai...!!! kak...!!! " Winda menyapa dari atas pohon.
__ADS_1
" Kamu ngapain ? Sampai panjat-panjat pohon segala ? " tanya Rey.
" Keren loh, biar cewek tapi pintar manjat " kata Juan.
" Cepat turun " perintah Niko.
" Iya kak, aku turun " jawab Winda.
Saat Winda mau turun, dirinya kebingungan cari tempat pijakan.
{ Tadi... aku naik, ranting mana yang aku injak ? } batin Winda.
" Apa yang kamu tunggu, cepat turun " perintah Niko.
" Jangan bilang, bisa naik tapi gak bisa turun ? " kata Rey.
" Bisa kok kak, tapi... aku bingung, tadi... aku injak ranting yang mana ya pas naik, dari atas kelihatan jauh-jauh rantingnya " kata Winda.
Seketika justru disambut gelak tawa termasuk juga Nansi.
" Hahahaha "
" Sok-sokan panjat tapi malah gak bisa turun " ledek Rey.
" Sudah, lompat saja " kata Juan.
" Tinggi itu, sembarangan kamu ini " kata Niko menyenggol Juan.
" Coba kamu ingat-ingat, tadi kamu injak yang mana " sambung Niko.
" Bismillahirrahmanirrahim " gumam Winda lirih.
Dengan langkah pelan Winda mulai turun dari pohon, sesekali berhenti mengamati tempat kaki berpijak. Akhirnya sampai tanah juga.
" Kamu ngapain, sampai panjat ? Kalau jatuh tadi bagaimana ? " Niko menyambut dengan omelan.
" Petik jambu lah kak " kata Winda.
" Untung kami yang datang, kalau yang lain ? apalagi kalau guru repot urusannya loh " kata Rey.
" Iya kak maaf " jawab Winda lirih.
" Sudah dapat berapa jambunya ? " tanya Juan.
" Baru dapat satu kak. Itu dipegang Nansi " Winda sambil menunjuk.
" Gak sampai lah kak " kata Winda.
" Makanya berdiri " ledek Rey.
" Iihhss... kak Rey ini... mentang-mentang tinggi " kata Winda.
" Yang mana sih ? " tanya Niko.
" Itu loh kak, yang di atas itu " Winda sambil menunjuk.
" Tunggu ya, aku petik kan " kata Niko.
" Iya kak " jawab Winda girang.
Tentu saja saat Niko yang memetik hanya memerlukan waktu yang sangat cepat, tidak sampai satu menit, Niko sudah menginjak tanah lagi.
" Ini " Niko memberikan buah jambu pada Winda.
" Makasih kak " jawab Winda.
" Lain kali, jangan panjat, MENGERTI ! " Niko memperingati.
" Iya kak, gak akan diulangi lagi " jawab Winda.
" Nansi, harusnya kamu melarangnya " kata Niko mengarah pada Nansi.
" Sudah kak. Sudah aku larang tapi Winda tetap naik " jawab Nansi.
" Lucu juga ya, ada orang bisa naik tapi saat turun bingung. Baru kali ini aku lihat " ledek Rey.
" Jadi ingat, saat pertama ketemuan. Waktu itu kan juga gara-gara buah jambu, Winda ke tempat ini. Dia dulu juga bilang mau manjat, iyakan ? " Juan menceritakan kisah lama.
" Iya juga ya. Ya ampun Winda, sepertinya kamu terikat dengan tempat ini " kata Rey.
" Terikat gimana ? " Winda tidak paham.
" Kamu tau tempat ini keramat loh " kata Rey.
__ADS_1
" Apalagi di pohon jambu " sambung Juan.
" Ada apa kak ? " Nansi ingin tau.
" Tempat ini ada penunggunya. Sekali kamu datang ke tempat ini, kamu bakalan nyaman dan selalu ingin balik ke sini lagi " kata Rey.
" Masa sih kak ? " Nansi menanggapi serius.
" Coba aku tanya, sudah berapa kali kamu ke tempat ini ? " tanya Juan.
" Aku sudah yang kedua kali, diajak Winda " kata Nansi.
" Tuchh... kan..." kata Juan.
" Hati-hati Nansi " kata Rey menakut-nakuti.
Winda merasa ada yang tak beres ini, Winda menatap Niko seolah-olah bertanya lewat telepati. Aneh bin ajaib Niko paham tatapan mata Winda, karena Niko membalas dengan gerakan bibir • jangan percaya• dan Winda pun paham juga.
" Masa sih kak ? " Nansi mulai percaya.
" Tapi tenang saja. Penunggunya baik kok, makanya kamu nyaman dan selalu ingin duduk bercerita di tempat ini " kata Rey.
" Jadi tenang, auranya positif kok " sambung Juan menyakinkan.
" Yang benar kak ? " Nansi percaya.
Pandangan mata Nansi mulai celingak-celinguk melihat ke segala penjuru dan saat melihat pohon jambu, bulu kuduk tiba-tiba berdiri dan mulai keluar keringat dingin.
" Winda balik yuk...!!! " Nansi menarik tangan Winda.
" Tapi Nansi...!!! " kata Winda.
" Sudah yuk...!!! balik yuk...!!! Sudah mau masuk kelas juga ini. Ayo...balik...!!! " Nansi mulai paranoid.
" Bener tuh, lebih baik kalian balik kelas saja" kata Juan.
" Ayo Winda...!!! " Nansi mulai tidak sabar.
" Baiklah. Makasih ya kak Niko. Kami kembali ke kelas dulu. Bye...bye... " Winda berpamitan.
Dengan langkah cepat Nansi menarik Winda untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Para senior yang berhasil mengerjai, tertawa dengan riang atas tipu muslihatnya.
" Astaga... mereka percaya dong " kata Rey.
" Lihat tampangnya Nansi, kasihan sampai ketakutan dia " kata Juan tak kalah girang.
" Kalian ini " kata Niko tidak bisa berkomentar lagi.
Sementara Nansi terus saja melangkah dengan cepat agar segera sampai di dalam kelas.
" Nansi...!!! " panggil Winda.
" Kamu kok, gak takut sih Win ? Kalau beneran ada, bagaimana ? " kata Nansi sedikit panik.
" Nansi...!!! gak ada yang perlu ditakutkan " kata Winda.
" Kalau penunggunya ikut bagaimana ? Nih buah jambunya buat kamu semua saja " kata Nansi menyerahkan jambu biji.
" Nansi...!!! Kamu dikerjain kak Rey dan kak Juan. Mereka berdua berbohong, itu cuma karangan saja, cerita yang dibuat-buat untuk menakuti kita saja " kata Winda.
" Dari mana kamu tau ? " tanya Nansi.
" Dari kak Niko " jawab Winda.
" Kapan, kak Niko kasih tau ? Perasaan kak Niko diam saja " kata Nansi.
" Tadi... saat kamu fokus mendengarkan kak Rey dan kak Juan. Kak Niko kasih tau lewat gerakan bibirnya " kata Winda.
" Masa sih...??? " tanya Nansi.
" Bener, itu cuma bohong " jawab Winda.
" Tapi... tadi kedengarannya seperti betulan " kata Nansi.
" Percaya saja ke aku, kamu dikerjain " kata Winda.
Winda mengusap pundak Nansi untuk menyakinkan bahwa cerita barusan itu karangan saja.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗