
Saat sampai di rumah, tatapan Winda tertuju pada sebuah motor yang terparkir di depan rumah.
" Assalamualaikum " Winda mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam. Baru pulang dek ? " kata Bagas.
" Iya kak, habis mengerjakan tugas kelompok di rumah teman " kata Winda.
" Gak dijemput Mas mu ? " tanya Bagas.
" Enggak. Aku naik ojek kak, ke sini dengan Mbak Wika, kak ? " tanya Winda.
" Iya. Mbak mu ada di dapur " kata Bagas.
" Aku ke belakang dulu ya kak " kata Winda.
Bagas merupakan suami dari kakak perempuan yang bernama Wika, semenjak menikah mereka tinggal di rumah yang terpisah, tidak terlalu jauh dan sesekali berkunjung kalau tidak sibuk.
" Mbak Wika...!!! " Winda menyapa.
" Kamu dari mana Win ? " tanya Wika.
" Habis mengerjakan tugas kelompok di rumah teman " jawab Winda.
" Rumah teman mu jauh ? " tanya Wika.
" Gak kok, dekat saja. Di jalan Irian dekat pasar " jawab Winda.
" Teman sekelas ? " tanya Wika.
" Ya jelas dong Mbak sekelas, namanya saja tugas kelompok, masa iya beda kelas, gimana ceritanya ? " kata Winda.
" Ya... kali saja " kata Wika.
" Mbak dengan kak Bagas, mau bermalam di sinikah ? " tanya Winda.
" Enggak. Rencananya nanti malam pulang " kata Wika.
" Kenapa gak menginap saja Mbak ? Besok kan hari minggu, kak Bagas pasti libur kan, gak kerja " kata Winda.
" Memang iya, tapi... besok di lingkungan Mbak, ada kegiatan harus ikut. Contoh warga yang baik " kata Wika.
" Iya lah. Asyik nih...!!! Makan malam Mbak yang masak, sudah lama gak makan masakannya Mbak " kata Winda.
" Sudah sana, cepat mandi. Sebentar lagi magrib tuh " perintah Wika.
" Iya Mbak. Ini juga mau mandi kok " jawab Winda.
Pada malam harinya setelah makan malam bareng, sekeluarga duduk di ruang tengah sambil menonton TV kecuali Widi.
Widi keluar kamar dengan setelan yang sangat rapi dan tercium bau parfum menyebar di seluruh ruangan.
" Mas Widi pakai parfum disemprot apa dituang ke baju sih ? baunya langsung menyebar " kata Winda.
" Mau kemana Wid ? " tanya Wika.
" Biasa Mbak, malam mingguan " jawab Widi.
" Ngapelin pacar nya lah itu, apalagi " ledek Winda.
Widi melebarkan tatapan matanya ke arah Winda.
" Pulangnya jangan terlalu malam, dengar-dengar akan ada razia, biar pun lengkap, lebih baik jangan pulang larut " kata Bagas memperingatkan.
" Iya kak. Pergi dulu. Assalamualaikum " Widi berpamitan.
" Waalaikumsalam " menjawab serentak.
Suasana kembali diam, semua pandangan terfokus pada layar TV.
" Aduh...! aku lupa...! " Winda teringat sesuatu.
" Gene nduk ( kenapa nak ) ? " tanya Bapak.
" Lupa isi pulsa Pak. Pulsaku hari ini habis, keblokir lagi nanti nomerku kan sayang " kata Winda bergegas ke kamar.
Beberapa saat kemudian Winda keluar dari kamar, namun saat hendak mau pergi.
" Dek...!!! " panggil Bagas.
" Iya kak ? " jawab Winda.
" Ganti pakaian mu " kata Bagas.
" Pakaian ku...??? Kenapa memangnya ? " gumam Winda lirih.
__ADS_1
" Ke kamar ganti celana mu dan pakai jaket " kata Bagas.
" Tapi kak, cuma ke konter depan, gak terlalu jauh " kata Winda.
" Ganti....!!! " kata Bagas.
" Ta...( berfikir sejenak ). Baik kak " Winda mengalah.
Winda masuk ke kamar kembali untuk mengganti celananya dengan yang panjang. Winda tersenyum lebar, mengingat kejadian barusan, padahal dirinya memakai celana selutut tapi disuruh ganti.
Sebelum keluar kamar, tak lupa Winda mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar.
" Aku pergi dulu " Winda berpamitan.
Sesampainya di pintu depan, Winda dipanggil kembali oleh kakak perempuan nya.
" Dek Win...!!! " panggil Wika.
" Kenapa lagi kak ? Eh... Mbak Wika, kirain kak Bagas tadi " Winda salah mengira.
" Bisanya, emang suaranya Mbak sama kak Bagas mirip ? " protes Wika.
" Maaf. Kenapa Mbak ? " tanya Winda.
" Mau beli pulsa ? Ada uangnya ? " tanya Wika.
" Ada dong, kenapa ? Mbak Wika mau kasih aku uang kah ? " Winda godain sang kakak perempuan.
" Enggak, cuma tanya " kata Wika.
" Iiiss... kirain mau kasih, cuma tanya doang " Winda kecewa.
" Bercanda dek...!!! ( tertawa kecil ). Nih... untuk uang jajan " Wika menyodorkan uang seratus ribu.
" Wuuiihh.... seratus ribu dong. Kesambet malaikat mana nih Mbak ? " kata Winda.
" Malah ngatai...!!! SINI KEMBALIKAN..." kata Wika.
" Eh...eh...eh...!!! ( langsung memasukkan ke kantong jaket ). Sudah dikasihkan masa diminta lagi, makasih ya Mbak " kata Winda.
" Sama-sama. Jangan boros loh ya " Wika mengingatkan.
" Iya Mbak Wika " jawab Winda.
" Iya Mbak. Assalamualaikum " Winda mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam " jawab Wika.
sepeninggalan Winda pergi, Bagas menghampiri sang istri.
" Wiwin marah kah ? " tanya Bagas.
" Enggak, dia santai saja tuh " jawab Wika.
" Baguslah, kirain dia marah tadi, soalnya aku rada keras tadi tegurnya " kata Bagas.
" Kak Bagas ini, tidak hafal Wiwin saja " kata Wika.
" Kalau di rumah gak apa-apa berpakaian seperti itu, tapi... kalau ke luar rumah, ya jangan. Wiwin sudah besar, sudah gadis, mana boleh " kata Bagas.
" Iya. Tenang saja Wiwin paham itu, gak akan. diulangi lagi " kata Wika menyakinkan suami nya.
Ibu keluar dengan sekantong plastik penuh, entah berisi apa saja di dalamnya. Bagas dan Wika hanya tersenyum lebar, sudah hafal kebiasaan sang Ibu bagaimana.
" Ini nanti kamu bawa pulang ya nduk " kata Ibu.
" Bu... kurang banyak " kata Wika.
" Masih itu di belakang kalau kurang. Sampai rumah cepat masukkan kulkas, ada ikan di dalamnya " kata Ibu.
" Kenapa repot-repot Bu..." kata Bagas.
" Tadi di pasar, ada yang jual ikan keliling masih segar-segar trus besar-besar lagi ditambah harganya di kasih murah, lumayan kan " kata Ibu.
Wika memandang sang suami, tersenyum lebar.
" Makasih Bu...!!! " kata Wika.
" Arep muleh saiki nduk ( mau pulang sekarang nak ) ? " tanya Bapak.
" Injeh Pak ( iya Pak ) " jawab Wika.
" Ora muleh sesuk wae ( tidak pulang besar saja ) " kata Bapak.
" Mboten saget Pak, benjeng enten kegiatan ( Tidak bisa Pak, besok ada kegiatan ) " kata Wika.
__ADS_1
" Kegiatan apa Lee " tanya Bapak ke Bagas.
Tole dalam bahasa jawa adalah panggilan untuk anak laki-laki, bisa disingkat juga Lee.
" Kerja bakti warga Pak " jawab Bagas.
" Kapan-kapan lagi kita main ke sini " kata Wika.
" Ya sudah. Hati-hati ya...!!! " kata Ibu.
Bagas dan Wika secara bergantian salim kepada Ibu dan Bapak, setelah berpamitan mereka pun segera pergi.
" Assalamualaikum " mereka berpamitan.
" Waalaikumsalam " menjawab salam.
Setelah beberapa saat Bagas dan Wika pergi, datang Winda dari konter. Melihat dengan heran, karena motor kakaknya tidak ada di halaman depan rumah.
" Assalamualaikum ( mengucapkan salam ). Bu... Kak Bagas dan Mbak Wika kemana ? Sudah pulang ? " tanya Winda.
" Iya sudah pulang, belum lama " jawab Ibu.
" Iihh buru-buru banget pulangnya, baru jam berapa juga " kata Winda.
" Kak Bagas mu, capek. Pulang kerja langsung datang ke sini, besok juga ada kerja bakti di sana " Ibu menjelaskan.
" Iya sih tadi Mbak Wika sudah bilang, kalau gak bisa menginap, tapi aku kira pulangnya rada malam gitu, gak secepat ini " kata Winda.
" Di kandani opo karo Mbak mu ( Di kasih tau apa sama Mbak mu ) ? " tanya Bapak.
" Gak ada Pak. Cuma di kasih uang saja " jawab Winda.
" Di kei duet, piro ( dikasih uang, berapa ) ? " tanya Bapak.
" Seratus ribu Pak " jawab Winda.
" Biyuh-biyuh okeh men ( Aduh-aduh banyak betul ) " kata Bapak.
" Senin, gak dikasih uang jajan ya " kata Ibu.
" Ehhh...!!! Gak bisa dong Bu " protes Winda.
" Lah...!!! Sudah dikasih uang jajan sama Mbak mu kan ? Berarti senin gak usah ditambah lagi " kata Ibu.
" Ya gak bisa gitu dong Bu, ini curang namanya " kata Winda.
" Yo ra curang toh ( ya gak curang dong )" kata Ibu.
" Haaiiss...!!! Tau gitu, tadi aku gak ngomong " kata Winda cemberut.
" Sudah terlanjur, salah sendiri " kata Ibu.
" Bapak sih, pakai tanya...!!! " Winda menyalahkan Bapak nya.
" Kok Bapak sing disalahne ( Kenapa Bapak yang disalahkan ) ? " kata Bapak.
" Haaiiss... rugi aku...!!! " Winda sedikit kesal.
Winda duduk di dekat sang Bapak dengan wajah yang cemberut.
" Sesuk Bapak wei ( besok Bapak kasih ) " Bapak berbisik pada Winda.
Sebelum Winda menjawab buru-buru Bapak memberi kode untuk diam, tidak bereaksi yang menimbulkan kecurigaan Ibu nya.
" Kalau mau dapat uang tambahan, besok bantu di pasar. Gimana mau gak ? " kata Ibu memberi ide.
" Beneran Bu ? Di kasih lebih ya ? " Winda menawar.
" Iya, Ibu kasih lebih. Dari pagi sampai sore " kata Ibu.
" Ok. Siapa takut " jawab Winda.
{ Asyik bakalan dapat uang double-double ini} batin Winda.
.
.
.
( bersambung )
**Siapa yang punya orang tua seperti Winda ?
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗**
__ADS_1