
Hari ini janjian mau mengerjakan tugas kelompok di rumah Vera, namanya tugas kelompok ya sudah pasti dikerjakan rame-rame tapi...???
" Kemana sih mereka semua ini ? Jam segini belum pada muncul, jam karet nih..." gumam Winda kesal.
Winda memperhatikan jalan, belum ada tanda-tanda teman-teman yang lainnya muncul.
" Pada kemana sih ? Aku kan, belum tau rumah Vera yang mana ? " gerutu Winda sendirian.
Mata Winda berbinar saat melihat Echa dari kejauhan dengan mengendarai motornya.
" Nah... akhirnya, sampai juga kalian berdua. Lumutan aku kelamaan nunggu " Winda langsung mengomel.
" Ya maaf...!!! Nih jemput Mala dulu " kata Echa.
" Rumah Vera yang mana ? " tanya Nirmala.
" Aku juga gak tau. Vera gak jelas, di teleponin dari tadi belum diangkat-angkat " kata Winda.
" Katanya sih dari jalan utama masuk gang, trus nanti di dalam ada gang lagi. Pertanyaan, ada berapa gang di dalam gang ? " Echa malah bercanda.
" Gak lucu Cha...!!! " jawab Nirmala.
" Ehh... bener, begitu Vera bilang " kata Echa.
" Kamu ke sini ngojek, Win ? " tanya Nirmala.
" Iyalah. Emang mau naik apa lagi. Coba kamu, gantian telepon si Vera, ntar masuk, nyasar lagi " kata Winda.
" Nah... itu Vera...!!! " Nirmala menunjuk.
" Mana...??? " tanya Echa.
" Itu nah, yang bawa motor " Nirmala menunjuk.
" Yakin itu Vera ? " Winda tidak percaya.
" Kayaknya memang Vera deh " kata Echa.
Dan benar saja itu Vera, Winda mengamati dengan seksama masih tidak percaya, kalau orang dihadapannya adalah Vera.
" Hai...!!! Sudah lama ? " Vera turun dari motornya.
" Vera...??? " tanya Winda sambil menatap dengan heran.
" Iya ini aku, kamu pikir siapa ? " jawab Vera.
" Kamu kok...??? " Winda masih bingung.
" Kenapa sih ??? " Vera juga bingung.
" Kenapa Win...? " tanya Nirmala.
" Pangling saja, dia gak pakai jilbab " kata Winda menjelaskan.
" Ohhh... kirain. Aku juga gak pakai " kata Echa membuka helm dan tudung jaketnya.
Dan benar saja, rambut Echa yang panjang menjuntai, terpampang dengan jelas.
Winda benar-benar terkejut melihat Vera dan Echa yang tidak mengenakan jilbab, karena sangat berbeda dari biasanya saat di sekolah.
" Kenapa ? Aneh ? " tanya Echa.
" Bukan aneh, hanya beda saja " jawab Winda.
Nirmala ikutan membuka helm dan ternyata sama, Nirmala juga tidak mengenakan jilbab. Mata Winda bergantian memandang ketiga teman sekelasnya.
" Kalian beneran tampak beda " kata Winda menatap bergantian.
" Apanya yang beda ? perasaan sama saja " kata Nirmala.
" Kalian, apa... gak dimarah ? Keluar gak pakai jilbab ? " tanya Winda.
" Siapa yang marah ? " tanya Vera.
" Orang tua kalian " jawab Winda.
" Ya gak lah. Ngapain marah " kata Echa.
__ADS_1
" Cuma Sekolah saja pakai jilbab, di luar sekolah gak pakai " kata Nirmala menjelang.
" Ohhh gitu... ternyata, pantas...!!! " kata Winda mengerti.
" Ini, mau sampai kapan kita di sini ? Gak jadi ke rumah ku ? " Vera mengalihkan pembicaraan.
" Oh iya maaf. Habis kalian beneran bikin pangling " kata Winda.
" Ayo naik Win " perintah Vera.
" OK " Winda segera duduk dibelakang Vera.
Setelah beberapa saat berkendara, mereka pun berhenti di halaman sebuah rumah yang cukup padat penduduk.
" Ini rumah mu Ver ? " tanya Winda turun dari motor.
" Iya. Yang sebelahnya, kalau ini rumah sepupu " kata Vera sambil menunjuk.
" Lalu kenapa kita parkir di sini ? " tanya Echa.
" Biar adem. Kan, ada pohonnya " jawab Vera.
" Kalau dimarah, bagaimana ? " tanya Nirmala.
" Gak akan. Sudah. Ayo...!!! " Vera berjalan duluan.
" Assalamualaikum " Kami serentak mengucapkan salam sebelum memasuki rumah Vera dan saat masuk, sudah disiapkan hidangan oleh orang tua Vera, terlihat jelas karena ada minuman dan camilan.
" Ayo duduk...!!! " kata Vera.
" Ini...??? " Winda sambil menunjuk hidangan di meja.
" Mamaku yang nyiapin " kata Vera.
" Pakai repot-repot Ver...!!! " kata Echa.
" Keluar kan saja semua Ver, senang hati aku makan " kata Nirmala.
" Mamaku gitu, setelah aku bilang ada temanku mau datang, langsung disiapin " kata Vera.
" Ayo... kita kerjakan tugasnya sambil makan" kata Vera.
Mereka berempat segera mengeluarkan buku dan mulai mengerjakan tugas kelompok, sambil sesekali menikmati makanan dan minuman.
Waktu menunjukkan jam lima sore, saat mereka selesai mengerjakan tugasnya.
" Akhirnya selesai...!!! " Vera meregangkan tubuhnya.
" Eh sudah sore juga, ternyata " kata Nirmala saat melihat jam.
" Oh ya Win, kamu pulangnya ngojek juga ? " tanya Echa.
" Rencananya sih di jemput kakakku tapi... gak tau ini. Sudah kirim pesan belum dibalas kakak ku " kata Winda.
" Mau aku antar saja ? " tanya Vera.
" Gak usah, aku tunggu kakak ku saja di jalan yang tadi, biar gampang carinya " jawab Winda.
" Ya sudah. Kita langsung pulang saja, sudah sore ini " kata Nirmala selesai membereskan buku-bukunya.
" Kita duluan ya Win...!!! Kita pulang ya Ver, sampai ketemu besok di sekolah " Echa berpamitan.
" OK " kata Vera.
" Aku antar ke jalan depan ? " sambung Vera pada Winda.
" Gak usah aku jalan saja. Ini kakak ku dalam perjalanan " kata Winda.
" Biar cepat...!!! " kata Vera.
" Gak usah, takutnya nanti malah simpangan jalan, repot kan jadinya " kata Winda menolak tawaran Vera.
" Beneran ? " tanya Vera.
" Iya, sudah ya aku pulang. Assalamualaikum" kata Winda.
" Waalaikumsalam " jawab Vera.
__ADS_1
Winda berjalan keluar gang menuju jalan utama, di pertengahan jalan dirinya mendapatkan pesan. Seketika raut wajahnya menjadi kesal, saat membaca pesan tersebut.
" Sialan...!!! Katanya di jalan, tiba-tiba gak bisa. Pasti Amel lagi " kata Winda mengomel sendirian.
" Awas saja nanti sampai rumah " sambung Winda benar-benar kesal.
Winda melihat kanan dan kiri, banyak motor berlalu lalang tapi... tukang ojek tidak terlihat satu pun.
" Ojek... mbak...??? "
Winda tidak segera menjawab, dirinya justru mengamati dari bawah sampai atas. Dilihat dari motor dan penampilannya sangat tidak mungkin kalau tukang ojek.
" Mbak...??? Perlu ojek gak...??? " mengulangi lagi.
" Oh iya mas. Antar ke jalan Jawa, nanti saya arahkan lagi " kata Winda.
" Nih... pakai helm dulu, biar aman "
Sepanjang jalan Winda terus diam, sambil mengamati tukang ojek yang membawanya, dirinya masih bertanya-tanya beneran tukang ojek atau bukan...???
" Kenapa mbak ? Ngeliatin terus ? " sadar kalau sedang diperhatikan Winda.
" Mas... terlalu rapi sebagai tukang ojek " kata Winda.
" Emang tukang ojek, penampilannya bagaimana ? "
" Ya gitulah, pada umumnya " kata Winda.
" Memangnya ? Aku gak pada umumnya ? "
" Iya. Eh...??? bukan...!!! Maksudku Mas penampilannya lebih rapi dan modis " kata Winda.
" Gak pantas kah ? "
" Bagus kok, kalau semua tukang ojek seperti Mas, pasti banyak beralih naik ojek " kata Winda.
" Ini kita sudah sampai jalan Jawa "
" Perempatan depan, lurus saja ada gang sebelah kanan, berhenti di situ saja " Winda memberikan arah.
" OK "
Motor berhenti sesuai arahan yang diberikan Winda.
" Gang ini...? Aku sering antar penumpang di gang ini "
" Benarkah ? " tanya Winda.
" Gak sering banget sih. Ibu-ibu paruh baya, biasanya bawa keranjang, isinya mie... kalau gak salah "
" Di antar ke pasar ? " tanya Winda.
" Iya "
Winda tersenyum mendengarnya.
" Mbak kenal ? "
" Tentu saja, kenal baik. Berapa Mas ? " kata Winda.
" Harga biasanya "
" Nih ( memberi uang pas ). Makasih ya Mas" kata Winda.
" Sama-sama "
Setelah itupun Winda berbalik dan melangkah pergi. Winda benar-benar terkejut ada orang masih muda dan ganteng, tapi mau bekerja jadi tukang ojek, benar-benar langka.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1