Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 4 Senior


__ADS_3

Pada saat MOS ada acara sesi meminta tanda tangan para senior kakak kelas. Winda mengamati sekelilingnya.


Senior yang dianggap ganteng dan cantik, banyak sekali yang mengantri dan ditambah lagi ada perintah aneh-aneh.


Sebagai ganti tanda tangan, senior memberi syarat aneh-aneh, ada yang disuruh menyanyi, menari, cari bunga, digombalin, cari rumput, cari ini, cari itu dan banyak lagi.


Winda melihat bukunya, masih kosong, tidak ada satupun tanda tangan seniornya. Winda menghela napas panjang dan memutuskan untuk pergi saja, melihat-lihat lingkungan sekolah.


Teman-teman yang lainnya sibuk meminta tanda tangan, Winda justru jalan-jalan, melihat-lihat setiap sudut sekolah. Dirinya benar-benar kagum melihat bangunan sekolah yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik.


Saat berjalan-jalan pandangan Winda tertuju pada sebuah pohon jambu biji, bibirnya tersenyum lebar saat mendapati sebuah jambu biji yang sudah matang.


Tanpa pikir panjang, Winda mendekatinya hendak memetiknya, namun langkah Winda seketika terhenti, saat melihat empat senior sedang duduk.


Pandangan mata saling bertemu, sudah sangat tidak mungkin bagi Winda untuk berbalik dan pergi.


" Wah ada junior baru...!!! "


" Coba aku lihat "


" Siapa namamu ? "


Sangking gugupnya Winda terdiam tidak menjawabnya.


" Winda Rahayu, Tata Busana "


" Sayang sekali, bukan junior jurusan kita "


Pandangan Winda terus tertunduk, tidak berani menatap para senior yang ada dihadapannya dengan sengaja.


" Hei...!!! Ada kotoran di rambutmu "


" Hah...!!! Iyakah...??? Dimana...??? " Winda seketika mengangkat wajahnya.


Para senior di hadapannya tertawa melihat tingkah Winda yang kena tipu, Winda tersenyum malu saat sadar kalau kena tipu.


" Kamu terus melihat ke bawah sih ! "


" Maaf kak " kata Winda.


" Ohh... sudah sesi tanda tangan ya ? "


" Coba aku lihat " mengambil buku dari tangan Winda.


" Ehh... masih kosong "


" Belum ada tanda tangan sama sekali "


" Sini aku tanda tangani. Berikan penamu "


Winda memperhatikan saat para senior memberikan tanda tangan di bukunya.


" Ini bukumu. Sekarang sudah ada empat tanda tangan "


" Terima kasih kak " kata Winda.


" Panggil aku Noel " Noel memperkenalkan diri.


" Aku Rey " Rey memperkenalkan diri.


" Aku Juan " Juan memperkenalkan diri.


" Nikolas, panggil saja Niko " Niko memperkenalkan diri.


" Winda Rahayu, seperti nama orang Jawa. Iya gak sih ? " kata Noel.


" Saya memang keturunan orang Jawa kak. Orang tua saya keduanya Jawa asli " Winda menjelaskan.


" Kenapa bukumu tadi kosong ? " tanya Juan.


" Kamu tidak minta tanda tangan pada senior lainnya ? " tanya Rey.


" Tidak kak, malas " jawab Winda malu-malu.


" Kenapa malas ? Bukannya setiap tanda tangan dapat poin " kata Juan.


" Itu kak..." Winda sedikit ragu menjawab.


" Bilang saja tidak apa-apa " kata Niko.

__ADS_1


" Senior yang lainnya, pada nyuruh aneh-aneh kak. Ada yang disuruh nyanyi, joget, cari bunga, cari rumput, malahan tadi ada yang disuruh gombalin dulu. Ya... mending aku mundur " jawab Winda jujur.


Para senior tersenyum mendengar jawaban Winda.


" Kamu sadar gak ? Kalau sedang berhadapan dengan para seniormu ? " tanya Noel.


" Maaf kak ( menundukkan pandangan ). Sa...ya... tidak... ber... " Winda terbata.


Winda terus menunduk karena sedikit takut, suasana untuk sesaat menjadi sunyi, tapi sesaat kemudian terdengar suara tawa dari para senior dihadapan Winda.


" Kamu, kenapa nunduk lagi ? Uangmu jatuh ?" tanya Juan.


" Ya... ampun, ini anak lucu banget " kata Rey.


" Maaf ya, kami hanya bercanda tadi. Tapi bagus sih, kamu bicara jujur " kata Niko.


Winda masih diam mencerna kalimat barusan.


" Sayang ya, kamu bukan junior kami. Coba satu jurusan, pasti akan lebih seru lagi " kata Juan.


" Tahun ini jurusan kami yang paling sedikit peminatnya " kata Noel sedikit curhat.


{ Yang paling sedikit ? Tata Boga dong ? } gumam Winda dalam hati.


" Aneh juga sih, padahal jurusan lain , lumayan" sambung Rey.


" Kak mau tanya ? Boleh ? " tanya Winda.


" Tanya saja. Mau tanya apa ? " jawab Niko.


" Jurusan yang jumlahnya sedikit itu Tata Boga. Kakak semua ini, jurusan Tata Boga ? " tanya Winda.


" Begitulah. Kami semua jurusan Tata Boga tahun ke tiga " kata Niko.


" HAH...??? SERIUS...??? Winda terkejut mendengarnya.


" Kenapa ? Aneh...??? " tanya Noel.


" Sedikit kak. Aku pikir karena jurusan Tata Boga, pasti peminatnya para perempuan, ternyata ada juga laki-laki " jawab Winda.


" Para chef di TV kan, juga banyak yang laki-laki" kata Rey.


" Pandanganmu terlalu sempit. Asal tau saja chef itu cukup keren loh " kata Juan.


" Pada awalnya saya juga mau ambil jurusan Tata Boga kak, supaya saya pintar masak " kata Winda.


" Lalu kenapa gak jadi ? " tanya Noel.


" Dilarang Bapak. Bapak bilang begini tidak boleh, sekolah mahal-mahal cuma masak, kalau mau masak, sana ke dapur, masak dengan ibumu, buat apa sekolah segala. Dibentak gitu kak " Winda menirukan nada bicara sang Bapak.


" Ya... mungkin karena pandangan Bapak, Tata Boga itu cuma urusan masak saja dan dianggap buang-buang uang. Ya maklumlah pemikiran orang tua zaman dulu " sambung Winda.


" Bener sih, gak salah juga. Tata Boga memang urusan masak " kata Juan.


" Padahal nih kak, sudah saya kasih penjelasan sama Bapak, tapi... Bapak tetap gak kasih saya izin. Akhirnya ambil jurusan Tata Busana deh " kata Winda.


" Bahasamu formal, pakai saya. Ganti saja dengan aku " kata Niko.


" Ntar dikira sok akrab kak " jawab Winda.


" Ya gak apa-apa kan, kita sudah ngobrol panjang lebar " kata Niko.


" Bolehkah ??? " Winda masih bertanya.


" Kan, aku yang minta " jawab Niko.


" Baik kak " kata Winda.


" Aku penasaran deh ? Kamu ngapain jalan-jalan sampai sini ? " tanya Noel.


" Iya juga. Ini area rada belakang. Jarang-jarang murid datang ke sini ! " sambung Juan.


" Hayoo... cari apa...??? " goda Rey.


" Gak ada kak. Tadi itu saya... eh bukan, aku... lagi jalan lihat-lihat sekolah, terus pandanganku tertuju pada buah jambu itu " Winda sambil menunjuk.


" Ohh... jadi kamu mau petik buah jambu ? " tanya Niko.


" Iya kak. Tapi ternyata, malah ketemu kakak berempat di sini, begitu " kata Winda.

__ADS_1


" Pohon jambunya lumayan tinggi. Gimana caramu ambil ? " tanya Noel.


" Jangan bilang, mau kamu panjat ? " Juan menduga.


" Kamu ini cewek loh, pakai rok, masa mau panjat " Rey mengingatkan.


" Ya gak apa-apa kak. Cewek kan, juga bisa panjat " jawab Winda.


" Kamu masih mau, buah jambunya ? " tanya Niko.


" Iya kak " Winda langsung menjawab.


" Tunggu ya, aku petik kan " kata Niko.


" Tapi kak...!!! " kata Winda.


" Sudah sini saja. Masa iya, kami biarkan cewek seperti dirimu manjat pohon jambu " kata Juan.


Niko segera memanjat pohon jambu dengan mudah dan dengan cepat memetik jambu yang Winda lihat tadi. Hanya dengan satu lompatan Niko sudah sampai di tanah lagi.


{ Benar-benar ya anak cowok...!!! } batin Winda dalam hati.


" Nih, jambu yang kamu mau ! " kata Niko memberikan buah jambu kepada Winda.


" Terima kasih kak " saat Winda menerimanya.


Bersamaan dengan itu terdengar bel berbunyi, tanda sesi tanda tangan sudah usai dan harus kembali ke dalam ruangan.


" Ahh... sudah bel. Maaf kak, saya... bukan... ( menggelengkan kepala ) aku harus kembali ke ruangan. Permisi " Winda berpamitan.


Winda berbalik dan pergi, namun baru beberapa langkah, Winda justru kembali lagi.


" Kenapa balik ...??? " tanya Niko.


" Ada yang lupa kak " jawab Winda.


Winda mengeluarkan 4 buah permen loli dari saku bajunya.


" Ini buat kakak, satu-satu ya. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih, karena memberiku tanda tangan. Lumayan kan, daripada kosong, gak dapet " Winda sambil membagikan permen.


Winda tersenyum lebar.


" Baiklah, aku permisi. Terima kasih kak " kata Winda.


Kali ini Winda benar-benar pergi menuju ruang MOS lagi. Para senior masih menatap kepergian Winda dengan tatapan heran bercampur kagum.


" Anak itu benar-benar unik ya " kata Noel.


" Lucu lagi...!!! " kata Rey.


" Coba aja, jadi junior kita ya...??? " sambung Juan.


" Eh... Nik. Kenapa diam saja ? Naksir ya...? " goda Noel.


" Sembarangan...!!! " bantah Niko.


" Biar iya, juga gak apa Nik. Itu anak cukup imut" kata Juan menambahi.


" Gimana kalau aku dekati dia ...??? " kata Rey.


" Pacarmu dikemanakan ? " kata Niko.


" Apa salahnya punya lebih " jawab Rey enteng.


" Permennya, buatku saja " Niko merebut dari tangan Rey.


" Woii...!!! Nik...!!! " Rey protes.


Noel dan Juan hanya tertawa, menyaksikan kedua sahabatnya.


.


.


.


( bersambung )


**Nah bagaimana pengalaman teman-teman sekalian waktu MOS ??? Apa ada yang sama dengan Winda ??? 😊

__ADS_1


Silahkan tinggalkan komentar dibawah ya 🤗**


__ADS_2