Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 66 Guru private


__ADS_3

Winda duduk di sebuah meja, dihadapannya penuh dengan berbagai buku dan semua buku jenisnya sama yaitu matematika. Pelajaran yang sedari dulu selalu membuat sakit kepala, gak pernah dapat nilai bagus, dapat nilai pas-pasan saja sudah bersyukur banget.


Walau pun demikian, Winda selalu berusaha agar tidak dapat nilai merah atau pun mengulang sendirian. Melengkapi buku catatan selengkap mungkin, dibaca berulang-ulang supaya paham, mungkin catatan Winda sudah sangat banyak tapi kemampuannya masih standar cuma rata-rata saja.


" Ada tugas ya ? " Juan tiba-tiba muncul di samping Winda yang sedang fokus menyalin di buku tulis.


" Eh... Kak Juan. Enggak Kak, ini cuma lagi nyalin saja, melengkapi buku catatan " kata Winda.


" Kenapa gak dicopy saja ? Dari pada capek-capek nyalin ? " tanya Juan.


" Disalin gini sambil belajar Kak. Disalin sendiri saja masih rada gak paham, apa lagi langsung dicopy, yang ada tetap di luar kepala Kak " Winda malah curhat dong.


" Sepertinya kamu lemah di pelajaran matematika ? Ngumpulin catatan sampai sebanyak ini ? " Juan heran dengan buku-buku di atas meja yang semuanya buku matematika.


" Bukan lemah lagi,aku memang stu pelajaran matematika. Biar aku baca berulang-ulang, catatanku lengkap pun, kalau pas ulangan, pemakaian rumus dan tata cara mengerjakan bisa tertukar " keluh Winda.


" Coba kamu minta ajari si Rey, dia pintar loh matematika, penjelasan dia enak juga, gak terlalu ribet " kata Juan memberi gagasan.


" Kak Rey ? " Winda gak percaya.


" Hemm, Rey. Coba saja, dia sudah biasa, jadi guru les private " kata Juan.


{ Kak Rey ? Pintar matematika ? Guru les private ? Hemm... patut dicoba } batin Winda.


Winda segera membereskan semua buku-buku dihadapannya dan mengembalikan pada rak-rak tempatnya. Segera keluar dari perpustakaan, sambil menenteng buku catatan, berjalan ke sana kemari, langsung mencari keberadaan Rey, jika Rey memang bisa membantu dirinya memahami pelajaran matematika, biar bayar pun gak apa-apa, yang penting bisa.


Melihat Rey dari kejauhan, dengan semangat Winda menghampirinya, tanpa basa basi, langsung mengutarakan maksud dan tujuannya mencari dirinya. Rey heran tiba-tiba saja Winda memintanya mengajari matematika.


" Kamu dengar dari siapa ? " tanya Rey.


" Dari Kak Juan, dia yang kasih tau. Mau ya Kak ? Please ??? Bayar gak apa-apa dech, tolong lah Kak...??? Biar nilaiku naik, dikit saja, ya...!!! PLEASE...??? " Winda benar-benar memohon.


" Baiklah, tapi waktunya menyesuaikan waktu ku ya, nanti aku kabari " Rey akhirnya mengiyakannya.


" OK. SIPP. Sesuai perintah Kak Rey " kata Winda.


Winda pun berjalan kembali ke kelas dengan perasaan yang bahagia, bibirnya selalu tersenyum, dirinya senang ada yang bisa membantu memahami pelajaran matematika. Sebenarnya selama ini Winda sudah terlalu sering gonta ganti guru les, tapi semuanya berhenti sebelum waktunya, karena apa ?


Karena Winda sangat lambat dalam menyerap pelajaran, para guru les sebelumnya harus menjelaskan berulang-ulang, itu pun gak paham-paham, aneh bin ajaib hanya pelajaran matematika saja yang kesulitan, kalau yang lainnya sih masih bisa diatasi.


" Kenapa ? Roman romannya lagi seneng ? " tanya Nansi.

__ADS_1


" Iya dong, aku dapat guru private baru, semoga saja kali ini bisa ngajarin aku, minimal dapat nilai rata-rata aja deh " kata Winda.


" Matematika ? " Nansi menebak.


" He'eh. Coba tebak, siapa yang jadi guru private aku ? " Winda menyuruh Nansi menebaknya.


Nansi hanya diam sambil berfikir, tidak ada bayangan nama siapa pun yang terlintas di benaknya. Seketika Nansi terbelalak saat Winda menyebutkan nama Rey, yang akan menjadi guru private nya. Tentu saja gak langsung percaya, Rey sangat jauh dari image seorang anak yang kutu buku tapi itu lah pelajaran, jangan menilai dari casing luarnya, karena mungkin dalamnya istimewa.


Pada hari itu juga, sepulang sekolah Rey mengirimi pesan untuk langsung memulainya, tentu saja Winda semangat, Winda mengeluarkan semua buku catatan yang dimilikinya, Rey melihat, membaca, memeriksa setiap catatan Winda.


{ Catatannya sudah sebanyak ini ? Kan tinggal dibaca saja } batin Rey.


" Biar catatan aku sebanyak ini Kak, waktu kerjakan aku bisa salah rumus dan terkadang caranya bisa terbalik " kata Winda.


Rey pun mulai memberi pelajarannya, menjelaskan dari awal, step by step, awalnya sabar, belum paham dijelaskan lagi, belum paham lagi, dijelaskan lagi, sampai berulang-ulang, entah sudah berapa kali Rey menjelaskan, setiap ditanya jawaban Winda hanya menggelengkan kepalanya.


Rey mulai kesal menghadapi Winda, menggaruk kepalanya yang tak gatal, pusing cari cara, harus menjelaskan dengan cara apa lagi, supaya Winda dapat paham dan mengerti.


" Winda. Kamu lihat rumus, cara kerjanya, di matamu terlihat bagaimana ? " tanya Rey.


" Jaring laba-laba. Tulisannya muter-muter nyambung semua " Winda menjawab dengan datar.


" Baik " kata Winda.


Winda segera mengemasi semua buku-bukunya, dirinya tau kalau Rey sudah capek menjelaskan secara berulang-ulang, bukannya sengaja tidak memperhatikan, Winda sudah fokus belajar tapi selalu saja gagal paham, memang tidak mudah paham dan nyantol di kepala.


Winda berjalan gontai, sambil berharap semoga Rey, tidak kapok mengajarinya, Winda ingin banget semester nanti dapat nilai di atas standar, bosan juga nilai matematikanya selalu dapat merah.


" Gimana belajarnya ? " tanya Niko menghampiri Winda.


" Kak Niko belum pulang ? Tau dari Kak Rey ya ? Aku minta les private ? ( menarik napas sejenak ). Aku harap Kak Rey gak bosan ngajari aku " kata Winda.


" Kenapa ? Penjelasannya susah ? " tanya Niko.


Winda menundukkan kepalanya dan menggelengkan berlahan, Niko menyadari raut wajah Winda sedikit cemberut. Niko mengusap kepala Winda, memberi sedikit semangat.


" Tenang saja, ini hari pertama. Besok belajar lagi kan ? Mau aku temani ? " kata Niko.


" Kakak tau, dari dulu aku ini stu banget dengan pelajaran matematika, nilaiku di rapot nih ya, selalu saja dapat nilai merah, sering banget aku ulangan mengulang. Les gonta ganti guru, sudah sering, terakhir aku sudah malas ikut-ikutan les lagi. Tapi waktu dengar dari Kak Juan tentang Kak Rey, mungkin Kak Rey bisa bantu aku " kata Winda.


" Kamu di tangan yang tepat, murid seperti mu adalah tantangan bagi Rey " kata Niko.

__ADS_1


" Semoga benar " Winda tersenyum senang mendengar ucapan Niko barusan.


***


Dan benar saja dong, di hari-hari berikutnya, setiap pulang sekolah, Rey menyempatkan diri untuk mengajari Winda, terkadang satu jam, kadang juga hanya tiga puluh menit dan terkadang hanya menjelaskan satu soal saja untuk Winda kerjakan.


Kesannya seperti belajar seenaknya sendiri, tapi Winda rasa nyaman, Rey menjelaskan berlahan, Winda mulai bisa memahami, tidak perlu lagi dijelaskan secara berulang-ulang, seperti sudah menemukan metode belajar yang cocok buat Winda.


Awalnya mereka belajar berdua, kadang Niko datang ikutan menemani, Nansi juga mulai ikutan walau hanya sesekali saja, tidak setiap hari dan Vera, cuma sekedar mau ikutan tapi pelaksanaannya masih zonk, belum pernah ikutan sama sekali.


" OK. Hari ini selesai sampai di sini. Jangan lupa kertas latihan yang aku berikan tadi, kamu kerjakan di rumah " kata Rey.


" Hemm !!! Ayo Nansi, singgah dulu beli minuman di depan " ajak Winda.


" Duluan Kak Rey...!!! " Nansi berpamitan.


Setelah berpamitan mereka berdua pun segera pergi menuju tempat yang mereka inginkan sambil berbincang-bincang tentunya.


" Kamu semangat bener belajarnya ? " tanya Nansi.


" Tentu saja, karena aku ingin ulangan semester nanti nilaiku paling gak dapat C " kata Winda.


" Dapat B kalau gak A, ini cuma dapat C " Nansi merasa heran.


" Gak muluk-muluk Nansi, karena selama ini aku sering dapat D, jadi kalau dapat C kan bagus, bisa naik satu tingkat, sudah bersyukur banget, kalau beneran jadi kenyataan " kata Winda.


" Beneran separah itu ? Serasa gak mungkin ?" Nansi meragukannya.


" Dilihat nanti saja lah, bisa naik apa gak " kata Winda.


Reaksi Nansi sebenarnya wajar, karena mengingat Winda selalu kerjakan semua tugas yang diberikan guru, nilai pelajaran juga rata-rata dapat bagus, apa lagi ditambah sikap Winda yang baik, nilai plus buatnya, jadi sedikit membingungkan kalau Winda pernah dapat nilai merah ?


.


.


.


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗, maaf jarang up date 🙏✌️.

__ADS_1


__ADS_2