
Pada keesokan harinya di sekolah SMK NEGERI 2, berjalan seperti biasanya nampak normal tidak ada gosip-gosip aneh yang beredar di kalangan para murid-murid tentang keributan yang terjadi di tempat wudhu kemarin.
Kalau itu memang tidak ada, tapi... malah beredar rumor kalau ada senior Tata Boga memberi hukuman pada junior kelas satu Perhotelan. Nah karena hal itu lah, senior Perhotelan, tak terima juniornya diberi hukuman oleh senior jurusan lainnya. Aneh bin ajaib, gak tau pasti kenapa junior Perhotelan sampai dihukum oleh senior yang bukan jurusannya.
Walau pun sempat diprotes oleh senior jurusan Perhotelan tapi pada akhirnya para junior Perhotelan tetap harus menjalankan hukuman yang diberikan senior Tata Boga, namun bedanya diganti pengawasannya di ambil alih oleh para senior Perhotelan.
Rumor tersebut menjadi pembicaraan hangat para murid terutama para murid cewek, karena senior Tata Boga tersebut adalah Nikolas.
" Dari tadi dengar tentang Kak Niko terus, mereka gak bosen apa ? " gerutu Winda.
" Salah sendiri cari masalah dengan Kak Niko dan temannya, sama saja cari mati " kata Vera.
" Gosip yang kamu dengar ? kira-kira karena masalah apa ? " tanya Winda.
" Gak jelas, gak ada yang tau pasti " jawab Vera.
" Kalian gak tau sih, pas kejadian lebih heboh lagi " kata Nansi.
" Kamu lihat ? " tanya Winda.
" Lihat sebentar. Para senior Perhotelan ngomel-ngomel panjang lebar sama Kak Niko dan Kak Noel. Apa lagi yang cewek, aduhh mulutnya, pedes betul ngomongnya, anehnya Kak Niko dan Kak Noel santai berhadapan dengan kakak kelas yang cewek, tapi giliran yang cowok... Kak Niko dan Kak Noel ngegas" Nansi bercerita.
" Masalah apa kira-kira ya ? " tanya Winda.
" Heboh tapi gak sampai main tangan, hanya adu mulut saja. Habis itu di datangi Pak Hadi, dibawa ke ruangan, sudah habis itu, aku gak tau lagi " Nansi menjelaskan.
" Iihhss... ceritamu sama dengan yang lainnya" kata Vera.
" Katanya sih, ini berhubungan dengan cewek" kata Lovely ikut bicara.
" Akurat gak nih ? Ntar cuma katanya...!!!" kata Vera.
" Coba kalian pikir, cowok kalau sampai beneran marah, apa lagi kalau bukan berhubungan dengan lawan jenis, iya kan ?" kata Lovely.
" Bisa jadi " kata Nansi.
" Kapan itu kejadiannya ? " tanya Winda.
" Kemarin, habis pulang sekolah " jawab Nansi.
" Kemarin ? " kata Winda.
" Murid-murid sudah pada pulang, tinggal beberapa saja, gak terlalu banyak yang lihat" kata Nansi menjelaskan.
" Setelah kita pulang " sambung Vera.
" Pantesan " kata Winda.
" Win, bukannya tadi kamu mau ke perpus ? " Nansi mengingatkan.
" Oh iya, untung kamu ingat kan " kata Winda.
Winda segera bergegas menuju perpustakaan sambil membawa buku bacaan yang mau di kembalikannya. Setelah mengembalikan buku pada guru petugas perpus, Winda pergi melihat-lihat buku yang akan ia pinjam lagi.
Winda menghampiri rak yang paling sudut bagian belakang, tempat yang jarang diminati para murid, karena berisikan buku-buku sejarah masa lalu, terkesan membosankan tapi justru seru bagi Winda.
Winda mengamati setiap buku yang menarik pandangannya, mengambil, membaca sebentar, gak cocok di kembalikan lagi, sampai menemukan yang ingin dibacanya.
Winda mengambil sebuah buku dengan sampul yang sedikit usang, bahkan kertas di dalamnya berwarna kecokelatan, buku yang tua namun justru membuat Winda tertarik untuk membacanya.
Winda duduk di lantai bersandarkan tembok, awalnya membaca sampul, membuka satu halaman, halaman berikutnya lagi, Winda tersenyum lebar saat membacanya, dirinya telah menemukan buku yang menarik.
" Kamu suka baca buku sejarah ? "
Winda mengangkat kepalanya, melihat orang yang ada dihadapannya ternyata itu adalah Noel dengan sebuah buku di tangannya.
" Kak Noel. Aku suka semua jenis buku bacaan, yang penting menarik bagiku, Kak Noel juga cari buku ? " kata Winda.
__ADS_1
" Hanya sesekali, tidak sering " Noel ikut duduk di samping Winda.
" Buku masakan ( membaca buku di tangan Noel ) ciri khas jurusan Tata Boga. Pasti berat ya Kak, karena sudah kelas tiga, harus rajin belajar " kata Winda.
" Begitulah. Jangan kencang-kencang suaranya ntar ketahuan, bisa diusir kita " kata Noel.
" Iya ya ini kan di dalam perpus. Emm... Kak Noel boleh tanya sesuatu ? " Winda teringat tentang rumor.
" Tentang rumor yang beredar ? " tebak Noel.
" Kak Noel hebat lah, bisa menebak. Jadi itu benar Kak Noel dan Kak Niko memberi hukuman pada anak Perhotelan, maksudku junior Perhotelan " kata Winda.
" Itu benar dan senior mereka gak terima, karena junior mereka mendapat hukuman ganda dari kami, tapi setelah tau titik masalahnya, akhirnya mereka tidak protes lagi dan senior Perhotelan yang mengawasi hukumannya " kata Noel.
" Boleh tau Kak, masalah apa ? Karena simpang siur lah Kak, malahan ada yang bilang karena cewek " kata Winda.
" Memang iya sih karena cewek " jawab Noel.
" Seriusan ? " tanya Winda menatap Noel.
" Kamu mau tau, siapa cewek itu ? " kata Noel menatap Winda.
" Siapa ? " tanya Winda.
" Kamu " jawab Noel.
Winda terdiam sambil memandang Noel, antara percaya dan tidak mungkin, masa iya karena dirinya? karena Winda merasa tidak melakukan apa-apa.
" Aku...??? " tanya Winda.
" Iya. Karena mereka membuat mu tidak nyaman " kata Noel.
" Perasaan gak ada deh Kak yang bermasalah denganku. Bercanda ya ? " Winda masih tidak percaya.
" Berhubungan dengan kejadian yang menimpa dirimu dan teman-teman mu kemarin. Mereka pelakunya, si Jevi dan kedua orang temannya " kata Noel.
" Karena aku dan Niko yang memergoki mereka bertiga, dari awal aku sudah curiga dengan gerak gerik mereka, jadi aku ikuti mereka. Sayangnya aku sedikit terlambat bertindak dan terdengar temanmu berteriak " kata Noel.
" Ohh... trus kenapa bisa mereka dapat hukuman ganda ? " tanya Winda.
" Pak Hadi memberi hukuman lima puluh kali berlari mengelilingi lapangan dan aku menambah hukumannya, membersihkan sampah setiap kelas selama seminggu. Aku dan Niko sepakat menambah hukumannya, karena ada namamu di dalamnya " kata Noel menjelaskan.
Lagi-lagi Winda hanya terdiam mendengar penjelasan Noel.
" Awalnya aku menerima alasan mereka melakukannya, tapi saat mendengar namamu di dalamnya, aku tidak bisa menerimanya, walau pun aku yakin mereka berkata jujur " kata Noel.
Seketika Noel meletakkan dahinya di pundak kanan Winda, tangan Noel bergerak memeluk pinggang Winda. Situasi yang benar-benar membuat canggung.
" Aku tidak menerima alasan mereka dan kalau aku bisa, aku akan memberi mereka hukuman yang lebih berat lagi " kata Noel lirih.
" Tapi Kak, saat kejadian itu aku tidak ada di dalamnya " kata Winda.
" Sungguh ??? " Noel mengangkat kepalanya.
Kini wajah mereka saling berhadapan dengan sangat dekat.
" He'eh. Waktu itu aku sudah keluar menuju mushollah trus aku balik lagi saat mendengar teriakan Shanti, begitu ceritanya " kata Winda menjelaskan.
Spontan Noel langsung memeluk Winda dengan erat.
" Syukurlah aku lega mendengarnya " Noel berbisik di telinga Winda.
Sebelum Noel melepaskan pelukannya, Noel mendaratkan bibirnya di pipi Winda. Karena secara mendadak Winda tidak menghindar dan hanya diam.
" Aku benar-benar senang mendengarnya, apa lagi dari kamu langsung, soalnya aku sempat berfikiran yang bukan-bukan " kata Noel.
Winda memalingkan pandangannya ke arah lain, dirinya benar-benar merasa malu menatap Noel saat ini.
__ADS_1
{ Tadi itu mimpi kan ? Masa iya Kak Noel cium aku ? } batin Winda.
" Winda...!!! Kamu kenapa ? " tanya Noel.
" Enggak Kak, enggak kenapa-kenapa. Hanya berfikir sedikit " Winda menjawab asal.
" Berfikir ? tentang apa ? " tanya Noel.
" Kak Noel dan Kak Niko kan, memberikan hukuman tambahan pada Jevi dan kedua temannya, Pak Hadi gak marah kah ? " Winda menemukan alasan.
" Ya gak lah, kenapa harus marah, kami sudah menjelaskan alasannya dan Pak Hadi menerimanya " kata Noel.
" Benarkah ? Alasannya apa yang Kakak sampai kan ? " tanya Winda menutupi kegugupannya.
" Hukuman mereka terlalu ringan, jadi harus ditambah, Pak Hadi setuju, lagi pula selama ini kami selalu membantu Pak Hadi " kata Noel.
" Membantu ? " tanya Winda.
" Iya membantu, kami ini seperti tangan kanan " kata Noel.
" Tangan kanan ya... hemm... pantas " kata Winda.
{ Kak Noel bicaranya santai banget, seperti tidak ada kejadian apa-apa, aku harus cepat pergi } batin Winda.
" Emm... Kak. Jam istirahat sudah mau berakhir, aku akan kembali ke kelas " Winda berpamitan.
" Tunggu Winda " Noel menahan Winda.
Dengan gerakan cepat Noel kembali mencium pipi kiri Winda.
" Biar tidak iri " ucap Noel tersenyum lebar.
" Permisi Kak...!!! " ucap Winda.
Dengan gerakan secepat kilat Winda segera bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkannya Noel tanpa menoleh ke belakang lagi.
" Reaksinya benar-benar imut " gumam Noel lirih.
Winda terus berjalan secepat yang dia bisa, pikirannya hanya satu yaitu cepat sampai di dalam kelas.
" Loh Win, tumben dari perpus, gak pinjam buku lagi ? " tanya Nansi.
" Buku...??? Eee... gak nemu buku yang menarik " Winda jawab asal.
{ Buku ya ? sampai lupa mau pinjam buku } batin Winda.
" Kamu kenapa Win ? " tanya Nansi.
" Aku ? Memangnya aku kenapa ? Aku gak kenapa-kenapa " jawab Winda.
" Habis dari perpus, kamu rada aneh Win ? " kata Nansi.
" Perasaanmu saja, mungkin karena bosan mendengarkan pembicaraan yang sama secara berulang-ulang " kata Winda berbohong.
" Ohh... gitu ya...!!! " Nansi percaya.
" Begitulah " kata Winda.
Winda hanya bisa tersenyum menutupi kegugupannya di depan Nansi.
{ Maaf Nansi, aku gak siap untuk cerita padamu sekarang } batin Winda.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )