
" Nansi ke kantin yuk ? " ajak Winda.
" Kamu saja yang makan, aku ada bawa bekal" kata Nansi.
" Ok " Winda mengangguk.
Sesampainya di kantin Winda segera memesan makanan yang ingin dia makan, meletakkan di atas meja dan segera menikmatinya. Sesekali masih ada murid-murid yang berbisik-bisik memandang Winda tapi dirinya pura-pura gak dengar, Nansi melirik Winda memastikan dia baik-baik saja.
Winda melirik ke kotak bekal yang Nansi bawa, isinya kue bolu, Winda menatap Nansi lalu tersenyum-senyum sendiri, Nansi pun paham apa yang Winda ingin kan. Nansi menyodorkan kotak bekalnya, yang disambut dengan senyum lebar oleh Winda.
Winda mengambil sepotong kue bolu dari kotak bekal Nansi, mengunyah dengan perlahan, merasakan sesuatu ? seperti ada yang beda ? Kenapa rasanya lain ? Winda mengernyitkan dahinya, perasaannya saja atau ada yang beda ?
" Nansi, kue bolu ini, bukan buatan orang rumah mu ya ? " tanya Winda.
" Kenapa ? gak enak ? " Nansi balik bertanya.
" Enak. Tapi rasanya beda, dengan kue bolu yang terakhir kamu bawa, yang ini rada seret waktu ditelan " kata Winda.
" Kamu bisa beda kan ya ? Iya, ini bukan buatan Kakak ku " kata Nansi.
Winda hanya menganggukkan kepalanya, saat minum, gantian Nansi yang ingin mencoba minuman es blender pesanan Winda, tentu saja Winda memperbolehkannya dan setelah itu dengan santai gantian Winda yang meminumnya.
Semua gerak gerik Winda dan Nansi, dari berbagi makanan dan minuman. Semua itu telah menarik perhatian murid lainnya, hingga Vera datang dan ikut gabung duduk bareng.
" Kalian ini, kalau aku perhatikan sering berbagi makanan, bahkan minuman juga. Kalian gak merasa... gimana gitu ? " Vera memulai pembicaraan.
" Jijik maksud mu ? " tebakan Winda tepat sasaran, lalu Winda tersenyum dan tertawa kecil.
" Wajar kan ? " kata Vera.
" Iya juga sih, sebagian orang ada yang jijik. Pernah nih ya waktu SMP, temanku minta minumanku trus sedotannya di balik dong. Setelah kejadian itu aku gak pernah kasih kalau dia minta makanan atau pun minumanku " Winda bercerita.
Dengan santai Winda melanjutkan ceritanya, menjelaskan alasan dibalik sikapnya itu. Kalau memang jijik bekasnya orang, ya jangan minta. Sudah minta, trus dikasih, tapi malah gak sopan, enggak terima kasih. Winda pun menjabarkan lagi, dengan membalik sedotan sebenar sama saja, air liurnya ditelan juga.
" Maksudnya ? " Vera gak paham.
__ADS_1
" Saat sedotannya dibalik berarti sedotan yang kena bibir menjadi di dalam air minum, iya kan ? otomatis nyebar dong, iya kan ? Setelah itu air minumnya kamu minum, ya sama saja lah, kamu telan juga " kata Winda.
" Ya gak dong, kalau dibalik kan, bersih " kata Vera.
" Ya emang bersih, tapi kan, gantian yang kotor di dalam air minum. Apa bedanya coba ? Iya kan ? Itu menurutku saja sih, kurang etis, aku tegas kan lagi, itu pendapat pribadiku, kalau kalian punya pendapat lain, ya silahkan, itu hak masing-masing orang " kata Winda.
Vera menganggukkan kepalanya, sementara Nansi justru tersenyum mendengar perkataan Winda. Kini Nansi tau, pola pikir Winda memang lain dari pada yang lainnya.
" Bagaimana kalau ternyata ada penyakit menular ? " tanya Vera.
" Ya sudah, tinggal tunggu mati bareng saja. Seperti aku, aku sudah nularin penyakit ku ke Nansi " kata Winda memasang wajah serius.
Seketika Vera dan Nansi terbelalak sangking terkejutnya, memandang dengan wajah yang tidak percaya, bahkan Nansi sampai tersedak hingga batuk-batuk.
" Bercanda Nansi " Winda tersenyum.
Spontan tangan Nansi memukul lengan Winda dengan cukup keras, dirinya tadi sudah beneran percaya tapi berujung dibohongin.
" Lagian serius bener, cuma masalah minuman juga. Intinya sih, kembali ke masing-masing orang saja, toh ada yang lebih parah dari itu, tapi kalian gak mempermasalahkannya " kata Winda.
" Apa ? " tanya Vera.
Spontan Vera memalingkan wajahnya ke arah lain, Vera benar-benar merasa tersinggung sebab tepat sasaran, Nansi menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap Winda yang bisa sesantai itu, menyandingkan sesuatu yang dianggapnya, tentu saja gak bisa disamakan.
Dari sudut yang tak jauh dari Winda duduk, Niko juga ikutan tersenyum mendengar percakapan Winda dan kedua temannya tersebut. Benar-benar cewek yang unik, gak salah kalau jadi tambah suka padanya.
Selesai dari kantin, saat dalam perjalanan kembali ke kelas, ketika melewati lapangan, ada beberapa anak cowok Tata Perhotelan yang sedang bermain bola dan ada Nevan salah satunya. Entah sengaja atau tidak tiba-tiba saja, bolanya ditendang, nyasar ke arah Winda dan mengenai bagian bahu Winda, meninggalkan noda di baju.
Bola mengenai memang tidak terlalu kuat jadi tidak terasa sakit, bukannya datang minta maaf sama Winda, malah teriak minta bolanya dikembalikan. Winda menatap lurus ke arah mereka, namun pandangan mata malah mendapatkan pandangan yang tak terduga.
Winda memandang serius ke arah Nevan dan kawan-kawannya, meletakkan bola di lantai, mundur beberapa langkah, mengangkat rok sampai lutut, berlari dan langsung menendang bola tersebut sekuat tenaganya.
Wuuusss
Bola melesat jauh namun bukan ke arah Nevan dan kawan-kawannya, Winda tersenyum puas, dia sengaja menendang bola ke arah lainnya, terlihat jelas wajah kecewa mereka, ada juga yang terkejut melihat aksi Winda dan ada pula yang mengaguminya.
__ADS_1
" WIN...!!! KAMU TENDANG BOLANYA KE ARAH MANA ??? " teriak Nevan karena kesal.
Winda melepas pegangan roknya, berjalan beberapa langkah mendekati lapangan dan menatap tajam ke arah Nevan.
" SUDAH SALAH. GAK MINTA MAAF. MALAH NYURUH LAGI. AMBIL SENDIRI. Weeee ( menjulurkan sedikit lidahnya ) " Winda benar-benar kesal.
Belum puas hati, Winda masih meledek dengan menjulingkan bola matanya, berbalik dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Atas kelakuan Winda tersebut, membuat Vera dan Nansi mengacungkan jempolnya.
" Aku baru lihat sisi mu yang ini, keren " puji Vera.
" Bisa juga eee...!!! " imbuh Nansi.
" Bajuku jadi kotor, kelihatan jelas lagi " kata Winda melihat ke arah baju yang kena bola barusan.
" Kotor sih tapi gak jelas kelihatan kok " kata Nansi.
" Tetap saja kotor. Aku mau ke toilet dulu, bersihkan bajuku, kalian balik aja duluan " kata Winda.
Winda segera pergi ke toilet yang rada jauh di bagian belakang, toilet tersebut jarang dikunjungi murid-murid karena posisinya, jadi pilihan yang bagus untuk membersihkan baju dengan tenang tanpa harus di buru-buru untuk gantian menggunakan wastafel.
Sesampainya di dalam toilet, Winda segera melepaskan baju seragam batiknya, sedikit membasahi bagian yang kena noda, mengucek tanpa sabun yang penting nodanya pudar gak kelihatan lagi.
Winda fokus membersihkan noda di baju seragamnya, sampai tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam toilet dan sudah berdiri tak jauh darinya. Memandangi Winda dengan tersenyum, menikmati pemandangan langka, pemandangan pertama kali, melihat Winda hanya mengenakan baju dalaman yang memperlihatkan bagian pundaknya, melekat sempurna menempel di badan Winda.
" Nah, bagus sudah gak kelihatan nodanya " Winda memandangi baju seragamnya yang sudah kembali bersih.
Walau pun sedikit basah di bagian bekas noda, saat Winda hendak memakai bajunya kembali, sudut matanya melihat ke arah bawah, mendapati ujung sepatu, melihat ke atas lagi, merasa aneh, kok pakai celana ?
Saat menatap lurus, Winda lebih terkejut lagi, sampai mundur satu langkah dan segera menutup badannya dengan baju seragamnya. Bola mata Winda terus bergerak ke segala penjuru, terkejut, malu dan salah tingkah.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗