
Dari semua murid baru yang beragam Islam, kebetulan sekali Winda menjadi satu-satunya murid perempuan yang tidak memakai jilbab. Sehingga, jika tiba giliran acara keagamaan waktu MOS, Winda selalu menjadi pusat perhatian.
Hari pertama Winda tidak terlalu ambil pusing, namun saat hari kedua, tiba-tiba saja ada yang menegurnya, dengan cara yang... sedikit kurang sopan bagi Winda.
" HEI WINDA...!!! "
Winda berbalik melihat, siapa yang memanggil dirinya, Winda ingat nama anak itu adalah Shanti.
" Iya Shanti, ada apa ? " jawab Winda.
" Kenapa kamu gak pakai jilbab saat sekolah ? " tanya Shanti.
" Emangnya harus ya ??? " Winda balik bertanya.
" Kan kamu Islam " kata Shanti.
" Gak ada peraturannya kan, kalau Islam sekolahnya harus pakai jilbab " kata Winda dengan kesal.
" Iya juga sih, kamu kan dari SMP 3. Di sana gak ada peraturannya begitu, anak-anaknya juga terkenal rada nakal " kata Shanti.
" APA MAKSUDMU ? ( meninggikan suaranya ). Jangan sok tau ya ??? " Winda benar-benar tidak terima.
" Memang iya. Sekolahmu pernah terlibat tawuran kan ? " kata Shanti mengingatkan.
" Memang iya. Beberapa murid pernah terlibat tawuran, tapi bukan berarti, kamu bisa mengklaim semua anak-anak di SMP ku nakal " kata Winda melakukan pembelaan.
" Rumor yang beredar begitu. Aku gak salah dong " kata Shanti.
" Rumor ya...??? Rumor yang beredar anak SMP 2 terkenal pintar-pintar, makanya sekolahnya jadi sekolah favorit. Sekarang aku tanya, dari 1 sampai 10, kamu peringkat berapa ? " Winda membalikkan keadaan.
Shanti hanya diam, tak menjawab.
" Kenapa...??? Gak masuk 10 besar ??? Sama saja, diantara murid-murid yang terkenal pintar-pintar, tetap saja akan ada urutan yang terbelakang. Jadi... semua hal, tidak bisa kamu hantam rata semuanya " sambung Winda.
" Kenapa jadi bawa-bawa kepintaran ? " Shanti mulai gugup.
" Kamu duluan yang mulai, bawa-bawa nama sekolah SMP. Dibalas gak terima...!!! " kata Winda.
" Memang begitu yang aku dengar " Shanti masih membela diri.
" YA SAMA. Begitu juga yang aku dengar. Makanya...!!! JANGAN SOTOY...!!! Sudah sotoy, salah lagi, kan malu " jawab Winda.
" Kalian ribut-ribut apa sih...??? Gak malu dilihatin...??? " Vera yang baru datang.
" Anak SMP 3 nih resek " kata Shanti.
" APAAN...!!! Kamu yang mulai...!!! " sangkal Winda.
" Kan aku cuma tanya " kata Shanti.
" TANYA APAAN...??? Bikin jengkel iya...!!! " kata Winda kesal.
" Coba jelaskan, awalnya bagaimana ? " tanya Vera.
" Shanti ini, teman SMP mu ini ? ( sambil menunjuk Shanti karena kesal ). Awalnya cuma tanya, kenapa aku gak pakai jilbab, lalu dia bawa-bawa nama sekolah SMP, pakai ngatain yang aneh-aneh. Aku balas dia gak terima " Winda menjelaskan.
" Coba ingat Ver. Pernah dengar rumor anak SMP 3 terlibat tawuran kan...??? Kamu juga pernah dengar kan ??? "Shanti membela diri.
" Iya sih pernah dengar, tapi..." kata Vera.
" Benerkan... pernah " kata Shanti.
" Memang iya, tapi cuma beberapa murid saja. Tapi kamu... hantam rata semuanya, langsung ngeklaim anak-anaknya terkenal rada nakal. Seolah-olah semua anak SMP 3 itu nakal semua di matamu " kata Winda kesal.
" Ya maksudku kan..." kata Shanti.
" Wahhh parah... kamu Shan. Begini caranya kamu cari ribut " kata Vera tidak membenarkan tindakan Shanti.
" Benar tuh, minta maaf sama Winda " Echa mulai angkat bicara.
__ADS_1
" Kamu ini, ikut-ikutan. Tadi diam saja " ledek Nirmala.
" Bener tuh Echa bilang. Kamu harus minta maaf sama Winda, jangan bikin malu SMP 2, kita ini kan, sama-sama tamatan SMP 2 " kata Vera.
" Sudah cepat... MINTA MAAF...!!! " kata Echa.
Shanti masih sedikit kesal rupanya, sehingga ia tak langsung mengiyakannya. Winda berinisiatif mengulurkan tangan kepada Shanti.
" Kita saling memaafkan saja, lagipula sekarang kita ini satu sekolah dan satu kelas pula. Bagaimana ? " kata Winda.
" Shan...." kata Vera.
" Winda sudah berbesar hati mengulurkan tangannya duluan loh " kata Nirmala.
" Iya Shan. Winda benar, sekarang kita sudah satu sekolah. Bukan SMP lagi, sudah menjadi SMK NEGERI 2. Kita bakalan sama-sama sampai tiga tahun ke depan loh... masa iya... bakalan..." Echa bicara panjang lebar menjelaskan.
" Iya iya...!!! Aku minta maaf " Shanti menjabat tangan Winda.
" Sama-sama. Aku juga minta maaf sudah ngatain " jawab Winda.
" Nah... gitu kan bagus. Masa iya belum belajar resmi satu kelas, sudah berantem duluan, gak lucu ahhh....!!! " kata Echa.
" IYA CHA. MULUTMU... bisa diam ? Kalian ini cerewet banget " kata Shanti.
" Dan mulutmu itu... dari dulu masih jutek saja " balas Echa.
" Jadi... dari dulu Shanti memang begini ? " tanya Winda.
" Iya. Mulutnya Shanti ini kalau ngomong, mak jlebb... dihati " kata Echa.
" Dia kalau ngomong suka blak-blakan, ya seperti tadi..." kata Nirmala.
" Jadi kesannya. Ya... gitu dehh..." kata Vera.
" Hemm... gitu toh " Winda menganggukkan kepalanya.
" Win...!!! Ngomongmu medok " kata Nirmala.
" Masa sih...??? " kata Winda.
" Kelihatan jelas loh, kalau kamu orang Jawa " kata Nirmala.
" Ya gak apa-apa kan, orang Jawa asli " kata Winda.
" Trus, nanti kalau sudah pakai seragam putih abu-abu, kamu tetap gak pakai jilbab ? " tanya Shanti.
" IYA, KENAPA...??? MASALAH...??? " kata Winda.
" Trus, mau pakai rok pendek gitu...??? " tanya Shanti lagi.
" Enggak. Rokku panjang " jawab Winda.
" Sudahlah Shan... kamu ini...!!! " kata Vera.
" Ya aneh saja. Dia ini jadi satu-satunya murid cewek Islam yang gak pakai jilbab " kata Shanti.
" Ya gak masalah dong. Kebetulan saja gak ada temannya " kata Winda.
" Terserah Winda lah... mau pakai jilbab apa gak, kenapa kamu jadi yang sewot sih...??? " kata Echa.
" Iya nih Shan...!!! Baru saja minta maaf, mulai lagi mulutmu " kata Nirmala.
" Iya nih, Shanti...!!! " sambung Vera.
" Kan, aku cuma tanya. Gak salah kan...? " kata Shanti.
" Sudahlah Win. Jangan dengarkan Shanti. Anggap saja radio rusak " kata Vera mengajak Winda pergi.
" Coba ke kantin yuk ? mumpung masih belum mulai lagi acaranya ? " kata Winda.
__ADS_1
" Mau makan ? " tanya Vera.
" Enggak, cuma mau beli permen saja " kata Winda.
" OK " jawab Vera.
Winda dan Vera pergi, berjalan menuju kantin. Sementara Shanti, Echa dan Nirmala masih berada di tempat yang sama.
" Jangan di ulangi lagi Shan... " Nirmala menasehati.
" Kenapa sih ? aku kan cuma tanya " Shanti masih menyangkal.
" Tanya boleh saja, tapi tadi... sikapmu benar-benar keterlaluan sama Winda. Mau dia pakai jilbab apa gak, itu haknya dia, terserah dia " kata Nirmala.
" Ya kan aneh saja. Winda kan Islam tapi gak pakai jilbab, ntar di kira Kristen lagi " kata Shanti.
" Ya... biarin saja, itu urusan Winda " kata Echa.
" Bener tuh. Emang kita siapanya Winda, pakai ngatur-ngatur dia harus pakai jilbab " kata Nirmala.
" Ya... biar kelihatan sama, apa susahnya sih tinggal pakai jilbab doang juga " kata Shanti masih saja ngeyel.
" Susah nih, ngomong sama kamu Shan..." kata Echa.
" Baik-baik kalau begini caramu, bakalan susah kamu dapat teman " Nirmala memperingatkan.
" Sudahlah Mal. Yuk nyusul ke kantin. Lapar juga perutku dari tadi ngomong terus " kata Echa mengalihkan pembicaraan.
" Pikirkan lagi perkataanku tadi Shan. Gak ada salahnya kamu renungkan lagi " ucap Nirmala sebelum pergi.
" Apa-apaan sih ? kenapa jadi aku yang disalahin ? Aku kan cuma tanya " kata Shanti masih merasa tidak melakukan kesalahan.
Nirmala dan Echa sambil berjalan, sambil berbincang.
" Shanti itu kenapa sih ? Kayaknya sensi betul dengan Winda ? " Echa memulai pembicaraan.
" Entahlah. Aku juga heran, padahal kan, kenal juga baru, lantaran MOS ini " kata Nirmala.
" Apa... Winda pernah ngusik Shanti sebelumnya ? Tapi... gak mungkin juga ya...??? Kan baru kenal...??? " Echa bingung sendiri.
" Untungnya Winda baik, mau mengulurkan tangan duluan. Coba bayangkan, kalau Winda sama seperti Shanti, bisa ribut besar mereka berdua " kata Nirmala.
" Iya juga ya, tapi bagus sih. Tadi Winda cukup berani membalas ucapan Shanti. Di skakmat telak dia " kata Echa.
" Sudahlah jangan dibahas lagi " Nirmala mengakhiri percakapan tentang Shanti dan Winda.
Sementara di kantin Winda dan Vera.
" Jangan terlalu diambil hati ucapan Shanti tadi. Anaknya memang begitu, suka seenaknya sendiri " kata Vera.
" Aku gak marah, hanya saja, waktu Shanti bawa-bawa nama sekolah, aku jadi kesal, itu saja " kata Winda.
" Tapi... aku salut. Kamu mau mengulurkan tangan duluan, padahal sudah jelas-jelas Shanti duluan yang cari masalah " kata Vera.
" Ya gak apa-apa. Lagian aku juga salah " kata Winda.
" Aku yakin, Shanti sekarang ini masih kesal dengan dirimu " kata Vera.
" Jangan suuzhon " kata Winda.
" Ya lah " kata Vera.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Hayoo teman-teman ada yang pernah punya teman seperti Shanti ??? Dilawan cari ribut, di diamkan nyesek. Terakhir cuma bisa sabar sabar ☺️☺️.