
Saat MOS hari pertama di isi dengan kata sambutan, pengenalan sekolah, visi dan misi sekolah, guru-guru yang mengajar dan pengenalan dari setiap jurusan yang ada.
MOS di sekolah ini tidak menerapkan yang aneh-aneh, jadi kesannya tidak terlalu terbebani dengan atribut yang berlebihan.
Hanya sekedar papan nama dan jurusan, rambut di ikat 2, memakai tas dari kantong plastik dan membawa kaleng yang diisi batu kerikil.
Saat jam istirahat tiba, Winda hanya duduk dalam ruangan, karena kebetulan dirinya membawa makanan ringan dan air minum dari rumah.
" Hai...!!! Win-da Ra-ha-yu " seseorang menyapa.
" Hai juga. Ve-ra Se-si-lia " Winda menirukan gaya bicaranya.
" Boleh duduk disini ? " tanya Vera.
" Hem, duduklah " jawab Winda.
" Wahh, kamu bawa bekal dari rumah. Jajanan semua " kata Vera.
" Mau ? " Winda menawarkan.
" Boleh. Dari awal aku perhatikan, kamu diam saja, jarang bicara, aku pikir bakalan susah diajak mengobrol " kata Vera.
" Gak ada yang aku kenal satupun " kata Winda.
" Teman SMP mu, gak ada satupun, yang sekolah disini ? " tanya Vera.
" Gak ada. Sekolah ini cukup jauh dari rumahku, teman-temanku gak minat " kata Winda.
" Memangnya, kamu tinggal dimana ? " tanya Vera.
" Di pusat kota, jalan Jawa " jawab Winda.
" Jalan Jawa ? Dari SMANSA, kemananya ? " Vera bertanya lagi.
" Di belakangnya, berjarak tiga rumah dan jalan aspal " kata Winda.
" Sekolah SMANSA dekat rumah dan kamu pilih sekolah SMKK yang jauh ke pelosok sini ? Gila...??? " Vera heran.
" Ya gak apa-apa. Kalau kamu tinggal dimana ? " tanya Winda.
" Aku tinggal di jalan Irian " jawab Vera.
" Jalan Irian ? Yang dekat pasar itu kan ? " tanya Winda.
" Begitulah " kata Vera.
" Ngatain aku, kamu sendiri juga jauh dari sekolah ini " kata Winda.
" Apa boleh buat, aku tidak tertarik masuk SMA" kata Vera.
" Kalau begitu sama, aku juga. Waktu tau aku masuk sini, orang tuaku sampai sakit kepala " kata Winda.
__ADS_1
" Orang tuaku juga. Kita senasib berarti " jawab Vera.
" Dulu kamu SMP mana ? " tanya Winda.
" SMP 2 " jawab Vera.
" SMP 2 itu kan, SMP favorit. Anak-anak SMP 2 terkenal pintar-pintar. Wuih keren, ternyata kamu tamatan sekolah terfavorit " puji Winda.
" Biasa saja, kalau kamu dari SMP mana ? " tanya Vera.
" SMP 3 " jawab Winda.
" SMP 3. Sepupuku juga tamatan SMP 3, tapi kayaknya gak ketemu dech, soalnya dia sudah kuliah sekarang " kata Vera.
" Sudah kuliah pakai dibahas lagi. Oh ya, bagi nomor hp mu, supaya bisa saling kirim pesan " kata Winda.
Mereka pun, saling bertukar nomor hp. Walaupun baru berkenalan mereka sudah akrab mengobrol, berbicara santai dan tidak ada rasa canggung.
" Sayang sekali ya, jurusan kita tidak ada laki-lakinya " kata Vera.
" Iya juga ya. Tapi aku heran jurusan Tata Kecantikan justru ada laki-lakinya, walau cuma satu " kata Winda.
" Iya benar, dilihat dari gelagatnya seperti..." Vera mempraktekkan gerakan gemulai yang dibuat-buat.
" Jangan begitu " kata Winda.
" Kenapa ? Memang iya " kata Vera.
" Ssttt...!!! Jangan kencang-kencang, nanti ada yang dengar " kata Winda memperingatkan.
Seketika Winda dan Vera langsung berbalik melihat siapa yang sedang bicara di belakang mereka.
" Em... em... itu...." Winda gugup.
" Anaknya memang begitu, cobalah kenalan, anaknya baik kok " kata Nansi Magani.
" Nansi Magani ( membaca papan nama ), kamu jurusan Tata Busana juga ? " kata Winda.
" Tertulis jelas dipapan nama kan ? " kata Nansi tegas.
" Huuff syukurlah. Aku kira anak Kecantikan tadi " Vera bernapas lega.
" Daritadi aku perhatikan, kalian asyik mengobrol. Sampai tidak sadar, ada orang dibelakang kalian " kata Nansi.
" Kami kan, tidak bicara jelek. Winda Rahayu, kamu bisa memanggilku Winda " kata Winda mengulurkan tangannya.
" Nansi Magani. Panggil saja Nansi " kata Nansi menjabat tangan Winda.
" Ngapain kenalan ? Kita bisa saling baca papan nama " kata Vera.
" Itu hanya formalitas, kamu ini " kata Winda.
__ADS_1
" Aku dengar kalian tinggal di pusat kota ? Lalu kenapa kalian jauh-jauh memilih sekolah di sini ? " tanya Nansi.
" Kenapa ? Tidak boleh ? " Vera dengan nada ketusnya.
" Bukan begitu, hanya saja..." kata Nansi.
" Sekolah ini bagus kok. Jauh dari keramaian, kita bisa belajar dengan tenang, lagipula apa bagusnya sekolah di pusat kota, tapi... kita tidak nyaman di sana " kata Winda.
" Kalian benar-benar aneh " kata Nansi.
" Kamu sendiri, kenapa sekolah di sini ? " tanya Winda.
" Rumahku tidak jauh dari sini. Winda, aku mau tanya, tapi... kamu jangan tersinggung ya ? " kata Nansi.
" Mau tanya apa ? " tanya Winda.
" Kamu... Islam apa Kristen ? " tanya Nansi.
" Aku Islam, memangnya kenapa ? Apa kamu Kristen ? " Winda bertanya balik.
" Kalau kamu Islam, kenapa gak pakai jilbab ? Seperti teman Islam lainnya ? " tanya Nansi.
" Kamu lihat seragamku, pendek kan. Memang dari awal aku gak pakai jilbab. Oh ya kamu mau ? " Winda menawarkan makanan.
" Terima kasih " Nansi mengambil beberapa keping snack.
" Hei...!!! Cepat habiskan, sepertinya waktu istirahat sudah selesai " kata Vera mengingatkan.
Winda memperhatikan Nansi dengan seksama, anaknya sedikit jutek dan berterus terang, tapi... justru itu yang membuat Winda menyukainya.
" Nansi...!!! " panggil Winda.
" Ya " jawab Nansi.
" Kalau sudah masuk nanti. Ayo kita duduk sebangku " kata Winda.
" Boleh " Nansi langsung menjawab.
" Beneran ya. Aku akan memilih meja tepat di depan meja guru, aku tidak suka bagian belakang. Siap-siap kamu ya..." kata Winda.
{ Anak ini benar-benar unik } gumam Nansi dalam hati.
Winda tersenyum, ia senang sudah mendapatkan teman baru langsung dua sekaligus. Kini tinggal mengakrabkan diri saja dan semoga hubungan dengan teman-teman yang lain, akan sama baiknya.
Catatan : Secara kebetulan Winda menjadi satu-satunya murid perempuan Islam yang tidak mengenakan jilbab pada saat itu.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Berbeda sendiri itu memang berat ya teman-teman apalagi kalau ketemu teman yang gak menerima perbedaan, rasanya 😤.