
Saat jam istirahat pertama, kirain dipanggil mau ada yang dibicarakan, ehh... tau-taunya malah cuma jadi bantal untuk tidur saja. Winda duduk di lantai, bersandarkan dinding, pojokan sudut perpustakaan yang tak diminati para murid-murid dan Noel yang tiduran di pangkuan Winda.
Tidak pakai A, tidak pakai B, tanpa basa basi, Winda datang langsung di duduk kan dan mulai tiduran. Tangan Noel bersedekap, menekuk salah satu kakinya dan mata terpejam.
Winda mengamati wajah Noel, diperhatikannya dengan seksama, bulu mata lentik, alis tebal, hidung mancung, bibir yang kemerahan dan kulit wajah yang bersih tanpa ada embel-embel lainnya. Tanpa komando apa pun, tangan Winda bergerak mengusap kepala Noel dengan berlahan.
Winda segera menghentikan gerakan tangannya saat mulai tersadar dengan apa yang dirinya lakukan, namun rupanya Noel tak benar-benar tidur, tangannya segera menarik kembali tangan Winda dan meletakkan kembali di kepalanya.
" Jangan berhenti. Aku menyukainya " Noel bergumam lirih.
" Kata tidur " kata Winda kembali mengusap kepala Noel.
" Hanya ingin memejamkan mata sebentar, beberapa hari ini aku kurang tidur " kata Noel dengan mata terpejam.
" Kalau begitu, kenapa tidak istirahat di rumah saja " kata Winda.
" Aku kangen aroma badanmu " kata Noel.
Seketika Winda tertawa kecil mendengar ucapan Noel tersebut, bukannya bangga malah rada aneh di dengar telinga. Aroma badan ? Sampai detik ini pun, Winda juga belum mengerti, aroma yang bagaimana ? Yang dimaksud oleh Noel.
" Winda " panggil Noel.
" Hemm " jawab Winda.
" Boleh aku minta sesuatu ? " tanya Noel.
" Minta apa Kak ? " tanya Winda.
" Jika aku membutuhkan, kamu akan datang menemuiku kan ? Temani aku, seperti saat ini, mau kan ? " kata Noel membuka kedua matanya dan menatap Winda.
Winda terdiam menatap Noel, bingung, tidak tau harus menjawab apa ? Dirinya memang sudah berjanji, tetap akan berteman. Tapi permintaan Noel barusan, sedikit...???
" Aku suka aroma ini, benar-benar membuatku merasa nyaman " kata Noel.
Winda kembali berfikir, lagi-lagi aroma yang dibahas, memang badannya ada bau yang bagaimana sih ? Winda membau dirinya, tapi seperti biasa, tidak ada bau-bau yang aneh-aneh tercium.
" Mau kan ? Please...??? " kata Noel.
Entah kenapa tatapan Noel, serasa sangat imut saat memohon, hati Winda pun jadi melunak, akhirnya Winda tersenyum, menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan Noel.
" Thank you. Kamu yang terbaik Winda " kata Noel secepat kilat melingkarkan tangannya di pinggang Winda.
__ADS_1
Noel kembali memejamkan matanya di pangkuan Winda, entah kenapa Winda merasa, saat ini Noel sedang menghadapi masalah, tatapannya tadi memang terlihat rada imut dan juga seperti menyembunyikan sesuatu.
Mungkin memang ada masalah. Makanya Noel bersikap rada manja, butuh teman di sampingnya, walau pun hanya duduk diam, cukup duduk menemani, tanpa harus tau sedang menghadapi masalah apa ? Itu lah yang ada dipikiran Winda saat ini.
" Winda. Bagaimana dengan Karin ? Masih mencari masalah denganmu ? " tanya Noel.
" Karin ? Sudah gak, dia sudah minta maaf " kata Winda.
" Setelah insiden foto itu ? " tanya Noel.
" Kak Noel juga tau ? Emm... jangan-jangan ??? " kata Winda.
Winda menyipitkan bola matanya, memandang lurus ke arah Noel, Winda masih ingat, Noel bilang punya cara sendiri untuk menyelesaikannya dan sedang dalam proses. Apa ini cara yang dimaksud waktu itu ?
" Hem, aku dapat kiriman foto dari temanku, karena Karin bilang padanya. Karin mengenalku, seperti menjual namaku, kamu paham maksudku kan ? " kata Noel.
" Hemmm... wajar sih. Kakak begitu terkenal di luar sana, bahkan Reza tau betul Kakak itu siapa, tapi anehnya Reza gak sadar kalau Kak Noel satu sekolah dengan aku " kata Winda.
" Aku ingin sekali memukul Reza saat ini " kata Noel.
" Punya salah apa, Reza sama Kakak ? Dia kan cuma cerita yang dia tau saja, apa salahnya ?" kata Winda.
" Ssstt....!!!! " Winda memberi isyarat untuk diam, menunjuk telinga agar fokus mendengarkan sesuatu.
Terdiam beberapa detik dan tak lama kemudian terdengar suara bel, tanda waktu istirahat sudah berakhir. Winda tersenyum dan memberi isyarat agar Noel segera bangun dari tidurannya, dengan malas Noel bangun dari pangkuan Winda, hingga mendapatkan sedikit paksaan agar mau bangun.
Terdengar jelas dari mulut Noel, berdecak tidak suka, raut wajahnya juga jadi muram. Winda menggelengkan kepalanya, heran, ini hari Noel benar-benar manja banget.
Mereka berdua segera keluar dari perpustakaan dan kembali ke kelas masing-masing. Saat perjalanan menuju kelas, Winda berpapasan dengan Shanti. Seperti biasa Shanti menatap dengan tatapan juteknya, bisa ditebak gak lama akan keluar pertanyaan dari mulutnya itu.
" Ada hubungan apa kamu dengan Noel ? " tanya Shanti menghadang jalan Winda sambil menyilangkan kedua tangannya.
Winda menghembuskan napas, memalingkan wajahnya ke arah lain, benar kan, dugaannya dan Winda lagi malas berdebat dengan Shanti. Dirinya lebih memilih diam, berjalan melewati Shanti begitu saja, tapi bukan Shanti namanya, kalau menerima begitu saja.
Shanti ingin mendapatkan jawaban, sehingga ia menarik kerah baju Winda dari belakang, yang membuat Winda kembali mundur beberapa langkah, Shanti menatap tajam Winda, menunggu jawaban.
" Gak ada yang spesial, seperti bayangan mu. Perpustakaan tempat umum, semua murid boleh datang berkunjung, tanpa terkecuali " jawab Winda.
" Kamu tau, kalau Karin menyukai Noel ? " tanya Shanti.
" Tau. Kenapa ? Kamu menyukai Kak Noel juga ? Ya silahkan, gak ada hubungannya dengan aku kan ? " kata Winda.
__ADS_1
" NGACO....!!! " jawab Shanti.
Shanti berbalik dan jalan duluan meninggalkan Winda begitu saja, yang membuat Winda menjadi bingung sendiri atas sikap Shanti. Apa-apaan coba ? Gak jelas betul ? Pertanyaannya kadang seperti orang yang perduli, tapi terkadang malah terkesan mengkritik dengan bahasa yang bikin panas telinga. KADANG-KADANG SAJA.
Winda jadi teringat dengan foto yang di club malam itu, penasaran juga sih dengan yang dilihatnya itu ? Apa yang dia lakukan di sana ? Penasaran ingin tau, tapi kalau mau tanya ? Mulai dari mana ? Masa iya langsung main tanya saja ?
Sesampainya di dalam kelas, disambut riuh para penghuninya yang sedang senang mendapatkan kabar bahwa hari ini, guru tidak masuk mengajar dan hanya belajar secara mandiri.
" Sering-sering saja Bu Ana gak masuk ngajar. Kan, bisa santai sejenak " kata Vera merasa bersyukur atas kejadian ini.
" Jangan senang, ini sudah mau ulangan semester, harus rajin belajar " Winda mengingatkan.
" Justru karena mau ulangan, istirahat dulu sejenak, gak mendengarkan omelan Ibu Ana, kamu sih enak, gak pernah kena marah. Lah aku sudah kena marah ditambah gosong kulitku, dapat capitan tangan kepiting " keluh Vera.
" Ya salah sendiri, cari perkara dengan beliau " Winda balik menyalahkan sikap Vera.
" Sepertinya di kelas ini, cuma Winda yang belum pernah merasakan capitan kepiting Ibu Ana " sindir Nansi.
" SIAPA BILANG ??? Aku pernah merasakannya sekali " kata Winda ngegas.
" Kapan ??? " Vera dan Nansi bersamaan.
" Waktu kalian ribut banget di kelas, pas aku masuk ruang guru langsung disamperin Ibu Ana, tangan beliau mencubit lenganku sambil berkata Suruh teman-teman mu jangan ribut, kedengaran sampai ruang guru, Ibu benar-benar malu sebagai wali kelas kalian, MENGERTI !!! " Winda menirukan gaya bicara Ibu Ana.
Yang seketika disambut gelak tawa oleh kedua temannya, terutama Vera, dia sangat senang mendengar cerita tersebut, sungguh cerita yang menyenangkan hati, begitu menikmati, tidak menyangka Winda pun tak luput dari capitan kepiting Ibu Ana.
" Seneng ya dengarnya ??? " ledek Winda dengan raut wajah yang kesal.
" Banget " ucap Vera lanjut menertawakan Winda.
Winda menggelengkan kepalanya, benar-benar ya mereka ini sungguh teman-teman yang baik, begitu memang mereka, kalau ada teman yang terjatuh, diketawain dulu baru deh ditolongin dan karena hal itu lah, yang membuat mereka seru.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1