Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 99 Winni ( Winda dan Niko ).


__ADS_3

" Selamat atas kelulusannya, Kak Niko, Kak Rey, Kak Juan dan Kak Noel " kata Winda sembari memberikan buket bunga rajut.


" Kenapa punyaku bunganya kecil-kecil ? yang lainnya besar, punya Juan juga " kata Rey protes.


" Karena punya Kak Rey adalah bunga melati, punya Kak Juan bunga daisy, punya Kak Noel bunga mawar dan sudah jelas, punya Kak Niko adalah bunga matahari. Kak Rey tau, semua ini buatanku sendiri. Justru punya Kak Rey yang paling lama buatnya dan butuh ketelatenan dalam merangkainya, tidak boleh asal-asalan " kata Winda menjelaskan.


" Benarkah ? " Rey belum percaya tapi dalam hatinya cukup tersanjung dengan penjelasan yang Winda berikan.


" Seriusan, buat sendiri ? " tanya Juan juga meragukannya.


" IYA. Buat sendiri ( nada ngengas ) Pinjam buku rajut dari perpustakaan, sampai mau rabun mataku, merajut sambil baca buku. Belum lagi ditambah benang kusut. Gimana ? Cantik kan ? Gak sia-sia dong perjuanganku " kata Winda bangga diri.


" Iya cantik. Terima kasih ya " kata Niko.


" Bunga mawar merah. Seperti pernyataan cinta. Mengungkapkan perasaankah ? " Noel mulai menggoda Winda.


" Hemm ( menyipitkan mata ). Terserah Kak Noel aja lah, mau diartikan bagaimana ? Bunga mawar pink, kalau di kampungku, kebanyakan di pakai untuk nyekar. Kakak tau nyekar itu apa ? ( berhenti sejenak ). Tabur bunga di atas rumah masa depan yang abadi, alias di atas makam " kata Winda.


Seketika Winda mendapatkan tatapan sinis dari para seniornya ini, terutama dari Noel yang cukup tercengang mendengarnya. Noel terdiam sesaat dan sedetik kemudian dengan gesit tangannya sudah mencubit pipi Winda karena gemesnya.


" Berani kamu ya ( terus mencubit ) nyumpahin aku seperti itu, HAHH ... ??? Cari masalah kamu ya ... " kata Noel.


Winda memberontak berusaha melepaskan diri, terus menggosok pipi yang terasa panas, sesekali Winda merintih karena kesakitan.


" Aduh sakit ( menggosok pipi ). Ya, makanya aku buatkan mawar merah, karena itu yang cantik. Lagian siapa yang nyumpahin Kak Noel sih ? Aku kan cuma jelaskan. MEN - JE - LAS - KAN " kata Winda.


" Menjelaskan apanya ... ??? Lebih mirip nyumpahin " kata Noel.


" Ihhh ... sudah di ... " kata Winda.


Ucapan Winda terpotong, tidak selesai, karena tiba-tiba saja datang segerombolan para fans keempat senior ganteng ini, mereka semua hendak memberi hadiah, memberi ucapan selamat atas kelulusan mereka dan sekaligus berfoto bareng. Winda pun bergeser, minggir sejenak, memberi kesempatan dan malahan menawarkan diri menjadi suka relawan, tukang foto dadakan tanpa bayaran pula.


Para murid datang pergi silih berganti, mengucapkan selamat, tidak ketinggalan para teman-teman sekelas Winda, seperti Vera, Nansi, Lovely, Echa, Nirmala dan lainnya. Setelah semua antrian panjang para fans selesai, tentu saja Winda juga gak mau ketinggalan foto bareng mereka sebagai kenang-kenangan.


" Habis ini, kalian mau ikutan pawai kelulusan ? Gabung dengan sekolah lainnya ?" tanya Winda.


" Sepertinya enggak. Aku harus segera pulang. Ada orang tua yang menungguku. Terima kasih atas bunganya ( mengusap kepala Winda ). Tunggu kabar dariku ya ( berbisik ). OK, semuanya aku duluan " kata Noel berpamitan.


" Pasti kedua orang tuanya pulang " kata Juan.


" Orang tua Kak Noel jarang pulang kah ? " tanya Winda.


" Begitulah. Biasa kan, pengusaha, terlalu sibuk " kata Juan.


" Kalau begitu, ayo kita ikut pawai ! " ajak Rey.


" Kalian berdua saja lah, aku akan pergi dengan Winda, hanya berdua, kalian gak boleh ikut " kata Niko.


" Iyalah. Sana berduaan. Ayo Juan, kita pergi, gabung dengan yang lainnya " kata Rey merangkul Juan dan segera pergi menjauh.


*


Saat ini Winda sudah berada di kosan Niko, keduanya sedang sibuk memetik sayuran, menyiapkan semua bahan yang diperlukan, Winda hanya membantu ala kadarnya dan yang memasak tentu saja chef Niko.


Memasak bareng, makan bareng dan mencuci piring bareng juga. Semakin sok romantisan, kala Niko memeluk Winda dari belakang, seketika membuat jantung Winda deg degan.

__ADS_1


" Ada apa Kak ? " tanya Winda mengatasi kegugupannya.


" Aku ingin sekali, kita terus seperti ini, dimulai dari buka mata sampai menutup mata. Akan sangat bagus bila jadi kenyataan, kalau itu sungguh terjadi, keinginanku egois ya ? " kata Niko.


" Bukan egois, tapi justru membuat aku bingung ? Dari buka mata sampai menutup mata ? Bagaimana caranya ? " kata Winda.


" Caranya ! Kita tinggal satu rumah dan untuk itu kita harus menikah dulu. Dengan begitu kita bisa terus bersama " kata Niko.


" Ya enggak bisa dong Kak, aku kan ... " kata Winda.


" Makanya, tadi aku bilang, keinginanku egois, hanya mementingkan keinginan pribadiku. Aku hanya ingin terus bersamamu, itu saja " kata Niko.


Semakin jadi lah deg degan jantung Winda, ditambah lagi, Niko mulai menciumi punggung Winda, berlahan naik, dengan secepat kilat Niko memutarkan badan dan kini mereka berdua saling berhadapan. Saling menatap, saling tersenyum, saling mendekatkan wajah, mendaratkan bibir, mereka pun saling berciuman dengan ... ??? ( silahkan berimajinasi sendiri ).


*


Kini keduanya sudah berpindah tempat, mereka berdua sudah ada di pasar, lebih tepatnya mendatangi sebuah tempat yang merupakan tempat pertama kali mereka bertemu. Duduk di tempat yang sama, posisi duduk yang sama, yang beda hanyalah waktu dan postur badan mereka, yang sudah membesar.


Lebih lengkap lagi kalau ada jajanan kue yang sama, sayangnya kalau siang begini, kue di pasar sudah pada habis apalagi ini siang menjelang sore, sudah tentu para penjual sebagian sudah pada pulang. Entah kenapa tiba-tiba Niko ingin mengunjungi tempat tersebut, mungkin ingin mengenang masa lalu ? Itulah yang dipikirkan Winda.


" Tempat ini tidak banyak berubah, padahal sudah bertahun-tahun. Aneh banget ya ? Sejak pertemuan kita itu, aku selalu datang ke sini, tapi sekali pun aku tidak pernah bertemu denganmu, aku selalu mencari dirimu, hingga akhirnya aku melihatmu saat di sekolah. Waktu itu aku senang banget " Niko bercerita.


" Mungkin, karena aku jarang di pasar " kata Winda.


" Aku akan merindukan tempat ini. Winda, kalau aku pergi, kamu merindukan aku gak ? " tanya Niko.


" Kak Niko ini, kalau kangen ya tinggal telepon dong. Kakak jadi kuliah di luar pulau ? Sebelum pergi harus pamitan sama aku ya ? Gak boleh main pergi begitu saja ? Janji ? " kata Winda.


" Aku .... " kata Niko.


Spontan keduanya langsung berdiri, Winda salim terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh Niko yang disambut senyum sumringah oleh sang Ibu. Tanpa basa basi Ibu mengundang Niko untuk mampir makan bakso di warung, sebagai perayaan kelulusannya dan dengan senang hati Niko menerima tawaran dari sang Ibu.


Ibu berjalan duluan, Niko mengikuti tepat di belakangnya, sementara Winda masih menatap dengan heran, mencerna kejadian barusan yang begitu cepat. Winda benar-benar sangat heran, kenapa Ibunya bisa segitu dekat dengan Niko ? Trus main ajak pergi ? Gak memperdulikan anak sendiri ? Ada yang gak bener ini ? Curiga ini ? Jangan-jangan status anak kandung yang tertukar ini ?.


Winda segera menyusul, berjalan berdampingan tepat di sebelah Niko, seketika Winda menggandeng tangan Niko, tersenyum dan tertawa kecil. Awalnya Niko tampak terkejut karena Winda berani menggandeng tangannya, ditambah ada sang Ibu di hadapannya, sebagai cowok bersikap cool dan menggenggam balik tangan Winda.


Pada saat makan di warung, Niko mengambil kesempatan untuk meminta izin kepada kedua orang tua Winda, agar bisa mengajak Winda keluar dan pulang malam. Aneh bin ajaib, cepat banget dijawabnya dan Bapak pun juga anteng aja bilang iya, gak pakai drama yang aneh-aneh.


" Boleh. Tapi gak boleh lewat tengah malam, pokoknya sebelum tengah malam harus sudah ada di rumah. Mengerti " kata Bapak.


" Siap Pak " jawab Niko dengan tegas.


Winda semakin heran, menatap dengan pandangan curiga dan takjub. Punya aura apa sih seniornya satu ini ? Cepet banget meluluhkan hati orang tuanya ? Bahkan Bapak yang sangat keras pun, dengan mudahnya percaya dan luluh.


*


Pada malam harinya, keduanya pergi ke area bermain, benar-benar bersenang-senang, melewati setiap waktu dengan riang gembira, suara tawa dan senyuman selalu terpancar pada wajah keduanya.


Winda tersenyum lebar memandangi boneka mungil yang berada ditangannya, bahagia banget mendapatkannya, bukan usaha dirinya sih, lebih tepatnya berkat Niko yang mendapatkannya melalui permainan mesin capit.


Sebelumnya Winda sudah benar-benar kesal, karena selalu gagal mengambilnya, dirinya juga sudah menghabiskan banyak koin untuk berusaha mendapatkannya, di koin terakhir, Niko yang mencoba permainan tersebut dan ajaibnya, sekali percobaan berhasil dong.


" Kak Niko keren banget, sekali percobaan langsung berhasil, kenapa aku selalu jatuh, susah banget " kata Winda.


" Perasaan gampang saja mainnya " kata Niko.

__ADS_1


" Memang kamu ya ( menyentil boneka ) maunya diambil sama Kak Niko nih " kata Winda mengomel pada boneka.


" Anggap saja, boneka ini akan menemani kamu, saat aku gak di sampingmu " kata Niko.


" Iya deh, yang sudah mau kuliah jauh. Hemm enaknya di kasih nama siapa ya bonekanya ?" Winda mulai berfikir.


Keduanya terdiam sejenak berfikir, mencari nama yang cocok, Niko pun menjentikkan jarinya, mendapatkan sebuah nama yang bagus.


" Winni ... !!! " seru Niko.


" Winni ? Memangnya Winnie the Poo, enggak ah ... !!! " Winda menolak usulan Niko.


" Winni aja, bagus itu " kata Niko.


" Enggak ah " Winda masih menolaknya.


" Nama Winni kan, cantik, sesuai seperti boneka dan pemiliknya. Winni juga gabungan dari nama kita berdua, Winda dan Niko. Cocokkan ? " kata Niko menjelaskan dengan bangga.


Winda menaikkan alisnya kemudian tertawa kecil. Dapat dari mana ide itu ? Winni gabungan dari Winda dan Niko. Masuk akal sih, tapi kok terdengar ? Bagaimana gitu ?


" Kamu gak suka ya ? Padahal kan, sudah cocok, Winda dan Niko disingkat Winni " Niko dengan nada yang terdengar sedikit kecewa.


" Iya deh ... kasih nama Winni " kata Winda akhirnya mengalah.


" Bener ya ... ? " kata Niko.


" Hem ( mengangguk ). Hallo namaku Winni salam kenal " kata Winda dengan suara yang dibuat sok imut.


" Hallo Winni, temani mamamu saat papa gak ada ya, selalu berada di samping mama biar gak sedih jauh dengan papa " kata Niko.


Seketika Winda langsung memukulkan boneka tersebut ke wajah Niko, geli banget dengarnya dan bikin malu.


Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam, keduanya memutuskan untuk segera pulang, ingat pesan Bapak tengah malam harus sudah sampai di rumah. Dalam perjalanan pulang, merasa ada yang tidak nyaman Niko menghentikan motornya di tepi jalan. Segera turun, melepaskan helm, mengamati dan membersihkannya.


" Kenapa Kak ? " tanya Winda.


" Ada semut masuk kayaknya, kerasa kayak ada yang jalan-jalan " kata Niko


Entah apa yang Niko lihat, seketika Niko melebarkan bola matanya, melepaskan helm di tangannya, merangkul Winda beberapa saat, kemudian mendorongnya dan sesaat kemudian terdengar suara yang sangat keras.


BRRAAAAKKKKK


Winda menyaksikan benda yang ada dihadapannya hancur berterbangan seketika ke segala penjuru, bahkan dirinya juga terkena serpihan tersebut.


Arah pandangan mata Winda menyaksikan semuanya yang terjadi dihadapannya ini, semua terjadi begitu sangat cepat, tidak sempat bereaksi apa pun, diam terpana untuk sesaat, segera bangkit berdiri dan berlari.


.


.


.


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.

__ADS_1


__ADS_2