Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 90 Tenyata bisa juga.


__ADS_3

Baru saja Winda masuk ruang kelas, langsung ditarik, didudukkan dan Nansi kembali mengamati wajah Winda. Mengangkat dagu, menyipitkan mata, gayanya sok berfikir dan membuat Winda semakin bingung. Ada apa ?


" Pacarnya Kakakmu galak juga ! " Nansi memulai pembicaraan.


Belum saja Winda menjawab, datang lah Vera dengan langkah cepat, hentakan kakinya sampai terdengar seperti gempa bumi, seketika mengerem tepat di hadapan Winda. Vera mengatur napasnya yang masih terengah-engah.


" Di kejar maling kah ? " tanya Winda pada Vera.


" Haduchh... napas...ku...!!! Tunggu... aku... napas... dulu...!!! " kata Vera dengan napas yang belum stabil.


" Pasti kamu juga dengar tentang kejadian kemarin ya ? " Nansi menebak isi kepala Vera.


" Hem ( mengangguk ) Aku dengar-dengar, kemarin kamu berantem dengan pacarnya kakakmu. Gimana ceritanya ? " kata Vera.


" Coba cerita Win ! Aku mau dengar versinya kamu " tanya Nansi.


" Haaiiss.... kalian ini " Winda teringat dan rada kesal.


Winda pun menceritakan kejadian kemarin yang menimpa dirinya, tidak semuanya, hanya inti-intinya saja, kedua temannya mendengar dengan serius dan seperti mendapatkan kabar bahagia, si Vera malah senang tersenyum lebar.


" Jadi Mas Widi, sekarang jomblo dong ? Wahh ada kesempatan nih...!!! " Vera tampak bahagia.


" Jangan macam-macam Ver...!!! " seketika Winda memperingatkannya.


" Jadi, siapa cewek dari kelas kita itu ? " tanya Nansi.


" Belum aku pastikan. Nanti, baru mau aku tanyain. Ini sudah yang bikin aku paling malas, mereka yang menjalin hubungan, ada apa-apa, aku kena imbasnya. Sial betul lah " keluh Winda.


" Kalau dipikir-pikir belakangan ini, kamu memang selalu sial. Kena timpuk bola dan sekarang kena labrak mantannya kakakmu, sampai gores-gores kena cakaran " ledek Vera.


" Ya...!!! Ledek terus...!!! Seneng betul lihat teman kena musibah. Begitu berharap, aku terima dirimu jadi ipar. Hisss... ogah banget " Winda balas meledek.


" Aku bersikap baik pun, kamu tetap gak terima juga " kata Vera.


Ketiganya pun tertawa kecil, tatapan mata Winda tertuju pada Shanti yang baru saja masuk ke dalam kelas dan tanpa sengaja, pandangan mata saling bertemu. Untuk sesaat keduanya saling memandang, tersenyum basa basi ala kadar dan sesaat kemudian sama-sama berpaling.


Dalam hati Winda ingin sekali langsung menemui Shanti dan bertanya, namun Winda mengurungkan niatnya. Harus menunggu waktu yang tepat, agar dapat bertanya dengan leluasa dan tanpa gangguan dari siapa pun.


Saat jam istirahat pertama tiba, Winda mengajak Shanti berbicara berdua, ke tempat yang rada sunyi, tempat yang jarang banget dilalui murid-murid yang lainnya. Shanti nampak tenang, tidak ada kegugupan saat Winda mengajaknya berbicara.


" Sejak kapan kamu kenal kakakku ? " Winda bertanya tanpa basa basi.


Shanti bereaksi santai, biasa saja, tidak tampak gugup atau pun terkejut, sepertinya sudah paham arah pembicaraan ini kemana. Begitu pun Winda yang berusaha tetap tenang.

__ADS_1


" Belum terlalu lama " jawab Shanti.


" Kamu tau, kalau aku adiknya ? " tanya Winda.


" Tau, tapi belum lama ini taunya, kalau awalnya aku gak tau. Ada masalah ? " kata Shanti.


" Haaiiss...!!! Benar-benar sial ( bergumam lirih ). Gak usah pura-pura, pasti kamu sudah dengar yang menimpaku kemarin. Berniat jadi penggantinya kah ? " kata Winda.


" Kamu mengizinkannya ? Boleh juga...!!! " kata Shanti.


" Lalu, pacarmu yang kemarin, kemana ? Yang kamu temui di clup " kata Winda yang membuat Shanti terkejut.


Winda tersenyum sinis, mungkin Shanti tidak mengira Winda akan tau sesuatu mengenai dirinya. Shanti kembali berusaha tenang dan membalas senyuman Winda.


" Sejujurnya aku tidak perduli, itu pacarmu atau bukan, karena itu urusan pribadimu. Tapi, jika kamu berniat menjalin hubungan dengan Mas Widi, terus terang aku katakan, aku gak suka " kata Winda.


" Hanya karena kita satu sekolah ? " tanya Shanti.


" Iya. Tepat sekali " jawab Winda.


" Untuk sekarang ini... sepertinya belum, tapi... untuk ke depannya... entahlah. Masa depan, gak ada jaminan kan ??? " kata Shanti.


" Haaiiss...( mengacak rambut sendiri ). Kenapa dari sekian banyak cewek, Mas Widi harus kenal sama kamu sih Shan...? Kenapa gak yang lainnya saja sih ?? Gini caranya aku yang susah " Winda malah mengeluh.


" Kamu tau Shan. Amel itu, dulunya temanku, kami satu sekolah tapi beda kelas. Aku seneng banget waktu berteman dengan dia, tapi ternyata aku cuma dimanfaatkan. Dia bahkan, melakukan segala cara agar dapat pacaran dengan Mas Widi.


Yang membuatku sedih adalah dia tidak minta maaf telah melakukan kesalahan padaku. Jika kamu jadi aku ? Bisakah kamu tetap bersikap baik, setelah semua yang dilakukannya padamu ?


Pada akhirnya, aku lah yang dicap sebagai teman yang tidak baik, adik yang jahat, tidak mau mengalah. Haaa...( menghembuskan napas ) Sial... aku malah jadi curhat padamu " kata Winda.


Shanti mendengarkan dengan seksama setiap perkataan yang keluar dari mulut Winda, sedikit banyak dapat mengerti perasaan Winda saat ini, alasan dibalik semua sikap juteknya yang berhubungan dengan kakaknya, antara benci dan sayang, beda tipis.


" jadi... itu yang kamu rasakan selama ini ? Kenapa tidak kamu sampaikan ke Kakakmu ?" kata Shanti.


" Berbicara sama orang kasmaran, sama saja bicara dengan tembok. Gak akan didengar, percuma, seperti angin lewat. Aku sudah kasih tau, tapi apa boleh buat, Mas Widi lebih percaya sama Amel. Lagian aku juga yakin, sebenarnya pacar Mas Widi itu lebih dari satu" kata Winda.


Winda bangkit dari duduknya, melakukan peregangan badan, yang membuat Shanti tertawa kecil, karena gerakan Winda yang terlihat lucu di matanya. Mendengar suara tawa, Winda berbalik menatap Shanti, untuk pertama kalinya Winda melihat Shanti tampak begitu cantik dari biasanya.


Memiringkan kepala, mata terfokus memandang wajah Shanti, kok bisa kelihatan beda ? Efek senyumannya ? Ternyata bisa juga, Shanti tersenyum begitu ? Sadar kalau diperhatikan Shanti kembali bersikap seperti biasanya.


" Lihat saja ke depannya, sesuai harapanmu apa gak " kata Shanti.


Setelah berkata demikian Shanti langsung pergi meninggalkan Winda begitu saja, dalam sekejap hilang lah perasaan yang Winda rasakan barusan terhadap Shanti. Barusan dipuji, sekarang sudah kembali menyebalkan lagi, rasanya nyesel sudah muji.

__ADS_1


Winda berjalan kembali ke dalam kelas, sesampainya di kelas, Nansi mengajaknya ke kantin, mereka pun pergi membeli beberapa camilan makanan ringan dan minuman kemasan. Saat mereka berdua dalam perjalanan kembali ke kelas, melewati jalan koridor sekolah yang sama, saat pergi ke kantin.


Tiba-tiba mereka berdua dihadang oleh Jevi dengan berkacak pinggang, tampak sedang kesal, tapi kenapa ? Karena merasa tidak melakukan apa-apa, baik Winda atau pun Nansi santai saja jalan dan saat hendak melewati, baru lah Jevi bereaksi.


" Kalian ini benar-benar ya, dari tadi aku perhatikan, bolak balik lewat sini terus. Gak lihat kah aku ngepel dari tadi...!!! Capek tau, dari tadi selalu aku pel, gak bersih-bersih, selalu saja ada jejak sepatu " kata Jevi mengomel.


Winda dan Nansi menatap Jevi, mengamati lantai koridor, memang terlihat bersih mengkilap, sehingga jejak sepatu mereka berdua terlihat sangat jelas dan tak jauh dari pinggir koridor, memang ada alat pel.


" Ohh... jurusanmu lagi praktek ya ? Pantesan sekolah kelihatan beda dari biasanya " kata Nansi.


" Ya maaf, kami gak tau, kalau kalian lagi praktek. Ya sudah... tuh bersih kan lagi ya...!!! " kata Winda.


Jevi hanya manyun, menahan rasa kesalnya, percuma juga kalau marah, mau gak mau, Jevi mengambil alat pelnya dan membersihkan kembali. Terlintas lah ide jail dalam kepala Winda. Sesekali mengerjai Jevi boleh juga nih...!!!


Winda segera berlari ke tanah basah, sengaja mengotori sepatunya dan membuat jejak sepatu di koridor yang sudah bersih. Nansi hanya mengamati kelakuan Winda sambil menggelengkan kepala, benar-benar cari perkara...!!!


Dengan wajah tanpa dosa Winda membuat banyak jejak sepatu, bibirnya tak berhenti tersenyum, sudah membayangkan reaksi Jevi nanti saat membersihkannya, pasti lucu ngepel sambil ngomel-ngomel.


" Ayo, cepat lari. Sebelum Jevi sadar " ajak Winda.


Keduanya berjalan dengan cepat, meninggalkan tempat tersebut, seketika mata terbelalak, saat melihat lantai koridor yang banyak jejak sepatu dan bukan jejak sepatu biasa, banyak sekali tanah yang menempel. Jevi sadar kalau jejak tersebut memang sengaja dibuat untuk mengerjai dirinya.


" WINDAAA....!!!! " Kevin berteriak dengan kencang.


Dari kejauhan samar-samar Winda dapat mendengar teriakkan Jevi, yang dengan kesal menyebut namanya, seketika Winda tertawa kecil, pasti sekarang ini Jevi dengan terpaksa mengepel kembali lantai koridor.


" Kamu kenapa Win ? Senyam senyum sendiri..." kata Vera yang merasa curiga.


" Gak apa-apa, ada yang lucu saja " kata Winda.


" Habis ngerjain Jevi dia. Hari ini anak Perhotelan lagi praktek, mereka bersih-bersih sekolah " kata Nansi.


" Wahh... parah kamu Win...!!! " kata Vera.


" Apaan sih, orang aku cuma lewat saja kok " Winda beralasan.


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.


__ADS_2