Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 49 Mengikuti ???


__ADS_3

Saat ini Winda baru saja selesai membayar makanan yang dipesannya, saat berjalan menuju parkiran motor, pandangan mata mengenali seseorang yang nampak familiar, tidak asing ? Winda kembali melihat orang tersebut, diamati baik-baik, takutnya salah orang.


Masa dia ? Gak mungkin ah ? Tapi mukanya mirip banget ?. Winda mengamati penampilan cewek tersebut, rambutnya panjang bergelombang yang dibiarkan terurai, memakai baju mini dress yang memperlihatkan pundak dan paha putihnya dengan sangat jelas, memakai sepatu hils dan tak lupa tas kecil di tangannya.


Winda menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dia ? Mungkin hanya mirip saja ?. Namun seketika berubah, kala Winda mendengar sebuah nama panggilan yang ditujukan pada cewek tersebut, terdengar sangat jelas di telinga Winda, sampai-sampai Winda benar-benar kaget dibuatnya.


Winda benar-benar tak menyangka, penampilan saat di sekolah dan yang dilihatnya sekarang ini, sangat bertolak belakang, serasa melihat dua orang berbeda, ada ya orang seperti itu ?


Cewek tersebut dihampiri oleh seorang laki-laki yang kalau dilihat usianya sedikit lebih tua beberapa tahun, namun berpenampilan rapi dan cukup modis. Mereka berdua nampak akrab satu sama lainnya, bahkan gak sungkan menunjukkan kemesraan mereka walau sedang di tempat umum.


Melihat hal tersebut, awalnya Winda tidak ingin mengetahui lebih lanjut, karena dapat diduga pasti mereka pacaran. Tapi anehnya ? Setelah laki-laki tersebut pergi, datang lagi seorang laki-laki yang lebih tua dari laki-laki pertama tadi dan mereka berjalan pergi dari tempat tersebut.


Loh kok ? Pergi dengan laki-laki lain ? Bapaknya ? Namun kalau dibilang bapak ? digandeng mesra banget ? gak lazim disebut hubungan anak dan bapak, lalu dia siapa ?


Ketahuilah kalau rasa penasaran sudah timbul di dalam hati, maka kita akan tergerak untuk mencari tau yang ingin kita ketahui dan akhirnya jadi penguntit kan.


Entah kenapa Winda malah berakhir mengikuti pasangan yang tak lazim tersebut, terus membuntuti dari jarak yang aman, sesekali bersembunyi agar tak ketahuan. Winda terus mengikuti langkah kaki mereka pergi, tanpa menyadari kalau dirinya sudah cukup jauh dari tempat parkir motornya dan tanpa sadar Winda pun juga diikuti oleh seseorang.


Fokus Winda hanya pada pasangan yang diintainya, sampai tidak sadar memasuki kawasan yang cukup rawan untuk seorang gadis apalagi sendirian, langkah kaki Winda terhenti, kala ada tiga orang pemuda yang menghadang dirinya.


" Hai adik kecil "


" Kamu nyasar ? "


" Mau Kakak temani ? "


Winda tidak menghiraukan ketiga pemuda tersebut, pandangan mata melihat ke arah depan, namun yang diikuti tadi telah menghilang, dirinya kehilangan jejak. Winda melihat ke sekeliling tetap tidak ada, saat itulah ia baru sadar, kawasan ini nampak asing ? ini di mana ? kawasan apa ?


" Mari, Kakak temani "


Winda menelan air liurnya, ketiga pemuda tersenyum dengan sejuta makna yang justru membuat Winda merasa takut, tersadar kalau ini situasi yang tidak bagus buat dirinya. Winda berfikir cepat, supaya dapat keluar dari situasi ini dan yang di kepalanya hanya terlintas kata LARI.


Tanpa pikir panjang Winda berbalik hendak lari, namun tangannya keburu dicegah oleh seorang pemuda tersebut, ketakutan Winda semakin menjadi-jadi, tiga lawan satu, gak mungkin menang.


" Mau kemana ? "


" Ayo, dengan Kakak "

__ADS_1


Ketiga pemuda tersenyum lebar


Tanpa berkata apa-apa, Winda langsung menggigit tangan pemuda tersebut, menginjak kaki dia dengan kuat dan segera berlari secepat yang dirinya bisa. Perlakuan Winda membuat ketiga pemuda tersebut menjadi marah, mengeluarkan kata-kata makian dan memutuskan mengejar Winda.


Winda terus berlari tanpa menoleh ke belakang lagi, yang ada di kepalanya saat ini hanya ada kata LARI saja, sementara ketiga pemuda masih terus mengejarnya sambil meneriaki untuk berhenti, gobl*k saja kalau Winda mau menurutinya.


Hingga tiba-tiba sepasang tangan muncul entah dari mana, menarik dan membekap mulut Winda. Tentu saja Winda melakukan perlawanan, dirinya baru diam tak bergerak, saat melihat orang itu adalah Kak Niko, memberi isyarat untuk tetap diam, mereka berdua bersembunyi di balik semak-semak tanaman, membungkukkan badan sekecil mungkin agar tak terlihat dan ditemukan.


Setelah bersembunyi beberapa saat, Niko melirik ke sekitar memastikan kondisi, apakah sudah aman, mereka pun segera keluar dari tempat persembunyian.


" Kamu ngapain di kawasan ini ? sendirian lagi ? kamu gak tau, ini kawasan apa ? " Niko langsung marah dong.


{ Emangnya ini kawasan apa ? kenapa Kak Niko marah ? } batin Winda.


" Kamu ngapain ? sampai di kejar pemuda-pemuda tadi ? " tanya Niko.


Karena tidak ingin terjadi salah paham, Winda pun menceritakan dari awal dirinya bisa sampai di kawasan tersebut, berurusan dengan para pemuda tidak dikenal dan berakhir dengan melarikan diri.


Setelah itu Niko menjelaskan, kawasan tersebut masuk area club malam, tidak sembarangan orang bisa masuk dan ada batasan umurnya. Winda menganggukkan kepalanya tanda mengerti tentang kawasan yang tadi ia masuki, namun justru menimbulkan pertanyaan baru di hati, ngapain xxxxx ke sana ?


" Kamu diapain sama mereka ? ada yang terluka ? " tanya Niko dengan tatapan lembutnya.


Seketika Niko menarik tangan Winda, memberi isyarat menunjuk ke arah para pemuda yang mengejarnya barusan dan mereka pun segera berlari menjauh dengan bergandengan tangan.


Winda terus mengikuti setiap langkah Niko, Winda mengamati bahu Niko yang tampak lebih lebar saat dipandang dari belakang, tercium jelas aroma parfum dari tubuh Niko, entah kenapa arah pandangan Winda selalu tertuju pada senior yang ada di depannya ini.


Niko tersenyum lebar saat menghentikan langkahnya, mereka berdua bernafas dengan terengah-engah, lalu keduanya saling tertawa kecil, entah apa yang mereka tertawakan.


Mata Winda serasa terhipnotis, saat melihat Niko tertawa, terlihat barisan gigi putihnya, entah dari mana serasa ada cahaya bling bling mengelilingi tubuh Niko. Wahai jantung jangan berdegup kencang lagi, kembali lah normal, Winda menekan dadanya sendiri.


{ Kenapa Kak Niko ganteng banget ? } batin Winda.


" Kita sudah cukup jauh, kamu capek ? " tanya Niko.


Winda hanya menggelengkan kepalanya, jantungnya masih saja berdebar-debar hingga membuat mulutnya tetap diam terkatup. Niko melirik ke arah genggaman tangannya, tak ada niatan sedikit pun untuk melepaskannya dan sepertinya Winda juga tidak keberatan dengan hal tersebut.


" Motorku....!!! " Winda teringat meninggalkan motor di parkiran.

__ADS_1


" Kamu bawa motor ? " tanya Niko.


" Iya, aku tinggal di parkiran dekat.... " seketika arah pandangan mata tertuju pada kantong plastik di tangannya, karena plastiknya putih transparan, terlihat jelas makanan di dalamnya sudah kacau balau berantakan.


Mereka berdua pun hanya tersenyum melihat makanan yang sudah kacau balau tersebut, tampangnya sih sudah kacau tapi mungkin rasanya masih tetap enak.


" Ayo, aku antar, aku akan membelikan lagi " ajak Niko.


" Malam minggu yang kacau ya Kak ? " kata Winda.


" Kenapa begitu ? " tanya Niko.


" Harusnya Kak Niko jalan dengan pacar Kakak, tapi yang beruntung justru aku, aku beruntung karena Kakak datang menolongku tepat waktu. Makasih ya Kak " ucap Winda.


" Wiwin " panggil Niko.


" Ya " jawab Winda.


" Sebenarnya aku mengikuti mu " kata Niko lirih.


Niko pun menceritakan dengan malu-malu, mengakui kalau dirinya sudah menjadi penguntit juga, Winda tersenyum mendengar pengakuan Niko, Winda merasa bersyukur orang itu adalah Niko dan malah merasa senang sudah diikuti.


" Malam ini, kita berdua jadi penguntit ya ? seperti pasangan saja " ucap Winda sambil tersenyum.


Mendengar kata • seperti pasangan saja • membuat Niko tersenyum merekah, hatinya sangat senang, alangkah bagus jika benar-benar menjadi pasangan sungguhan.


Mereka berdua pun berjalan menuju parkiran tempat motor Winda ditinggalkan, berjalan dengan terus bergandengan tangan, terus berbicara tentang apa saja, yang membuat keduanya merasa nyaman sepanjang jalan.


Baik Niko atau pun Winda saat ini, sungguh berharap untuk tidak cepat sampai di tempat tujuan, agar dapat menikmati momen ini sedikit lebih lama.


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2