
Dengan langkah santai Niko memasuki ruang kelas dan langsung duduk di bangkunya.
" Hai Nik, kemana saja ? dari tadi gak kelihatan ? " tanya Rey.
" Duduk, nyantai di belakang " jawab Niko.
" Baik-baik, jangan suka melamun sendirian di belakang, takutnya ada yang ngikut " goda Juan.
" Kalau yang ngikut cewek sih gak apa-apa, tinggal dipeluk " kata Rey.
" Kamu ini, cewek terus di otakmu " kata Juan.
" Wajar dong, aku ini kan, normal. Eh... ngomong-ngomong bagaimana tuh kelanjutannya kasus kemarin ? " kata Rey mengalihkan pembicaraan.
" Tidak ada kelanjutannya, sudah selesai " jawab Niko.
" Hebat juga loh, tidak ada rumor aneh-aneh yang tersebar, tapi yang jadi pembicaraan justru kalian berdua " kata Rey.
" Ngomong-ngomong mereka tau gak ya ? kalau kalian pahlawan nya " kata Juan.
" Jangan berlebihan " kata Niko.
" Winda tau " kata Noel.
" Kapan kamu bicara sama Winda ? " tanya Rey.
" Tadi pagi, ketemu pas di perpustakaan, kami bicara panjang lebar " kata Noel.
" Cuma berdua ? " tanya Rey.
" Tapi cuma berdua " kata Noel.
" Wahh... aku telat bergerak nih. Noel sudah maju duluan " kata Rey.
" Kamu mengincar Winda juga ? " tanya Juan.
" Kenapa tidak ? Winda cukup imut, tapi kalau sampai jadian, ntar kalau jalan berdua, malah dikatain jalan dengan adik " kata Rey.
" Nambah koleksi lagi gitu..." ledek Juan.
" Kalau dia mau...!!! " kata Rey tersenyum lebar.
" Berusaha lah. Aku jamin dirimu akan gagal " kata Noel.
" Wah... wah... wah... tanda-tanda ini..." kata Juan.
Mereka bertiga hanya saling melontarkan candaan, sementara Niko hanya diam menyimak sambil berfikir.
" Kenapa Nik ? Diam saja dari tadi ? " tanya Noel.
" Tidak apa-apa " jawab Niko.
" Masih kepikiran tentang Winda ? Tenang saja, ternyata saat kejadian Winda tidak ada di dalam, dia sudah keluar menuju mushollah " kata Noel.
" Winda yang memberitahu ? " tanya Niko.
" Iya. Winda sendiri yang memberitahu " jawab Noel.
{ Kenapa Winda gak bilang ke aku ? } gumam Niko dalam hati.
Niko kembali mengingat kejadian barusan dengan Winda dan Niko sedikit menyesali tadi sempat meninggikan suaranya.
{ Apa karena hal itu ya ? Winda gak memberitahu ku ? Hemm jadi nyesel sendiri kan } batin Niko.
*
Sementara itu Winda yang berlari menuju ruang kelas, tidak sengaja bertabrakan dengan Jevi yang sedang membawa beberapa buku.
BRUUUKKK
Buku-buku yang kamu dibawa Jevi jatuh berserakan di koridor.
" Maaf Jev... telat ngerem..." kata Winda langsung duduk mengambil buku-buku yang berserakan.
" Gak apa-apa, kamu dari mana ? Lari mu kenceng betul " tanya Jevi.
" Dari mushollah, keasyikan ngobrol, tau-tau bel masuk. Bukunya banyak banget Jev, mau aku bantu bawa ? " tanya Winda.
" Terima kasih, gak usah, aku bisa kok. Duluan ya...!!! " kata Jevi.
" OK " jawab Winda.
__ADS_1
{ Mungkin Jevi masih sungkan gara-gara kejadian kemarin } batin Winda sambil menatap kepergian Jevi.
Winda tersadar dan langsung berlari menuju kelas, untung saja saat sampai di kelas, guru yang mengajar belum datang.
" Alkhamdulillah, gurunya belum datang " Winda langsung duduk di kursinya.
" Barang apa yang ketinggalan Win ? " tanya Vera.
" Uangku terjatuh, makanya aku sibuk nyariin" Winda berbohong.
" Pantesan lama, ketemu uangmu ? " tanya Vera.
" Ketemu " jawab Winda.
" Bisanya jatuh " tanya Nansi.
" Namanya nasip apes, untungnya ketemu " kata Winda.
" Win, tadi aku ketemu Jevi, sikapnya itu anak rada aneh, kenapa ya ? " kata Vera.
" Jevi...? Aneh, bagaimana ? " Winda tak paham.
" Gak seperti biasanya, pokoknya aneh " kata Vera.
" Tadi ketemu aku, biasa saja tuh, sedikit canggung karena aku gak sengaja nabrak dia" kata Winda.
" Kamu nabrak Jevi ? " tanya Nansi.
" Iya, aku lari, buru-buru takut guru duluan datang, tiba-tiba Jevi muncul bawa tumpukan buku, telat ngerem, langsung nabrak deh " Winda bercerita.
" Tadi aku juga ketemu Jevi, sikapnya rada aneh juga " sambung Echa.
" Jevi...??? Oh... anak cowok Perhotelan itu " kata Nirmala.
" Iya, yang tadi, kita berpapasan waktu mau ke kantin " kata Echa.
" Iya, sedikit aneh. Masa dia natap kita dengan pandangan yang sedikit bagaimana gitu " Nirmala menjelaskan.
" Kayak curi-curi pandang gitu " kata Echa menambahi.
" Iiihhh... kok sama, dia juga begitu sama aku, kenapa ya ? " tanya Vera.
" Gak tau...!!! " jawab Echa.
" Malu kenapa ? " tanya Nirmala.
" Malu, ketemu para bidadari cantik seperti kalian " kata Winda.
" Kalau itu sudah pasti benar, aku ini memang cantik " kata Echa.
" IH NARSIS...!!! " kata Vera.
" Memang iya, aku ini cantik" kata Echa.
" Iya Cha, kamu cantik karena kamu cewek " kata Nirmala.
{ Jevi beneran sungkan pada mereka, benar juga kata Pak Hadi, untuk kenyamanan bersama, kita tidak diberitahu siapa pelakunya, kalau sampai mereka tau, kalau Jevi pelakunya ? mungkin...??? Biar lah... gini saja } batin Winda.
Saat jam pulang sekolah tiba, Winda dan teman-temannya yang besok kena giliran piket bersih-bersih kelas, sengaja membersihkan sekarang, supaya besok tidak perlu datang buru-buru untuk piket lagi.
" Win, kumpulkan sampahnya dan buang ke belakang sekalian ya " kata Nansi masih merapikan meja dan kursi.
" Sabar mbak yu...!!! Ini masih dalam proses " jawab Winda.
Winda mengumpulkan semua sampah dan memasukkannya ke dalam tong sampah yang berada di depan kelas.
" Banyak juga sampahnya " Winda melihat tong sampah yang penuh.
Winda terdiam melihat tempat sampah yang penuh, bakalan susah kalau dia sendiri yang buang ke belakang.
" Lihat apa Win ? " tanya Jevi.
" Eh... Jevi...!!! Ini nah disuruh buang ke belakang, tapi sampahnya penuh betul, susah kalau sendirian " kata Winda.
" Biarkan di situ saja, nanti aku yang buangkan " kata Jevi.
" Tawarannya bagus sih, kita angkat berdua saja, ini sampah banyak, takutnya malah kehambur, bikin nambah kerjaan " kata Winda.
" Gak apa-apa, ini sudah..." kata Jevi.
" Tuang sampahmu ke sini, trus kita tekan, biar muat banyak, dari pada bolak balik kan, capek " kata Winda.
__ADS_1
Pada akhirnya Winda membuang sampah ke belakang bersama Jevi, Winda sebenarnya tau, kalau Jevi memang sedang dihukum, tapi membayangkan mengumpulkan sampah dari setiap kelas ? Berapa kali bolak balik ?.
" Tanpa kamu bantu, sebenarnya aku bisa sendiri " kata Jevi.
" Memang benar kamu bisa sendiri, tapi aku lagi piket dan sudah menjadi tugasku kan, malahan aku enak, dapat bantuan dari kamu " kata Winda.
" Gitu ya... " kata Jevi.
" Iya lah, kamu kan, bukan jurusan Tata Busana tapi, mau repot-repot bantu aku, padahal kan, kamu sendiri juga lagi membersihkan kelasmu, iya kan ? " kata Winda tersenyum.
" Di kelasmu, melakukan piket setiap pulang sekolah ya ? " tanya Jevi.
" Gak juga sih, tergantung kesepakatan satu tim nya, mau bagaimana ? Tugas piketku besok tapi, aku dan teman-teman sepakat pulang sekolah bersih-bersihnya, supaya besok tidak datang buru-buru, bisa santai deh" kata Winda.
" Oh... gitu ya...!!! " kata Jevi.
" He'eh. Soalnya kalau pagi alasannya banyak, yang bangun kesiangan, yang gak dapat ojek, masih ini, masih itu, pokoknya banyak deh, padahal intinya satu " kata Winda berhenti sejenak.
" Apa...??? " tanya Jevi.
" Malas. Kalau virus malas sudah menyerang, biar diomelin ini itu yang ada cuma lewat seperti angin " kata Winda.
" Wahh... perlu ditiru nih, bisa diterapkan di kelasku " kata Jevi.
" Kalau temanmu mau, apalagi hari piket, trus cowok semua, dijamin pelajaran sudah dimulai kelas masih kotor, iya kan ? " kata Winda.
" Kok tau ? Kelasmu kan cewek semua ? " kata Jevi tersenyum malu-malu.
" Ya tau lah. Kelakuan teman-teman waktu SMP gitu " kata Winda.
Sepanjang jalan asyik cerita, tanpa dirasa sudah sampai pada pembuangan akhir, Jevi segera menumpahkan sampah ke dalam tong sampah yang lebih besar.
" Win... kamu balik sendiri ke kelasmu, gak apa-apa kan ? " tanya Jevi.
" Bisa, tenang saja, tong sampah ringan gini, makasih ya sudah bantuin " kata Winda.
" Hem " Jevi mengangguk.
Winda segera pergi dengan menenteng tong sampah ditangannya, tak berapa lama jalan, dirinya dihadang oleh Niko.
" Eh... Kak Niko " kata Winda.
Niko tak segera menjawab, ia justru mengambil tong sampah dari tangan Winda tanpa permisi.
" Kak Niko kenapa ? " tanya Winda.
" Tidak ada, hanya ingin " jawab Niko.
" Ya sudah, terima kasih " kata Winda.
" Kamu tau kan, Jevi sedang dihukum ? Lalu kenapa kamu membantunya ? Apa karena kamu tidak ada di dalam, makanya kamu bisa bersikap santai begitu ? " Niko dengan nada sedikit ketus.
" Tidak ada di dalam ? ( berfikir ). Oh... kejadian kemarin, iya sih aku memang sudah keluar tapi bukan karena itu aku..." kata Winda.
Winda menyadari sesuatu apa yang salah.
" Kak Niko marah ya ? Karena aku cuma kasih tau Kak Noel ? " tanya Winda.
Niko hanya diam dan terus berjalan.
" Bagaimana aku mau bilang, Kak Niko menasehati ku panjang lebar gitu dan ditambah lagi, apa yang Kak Niko bilang itu masuk akal, kalau tentang Jevi... Jevi layak diberi kesempatan untuk berubah, lagi pula dia sudah menjalankan hukumannya " kata Winda.
Niko berhenti tiba-tiba al hasil Winda yang berjalan tepat di belakang langsung menabrak badan Niko.
" Kak... ngagetin, kenapa berhenti mendadak ?" tanya Winda.
" Sudah sampai kelasmu " kata Niko.
" Kelasku masih jauh lah Kak " kata Winda.
" Aku mau ketemu Pak Hadi, nih... bawa sendiri..." Niko menyerahkan tong sampah, setelah itu pergi begitu saja tanpa bicara lagi.
Winda hanya menatap dengan wajah heran.
" Kak Niko kenapa sih ? Kesambet apaan coba ? " Winda bergumam.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )