Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 80 Saling memandang.


__ADS_3

Winda dan Nansi melaksanakan rencananya untuk menjenguk Jessi, memilih hari sabtu, namun sebelum ke rumah Jessi, terlebih dahulu ke rumah Nansi. Memasuki halaman rumah Nansi, Winda begitu terpana banyak pepohonan buah-buahan di tanam, hawanya juga terasa sejuk.


Winda menunggu di teras rumah, sementara Nansi masih ke dalam untuk mengganti bajunya. Entah datang dari mana, secara tiba-tiba ada anak anjing kecil, berdiri tak jauh dari kaki Winda. Anak anjingnya masih sangat kecil, warna bulunya cantik dan terlihat imut seperti boneka. Seolah tau kalau sedang diperhatikan, anak anjing membuat tingkah lucu, yang membuat Winda merasa gemes.


" Hai guguk kecil...!!! Kamu imut banget sih ? Warna bulumu juga cantik " Winda mengelus kepala anak anjing tersebut dengan berlahan.


Mata Winda terus tertuju kepada anak anjing yang ada dihadapannya, begitu asyik mengajak bermain, seketika Winda dikagetkan dengan suara gonggongan anjing yang lebih besar.


" AAAAAAAA...!!! ASTAGFIRULLAH ALADHIM...!!! " Winda begitu terkejut, sangking kagetnya, dirinya sampai melompat ke atas meja yang kebetulan berada di teras.


Teriakan Winda begitu kuat sampai terdengar jelas oleh Nansi yang berada di dalam rumah. Nansi bergegas keluar rumah dan mendapati Winda berdiri di atas meja dengan tangan memegang anak anjing. Sementara sang induk terus menggonggong di bawahnya.


" MOLA...!!! Diam...!!! " teriak Nansi memberi perintah.


" Nansi...!!! " Winda dengan nada memohon.


" Winda, turun kan, anaknya " kata Nansi.


" Anak ? ( bingung ) Ah... ini anaknya ya ( tersadar kalau memegang anak anjing ). Guguk kecil ikut ibumu dulu ya ( turun dari meja ). Maaf ibu guguk, aku gak bermaksud menyakiti anakmu, ini aku kembalikan " Winda meletakkan dengan hati-hati.


Induk anjing kembali menggonggong dengan keras, membuat Winda sedikit takut dan segera berlari ke belakang Nansi setelah meletakkan anak anjing. Winda mengintip dari balik badan Nansi, menyaksikan induk anjing membawa anaknya pergi.


" Syukurlah sudah pergi, tak kirain dia mau gigit aku tadi " Winda bernapas lega.


" Mola kira, kamu mau ambil anaknya, makanya dia marah " kata Nansi.


" Tadi aku cuma ajak main-main saja kok, karena kaget refleks aku pegang tadi " kata Winda.


" Tapi Winda, bukannya kamu gak boleh pegang anjing ya ? " kata Nansi mengingatkan.


" Karena najis ? Ya, tinggal disucikan saja, gitu aja kok repot " kata Winda.


" Disucikan ? Bagaimana itu ? " Nansi bingung.


" Caranya. Mencuci dengan air tujuh kali, yang salah satu bilasannya harus menggunakan tanah " kata Winda menjelaskan.


Pada akhirnya Winda menunjukkan cara mensucikan di hadapan Nansi, menganggukkan kepalanya, seolah Nansi berkata, semudah itu ?.


" Nahh sudah suci. Simpel kan ? " kata Winda saat sudah selesai.


" Tapi sebagian orang menganggap... ( sungkan dikatakan ) begitulah " kata Nansi enggan menjelaskan detailnya.


" Tergantung orang sih. Terkadang masalah kecil dibesar-besarkan, diributkan, ada juga masalah besar justru disepelekan, bahkan dianggap remeh. Barang kotor bisa dibersihkan, tapi kalau hati yang kotor ? Nahh, itu dia yang susah. Ngomong-ngomong ini kapan ke rumah Jessi ? " kata Winda.


Mereka berdua pun bergegas pergi ke rumah Jessi, tapi anehnya bukannya melewati jalan tapi malah masuk-masuk melewati kebun ? Saat Winda tanya, hanya dijawab jalan pintas terdekat dan benar saja sampai, tapi ini bertamu lewat pintu belakang alias lewat dapur.


Mereka berdua segera mengucapkan salam, karena kebetulan ada orang, mereka pun dipersilahkan masuk dan dipertemukan dengan Jessi. Jessi keluar dari kamarnya dengan wajah yang cukup pucat, sepertinya sedang tidak enak badan, efek hamil kali ya ? Itulah anggapan Winda.


" Nah... aku bawakan rujak. Aku gak tau enak apa gak, soalnya cuma minta tolong belikan orang, jadi yang disuruh asal beli saja. Buah kan, bagus, banyak vitaminnya, nih ambil !!! " kata Winda.

__ADS_1


" Terima kasih " Jessi rada sungkan menerimanya.


" Kamu pucat banget Jess ? Sakit kah ? " tanya Nansi.


" Perutku mual terus, dari pagi muntah-muntah " jawab Jessi.


" Makan sudah rujaknya, sapa tau adek suka " kata Winda.


" Adek ? " Nansi heran.


" He'eh. Adek. Janin dalam perut Jessi " jawab Winda.


Seketika pecah tawa Nansi sampai terpingkal-pingkal, sementara Jessi hanya senyum-senyum saja dan Winda tersenyum lebar tanpa dosa. Nansi meledek, akan sangat lucu punya adek diusia sekarang ini, tapi Winda malah berfikir akan sangat keren jika punya adik.


" Kamu saja yang dipanggil Tante, ntar anaknya Jessi akan aku ajari panggil aku Mbak Win, bagus kan ? Kadang sebel loh, aku selalu dipanggil dek atau gak nduk , kalau di rumah. Pengen punya adek, tapi Bapak dan Ibu gak mau punya anak lagi " kata Winda malah curhat.


Setelah berbincang-bincang ini itu, beberapa saat kemudian mereka berdua pun izin pamit pulang, gak enak lama-lama bertamu, kasihan juga si Jessi harus istirahat. Saat tiba di rumah Nansi, mereka berbincang-bincang dulu di teras rumah Nansi.


" Kamu perhatikan gak sih, tadi Jessi lahap banget makan rujaknya, katanya mual ? Mual apaan itu ? " kata Nansi.


" Gak boleh su'uzhon. Kita gak ngerasain apa yang Jessi rasakan sekarang ini, coba bayangkan. Seandainya kita diposisi Jessi sekarang, kita belum tentu mampu, sekuat Jessi sekarang ini " kata Winda.


" Bahasamu sudah mirip orang tua saja " ledek Nansi.


" Begitu orang tuaku bilang. Pepatah Jawa NYAWANG NYINAWANG. Pengertiannya, hidup itu saling memandang, kalau dipandang orang lain hidup kita enak di mata mereka, padahal kan, mereka gak tau, apa yang kita rasakan dan kita alami. Eh... aku pamit pulang lah, dah sore " kata Winda sadar waktu.


" Dijemput ? " tanya Nansi.


***


Keesokan harinya saat Winda sedang berjalan di sebuah toko buku, tanpa diduga, tidak sengaja melihat Niko bersama Amara. Tak enak hati, Winda memilih untuk diam, menjaga jarak agar gak ketemu, niatnya sih gitu, tapi... mata selalu melirik ke arah mereka berdua.


Mulai penasaran ? Tapi hati, pikiran dan anggota badan, sedang tidak selaras. Hati bilang penasaran mereka bicara apa ? Anggota badan pengen melangkah mendekati lagi. Pikiran bilang, JANGAN KEPO...!!!


Mata melihat, mereka berdua bicara tampak akrab banget, walau pun lebih banyak Amara yang berbicara dibandingkan dengan Niko. Awalnya cuma lirik-lirik mencuri pandang tapi sekarang pandangan mata terus tertuju ke arah mereka berdua, bahkan enggan untuk berkedip.


Tangan Amara selalu merangkul lengan Niko, kalau orang gak tau pasti disangka mereka pacaran, biar pacaran pun, sebenarnya sah-sah saja, mereka berdua tampak serasi, cantik dan ganteng.


Winda menyentuh dadanya, yang tiba-tiba terasa nyutt, sakit untuk sesaat. Dalam hati juga mulai timbul perasaan tidak suka, melihat mereka berduaan begitu. Winda berpaling dengan cepat, menepuk pipinya sendiri agar cepat tersadar.


Kenapa juga dirinya begini ? Mereka itu berteman. Wajar, teman kalau akrab ? Gak boleh cemburu ? Kenapa juga harus cemburu ? Bukannya mereka semua itu sama-sama berstatus teman ?


Winda menggelengkan kepalanya, menghilangkan semua pikiran yang negatif dan mulai fokus mencari buku yang ingin dibelinya yaitu buku novel, buku cerita atau pun komik. Mulai fokus pada deretan buku di rak, mengambil, membaca sesaat, begitu seterusnya sampai menemukan buku yang dianggapnya menarik.


Winda cepat keluar toko setelah membayar buku yang diinginkannya, segera melangkah, menjauhi toko buku tersebut. Tak berapa jauh setelah keluar toko, lagi-lagi Winda melihat seseorang yang dikenalinya, namun kali ini Rey. Lagi jalan dengan ???


" Ajeng ??? " Winda benar-benar terkejut.


What...???

__ADS_1


Ajeng...???


Dengan Rey...???


Ada hubungan apa mereka ???


Kata mereka pacaran langsung terlintas dalam kepala Winda, tapi langsung menampik sendiri Gak mungkin .


{ Gawat ini...!!! Kalau beneran pacaran ? Ajeng gak tau apa ? Kak Rey anak sekolah mana ? Iissh... males lah aku berurusan dengan Ajeng } batin Winda.


Tanpa pikir dua kali, Winda segera putar balik, menjauh secepat mungkin agar tak berpapasan dengan Rey. Winda berjalan tidak fokus dengan jalan di depannya, keseringan menatap ke belakang.


BRUUUKKK


Winda menabrak seseorang sampai membuat barang bawaannya jatuh berserakan di lantai, seketika langsung duduk jongkok mengumpulkan buku-buku tersebut tanpa melihat terlebih dahulu siapa orang yang sudah ditabraknya.


" Maaf Mbak, Mas, aku tidak sengaja...!!! " kata Winda.


Alangkah terkejutnya Winda, ternyata yang ditabraknya adalah Niko dan Amara, hanya bisa diam, memaksa tersenyum senatural mungkin.


" Ini bukunya, maaf Mbak, Mas, saya buru-buru " Winda menyerahkan buku dan segera kabur secepat mungkin.


Sesampainya di rumah, Winda merebahkan badannya, mengambil napas panjang dan menghembuskan secara berlahan. Berasa sial betul, dihindari malah ketemu, ntar ketemu mau kasih penjelasan apa coba ?


Meraih hp karena ada pesan masuk, mata seketika terbelalak membaca isi pesannya yang ternyata dari Niko * buku kita tertukar * Winda seketika langsung mengecek buku yang dibawanya dan ternyata benar.


{ Duchh sial } batin Winda.


Mengetik layar hp segera membalas pesan Niko.


Isi percakapan lewat pesan.


Winda : Maaf Kak, besok saja kita tukar di sekolah, aku dah di rumah.


Niko : Ok. Sepertinya tadi kamu buru-buru betulan ?.


Winda : Iya Kak, maaf.


Niko : Sampai jumpa besok di sekolah.


Winda : OK. Di tempat biasa.


Meletakkan hp di atas meja, menarik handuk dan Winda pun pergi mandi.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.


__ADS_2