
Siang ini cuaca benar-benar panas terik, tidak ada satupun awan yang menghalangi sinar matahari.
" Hari ini, kenapa panas betul ya...!!! " keluh Winda.
" Biasanya juga panas kan ? " kata Nansi.
" Ya memang, tapi... tidak seperti biasanya. Nansi, kita mampir yuk beli minuman di kios depan " ajak Winda.
" Kios yang mana ? " tanya Nansi.
" Warung yang rada di depan itu, yang toko besar, sampingnya kan, ada jual minuman es, macam-macam esnya " kata Winda menjelaskan.
" Ohh... yang itu. Sekarang...? " tanya Nansi.
" Iyalah sekarang. Masa pulang dulu ke rumah trus balik lagi beli " kata Winda sewot.
" Ya kirain kan. Jemputan mu gimana ? Ntar kakakmu nyariin lagi, biasanya kan nunggu di sini " tanya Nansi.
" Gak jemput kakakku, dia sibuk " jawab Winda.
" Ohh..." kata Nansi.
" Sudah yuk...!!! Keburu antri panjang nanti " Winda menarik Nansi.
Sesampainya tempat yang dimaksud, benar saja banyak anak-anak lain yang pada beli, ada yang berdiri dan ada juga yang duduk.
" Wahh... rame juga ya...!!! " kata Nansi.
" Pas banget dengan cuaca " kata Winda.
Tanpa banyak bicara lagi Winda segera menuju ke penjualnya dan memesan es cokelat dua gelas.
Saat sedang menunggu pesanannya disiapkan, tatapan Winda tidak sengaja mengarah pada seseorang yang ia kenal. Sialnya lagi dia menghampiri Winda.
" Hai Winda " Amel menyapa.
" Hai...!!! " Winda membalas dengan malas.
" Lama gak ketemu ya. Apa kabar ? " tanya Amel.
" Gak usah basa-basi, ada perlu apa ? " tanya Winda ketus.
" Cuma pengen nyapa saja, gak boleh ya " tanya Amel.
" Bukannya gak boleh, tapi aku gak suka " Winda berterus terang.
" HEH...!!! "
Teman yang berdiri di sebelah Amel tak terima dengan perkataan Winda yang ketus dan berterus terang.
" Amel bicara baik-baik tapi kamu gak sopan "
" Sudahlah ( memegang tangan ). Dia memang begitu, anaknya selalu terus terang" kata Amel.
" Jadi... ada perlu apa ? " Winda menatap Amel.
" Aku mau minta maaf, atas kejadian kemarin" kata Amel.
" Minta maaf ? Hal apa ya ? " Winda bertanya balik.
" Tentang kakakmu yang jemput aku duluan, kalau aku tau, kamu ada di sekitar situ, pasti kamu duluan yang diantar pulang " kata Amel.
" Ohh... jadi... Mas laporan ke kamu. Hebat juga...!!! Tenang saja, gak masalah. Kalau aku pulang naik ojek, Mas tinggal gantikan ongkosnya dua puluh ribu, lumayan kan...!!! Jadi... sering-sering ya...!!! " kata Winda tersenyum.
" Ohh... gitu ya ? Kamu minta ganti ? " kata Amel.
" Ya iyalah. Mas antar jemput aku, itu ada uang tambahannya, jadi... kalau Mas tidak melakukan tugasnya, ya... uangnya buat aku dong. Emangnya naik ojek dari sekolah sampai rumah GRATIS, GAK BAYAR " kata Winda.
Winda menekan kan nada GRATIS, GAK BAYAR. Seketika ekspresi Amel langsung berubah.
" Jangan dikira, yang antar jemput kakak sendiri trus GRATIS. Gak gitu cara kerjanya. Ya emang sih, sebagian orang ADA... yang punya ojek pribadi trus GRATIS, GAK BAYAR. Dia banyak menerima dan menuntut TAPI... tidak MEM-BE-RI seperti kamu Amel " kata Winda.
__ADS_1
" HEH...!!! BICARAMU...!!! "
Lagi-lagi teman sebelah Amel yang tidak terima dengan perkataan Winda.
" Bicaramu, benar-benar kelewatan ya...!!! Yang namanya pacar, wajar dong kalau melakukannya. Kenapa jadi kamu yang keberatan "
" Sudah hentikan " kata Amel menenangkan temannya itu.
" Kamu ini...!!! Dia sudah kelewatan ( menunjuk Winda ). Jangan mentang-mentang kamu adiknya trus kamu bisa seenaknya, hargai dia sebagai pacar kakakmu"
Mulailah terdengar bisik-bisik dari para penonton yang berada di tempat kejadian, mereka mulai menatap sinis pada Winda.
" Winda...!!! " Nansi menyentuh tangan Winda.
Winda tersenyum pada Nansi mengisyaratkan dia baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkan dirinya.
" Amel ( memanggil dengan nada halus ). Kamu tau kan ? Kenapa aku gak suka, kamu pacaran dengan kakakku ? Apa aku harus ingatkan ? Apa yang sudah kamu lakukan sama aku ? ( tersenyum sinis ). Jadi... suruh temanmu DIAM...!!! " kata Winda.
" Kamu memang tipe pendendam ya ? Padahal Amel sudah cerita, kalau Amel tidak sengaja melakukannya "
Bersamaan dengan itu pesanan Winda sudah selesai, Winda segera mengambil dan membayarnya. Kemudian Winda berlalu begitu saja, mengabaikan Amel begitu saja.
Hal tersebut membuat temannya Amel marah dan menarik tangan Winda dengan kasar, hingga minuman di tangannya jatuh pecah menabrak lantai cor.
" APA MASALAHMU...??? " Winda meninggikan suaranya.
" YANG BERMASALAH ITU KAMU "
" Kamu hanya mendengar dari versinya Amel. JADI... lebih baik kamu DIAM, JANGAN BERKOMENTAR...!!! " kata Winda.
" Kamu itu hanya iri, merasa tersaingi, karena kakakmu lebih perhatian pada Amel dibandingkan dirimu. Kamu gak terima, jadi kamu terus mencari alasan untuk menganggu hubungan mereka "
" AKU BILANG DIAM...!!! " bentak Winda.
" Aku sudah bilang DIIAAMM, JANGAN BERKOMENTAR. AMEL...!!! ( menatap Amel ). Suruh temanmu diam dan suruh temanmu yang di sana BERHENTI MEREKAM " kata Winda.
Winda menunjuk ke arah seorang siswi yang memegang hp nya.
" JIKA... sampai ada rekaman vidio yang tersebar, sumbernya adalah KAMU dan KALIAN yang bertanggung jawab " kata Winda sambil menunjuk satu-satu.
" Oh iya satu hal lagi. Masalah ini hanya antara Amel dan aku. Tidak ada sangkut pautnya dengan nama sekolah. JADI... JANGAN BAWA-BAWA SEKOLAH. Apa kamu mengerti Amel...??? " Winda mengingatkan.
Winda segera pergi meninggalkan Amel beserta teman-temannya dan sama sekali tidak menoleh ke belakang lagi.
Baru beberapa meter dari kios minuman, Winda menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.
" Itu kakakmu kan ? " kata Nansi.
" Sialan...!!! " gumam Winda lirih.
Winda berjalan mendekati sang kakak sambil menarik tangan Nansi.
" Mas Widi datang jemput siapa ? Aku...? Atau si Amel...??? " tanya Winda.
" Dek...!!! " kata Widi.
" Gantikan uang minuman temanku, yang ditumpahkan pacarmu, tiga puluh ribu dan kalau Mas datang jemput si Amel tambah dua puluh ribu. Jadi totalnya lima puluh ribu. SINI... bayar sekarang...!!! " kata Winda.
Widi menatap wajah Winda, kemudian menatap pacarnya yang berada beberapa meter darinya. Amel juga menatap dirinya.
" Bagaimana...??? " tanya Winda.
Widi merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang pas tiga puluh ribu.
" Ini tiga puluh ribu dan tunggu di sini. Aku akan bicara dengan Amel dulu " kata Widi saat memberinya uang.
" OK. Maksimal sepuluh menit, gak lebih " kata Winda.
" Hem " jawab Widi.
Widi turun dari motornya dan berjalan menghampiri Amel. Winda tersenyum lebar melihat uang di tangannya.
__ADS_1
" Ribut-ribut lah kalian, yang penting aku dapat ganti uangnya " Winda tersenyum girang.
" Win, gak apa-apa tuh...? " Nansi sedikit khawatir.
" Heelleh, biarkan saja...!!! " Winda tak perduli.
" Dia itu beneran pacarnya kakakmu ? " tanya Nansi.
" He'eh. Dulu kami satu SMP, tapi gak akrab, hanya kenal-kenal saja " kata Winda.
" Ohh... gitu...!!! Sepertinya kamu rada masalah dengannya " kata Nansi.
" Bukan rada masalah, tapi... memang bermasalah. Seperti yang kamu lihat tadi, aku gak suka dia " kata Winda.
" Karena ? Oh maaf aku lancang " kata Nansi tersadar terlalu ingin tau.
" Akan aku ceritakan lain kali, karena ceritanya puanjang sekali, gak bisa disingkat. Maaf ya... gak jadi traktir minum deh... gara-gara si resek gak jelas itu " kata Winda.
" Kamu traktir besok. Tapi kamu minta ganti sama orang yang salah, harusnya kan ke mereka " kata Nansi.
" Mereka saja gak minta maaf, sudah jatuhkan minuman kita. Trus minta ke mereka...??? Ya gak mungkin lah Nansi... gak bakalan mereka mau ganti " kata Winda.
" Kalau kakakmu ribut dengan pacarnya gimana ? " tanya Nansi.
" Ya biar saja ribut, bukan urusanku " jawab Winda.
" Kalau sampai putus gimana ? Trus nanti kamu disalahin gimana ? " tanya Nansi.
" Kalau putus malah bagus. Tapi kalau nyalahin aku... itu... aku gak perduli " kata Winda.
" Pasti kamu punya alasan kan ? Kenapa kamu gak suka dia jadi pacar kakakmu ? " tanya Nansi.
" BINGGO. Tepat banget. Kamu memang mengerti aku ya Nansi. Hem... coba cowok, boleh dijadikan pacar ini " kata Winda.
Winda tersenyum menggoda Nansi.
" Kamu ini. Pas banget ada tukang ojek, aku duluan ya " kata Nansi.
" OK " jawab Winda.
" Bye bye...!!! " Nansi melambaikan tangan.
Winda hanya membalas melambaikan tangannya, tak lama kemudian Widi datang menghampirinya.
" Ayo pulang...!!! " ajak Widi.
" OK " kata Winda.
Winda segera naik, melingkarkan tangannya di pinggang Widi. Winda menoleh ke arah Amel, dengan sengaja menjulingkan bola matanya dan tersenyum lebar untuk meledek si Amel.
Amel memandanginya dengan wajah kesal, karena dirinya kalah.
" Jangan meledek...!!! " kata Widi yang tau kalau Winda meledek Amel.
" Kalau gak ridho, aku turun saja deh, tapi... sini dua puluh ribu sebagai gantinya " kata Winda.
" Kamu ini mata duitan ya...!!! " kata Widi.
" Pacarmu lebih parah, maunya gratisan " kata Winda.
Widi hanya menghembuskan napasnya dengan kasar, dirinya tau kalau sang adik sedang benar-benar kesal saat ini, karena kejadian barusan.
Bahkan saat sudah sampai rumah, Winda segera masuk kamar tanpa menjelaskan apapun pada Widi.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
**Kenapa sih Winda gak suka banget dengan Amel ??? Ditunggu ya teman-teman.
Terima kasih sudah mampir membaca, jangan lupa like dan komen teman-teman 🙏🤗**