
Saat ini Winda sudah duduk berdua dengan Noel di salah satu sudut sekolah, jauh di bagian belakang. Jantung Winda deg degan gak karuan, tangan mulai terasa dingin, mengambil napas panjang beberapa kali, memejamkan mata dan berdoa dalam hati.
Bismillah
Winda meraih tangan Noel dan meletakkan sebuah kalung di telapak tangan Noel. Seketika Noel mengarahkan pandangan lurus menghadap Winda, sorot matanya tajam, terkejut, gak percaya kalau dirinya akan menerima sebuah penolakan darinya.
" Maaf ya Kak " kata Winda lirih.
Noel masih diam terpaku sambil menatap Winda, dirinya benar-benar masih sangat terkejut, tidak menyangka dengan keputusan Winda ini.
" Emm... aku hanya cocok jadi adik kelas, Kakak saja. Untuk lebih dari itu..." kata Winda berhenti sejenak dan kemudian menggelengkan kepalanya secara berlahan.
" Apa karena cowok malam itu ? " kata Noel.
" HAH ? Siapa ? " tanya Winda.
" Malam minggu kemarin, kamu jalan sama cowok kan ? " kata Noel.
Noel pun menceritakan apa yang dilihatnya malam itu. Noel melihat Winda makan sepiring berdua di pinggir jalan, bercerita, bercengkrama ria dan nampak begitu sangat akrab. Bukan hanya sekedar akrab namun lebih ke arah romantis, seperti pasangan.
Tentu saja Winda tidak menyangkal hal tersebut, Winda mengakuinya kalau memang yang diceritakan itu benar. Benar dirinya pergi dengan cowok, makan berdua di pinggir jalan tapi mereka gak romantisan apalagi sampai di bilang pasangan.
" Kakak lupa ? Cowok itu kan Reza, yang pernah aku ceritakan sebelumnya, jadi kami gak mungkin memiliki hubungan yang seperti Kakak tuduhkan " kata Winda menyangkalnya.
" Kenapa gak ? Bisa jadi kan ? " kata Noel.
" Enggak Kak. Malam itu aku juga lihat Kakak bersama teman-teman Kakak dan dari situ, aku sadar. Kak Noel siapa ? Dan aku siapa ? Kakak sekarang paham, yang aku maksudkan ? " kata Winda.
Mereka berdua kembali diam, saling menatap dengan pikirannya masing-masing.
" Lagi pula Kak, kita berbeda sangat jauh, bukan kah akan lebih bagus, jika Kak Noel, mencari yang setara dengan Kakak ? Seperti cewek di samping Kakak malam itu " kata Winda.
" Bagaima...." kata Noel.
" Kita masih bisa berteman kok dan yang sudah kita lakukan kemarin. Ya sudah anggap saja... rahasia kita berdua ( berhenti sejenak ) aku permisi " kata Winda.
Sakit, memang sakit, baik Winda atau pun Noel juga merasakan sakit, tapi itu lebih baik, dari pada pura-pura menerima tapi ujung-ujungnya nanti akan lebih menyakitkan dari rasa sakit sekarang ini.
Noel menahan tangan Winda, terkejut karena tiba-tiba Noel memakaikan kalung tersebut ke leher Winda, tapi kenapa ? Winda menatap Noel, mempertanyakan tindakannya tersebut, apa maksud dan tujuannya ?
" Kalung itu, aku belikan untukmu. Aku ingin kamu memakainya " kata Noel.
" Tapi Kak.... " kata Winda.
__ADS_1
" Anggap saja hadiah dariku. Aku akui nyali mu besar juga ya, berani menolak ku, padahal cewek lain mengantri jadi pacarku " kata Noel bangga diri.
" Ya bagus lah kan, Kakak ganteng, wajar banyak yang suka, iya kan ? " kata Winda.
" Jadi beneran ? Kamu gak mau jadi pacarku ?" Noel bertanya lagi.
" Maaf...!!! " kata Winda sambil menyatukan kedua tangannya ala-ala orang meminta maaf tanpa bersentuhan tangan.
" Tapi, benar ya masih berteman ? Janji ? " kata Noel.
Noel mengulurkan jari kelingkingnya dan tanpa pikir panjang lagi Winda membalas melingkarkan jari kelingkingnya sambil menganggukkan kepalanya. Winda tersenyum, dirinya benar-benar bersyukur Noel dapat menerima dengan lapang dada, bahkan reaksinya Noel benar-benar di luar dugaan Winda.
Padahal tadi Winda sudah siap menerima konsekuensinya, kalau-kalau Noel marah-marah tidak terima dengan alasan yang disampaikannya. Setidaknya sekarang sudah merasa lega, sudah disampaikan dengan baik, tidak ada beban pikiran lagi dan semuanya akan baik-baik saja.
***
Memang, semuanya baik-baik saja, semua aktivitas berjalan seperti biasa, normal, bahkan desas desus miring tentang Winda berangsur-angsur hilang lenyap begitu saja, sudah tidak ada lagi yang ingat.
Hingga suatu hari terdapat suatu keanehan pada diri Karin, Karin yang biasanya banyak cerita, berceloteh ria, kini jadi lebih banyak diam, duduk di dalam kelas, nampak murung, pokoknya lain saja sikapnya, ditanyain, jawabannya simpel, pendek-pendek, gak ada semangat dan penampilannya sedikit kusut.
Awalnya Winda bersikap cuek gak perduli tapi kenapa semakin hari Karin semakin kelihatan tambah murung ? Ada apa ? Terjadi sesuatu kah ? Lagi sakit ? Winda hanya bisa menebak dalam hati.
" Win, mau dengar sesuatu gak ? " Nansi berbisik di telinga Winda.
" Gosip lagi tuh " kata Winda.
Winda mengamati foto tersebut, sambil menutup mulutnya karena masih tidak percaya. Foto tersebut terlihat jelas bahwa itu adalah Karin berpenampilan super minim, dikelilingi beberapa cowok, di dalam foto, suasana seperti sedang pesta, tapi tidak jelas pesta apa ?
" Yakin foto ini asli ? " tanya Winda.
" Entah, aku juga cuma dapat dari temanku. Makanya beberapa hari ini, dia murung, pasti karena ini. Kena batu nya kan dia " kata Nansi.
" Eh... jangan gitu. Pesta apa kira-kira ya, ini ?" Winda mengamati foto.
" Temanku bilang sih, dia lagi dugem di salah satu club malam " kata Nansi.
Dugem ? Club malam ? Mendengar kata tersebut Winda jadi teringat tentang salah satu kawasan yang pernah di masuki dan Niko menceritakan itu area club malam, tidak sembarangan orang bisa masuk dan ada batasan umurnya.
Saat Winda melihat foto itu kembali, fokus Winda menyadari seseorang yang ikut terpotret di belakangnya, Winda mengamati baik-baik dan pandangan mata Winda tidak salah lihat, itu adalah gadis yang sama. Winda menoleh sesaat dan melihat ke arah foto lagi, benar-benar seperti melihat dua orang yang berbeda.
" Emm... Nansi, kamu keberatan jika foto ini di hapus ? " pinta Winda.
" Kenapa ? Kamu kasihan ? " Nansi balik bertanya.
__ADS_1
" Hapus saja, takutnya terjadi masalah, kalau ada apa-apa ke depannya, bisa ke bawa nama mu " kata Winda.
" Aku tunjukkin ke kamu, kalau-kalau kamu mau balas dendam, sebagai pegangan gitu biar dia gak cari masalah lagi sama kamu. Malah nyuruh hapus, ANEH KAMU INI...!!! " kata Nansi.
" Balas dendam ? Gak ada untungnya...!!! Nih... sudah aku hapus " kata Winda menyerahkan hp.
Nansi mengecek hp nya dan ternyata benar, foto tersebut sudah terhapus dari hp Nansi, yang membuat dirinya geleng-geleng kepala antara heran dan aneh, ikutan manfaatin kek, masa sudah disakiti diam saja, gak ada niatan untuk membalasnya, padahal peluang datang dengan sendirinya, tinggal memperkeruh keadaan, agar suasana memanas dan BOOOMMM, MELEDAK. Tapi aneh gak mau ?
Dan benar saja, foto tersebut benar-benar menimbulkan masalah, pada hari itu juga, Karin dipanggil ke ruang BP. Entah apa saja yang terjadi di dalam sana, intinya Karin mendapatkan hukuman skors selama tiga hari dan berjanji kejadian serupa tidak terulang kembali.
Karin membereskan semua buku-bukunya, namun hal yang mengejutkan adalah, sebelum pulang, Karin menghampiri Winda dan mengajaknya berbicara. Ingin berbicara pribadi, berdua saja, mereka berdua pun memilih tempat yang jauh, rada di belakang dan sunyi tentunya.
Tanpa basa basi Karin meminta maaf atas perbuatannya, yang sudah dengan sengaja menyebarkan gosip yang tidak baik tentang Winda, sengaja membuat masalah untuk mempersulit keadaan Winda selama di sekolah dan semua perlakuan buruknya pada Winda.
Winda pun tersenyum dan bilang kalau dirinya sudah memaafkan Karin, Winda tak mempermasalahkan hal tersebut, semuanya sudah terjadi, itu hanya kekesalan sesaat saja, karena semua itu bisa terjadi juga di awali dari dirinya sendiri.
" Kamu gak marah padaku ? " tanya Karin.
" Awal-awal kesal, tapi sekarang sudah gak. Tentang foto itu, aku percaya kamu gak aneh-aneh, yang sabar ya " Winda memberi semangat.
" Makasih ya " kata Karin.
Winda menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar ke arah Karin. Terlihat jelas ada penyesalan tersorot dari mata Karin, permintaan maafnya benar-benar tulus, tidak terpaksa dan Karin balas tersenyum.
" Oh ya Winda, kamu harus hati-hati dengan Noel " kata Karin.
" Hemm ??? " Winda bingung.
" Maksudku Kak Noel, kamu harus hati-hati, dia bukan orang sembarangan " kata Karin memperingatkan.
" Oh itu, iya aku tau. Orang tua Kak Noel, bukan orang sembarangan, aku juga belum lama taunya, itu pun karena dikasih tau sama temanku " kata Winda.
" Bukan itu, pokoknya, kamu harus hati-hati, OK...!!! " kata Karin mode serius.
" OK " Winda mengiyakan saja.
Setelah percakapan tersebut, Karin pun pergi meninggalkan Winda yang masih bingung dengan ucapan barusan. Apa maksudnya coba ?.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗