Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 96 Kekhawatiran Winda.


__ADS_3

Saat jam istirahat tiba, Winda hanya duduk di dalam kelas, dirinya sibuk menyalin dengan cepat agar bisa selesai sebelum jam istirahat berakhir.


" Kamu bisa bawa pulang bukunya " kata Nansi.


" Gak apa-apa. Lagi gak mood ke kantin juga kok " jawab Winda.


" Lalu bagaimana dengan Amel ? mereka gak ngapa-ngapain kamu kan ? Kamu belum cerita apa-apa tentang itu ? " kata Nansi.


Winda terdiam sejenak untuk berfikir, benar juga dirinya belum cerita apa pun pada Nansi mengenai Amel. Terasa sakit mengingat kejadian tersebut. Cerita, enggak, cerita, enggak. Winda dilanda rasa bimbang, kalau tidak cerita ? Pasti Nansi akan terus bertanya padanya ? Tapi kalau cerita ? Winda sedikit enggan, karena hal tersebut cukup memalukan bagi dirinya.


" Dia cuma minta maaf dan gak akan mengulanginya lagi, itu saja " Winda akhirnya memilih untuk diam menutupinya.


" Lalu tentang hp mu ? Kenapa bisa sampai hilang ? " tanya Nansi.


" Oh itu ... begini, tanpa aku sadari hpku jatuh, trus yang ambil ke cafe Kak Rey " kata Winda.


" Tapi, hari itu selain aku, Kak Niko juga panik loh, takut terjadi apa-apa sama kamu. Soalnya ya itu, sebelumnya kan, kamu di labrak sama Amel, tambah mikir yang bukan-bukan lah kan" kata Nansi.


" Maaf dech, sudah membuat kamu khawatir. Makasih ya ... ! Perhatian banget sih, temanku satu ini " Winda mencubit pipi Nansi.


" Terus kemarin kalian bolos kemana ? Ngapain saja ? " tanya Nansi.


Winda mengkerutkan keningnya, menyipitkan pandangan mata, apa maksud dari, kalian bolos kemana ? Ngapain saja ? Bingung sendiri. Nansi tau apa ini ?.


" Kak Niko telepon aku, bilangnya, kamu bolos sama dia. Coba cerita ? Apa kalian ... sudah ..." tanya Nansi.


" Sudah apa ? " Winda salah tingkah dong.


" Ngaku dech ... Beritahu aku ? Kamu suka Kak Niko kan ? " Nansi terus godain Winda.


" Hem ( mengangguk ) aku suka dia " kata Winda.


Seketika senyuman merekah lebar dari bibir Nansi, senang betul mendengar ucapan pengakuan dari Winda, tangan Nansi menusuk-nusuk pipi Winda dengan manja, seraya mengucapkan kata-kata meledek dirinya.


" Jadi kemarin itu ... ? Kalian sudah ... ? " Nansi menatap ke arah Winda memainkan kedua alisnya, bertanya lewat isyarat ceritanya.


" NGACO ... !!! ( mengusap wajah Nansi ). Enggak ada ya ... !!! ( tegas ). Enggak ada, seperti yang kamu bayangkan. Siapa bilang aku hanya berdua ? Kak Rey juga ada. Tentang aku suka dia ? Fansnya Kak Niko juga banyak dan aku salah satunya " kata Winda.


" Hemm ( wajah cemberut ) Kirain berduaan " Nansi terlihat kecewa mendengarnya.


{ Maaf ya Nansi, aku gak bisa cerita yang sebenarnya } batin Winda.


Winda mencoba tersenyum senatural mungkin, mengalihkan pandangan pada buku catatan dan kembali fokus menyalin catatan. Niat hati ingin menyelesaikan menyalin catatan, tapi sayangnya Winda mendapat pesan dari Rey Hansamu * ke pohon jambu belakang, Sekarang *.


Winda segera menutup semua bukunya, menyimpan buku di laci meja, segera pergi ke belakang, setelah berpamitan lebih dahulu pada Nansi. Harus segera datang, dirinya ingat kalau harus bersikap sangat baik kepada para seniornya ini. Perbaiki sikap.


" Apa aku bilang ! Winda pasti datang kalau aku suruh datang. Aku benar kan " kata Rey saat melihat kedatangan Winda.


" Ada apa Kak ? " tanya Winda.


" Ihss ... kalah taruhan dech ... ( kecewa ) cepat betul kamu datang Win ? Lambat-lambat kenapa ... ??? " Juan nada kesal.


" Lagian pakai taruhan segala. Kalah kan, kamu ... !!! Duduk sini Win " kata Noel menarik tangan Winda.


Winda masih benar-benar bingung, sebenarnya ada apa sih ? taruhan apa ? Mengamati ketiga seniornya bergantian tapi satu pun tidak ada yang menjelaskan tentang apa.


" WOOOIII ... !!! TANGKAP NICHH ... !!! " Niko berteriak dari atas pohon.


Rey dan Juan mendekat ke arah pohon jambu, secera bergantian menangkap buah jambu yang Niko lemparkan dari atas. Setelah beberapa saat kemudian buah jambu sudah menumpuk banyak di tangan Winda dan Noel.


Entah dari mana datangnya, begitu Niko turun dari pohon jambu, saat berjalan mendekat duduk bareng, di tangannya sudah ada ember yang berisikan air dong, semua jambu masuk ke ember, dicuci terlebih dahulu, baru deh mereka nikmati.


Saat sedang menikmati buah jambu, tiba-tiba Winda kepikiran sesuatu, bagaimana kalau nanti dirinya ... ??? Kalau iya, dirinya ... akan bernasib sama dengan Jessi ... ??? Dia akan ... ??? Tidak. Tidak. Tidak. Menggelengkan kepala dengan cepat, membuang semua pikiran buruk dalam kepalanya, tapi ... ??? Bagaimana, kalau iya ... ???


" Kenapa Win, jambunya gak manis kah ? " tanya Niko menyadarkan lamunan Winda.


" Biasanya kamu yang paling semangat, kalau lihat jambu yang matang. Mulai bosan kah ? " tanya Rey.


" Bosan sih enggak. Lihat buah jambu segini banyak, jadi teringat dengan Jessi, sudah lama aku gak datang berkunjung ke rumahnya " kata Winda sambil mengamati buah jambu di tangannya.


" Jessi ... ??? ( bingung ) Oh teman yang itu ..." Juan baru mengingatnya.


" Sejak kapan kamu akrab dengan Jessi ? Bukannya Jessi teman akrabnya Karin ? " tanya Noel.

__ADS_1


" Berteman gak harus akrab kan ? Lagi pula, aku disambut baik kok sama mamanya Jessi, waktu itu saja, aku dapat kiriman kue donat. Aku simpan dua biji ya Kak, aku mau kasih kan Jessi " kata Winda.


" Kamu mau langsung jengukin Jessi ? " tanya Niko.


" Niatan baik itu harus segera dilaksanakan, gak boleh ditunda-tunda. Tunggu pulang sekolah, baru jengukin Jessi " kata Winda.


***


Niatan baik benar-benar cepat dilaksanakan, sepulang sekolah Winda pulang bersama Nansi untuk menjenguk Jessi. Winda segera mengeluarkan dua buah jambu biji dari dalam tasnya dan menyodorkan pada Jessi.


" Jambu biji, petik di sekolah, Kak Niko loh yang petikan " kata Winda.


" Aku kira, kamu yang panjat ? " kata Jessi.


" Pernah Winda panjat, trus dimarahi Kak Niko, makanya dia gak berani panjat lagi " sambung Nansi.


" Itu kan gara-gara kamu ( menyalahkan ) di suruh lihat-lihat keadaan sekitar malah diam saja, ketahuan, kena marah kan " Winda memberi alasan.


" Dilarang panjat, karena waktu itu kamu pakai rok. LUPA ... !!! " Nansi juga gak mau kalah.


" Ya ... tapi kan, seandainya kamu menjalankan tugas dengan baik, aku jadi gak ketahuan, iya kan ... " Winda masih saja ngeyel.


" Loh ... ??? Jadi aku ... ??? " kata Nansi.


Jessi tertawa kecil karena melihat tingkah Nansi dan Winda yang berdebat, Jessi meraih buah jambu, entah kenapa secara mendadak raut wajahnya berubah jadi sedikit muram dan hal tersebut terlihat oleh Winda.


" Kenapa Jess ? Gak suka buah jambu biji ya ? " tanya Winda.


" Bukan itu. Aku kepikiran buah mangga " kata Jessi.


" Ohh kamu masih pengen makan buah yang itu ? " kata Nansi.


Nansi pun menceritakan, Jessi lagi pengen makan buah mangga yang pemiliknya terkenal sangat galak, tampangnya juga cukup sangar, sehingga gak ada yang berani mendatangi rumahnya, apa lagi untuk meminta buah mangga miliknya dan ditambah lagi orang tersebut juga ada piaraan yang suka kejar, kalau ada orang lewat.


" Kamu beneran pengen Jess ? " tanya Winda.


" Kamu mau minta kan ? " ledek Nansi.


Winda tersenyum dengan sejuta makna, Nansi pun paham dengan jalan pikiran Winda. Tanpa berlama-lama mereka berdua meminjam motor keluarga Jessi dan segera pergi ke tempat tujuan.


" Kalian benar-benar minta ? " tanya Jessi belum percaya.


" He'eh. Nih ( menyerahkan ) coba periksa buah mangganya " kata Winda.


" Iya, ini buah mangganya. Bagaimana ... ??? " kata Jessi.


" Hebat kan, kami ... " Winda tersenyum bangga.


" Demi dirimu. Mintanya penuh perjuangan tau gak " kata Nansi.


" Ya salahmu sendiri, sudah di bilang jangan lari, malah lari, ya dikejar lah kan " kata Winda.


" Ya lari lah. Takut kena gigit " kata Nansi.


Flash back on.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera memarkirkan motor di pinggir jalan, terdapat sebuah rumah sederhana, halamannya cukup luas, dipagari pagar bambu mengelilingi pekarangan rumah, terdapat sebuah pohon mangga yang cukup besar tak jauh dari rumah tersebut, dan mereka pun memberanikan diri memasuki halaman, karena pagar yang tidak terkunci.


Winda berjalan di depan, sementara Nansi mengikuti dari belakang dengan takut-takut, selalu memperhatikan kanan kiri, baru saja Winda mau mengucapkan salam, tiba-tiba dari arah samping, muncul dua ekor angsa dengan suara khasnya.


KWAK ... KWAK ... KWAK


" AAAAA ... ANGSA ... !!! " teriak Nansi, karena ketakutan spontan lari meninggalkan Winda.


" Nansi, jangan lari ... " teriak Winda.


Terlambat, Nansi sudah lari dengan cepat, ciri khas dari angsa, kalau lari ya dikejar. Nansi terus berlari, tidak memperhatikan jalan, kakinya gak sengaja kesandung dan terjatuh masuk ke semak-semak. Winda segera menghampiri Nansi dengan membawa sebatang kayu untuk mengusir angsa tersebut.


HUUS ... HUUSS ... HUUSSS


Winda terus mengayunkan kayu yang ada di tangannya, beruntung setelah beberapa saat angsa mulai tenang dan pergi menjauhi mereka. Winda segera membantu Nansi berdiri.


" Sudah dibilang, jangan lari, malah dikejar kalau lari " kata Winda.

__ADS_1


" Sopo kuwi ( siapa itu ) ? "


Sebuah teriakan mengagetkan mereka berdua, saat berbalik nampak seorang bapak-bapak berambut panjang, terlihat ada tato di lengan kanannya, berwajah rada sangar sesuai cerita Nansi tadi dan berjalan mendekati mereka berdua.


" Sepurane nyuwun sewu Pakde, nopo angsal nyuwun pelem ? setunggal mawon Pakde, kangge rencang nyidam ( minta maaf Pakde, apa boleh minta mangga ? satu saja Pakde, buat teman lagi nyidam ) " kata Winda.


" Ohh arep jaluk pelem ( ohh mau minta mangga ) ? "


" Injeh Pakde, angsal ( iya Pakde, boleh ) ? " tanya Winda.


" Yo oleh, ngopo dadak bengak bengok ( ya boleh, ngapain pakai teriak-teriak ) ? "


" Enten banyak Pakde, semelang disosor, rencang kulo niki jireh ( ada angsa Pakde, takut digigit, temanku ini penakut ) " kata Winda.


" Ayo, tak pekne ( ayo, tak petikan ) "


Nansi yang tidak paham Winda bicara apa, hanya diam mengikuti apa yang dikatakan Winda saja, dalam hati Nansi salut juga, Winda yang kecil mungil berani berhadapan dengan orang yang berpenampilan sangar, yang baru ditemui dan berhasil berbicara dengan baik, walau dirinya gak tau mereka bicara apa ?


Flash back off.


Saat ini Winda, Nansi dan Jessi, dengan semangat menikmati buah mangga yang barusan mereka minta, lengkap dengan sambal buatan mamanya Jessi. Terutama Jessi, dia begitu lahap makan buah mangganya, Winda tersenyum senang melihatnya, segitu pengennya kah ? Winda menatap potongan mangga di tangannya, kembali memikirkan sesuatu ... ???


" Jessi, aku mau tanya ? Tapi sebelumnya aku minta maaf. Kalau kamu keberatan, kamu boleh gak jawab " kata Winda.


" Tanya apa ? " kata Jessi.


" Pernah gak sih - kamu - berfikir untuk - mengg****kan ( menunjuk ke arah perut Jessi ). Karena pasti, kamu sempat syok kan ? " kata Winda.


" Bukan hanya berfikir tapi aku pernah mencobanya " Jessi bicara dengan gamblang.


" Seriusan ? " Winda terkejut mendengarnya.


" Tapi gak bisa, karena aku terlambat mengetahuinya, karena sudah masuk tiga " kata Jessi.


" Aku pernah dengar sih, katanya makan nanas muda " sambung Nansi.


" Iyakah ??? " tanya Winda gak percaya.


" Katanya sih gitu, aku cuma dengar dari orang, masalah kebenarannya aku kurang tau" kata Nansi.


Rasa bersalah menyelimuti diri Winda, berjalan mendekati Jessi, duduk jongkok di depan Jessi, lalu mengusap perut Jessi secara berlahan, nampak sudah mulai membesar dari sebelumnya.


" Mbak Win minta maaf ya dek, sudah tanya yang enggak-enggak, dedek gak marah kan ? " kata Winda.


Tangan Winda terus mengusap dengan berlahan, entah kebetulan atau apa, ada terasa pergerakan dari dalam perut, baik Winda atau pun Jessi sama-sama terkejut, saling memandang dengan heran.


" Dedek gak marah kan, sama Mbak Win ? " Winda mengulangi ucapannya.


Namun tidak ada pergerakan lagi, mungkin benar kebetulan ? Tapi saat Winda mengusap lagi, kembali terasa pergerakan lagi, Winda tersenyum, begitu juga dengan Jessi dan kemudian tertawa kecil.


" Kalian kenapa sih ? " tanya Nansi heran dengan sikap keduanya.


" Barusan, adek di dalam gerak Nansi " kata Winda.


" Bohong " Nansi gak percaya.


" Seriusan. Iya kan, Jess ? " kata Winda.


" Aku juga baru pertama merasakannya " kata Jessi.


" Kalian berdua ngerjain aku ya ? " Nansi masih tak percaya.


Winda kembali mengusap perut Jessi, membayangkan sebuah nyawa yang bertumbuh dalam tubuh, semakin hari semakin besar dan bila saatnya tiba, maka akan lahir ke dunia ini. Winda menghembuskan napas dengan berlahan, rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi.


Aku harus bagaimana ???


Benar-benar bingung.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.


__ADS_2