
Suasana kelas sedang riuh dengan para murid yang sedang asyik bercerita, bermacam-macam mereka bicarakan, duduk membuat kelompok-kelompok kecil dan dari sekian pembicaraan. Tiba-tiba Winda tertarik dengan pembicaraan antara Vera, Echa dan Nirmala.
Tidak ada yang aneh pada awalnya, tapi semakin bicara, kenapa terdengar nama Ajeng disebut-sebut ??? Winda mengingat kembali, mereka dulunya satu SMP, wajarlah kalau kenal. Tapi kok pembicaraannya rada aneh sih ??? Karena mereka bertiga duduk tepat disebelah Winda, tentu saja dapat mendengar jelas semua pembicaraan mereka.
" Itu anak selalu saja gonta ganti cowok. Setiap aku ketemu, pasti cowoknya sudah ganti lagi " kata Vera.
" Ajeng kan, memang banyak dekat dengan cowok, dari dulu kan " kata Echa.
" Paling juga temannya " kata Nirmala.
" Aku yakin banget aku gak salah lihat. Kira-kira ada hubungan apa Ajeng dengan Kak Rey? kata Vera.
" Fotonya kurang dekat, gak terlalu jelas " kata Echa.
" Namanya juga dari jauh " kata Vera.
" Boleh aku lihat fotonya ? " Winda ikutan berbicara.
Awalnya hanya ingin mendengarkan pembicaraan mereka, tapi lama-lama kok penasaran juga, gatel kalau gak ikutan nimbrung. Winda mengamati foto dari hp Vera, walau dari kejauhan tapi Winda dapat mengenali, itu adalah Kak Rey dan Ajeng.
" Ini memang Ajeng dan Kak Rey " kata Winda menyerahkan hp pada Vera.
" Kamu kenal Ajeng ? " tanya Vera.
" Bukan kenal lagi. Kamu ingat gak, rumah pinggir jalan raya sebelum masuk gang rumahku, yang ada pohon mangganya ? Itu kan, rumahnya Ajeng " kata Winda menjelaskan.
" Waahhh, kalian tetanggaan ternyata !!! " kata Vera.
" Sepertinya kamu tau sesuatu, Win ? Coba cerita " kata Echa.
Tatapan Echa begitu tajam, mulai menaruh tanda tanya pada Winda, yakin banget Winda mengetahui sesuatu tentang Ajeng dan Rey, tatapan tersebut menular pada Nirmala dan Vera. Winda sempat berpaling menghindari, enggan menjawab sebenarnya, tapi...???
Menghadapi tatapan ketiga temannya, membuat Winda terpojok, apalagi mereka tau Winda cukup dekat dengan seniornya tersebut. Jadi sudah pasti Winda tak dapat mengelak lagi.
" Hem ( mengangguk ) mereka pacaran " kata Winda.
Seketika disambut dengan tatapan mata lebar oleh ketiganya, merasa kaget mendengar berita tersebut, karena yang bicara adalah Winda, sudah pasti itu benar, bukan karangan atau pun lelucon.
" Nah... bener kan dugaanku " kata Vera.
" Kak Rey bilang sendiri ke kamu Win ? " tanya Nirmala memperjelas.
" Bukan dari Kak Rey. Kak Niko yang kasih tau aku " jawab Winda.
" Kok dari Kak Niko ? " tanya Echa.
" Pas lagi ngobrol aja, tiba-tiba Kak Niko kasih tau pacar barunya Kak Rey dan pas aku perjelas, ternyata benar kalau Ajeng yang kita maksud itu, Ajeng yang sama " kata Winda.
" Wahhh... kok kebetulan gini ya ...??? " Vera merasa heran.
" Berarti, kamu cukup akrab dengan Ajeng ? " tanya Nirmala.
" Enggak juga sih, kita memang tetanggaan tapi, lebih ( berfikir ) dari pada dibilang akrab, lebih condong ke... tidak akur. Orang tuaku dengan mamaknya Ajeng.... begitulah..." kata Winda enggan menjelaskan detailnya.
" Mamanya Ajeng, rada resek ya " kata Vera.
" Kurang lebih seperti itu " kata Winda.
Mereka bertiga pun menganggukkan kepala, paham betul apa yang dimaksud oleh Winda dan bagaimana dengan perasaan keluarganya. Winda menatap ketiga temannya secara bergantian, mungkin ketiga temannya kurang lebih pernah merasakan, bagaimana reseknya sikap mamaknya Ajeng. Hemm... ternyata bawaan watak.
__ADS_1
" Eh... lihat dong, gantungan hp mu, Win ( menunjuk saku ) terlihat cantik " kata Echa yang teralihkan fokus melihat gantungan hp Winda.
Echa mengamati gantungan, begitu juga Nirmala ikut-ikutan melihat, apa lagi Vera, lihatinya sampai dibolak balik, dilihat betul-betul secara mendetail, seperti sedang memastikan sesuatu.
" Gantungan hp mu, mirip banget dengan punya Kak Niko " kata Vera.
" Mana ada !!! Punya Kak Niko ada bunga mataharinya " Winda segera menutup mulutnya, saat sadar keceplosan berbicara.
" Kok kamu tau ? punya Kak Niko as bunga mataharinya ? ( menatap Winda ) Jangan-jangan... " kata Vera.
" Mereka membeli di toko yang sama ?!! " sambung Echa.
" Bisa jadi " kata Nirmala.
" Sepertinya iya sih, soalnya hampir mirip " kata Vera.
Winda pun bernapas lega, untung saja gak ketahuan. Apa jadinya coba, kalau mereka sampai tau, kalau sebenarnya gantungan hp milik Niko itu adalah pemberian Winda. Bisa diduga yang enggak-enggak ini .
Flash back on
Saat Niko dan Winda masih berteduh menunggu hujan reda, duduk berdampingan dengan tangan Niko yang terus berada di pinggang Winda, memastikan agar mereka selalu dekat.
Winda mengeluarkan gantungan yang sama persis dengan yang diberikan pada Niko, menunjukkan pada Niko rupa aslinya, sebelum ditempelkan bunga matahari dan Niko justru memasangkannya pada hp Winda. Mengangkat dan menyandingkan kedua gantungan hp tersebut.
" Cantik ya...!!! " kata Niko.
" Hem, cantik. Karena menemaniku Reza, aku menemukan gantungan ini, ada untungnya juga ternyata " kata Winda.
" Reza ??? Siapa ??? " tanya Niko.
" Tadi malam, aku temani Reza cari hadiah buat pacarnya, enggak tau dalam rangka apa. Trus dia bayarin sekalian gantungan ini " kata Winda.
" Kamu gak jawab. Reza siapa ??? " kata Niko menatap Winda.
" Tadi malam ?? ( berfikir ) Cowok tadi malam ? Yang pegang boneka beruang ? Itu Reza ??? " tanya Niko.
" He'eh. Eh...( sadar sesuatu ) bagaimana ??? " Winda menatap Niko.
Niko mengalihkan pandangan ke arah lain, merasa malu karena sudah mengira yang bukan-bukan dan Niko lebih malu lagi karena keceplosan bertanya langsung ke Winda.
" Tadi malam aku lihat kalian berdua, aku pikir boneka itu untukmu " kata Niko.
Yang malah disambut gelak tawa oleh Winda, bagaimana bisa ada pemikiran seperti itu ??? Winda terus menertawakan Niko yang membuat Niko justru semakin malu lagi, tak tahan lagi, Niko mendaratkan ciuman lagi, yang membuat Winda seketika terdiam.
" Tertawa lagi...!!! " kata Niko.
" Kak Niko tau. Reza itu tingginya, lebih tinggi lagi dari pada Kak Rey dan aku paling sebel kalau berdiri di samping dia. Apalagi kalau bicara trus dia sengaja berdiri, hehh...( mengeluh ) bikin sakit leherku. Kita lebih sering ribut dari pada akurnya" kata Winda.
" Akrab banget kelihatannya ? " kata Niko.
" Karena Reza teman pertama dari awal aku pindah ke kota ini, dia juga yang membuat aku lancar berbicara bahasa Indonesia. Sebenarnya Reza satu tahun lebih tua dariku, tapi aku malas panggil dia kakak atau pun Mas, ntar dia GR lagi " kata Winda.
" Kamu, gak suka Reza ? " tanya Niko.
" Suka, sebagai temannya, gak bisa lebih dari itu. Karena kami sudah seperti kakak adik, sudah seperti keluarga juga sih " kata Winda.
" Kok, aku gak suka dengarnya ya... " kata Niko.
" Kakak gak sedang cemburu kan ? " tanya Winda.
__ADS_1
" Cemburu sih enggak, hanya gak suka saja " kata Niko.
" Hubunganku dengan Reza itu sama, seperti hubungan Kak Niko dengan Amara " kata Winda.
" Mana bisa disamakan ??? " protes Niko.
" Ya sama dong. Pertemanan cewek cowok " bantah Winda.
" GAK ADA...!!! Cewek cowok berteman murni itu, sejuta satu. Jadi sama saja enggak ada " bantah Niko.
" Jadi hubungan Kakak dengan Amara bagaimana ? " tanya Winda.
Tidak ada keraguan Niko menjawab pertanyaan dari Winda. Niko menceritakan semuanya tentang Amara, yang merupakan senior, alumni SMK NEGERI 2 juga, angkatan di atasnya angkatan Niko. Tanpa menutupi Niko pun menceritakan kedekatan mereka dan karena hal tersebut banyak yang mengira mereka berdua pacaran.
Niko pun menjelaskan dan menegaskan tidak ada perasaan apa-apa diantara mereka berdua, hanya sebatas teman saja. Niko pun memberitahu kalau Amara memiliki pacar, hanya saja tidak pernah dikenalkan pada dirinya, karena hubungan mereka yang LDR.
Tentang insiden bubur pagi-pagi itu, Niko mengakui terkadang sesekali Amara datang ke kosan, pagi-pagi menjelang subuh, biasanya terjadi saat terlalu malas kembali ke kosannya sendiri. Niko gak protes apa-apa karena Amara cukup akrab dengan pemilik kosan Niko dan juga sudah kenal dengan keluarga Niko.
" Hemmm gitu...!!! Pantesan...!!! " kata Winda.
" Pantas kenapa ??? " tanya Niko.
" Enggak apa-apa " kata Winda.
" Apa kamu kecewa Winda ? " tanya Niko.
" Kecewa ??? Kecewa kenapa ??? " Winda balik bertanya.
" Karena.... " Niko ragu-ragu.
" Oh... karena itu ( paham ). Enggak Kak, aku gak marah, lagian apa yang Kakak bilang waktu itu benar, dinding pembatas kita terlalu jelas. Bahkan Mbak Wika sudah menasehatiku, menjelaskan panjang lebar dan inti pembicaraannya Melarang " kata Winda.
" Bagaimana denganmu ?? Apakah sama denganku ?? " tanya Niko.
Saling menatap, terdiam tanpa suara.
Jantung deg degan.
Apakah ini waktunya...???
" Hem ( mengangguk ) Aku juga " Winda mengakuinya.
Kembali hening, kembali diam, hanya terdengar suara angin dan suara air hujan.
Saling suka, saling mengungkapkan, saling tau perasaan, tetapi hanya bisa berhenti dan diam.
Pada akhirnya Winda mengakui perasaannya sendiri.
Cinta tak harus memiliki.
Haaiiss.... dramatis.
Flash back off.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.