Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 56 Kekhawatiran Niko


__ADS_3

Niko memasuki kelas dengan wajah kusut, beberapa buah buku menumpuk di tangannya, meletakkan di atas meja dengan kasar, dirinya benar-benar sedang dibuat sibuk dengan pelajaran dan tugas. Niko duduk di bangkunya dan menghela napas panjang.


Pandangan mata seketika berbinar, ketika melihat Rey memasuki ruang kelas, tanpa basa basi Niko memanggil Rey agar mendekat. Dirinya sudah tidak sabar mendengar berita yang Rey bawa. Namun Rey malah sengaja berjalan dengan santai, sementara Niko sudah tidak sabar menunggu.


" Gimana ? " tanya Niko.


" Dia baik-baik aja tuh, sikapnya biasa saja, gak ada yang aneh-aneh " kata Rey duduk dihadapan Niko.


" Yakin ? " Niko meragukannya.


" Kenapa gak cari tau sendiri, SANA...!!! Malah suruh aku " kata Rey.


" Pengennya, tapi nih tugas ( sambil menunjuk tumpukan buku ) mana banyak lagi" kata Niko.


" Kan, bisa tanya langsung, lewat hp Bro ? " kata Rey.


" Ya gak enak lah. Yang penting dia baik-baik saja, masih aman kan ? " tanya Niko.


" Masih aman, belum ada kejadian aneh-aneh" kata Rey.


Flash back on


Saat Niko sedang berjalan santai, dirinya tidak sengaja mendengarkan beberapa murid sedang bercakap-cakap, awalnya ia tidak perduli, namun jadi tertarik saat nama Winda disebutkan.


{ Mereka lagi bicarakan Winda } batin Niko.


Karena terdorong rasa penasaran, pada akhirnya Niko menguping pembicaraan mereka, berdiri di tempat yang dirasa aman, menyimak dengan seksama, setiap pembicaraan mereka dan Niko benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar sekarang ini. Hatinya langsung bertanya-tanya, mana mungkin ? Mereka pasti salah orang ? Gak mungkin Wiwin begitu ?


Niko mengepalkan tangannya, menahan amarahnya. Berani sekali mereka mengatakan Winda tampang malaikat namun berhati iblis, bermulut manis namun berhati busuk, baik di depan namun menikam dari belakang, berteman tidak murni dan itu semua hanya karena berbeda keyakinan saja.


Walau pun sudah kesal, namun Niko tetap bertahan untuk mendengarkan pembicaraan mereka sampai selesai. Niko mulai berfikir, pasti terjadi sesuatu, makanya muncul percakapan yang didengarnya saat ini.


{ Semoga Winda tidak apa-apa } Niko berdoa dalam hati.


Sehabis pelajaran usai, Niko bergegas mencari Winda, untuk melihat keadaannya, apakah baik-baik saja ? Namun saat Niko sampai di kelas satu Tata Busana, kelasnya sudah kosong. Niko segera berlari menuju gerbang, melihat ke sana kemari, tapi yang dicarinya sudah tidak terlihat.


{ Pasti sudah pulang } batin Niko.


Niko yang berdiri di tengah jalan, tiba-tiba ditabrak oleh seseorang dari belakang dan saat Niko berbalik, orang tersebut adalah Nansi. Pas banget ketemu teman sekelasnya.


" Kak Niko ? " kata Nansi.


" Kamu lihat Winda ? " tanya Niko.


" Winda, dia sudah pulang Kak " jawab Nansi.


" Oh, ya sudah " kata Niko.

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi, Niko pergi meninggalkan Nansi. Karena sudah mendengar, kalau Winda sudah pulang, hati Niko sedikit tenang, berfikir posisi, Winda baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Hingga pada malam harinya, saat Niko sedang berkendara, dirinya melihat Winda, akhirnya Niko putar balik, memarkirkan motornya dan segera mencari Winda. Saat Niko hendak memanggil Winda, dirinya menyadari sesuatu, Winda sedang fokus melihat dan mengikuti seseorang.


{ Ngikutin siapa dia ? } batin Niko bertanya-tanya.


Tanpa pikir panjang Niko pun mengikuti Winda dari belakang, terus mengamati dari jarak aman agar tak ketahuan. Niko memperhatikan sekeliling, bertanya-tanya, Winda ngapain, ngikutin orang ? Sedikit khawatir karena arah jalan Winda seperti menuju kawasan club malam.


Tiba-tiba Niko menabrak seseorang, pandangan teralihkan untuk beberapa saat dan menyadari dirinya kehilangan Winda. Melihat sekeliling, memperhatikan, berjalan ke sembarang arah mencari keberadaan Winda, terus berjalan ke sana kemari namun nihil, benar-benar kehilangan jejak.


Hingga dirinya mendengar suara langkah kaki, seperti orang berlari, dengan suara teriakan menyuruh untuk berhenti dan saat memperhatikan, mata Niko melebar, melihat Winda sedang dikejar oleh tiga orang pemuda.


Niko segera mencari cara agar dapat menolong Winda, menunggu Winda lewat, saat Winda sudah dekat segera menarik tangan Winda dengan cepat dan membekap mulut Winda, supaya tidak berteriak. Niko memberi isyarat untuk diam, jangan bersuara, merangkul Winda agar membungkukkan badannya supaya tak terlihat.


Bersembunyi dibalik semak-semak, menunggu, mendengarkan dan setelah beberapa saat, Niko melihat keadaan, memastikan sudah aman atau belum untuk keluar. Setelah dirasa aman, mereka berdua keluar dari tempat persembunyiannya.


" Kamu ngapain ke kawasan ini ? Sendirian lagi ? Kamu gak tau ini kawasan apa ? " kata Niko.


Inginnya bertanya dengan nada yang lembut, tapi justru nada ngegas yang terlontar dari mulutnya. Winda hanya diam tak menjawab, sedikit membuat Niko khawatir, waduh apa marah dia ? Kelewatan kah ? Jatuhnya seperti marah kah ? Kan cuma khawatir ?


" Kamu ngapain ? Sampai dikejar pemuda-pemuda tadi ? " tanya Niko.


Niko mendengarkan penjelasan yang Winda berikan, dirinya sedikit lega, Winda mau bercerita pada dirinya dan supaya Winda lebih paham, Niko menjelaskan, kawasan yang ia masuki adalah area club malam.


Niko tersenyum saat melihat Winda menganggukkan kepalanya, tanda sudah mengerti. Seketika Niko teringat dengan pembicaraan tadi siang, saat di sekolah, baru saja hendak bertanya, apakah terjadi masalah ? Mata Niko melihat para pemuda yang mengejar Winda tadi.


Melihat bibir Winda yang tersenyum, benar-benar membuat Niko tenang, setidaknya sekarang ini Winda baik-baik saja. Niko pun mengurungkan niatnya untuk bertanya, karena tak ingin merusak momen indah malam ini.


Flash back off


Sesampainya di dalam kelas Winda segera duduk di bangkunya sendiri, tersenyum melihat jambu biji yang ada di tangannya. Masih beranggapan aneh-aneh terhadap Rey, Tapi biar lah ! Winda langsung menggigit dan memakan buah jambu tersebut, sebelum pelajaran berikutnya dimulai.


Tiba-tiba Vera dan Nansi masuk ruang kelas dengan membuat keributan, entah apa yang mereka debatkan ? Nansi langsung berhenti tepat dihadapan Winda, menyilangkan kedua tangannya, menatap dengan serius dan membuat Winda menjadi bingung, bertanya-tanya ada apa ?


" Kamu kenapa ? " tanya Winda.


" Katanya ke air terjun berdua ? " kata Nansi.


" Ya emang berdua, kan boncengan " kata Winda.


" Lalu ini apa ??? " Nansi menunjukkan sebuah foto yang di dalamnya ada Winda, Vera, Jevi dan Noel.


Nansi menatap serius ke arah Winda, menunggu jawaban dan Winda baru ingat, kalau dirinya belum menceritakan secara lengkap pada Nansi.


" Sudah aku bilang, kami ketemu di sana tidak sengaja, bukan janjian tapi Nansi gak percaya" kata Vera.


" Yang Vera bilang benar, bahkan Jevi dan Kak Noel datangnya tidak janjian, semuanya karena kebetulan, emang aneh sih ? Tapi memang begitu ceritanya " kata Winda.

__ADS_1


" Kok bisa ??? " Nansi masih tidak percaya.


" Ya gak tau...!!! " kata Vera.


" Kamu dapat foto itu dari siapa ? " tanya Winda pada Nansi.


" Dapat dari Jevi " jawab Nansi.


Winda dan Vera saling menatap, merasa heran dan bingung, karena seingat mereka, kemarin tidak ada acara foto-foto bersama ? Pasti Jevi ambil foto tersebut secara diam-diam ? Iya ! Pasti begitu !


" Jadi ini beneran kamu Ver ? Rambut mu panjang juga ? Aku pikir tadi Jevi cuma pamer, bohongin aku ? ternyata benar " Nansi langsung berubah ekspresi.


" Jevi cerita apa saja ke kamu ? " tanya Vera.


" Cerita semuanya, dia pamer habis-habisan pada teman-temannya, karena kebetulan aku lewat, ya aku dengar lah. Nah trus Jevi nunjukin foto ini, sedikit paksaan aku suruh kirim ke nomorku. Senangnya ya... bisa jalan rame-rame gini " kata Nansi benar-benar merasa iri hati.


Vera melihat ke arah Winda sebentar dan kemudian berbalik lalu pergi, berlari keluar dari kelas.


" Ver...!!! Mau kemana ? " teriak Winda.


" Cari JEVI...!!! " Vera berteriak sambil berlari menjauh.


Nansi dan Winda saling menatap, heran melihat tingkah Vera yang langsung mencari Jevi, berlari, secepat kilat, mereka berdua tersenyum dan tertawa bersamaan.


" Bakalan habis si Jevi, dimarahi Vera " kata Nansi.


" Berapa banyak, kira-kira foto yang diambil Jevi ? " Winda penasaran.


" Kayaknya banyak dech " Nansi menjawab asal.


Dari sudut tempat duduk Karin, Karin tambah kesal dengan cerita yang barusan dia dengar, dirinya bertambah marah, bertambah benci, sangat benci dengan Winda.


Karin mengepalkan tangannya, sampai kertas yang ada di tangannya ikut menggumpal menjadi kusut karena dicengkram. Hati Karin saat ini benar-benar panas mendidih, kenapa ? Kenapa keberuntungan selalu berpihak pada Winda ? Kenapa bukan dirinya ? Apa hebatnya Winda ?


Karin menatap Winda dengan penuh kebencian, keinginannya untuk menghancurkan Winda semakin besar lagi.


{ Lihat saja, sebentar lagi Kak Noel akan membencimu } batin Karin.


.


.


.


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.

__ADS_1


__ADS_2