
Sesuai janji kemarin, setelah sampai di sekolah Winda segera menuju tempat janjian bergegas menemui Niko untuk bertukar buku. Rupanya Niko sudah lebih dahulu sampai, duduk menunggu sambil membaca buku novel yang Winda beli kemarin.
Niko begitu fokus membaca, Winda berjalan berlahan tanpa suara, niat hati ingin memberi kejutan tapi sayangnya justru Winda yang dibuat terkejut duluan.
" Selamat pagi, Wiwin " kata Niko menoleh ke arah Winda datang.
" Selamat pagi juga, Kak Niko " Winda membalas sapaan.
" Duduk dulu, sebentar lagi aku selesai baca " kata Niko.
Winda pun duduk di sebelah Niko, mengamati, tak menyangka seorang Niko suka juga baca novel. Cowok kan, cenderung lebih suka baca komik. Posisi duduk membaca buku, ditambah terkena sinar matahari pagi, semakin lama diperhatikan, kok makin ganteng ya ?.
Pagi-pagi begini mata sudah dimanjakan pemandangan bagus, tanpa sadar Winda jadi senyum-senyum sendiri, namun seketika buyar saat Niko menutup buku dan memberikan padanya.
" Ceritanya bagus, kamu pintar pilih buku " puji Niko.
" Hanya suka baca saja, pada dasarnya aku suka semua jenis buku. Ini buku Kakak, maaf kemarin, aku benar-benar gak perhatikan " Winda menyerahkan buku.
" Aku pikir kemarin, kamu sengaja menghindariku " kata Niko.
" Aahh... enggak kok Kak, aku beneran buru-buru " Winda berbohong.
" Andai kemarin, kamu berhenti sejenak, kita bisa jalan bareng bersama Rey dan juga pacar barunya " kata Niko.
Hah ???
Pacar baru ???
Ajeng ???
" Emmm... kalau tidak salah ingat, namanya... Ajeng " kata Niko.
{ Ehhh.... buset beneran pacaran mereka ? } batin Winda.
" Hei...!!! ( menyentuh pipi Winda ). Kenapa, kok melamun gitu ? Gak suka guru private mu ada pacar ? " Niko malah godain.
" Enggak gitu Kak. Hanya heran saja. Kenapa dari sekian banyak cewek, Kak Rey itu pacarannya sama Ajeng " kata Winda.
__ADS_1
" Memangnya kenapa ? Kamu kenal Ajeng ? " Niko menatap serius.
" Bukan kenal lagi Kak...!!! " jawab Winda.
Winda pun bercerita perihal hubungannya dengan Ajeng, tetanggaan yang gak pernah rukun, selalu keluarga Winda dianggap saingan, walau pun Winda mengakui, semua itu terjadi hanya karena sikap mamak nya Ajeng, yang gak bisa lihat orang melebihi dirinya.
" Seriusan ? " Niko tak bisa menahan senyumannya saat mendengarkan cerita Winda, benar-benar tidak terduga.
" Seriusan Kak. Bahkan, aku ini pernah dikatain, hanya karena aku sekolah di SMK NEGERI 2 ini. Lebih parahnya, aku dianggap gagal masuk sekolah favorit, yaitu SMANSA. Gila gak tuhh ? " kata Winda.
" Kalau Rey dengar ? Kira-kira bagaimana reaksinya ? " Niko mulai kepo.
" Aku sih bukan penasaran Kak Rey. Tapi reaksi mamaknya Ajeng, saat tau Ajeng pacaran dengan anak dari tempatku sekolah ? Pasti bakalan malu banget ke aku ( tertawa kecil ). Lebih baik dirahasiakan dulu, aku akan pura-pura gak tau " kata Winda.
Niko menganggukkan kepala, tanda setuju dengan keinginan Winda, mereka berdua pun kembali asyik bercerita. Sebenarnya Winda ingin sekali bertanya perihal Amara, tapi... rada ragu untuk bertanya langsung pada Niko.
Selesai berbicara dengan Niko, saat Winda kembali menuju kelas, dirinya berpapasan dengan Shanti, seperti biasa Shanti mengeluarkan kata-kata mutiara yang entah apa tujuannya.
" Aku heran dengan kamu ? " Shanti memulai pembicaraan.
" Apa lagi...??? " tanya Winda, tanpa melihat ke arah Shanti.
" Sembarangan aja kalau ngomong ! Jangan ngasal, jatuhnya fitnah " kata Winda.
" Winda, Winda...!!! Coba kamu tanya kan, ke dirimu sendiri ? Kamu pikir bisa ? Cewek dan cowok itu hanya sebatas teman ? ( berhenti sejenak ). Enggak Winda, itu gak mungkin...!!! Walau pun kamu suka salah satunya, hubungan kalian gak akan pernah bisa disatukan. Jadi saranku, segera menjauh, sebelum kamu susah sendiri " kata Shanti.
Kebiasaan Shanti kumat lagi, selesai bicara langsung pergi begitu saja meninggalkan Winda dengan tanpa dosa. Winda mengambil napas panjang, lagi-lagi perkataan Shanti, memasuki pikiran Winda.
Winda meletakkan tas punggungnya ke dalam laci meja, duduk membungkuk, kepala diatas meja, memejamkan mata, bukan karena mengantuk atau pun ingin tidur. Perkataan Shanti terus berputar dalam kepala Winda, mulai berfikir, apa iya begitu ???
Bayangan dalam kepala mulai teringat dengan kejadian kemarin. Rasa sakit kembali terasa di dada, saat Winda teringat kemarin Niko jalan bareng dengan Amara. Melihat mereka bergandengan tangan dengan mesra, mengobrol dengan akrab dan itu benar-benar membuat dirinya tidak suka.
Mulai berfikir ? Bertanya pada diri sendiri. Kalau rasa sakit itu merupakan cemburu ? Berarti dirinya menyukai Niko ? Apa iya begitu ? Sejak kapan rasa suka itu ada ?.
Winda mengingat momen, waktu Niko menyatakan perasaan suka padanya dan tidak mengajak pacaran, karena ada alasan. Saat itu, Winda santai saja, tidak ada perasaan sakit atau pun kecewa. Tapi kenapa ? Hanya melihatnya jalan dengan cewek lain, rasa sakit itu tiba-tiba muncul ?.
{ Ya Allah. Apa iya aku suka Kak Niko ? } batin Winda.
__ADS_1
Rasa sakit mendadak pindah di kepala Winda, terasa nyutt nyutt nyutt. Ditambah nasehat dari sang Kakak juga tiba-tiba terlintas dalam kepala.
Kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan yang bukan seagama, sesuka apa pun kamu, tetap tidak boleh. Hubungan beda keyakinan itu, hukumnya sudah sangat jelas.
Winda kembali menarik napas panjang, kalau ini beneran kisah cinta, sungguh sangat tragis, dari awal sudah ada dinding pembatas, kalau ini diibaratkan bunga, akan selalu kuncup gak pernah bisa mekar menjadi bunga yang sempurna.
" WOOOIII...!!! Masih pagi ini, semangat dong " Nansi yang baru saja datang.
" Selamat pagi Nansi " Winda menyapa.
" Pagi ( membalas ). Oh ya kamu sudah sarapan ? " tanya Nansi.
" Bawa makanan kah ? " Winda langsung berbinar.
" Nah, ada titipan kue dari mamanya Jessi, khusus buat kamu " Nansi menyerahkan sebuah kotak dari karton.
Dengan semangat Winda segera membuka dan melihat isi kotak tersebut, wajahnya seketika terlihat bahagia, melihat enam biji donat cokelat di dalamnya. Menatap Nansi, serasa tak percaya dapat titipan dari mamanya Jessi.
Tanpa basa basi, mengambil satu buah donat dan segera memakannya. Rasa donat enak dan lembut banget. Winda begitu menikmati, sampai lupa menawarkan pada Nansi.
" Mau...!!! " Winda menawarkan kepada Nansi, setelah habis satu biji.
Yang ditawari Nansi tapi tangan yang ngambil malah Vera, secepat kilat mengambil satu dan langsung memakannya. Winda menatap kesal karena donatnya diambil, tapi pelakunya santai saja makannya.
" Makasih ya, donatnya enak " kata Vera sambil mengunyah donat di mulutnya.
" Jelas saja enak. Gratisan ....!!! " Winda rada kesal.
" Kamu saja yang makan, bagianku sudah habis. Tante pesan, kapan-kapan disuruh main lagi " kata Nansi.
" Boleh. Insyaallah " jawab Winda.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.