
Melihat Niko berjalan mondar mandir ke sana kemari sambil melihat ke bawah, seperti mencari sesuatu, namun saat hendak dihampiri Niko keburu di panggil Ibu Yanti dan pergi. Selang tak berapa lama, Winda melihat Rey, kelakuannya mirip banget dengan Niko barusan.
" Cari apa sih Kak ? " tanya Winda menghampiri Rey.
" Cari gantungan hp " kata Rey.
" Bentuknya bagaimana ? Warnanya apa ? Aku bantu cari ? " kata Winda.
" Gantungan hp pemberianmu. Dari tadi Niko sudah keliling cari, gak ketemu, karena kasihan aku bantuin. Kalau kamu mau bantuin boleh juga, ntar kalau ketemu kabari ya " kata Rey.
" OK...!!! " jawab Winda.
Setelah kepergian Rey, Winda pun mulai memperhatikan setiap jalan yang dirinya lalui, melihat kanan kiri dengan baik, gantungan hp nya kan kecil, bisa saja jatuh dan terselip di rerumputan.
Cari gantungan kecil di sekolah yang besar, benar-benar mirip pepatah lama deh. Lama Winda cari, tapi dari tadi belum ketemu juga. Saat melintasi lapangan, nampak Nevan, Jevi dan kawan-kawannya sedang bermain sepak bola. Entah kenapa ada sesuatu yang menarik perhatian mata Winda tepat berada di dekat gawang.
Pandangan mata Winda langsung berbinar, itu dia yang dicari, tanpa basa basi Winda segera mengambil yang dicarinya tersebut. Karena begitu senangnya, Winda sampai tidak menyadari teriakan dari kawan-kawan di lapangan dan seketika terjadi lah tabrakan.
BUUAAKKK
Tabrakan antara bola sepak dan kening Winda pun terjadi dengan begitu sangat cepat, tak sempat menghindar dan seketika pandangan Winda berubah gelap gulita.
Saat Winda mulai membuka mata, dirinya sudah berada di atas ranjang, mendapati seseorang duduk di sampingnya dan ternyata itu adalah Hadi. Hadi membantu Winda saat berusaha untuk duduk.
" Ini, minum dulu " Hadi menyerahkan segelas air putih pada Winda.
Winda meminumnya sedikit dan dikembalikan kepada sang guru, menyentuh keningnya berlahan dan terasa makin sakit, Winda ingat kalau dirinya tadi ketimpuk bola sepak sampai pingsan.
" Kalau masih pusing, tiduran saja dulu " kata Hadi.
" Jevi, mana Pak ? " tanya Winda.
" Kenapa cari Jevi ? " Hadi tanya balik.
" Jevi dan kawan-kawannya yang nendang bolanya, sampai kena jidat saya Pak " kata Winda.
" Bukannya kamu juga salah ? Ada orang main bola, tapi kamu main masuk ke dalam lapangan, kena bola kan...!!! Bapak tinggal dulu ya. Kamu tiduran saja dulu, nanti kalau sudah pulang Bapak kabari " kata Hadi.
Setelah Hadi keluar dari ruang UKS, Winda berlahan duduk, mengamati kedua telapak tangannya kosong gak ada apa-apa, memeriksa saku baju sama saja hanya ada uang, melihat kanan kiri ranjang, tapi sama saja yang dicarinya gak ada juga.
Winda ingat betul sebelum pingsan, gantungan bunga matahari sudah dipegangnya. Apa terjatuh di lapangan ? Namun saat Winda turun dari ranjang dan hendak berdiri, dirinya merasakan pusing.
Terdiam beberapa detik, mulai berdiri lagi dengan cepat, merasakan pusing lagi tapi Winda ngeyel melangkah dan akhirnya terjatuh di lantai. Beruntung pada saat itu bertepatan Nansi masuk ke dalam ruang UKS dan segera membantu Winda kembali ke atas ranjang.
" Kamu ngapain ? Sampai terjatuh di lantai ? " tanya Nansi.
" Aku coba berdiri, tapi tiba-tiba pusing trus jatuh " kata Winda.
" Bekas bolanya parah juga ya, sampai merah betul loh keningmu " Nansi mengamati kening Winda.
__ADS_1
" Nansi...!!! " kata Winda.
" Kamu tau...!!! Waktu lihat kamu pingsan, Kak Noel sigap banget loh. Dia buru-buru angkat kamu bawa ke UKS " kata Nansi.
" Kak Noel yang bawa aku ? " tanya Winda.
" Iya. Lagian kamu juga sih, sudah diteriaki, gak dengar " kata Nansi.
Flash back on
Pada saat kejadian sesaat sebelum Winda terkena bola. Kebetulan Nansi juga berada tak jauh dari lapangan. Melihat Winda tiba-tiba masuk ke dalam lapangan dan duduk jongkok.
" Itu anak ngapain ? " kata Nansi.
Jevi dan kawan-kawannya yang asyik bermain, juga gak menyadari keberadaan Winda yang masuk ke dalam lapangan. Saat Jevi menendang bola sekuat tenaga dan secara kebetulan bola tersebut pas banget mengarah pada Winda yang berdiri dekat gawang.
" WINDA...!!! AWAS...!!! "
Bukan hanya Nansi yang berteriak memperingatkan Winda, tapi peringatan terlambat, saat Winda berbalik, seketika itu juga bola mengenai kening Winda. Sangking kuatnya tendangan bola, badan Winda sampai terjatuh kebelakang dan akhirnya pingsan.
" Winda... Winda.... Winda... "
Para murid segera berkumpul mengerubungi Winda yang jatuh pingsan, Nansi segera masuk ke tengah-tengah kerumunan, mengangkat kepala Winda dan menepuk halus pipi seraya memanggil-manggil nama Winda.
" Win... Winda...!!! Haduch... bagaimana ini..??" Nansi panik.
Suasana mulai riuh, semakin banyak murid berkerumun ingin menyaksikan ada kejadian apa ? Di antara para murid, muncul lah Kak Noel, tanpa bertanya ini itu, langsung mengangkat Winda dan membawanya ke ruang UKS.
" Nah gitu ceritanya. Lagian kamu cari apa sih ? Tiba-tiba main masuk lapangan saat mereka lagi main ? " tanya Nansi.
" Ada barang yang aku cari " kata Winda.
" Barang apa ? " tanya Nansi.
Winda pun menceritakan perihal gantungan bunga matahari yang dicari tersebut, tapi sayangnya saat ditanyakan, Nansi gak melihat barang apa pun jatuh dari badan Winda. Semakin bingung lah Winda, karena dirinya yakin banget sudah menggenggam nya sesaat sebelum ketimpuk bola dan jatuh pingsan.
" Coba deh, nanti aku cari di lapangan. Siapa tau terjatuh lagi di sana. Lebih baik kamu tiduran saja dulu, jangan dipaksakan bangun, masih pusing kan ? " kata Nansi.
Winda pun kembali berbaring dan Nansi segera keluar dari ruang UKS. Winda masih merasakan pusing, sehingga dirinya memutuskan untuk memejamkan mata, mencoba untuk tidur dan saat dirinya mulai tertidur.
Sayup-sayup telinga Winda mendengar suara pintu terbuka, ada seseorang berjalan mendekat, namun karena mata rada berat untuk dibuka, Winda pun memutuskan diam dan pura-pura tidur.
Winda pikir orang tersebut akan segera keluar saat melihat Winda masih tidur, tapi rupanya dugaannya salah. Winda merasakan ada sentuhan berlahan membelai rambutnya dan kejadian berikutnya benar-benar di luar dugaan.
Winda merasakan kecupan lembut di bibirnya. Terkejut sudah pasti, tapi Winda tetap menutup matanya rapat-rapat, tidak melakukan reaksi apa pun, karena jika tidak dirinya akan ketahuan bohong pura-pura tidur.
Winda kembali merasakan kecupan di keningnya, setelah itu orang tersebut melangkah menjauh, sepertinya akan keluar ruangan dan benar saja, tak lama terdengar suara pintu dibuka.
Sesaat kemudian Winda membuka matanya, membalikan badan menghadap dinding, menyentuh dada, merasakan detak jantungnya yang masih deg degan, dalam hati Winda bertanya-tanya. Siapa yang barusan menciumnya ?.
__ADS_1
Winda kembali mendengar suara pintu terbuka, ada langkah kaki yang mendekat dan saat Winda berbalik, dirinya melihat Noel.
" Kamu sudah bangun ? " tanya Noel.
" Eh... Kak Noel. Kakak baru masuk ? " Winda bertanya dengan sedikit gugup.
" Iya, aku baru masuk. Coba aku lihat ( menyibakkan poni ). Hemmm masih merah " kata Noel.
Berbalik mengambil handuk dingin dan mengkompres kening Winda. Sedikit merintih saat handuk tersebut menempel kening, Noel pun mengulangi dengan perlahan.
" Sakit ? " tanya Noel.
" Kepalaku juga pusing " kata Winda.
" Eh... ada Kak Noel " Nansi yang tiba-tiba masuk.
Noel bergeser lebih mendekat ke arah Winda, sambil terus menempelkan handuk dingin di kening Winda. Saat Winda hendak memegang sendiri pun, tangannya malah ditolak oleh Noel.
" Gimana Nansi ? Ada ??? " tanya Winda.
" Aku sudah periksa, aku sudah cari-cari, bahkan sampai aku ikuti jalan dari lapangan sampai ruang UKS, tapi gak ada tuh, barang yang kamu maksud itu " kata Nansi.
" Jatuh dimana ya ? " kata Winda.
" Barang apa ? " tanya Noel.
" Itu Kak, gantungan bentuk bunga matahari, kata Winda sih, itu punya Kak Niko. Iya kan Win ? " Nansi mengarahkan pandangan pada Winda.
" Iya, tadi aku pegang sebelum pingsan " kata Winda.
" Dan gara-gara ambil gantungan itu juga, kamu jadi kena timpuk bola sampai jatuh pingsan. Sekarang malah ilang gantungannya, serasa sia-sia kan, pengorbananmu " kata Nansi mengeluarkan unek-uneknya.
" Nansi...!!! " Winda memberi kode agar tidak dilanjutkan.
Ketiganya pun hanya tersenyum kecil, suasana menjadi hening dan mulai sedikit canggung. Nansi menatap Winda dan Noel bergantian, posisi mereka berdua kok serasa seperti...???
Nansi pun mulai menduga-duga, jangan-jangan ???
" Emmm aku balik ke kelas ya, tadi aku izinnya cuma sebentar, ini sudah kelamaan. Bye Winda. Duluan Kak Noel " Nansi berpamitan.
Dengan langkah cepat Nansi segera keluar dari ruang UKS, menutup pintu pelan-pelan dan bernapas lega, sudah keluar dari situasi yang rada gak buat nyaman.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.