
Keesokan harinya sedari pagi Winda sudah sibuk membantu di pasar, dari menyusun dagangan, membersihkan meja dan kursi, tanpa disadari sudah tengah hari lewat.
" Nduk, Bapak sama Ibu pulang dulu ya " kata Ibu.
" Siap Bu " jawab Winda.
" Nduk Win. Engko nek enek koncone Bapak moro, kon moro nyang omah wae ya ( Nanti kalau ada teman Bapak datang, suruh datang ke rumah saja ya ) " pesan Bapak.
" Baik Pak " jawab Winda.
" Kamu sendiri dulu bisakan ? Yang bantuin biar makan dulu, gantian " kata Ibu.
" Iya, bisa kok Bu. Sepi juga kok, gak rame " kata Winda.
" Ibu pulang dulu " kata Ibu berpamitan.
Mumpung tidak ada pembeli, Winda mengecek botol-botol kecap, saos, persediaan sambal, jeruk nipis, tisu dan lain sebagainya.
" Bakso satu "
" Baik. Mau ma...!!! Pak Hadi " kata Winda melihat guru nya.
" Winda. Kamu...??? " Hadi tak kalah terkejutnya.
" Mau makan di sini, apa dibungkus Pak ? " tanya Winda.
" Makan di sini saja " jawab Hadi.
" Duduk dulu, ditunggu ya Pak " kata Winda.
Beberapa saat kemudian Winda datang dengan membawa pesanan.
" Silahkan Pak ( meletakkan bakso di atas meja ). Mau minum apa Pak ? " tanya Winda.
" Es teh saja " kata Hadi.
" Baik Pak " jawab Winda.
" Kamu anaknya Pakde ? " tanya Hadi sambil meracik.
Dalam bahasa Jawa Pakde adalah Bapak Gede, arti lainnya adalah sapaan kakak laki-laki Ibu atau Ayah. Panggilan tersebut juga dapat digunakan kepada laki-laki yang lebih tua dari kita di luar ikatan kekeluargaan sebagai bentuk penghormatan, misalnya kepada orang tua dari teman atau kepada tetangga
" Begitulah Pak. Saya jarang bantu-bantu di pasar, cuma kalau di suruh saja " kata Winda sambil membuat es teh.
" Pantesan. Bapak sering makan di sini tapi gak pernah lihat kamu " kata Hadi.
" Benarkah ? Bapak pelanggan setia dong. Ini es teh nya Pak " kata Winda meletakkan gelas.
" Gak nyangka loh, kalau kamu anaknya Pakde" kata Hadi.
" Kenapa Pak ? Gak mirip kah ? " kata Winda.
" Begitulah, kamu rada beda " kata Hadi.
Winda tersenyum mendengarnya.
" Nduk Wiwin...!!! " seseorang memanggil.
" Dalem Pakde ( iya paman ) " jawab Winda segera bergegas berdiri.
" Bapak mu endi nduk ( Bapak mu mana nak ) ? "
" Wangsul Pakde ( pulang paman ) " jawab Winda.
" Wehhh, malah muleh ( wahh, kok pulang )?"
" Pakde sampun janjian ( Pakde sudah janjian ) ? " tanya Winda.
" Yo wes ( ya sudah ) "
" Bapak pesen, Pakde dikenken teng griyo ( Bapak pesan, Paman disuruh ke rumah ) " kata Winda menyampaikan pesan.
" Wealah, ngertio ngono langsung maeng ( ya ampun, tau gitu langsung tadi ). Bapak mu kat maeng ( Bapak mu dari tadi ) ? "
" Nembe Pakde, dereng dangu ( Baru Paman, belum lama ) " jawab Winda.
" Yo wes nek nuh ( ya sudah kalau gitu ) "
__ADS_1
" Injeh Pakde ( iya Paman ) " jawab Winda.
Winda kembali duduk di depan Hadi, sementara Hadi hanya menatap Winda dengan tatapan heran dan kagum.
" Nduk Wiwin ? Artinya apa itu ? " tanya Hadi.
" Itu bahasa Jawa Pak. Gendhuk di singkat nduk adalah panggilan untuk anak perempuan, sementara Wiwin, panggilan saya di rumah " Winda menjelaskan.
" Bapak tau sedikit bahasa Jawa, tapi yang Bapak tidak paham, yang kamu ngomong tadi" kata Hadi.
" Itu juga bahasa Jawa Pak, hanya saja itu disebut bahasa Jawa yang halus " kata Winda.
" Bahasa Jawa ada berapa ? " tanya Hadi ingin tau.
" Setau saya sih Pak. Bahasa Jawa itu ada yang disebut kasar, halus atau Boso dan Kromo ada juga yang sebut kromo Inggil " kata Winda.
" Ada perbedaannya ? " tanya Hadi lagi
" Ada Pak. Bahasa Jawa yang disebut kasar, biasanya yang dipakai sehari-hari dan berlaku untuk yang seumuran. Kalau halus atau Boso untuk orang yang muda bicara kepada yang lebih tua atau yang dituakan, soalnya kalau pakai Jawa kasar biasanya dianggap tidak sopan. Kalau Kromo saya gak paham Pak, mungkin itu dipakai orang-orang ningrat atau keturunan keraton, saya gak paham itu " Winda menjelaskan sesuai yang dia tau.
" Seperti tingkatan ? " tanya Hadi.
" Iya Pak, seperti tingkatan. Pak Hadi ngetes saya ? " tanya Winda.
" Kenapa kamu berpendapat begitu ? " Hadi tanya balik.
" Bapak Hadi kan, guru bahasa Indonesia " kata Winda.
" Trus kalau guru bahasa Indonesia, paham semua bahasa yang ada di Indonesia gitu ? Bapak manusia biasa nduk Win, bukan manusia super " kata Hadi menirukan panggilan Winda.
Hadi menekankan kata NDUK WIN, yang membuat Winda tertawa mendengarnya, serasa sangat gak biasa di telinga nya.
" Kenapa tertawa ? Gak sopan ya, ngetawain guru " kata Hadi.
" Maaf Pak. Baru pertama dengar, lucu saja " kata Winda.
" Kalau di sekolah ini, Bapak hukum kamu lari keliling lapangan, berani betul guru diketawain " kata Hadi serius.
" Maaf Pak " Winda menundukkan kepalanya.
" Iya benar, mung guyon " kata Winda tersenyum lebar.
Baik Hadi ataupun Winda tertawa kecil. Winda benar-benar tidak menyangka seorang guru dapat berbicara santai dengan muridnya, serasa bicara dengan seorang kakak.
Winda melihat pada barang belanjaan Hadi, karena sedikit terbuka dapat terlihat isi di dalamnya.
" Belanjaan Bapak, kok seperti keperluan dapur ya Pak ? " tanya Winda.
" Memang iya, untuk isi dapur " jawab Hadi.
" Kenapa belanja sendiri Pak ? Kenapa tidak belanja dengan istri Bapak ? " tanya Winda kembali penasaran.
Seketika Hadi terdiam mendengarkan pertanyaan Winda yang secara tiba-tiba menanyakan istri.
" Maaf Pak, saya lancang " Winda sadar ada yang salah.
" Gak apa-apa. Nanti kalau Bapak sudah menikah, tentu saja akan belanja dengan istri Bapak. Untuk sekarang ini, ya sendiri dulu " kata Hadi.
{ Ehh... Pak Hadi belum menikah ? } batin Winda.
" Gak usah kaget, muka nya biasa saja " kata Hadi.
" Belum pernah menikah atau sudah cerai Pak ? " Winda penasaran lagi ingin tau.
" Kenapa ingin tau ? " kata Hadi.
" Kalau belum menikah, kok rada gak mungkin" kata Winda.
" Menurut mu begitu ? " kata Hadi.
" Iya Pak. Soalnya nih Pak. Bapak kan, sudah umur juga untuk menikah, Bapak juga sudah mapan, ada pekerjaan tetap dan Bapak ganteng juga, jadi... kemungkinannya Bapak sudah cerai " kata Winda.
" Benar-benar murid gak ada akhlak kamu ini ya, seenaknya sendiri menilai guru mu " kata Hadi.
" Bapak beneran belum menikah ? " tanya Winda lirih.
" Hem " kata Hadi lirih.
__ADS_1
Winda terdiam beberapa saat mencerna perkataan barusan.
" Seriusan Pak ? " Winda memastikan.
" Iya " jawab Hadi.
" Bapak kan, ganteng. Mata perempuan pada rabun kali ya, gak bisa lihat Bapak " Winda benar-benar heran.
" Belum ketemu jodoh " jawab Hadi.
" Seleranya Bapak pasti tinggi nih. Tapi... sah-sah saja sih, kalau selera Bapak tinggi, wajar, gak salah juga " kata Winda, terdiam sejenak berfikir.
" Atau Bapak menunggu seseorang ? Makanya Bapak belum menikah ? Tunggu orang itu kembali ? " sambung Winda.
" Nduk Win...!!! " panggil Hadi.
" Dalem Pak " refleks Winda menjawab pakai bahasa Jawa.
" Bapak sudah selesai mau bayar. Totalnya berapa ? " kata Hadi.
" Pak...!!! " Winda sedikit kecewa mendengarnya.
" Kebanyakan menghayal. Kamu masih kecil belum saatnya membahas urusan orang dewasa " kata Hadi.
" Iyalah Pak, saya masih kecil. Kalau begitu tunggu tiga tahun lagi baru dianggap besar " kata Winda.
" Kayaknya kamu bakalan tetap kecil " kata Hadi.
" Loh...??? kenapa Pak ??? " Winda tidak paham.
" Coba lihat badanmu ? " kata Hadi.
" Badan saya...? ( melihat badan sendiri ). Iya deh Pak, saya mengalah, badan saya kecil. Nanti lah saya banyak makan biar cepat besar" kata Winda.
" Bapak mau bayar, berapa ? " tanya Hadi.
" Seperti biasa Pak. Harganya belum naik " jawab Winda.
" Baiklah. Ini uangnya pas ya " kata Hadi memberi uang pas.
" Terima kasih Pak " jawab Winda.
Hadi segera bangkit berdiri, pergi meninggalkan warung tersebut, Winda hanya menatap sambil tersenyum.
" Gak sangka, Pak Hadi belum menikah " Winda bergumam lirih.
" Tadi itu, beneran guru mu Win ? " pegawai yang ingin tau.
" Nguping ya ? " Winda menyipitkan pandangan.
" Namanya punya telinga ya dengar "
" Kalau iya kenapa ? " Winda dengan juteknya.
" Wuuiihh... ganteng ya...!!! "
" Trus... kalau ganteng ? Beliau kan laki-laki ya ganteng dong " Winda mencium gelagat mencurigakan.
" Bisa gak..."
" Gak bisa dan gak mau ( tegas menolak ). JAGA WARUNG aku mau cari es blender dulu" kata Winda.
Tanpa bicara lagi Winda segera pergi dengan uang digenggaman tangannya, Winda tersenyum lebar, karena uang tersebut dari Pak Hadi.
.
.
.
( bersambung )
( Bayangkan sendiri-sendiri sesuai imajinasi teman-teman βΊοΈ)
Mohon kritik dan saran jika penjelasan bahasa Jawa saya ada yang salah, silahkan tinggalkan komen dibawah ya. Terima kasih sudah mampir membaca ππ€.
__ADS_1