
Setelah Nansi keluar ruang UKS, Noel kembali duduk menjaga Winda, sesekali mengganti handuk dingin kompres, agar tetap dingin. Rada heran juga sih, kenapa jadi Noel yang menjaga Winda.
" Kak Noel, gak kembali ke kelas ? Gak belajar kah ? " tanya Winda.
" Belajar kok, tapi aku sudah izin " kata Noel.
Winda menatap heran, kok di kasih izin ? Anak kelas tiga kan, lagi gencar-gencarnya belajar untuk persiapan ujian, baik ujian praktek, sekolah dan juga nasional. Porsi belajar juga ditambahi dari pihak sekolah.
" Kenapa ? Kok lihatinnya sampai heran begitu ? " tanya Noel.
" Pasti berat ya Kak, karena sudah kelas tiga, banyak belajar. Di jurusanku saja sampai ada larangan masuk ruang praktek, supaya enggak ganggu persiapan ujian Kakak kelas tiga. Jurusan Kak Noel pasti juga sama sibuknya " kata Winda.
" Dengan kata lain, waktu berduaan kita jadi berkurang. Jadi kalau ada kesempatan harus dimanfaatkan dengan baik " kata Noel.
Terlihat ada gelagat mencurigakan di balik senyuman Noel dan benar saja sesaat kemudian Noel naik ke ranjang, ikutan berbaring di samping Winda. Karena ranjang yang kecil dan sempit, Winda sampai terdorong mepet dinding. Dengan manja Noel menarik tangan Winda agar memeluk dirinya, Winda pun tersenyum kecil. Ini yang sakit, sebenarnya siapa sih ???.
Untungnya tidak berlangsung lama, sadar diri kalau berada di sekolah, sebelum ada yang datang, Noel pun segera turun dan kembali duduk. Tak berapa lama kemudian, masuk Hadi dengan membawa tas punggung milik Winda.
" Noel...!!! Kamu di sini ? " tanya Hadi.
" Saya sudah izin Pak " jawab Noel.
" Gimana Winda, sudah baik kan ? " tanya Hadi.
" Masih rada pusing Pak " jawab Winda.
" Bapak sudah hubungi orang tuamu dan nanti kakakmu yang akan datang jemput. Ini tasmu, sudah Bapak bawakan, oh ya Noel, kamu temani Winda, sampai kakaknya datang. Mengerti ...!!! " kata Hadi.
" Baik Pak " jawab Noel.
{ Duch sial, kenapa harus kabari orang rumah sih ! Bakalan ribut nih dengan Mas Widi } batin Winda.
Benar dong...!!!
Baru saja Widi masuk ruang UKS, lihat Winda berbaring, bukannya ditanyain, bagaimana keadaan adiknya ? Ini malah ngomel-ngomel duluan.
" Makanya, jangan sok-sokan main bola dengan laki-laki, sadar diri dong. Jadi cewek itu feminim dikit, kalau begini kan, aku yang malu. Kena bola gitu aja, masa bisa sampai pingsan " Widi bicara panjang.
" Mas gak lihat nih, jidatku sampai merah gini ( menunjuk ). Ini sakit loh, ini kena bola beneran, bukan tipuan obat merah, Mas ini datang jemput ? Atau mau ngomelin aku ? " Winda jadi kesal.
" Sakit beneran kah, Dek ? " Widi sengaja menyentuh kening Winda yang sakit.
" Aauuww.... ( merintih ) Sakit beneran Mas, malah di tonyol " kata Winda.
" Gek polahmu ki ngopo ( tingkahmu itu ngapain ) ? " ledek Widi, sekali lagi sengaja menyentuh kening Winda.
" Lorro Mas...!!! ( sakit Mas ) " reflek Winda berteriak sambil memukul lengan sang kakak.
Noel yang berdiri tak jauh dari mereka berdua, hanya diam menyaksikan keduanya ribut, dalam hati bertanya * Ini beneran kakaknya Winda ? * Dilihat dari sisi mana pun, kok ? Gak ada mirip-miripnya sama sekali.
" Dia siapa Dek ? " tanya Widi baru sadar keberadaan Noel.
__ADS_1
" Ini Kak Noel, kakak kelas tiga jurusan Tata Boga. Ini Mas Widi, kakakku " Winda mengenalkan keduanya.
Baik Widi atau pun Noel sama-sama diam tak ada satu pun yang mengulurkan tangan, keduanya hanya mengangguk kecil, feeling sesama cowok kali ya ??? Makanya enggan berjabat tangan ???.
Mungkin ...???
" Makasih sudah jagain adikku. Ayo, Dek pulang " kata Widi.
" Gendong dong Mas. Kepalaku masih rada pusing nih " Winda beneran merasakan pusing.
" Manja betul...!!! " kata Widi.
Mulutnya saja yang ngatain manja, tapi segera mengambil tas Winda, memakainya di depan dada, sedikit membungkuk, memposisikan badan dan dengan cepat Winda merangkul sang Kakak. Akhirnya digendong juga.
" Bye Kak Noel...!!! " Winda berpamitan.
Noel hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, menatap kepergian mereka dengan tatapan sedikit cemburu dan berandai-andai * akan menyenangkan jika yang menggendong Winda adalah dirinya *
" Kamu gemukan ya Dek ? berat loh... " ledek Widi.
" Adekmu ini yang paling mungil di dalam kelas, tau gak...!!! Mas, makasih ya sudah mau jemput lagi " kata Winda.
" Kepaksa...!!! Tapi sial betul lah, mana nih para temanmu. Belum jamnya pulang kah ? " kata Widi.
" Jam segini masih pada belajar di kelas. Ayo cepat pulang, JANGAN CAPER...!!! Cukup bermasalah dengan Amel saja, aku gak mau keulang di sekolah ini " Winda meluruskan kepala sang kakak agar fokus melihat ke arah depan.
" Dek...!!! Yang barusan tadi itu, bukan pacarmu kan ? " tanya Widi.
" Mas rasa dia suka kamu deh ? Tapi.... " Widi masih sedikit ragu.
" Dia sudah ada tunangannya, jadi gak mungkin. SUDAH LUPAKAN...!!! Itu gak mungkin " jawab Winda mengalihkan pembicaraan.
Keduanya pun kembali fokus membicarakan hal yang lainnya, sesampainya di rumah, Winda disambut dengan heboh oleh Ibunya, terus melihat ke arah kening Winda yang masih memerah dan tak lupa sudah mengabari Wika beserta suaminya.
***
Keesokan harinya Winda datang ke sekolah seperti biasanya, hanya saja disambut oleh teman-temannya dengan cara yang...???
Winda menatap satu per satu ke arah teman-temannya yang berkerumun di hadapannya, memasang wajah jutek, benar-benar tidak suka, kesal tapi tidak bisa marah, karena apa ??? Karena sebelumnya mereka pada heboh bertanya-tanya tentang Widi sang kakak.
Ini semua gara-gara ulah Vera yang diam-diam mengambil foto saat Widi menggendong dirinya dan lebih parahnya malah dipamerkan pada teman-teman sekelas. Makin banyak lah, penggemar dadakan Mas Widi.
" JANGAN BERKHAYAL, JANGAN BERMIMPI, GAK USAH BERANDAI-ANDAI...!!! Aku gak mau punya saudara ipar, salah satu dari kalian, TITIK. " Winda mengucapkan dengan sangat jelas dan tegas.
" Jahatnya mulutmu Winda...!!! " celetuk Vera.
" BIAR...!!! " Winda setengah membentak.
" Kalau jodoh, bagaimana ? " Echa malah tambah godain.
" Aku akan jadi saudara ipar yang bertanduk dua, dengan pedang sabit di tanganku " Winda tersenyum yang dibuat-buat.
__ADS_1
" HAYOO.... loh Ver...!!! Masih mau nekad ? " Nansi malah nakut-nakutin Vera.
" Winda akan beneran berubah jadi malaikat pencabut nyawa ipar " sambung Lovely.
Seketika gelak tawa pecah diantara mereka, karena pengucapan Lovely yang dibuat-buat seram tapi jatuhnya seperti melawak.
" Tapi aku masih heran. Wajah kalian sama sekali gak ada mirip-miripnya ? " kata Nirmala.
" Tapi keren...!!! Jarang-jarang ada kakak mau gendong adiknya. Sweet banget...!!! " kata Vera.
" Haaiiss... kalian ini. Benar-benar ketipu tampang. Tapi memang sih Mas Widi itu keren dan ganteng, dua itu yang susah dipungkiri, untuk selebihnya cukup adeknya saja yang tau " kata Winda.
Suara gaduh pun kembali terdengar, menyoraki Winda yang dinilai rada posesif terhadap sang kakak. Kecemburuan berlebih jika ada cewek lain yang mendekati kakaknya.
Semua pembicaraan tersebut di simak baik-baik oleh Shanti, benar-benar mendapatkan informasi yang tak terduga, sungguh suatu kejutan.
***
Saat jam istirahat tiba, Winda dan Nansi kembali menuju lapangan, memeriksa sekali lagi dengan teliti setiap sudut, menyusuri lagi, jalan yang dilalui, tapi sama saja, hasilnya tetap nihil, yang dicari tetap gak ketemu.
" Aneh betul. Aku yakin kok, kemarin itu, sudah aku pegang " Winda menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Win...!!! Kita sudah bolak balik berapa kali ini ? Gak ketemu juga, mungkin sudah dipungut orang dan sudah dibuang ke tempat sampah " kata Nansi.
" Mungkin juga sih " Winda mulai lesu.
" Ya sudah. Ke kantin yuk...!!! Cari makan " ajak Nansi.
Sudah berusaha mencari lagi, tapi gak ketemu juga, ya sudah lah, sudah bukan rejekinya lagi. Sedikit sedih juga sih, karena itu merupakan barang pemberian darinya, sudah dijaga bertahun-tahun oleh Niko dan sekarang malah Winda sendiri yang menghilangkannya.
{ Atau aku cari kan, gantungan baru aja kali ya ? Hemmm ide bagus } batin Winda.
Dalam perjalanan menuju kantin, Winda mendapatkan sebuah pesan masuk dari Noel, yang menyuruh dirinya untuk pergi ke perpustakaan sekarang juga. Winda pun mencari alasan yang tepat agar Nansi tak menaruh curiga padanya dan untungnya Nansi percaya.
Sesampainya di perpustakaan, Winda segera menuju tempat yang diperintahkan dan benar saja Noel sudah menunggu di tempat tersebut, duduk di kursi paling sudut.
" Kamu cari benda ini kan ??? " Noel memperlihatkan barang yang Winda cari.
Winda begitu senang, Noel sudah menemukannya, Winda pikir akan diberikan padanya, tapi ternyata Noel justru memasukkan kembali ke dalam kantongnya.
" Akan aku berikan padamu, tapi...( berhenti sejenak ) ada syaratnya. Bagaimana ??? " kata Noel.
Winda terdiam, berfikir sejenak, barang yang ia cari sudah berada dihadapannya dan untuk mengambil, ada syaratnya. Kira-kira syaratnya apa...???
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗