
Dengan cepat Winda membuka hadiah pemberian dari sang Kakak perempuan dan suaminya. Namun isinya di luar dugaan, baju panjang terusan, lengkap dengan kerudungnya dan memiliki warna yang senada.
Terkejut sudah pasti, bukannya gak suka, tapi kok ??? Tiba-tiba dikasih baju begini ? Ada apa ? Winda terus mengamati baju tersebut sambil terus berfikir. Jangan-jangan ini ???
" Kenapa ? Gak suka ? " tanya Wika.
" Maksudnya apa ya Mbak ? " Winda bertanya balik.
" Kalau ada acara pengajian, supaya kamu bisa ikut dan gak ada alasan, gak ada baju yang cocok. Gimana ? Cantik kan ? " kata Wika.
" Hem, cantik cantik " Winda memaksakan senyumannya.
Awalnya hanya berbincang-bincang biasa saja, tapi Winda sudah merasakan feeling yang tak enak dan benar saja setelah Bapak dan Ibu pergi meninggalkan ruangan. Mulai lah Wika dan Bagas, membenahi posisi duduknya dan menatap serius ke Winda. Nahh benar kan ? Sudah ini...!!! Tanda-tanda bakalan dinasehati ini...!!! Gak salah lagi !!!
" Dek...!!! Mbak tidak melarang kamu berteman dengan lawan jenis, boleh-boleh saja, kalau cuma berteman, tapi... kamu harus ingat. Ada batasan yang tidak bisa kamu lewati dan dinding pembatas itu sudah sangat jelas " Wika memulai pembicaraan.
" Kamu sudah beranjak dewasa, sudah saatnya kamu belajar ini. Dengar kan, Kak Bagas, ingat pesan ini baik-baik " sambung Bagas.
Bagas berhenti sejenak, menatap sang istri, seperti bertanya lewat telepati, yang membuat Winda semakin berfikir dan menduga yang bukan-bukan. Pasti hal yang serius ini ? Bukan hal biasa ? Menunggu beberapa detik saja, berasa lama banget dan membuat senam jantung.
" Kamu, tidak boleh menjalin hubungan dengan yang bukan seagama, sesuka apa pun kamu, tetap tidak boleh. Hubungan beda keyakinan itu, hukumnya sudah sangat jelas. Kamu mengerti !!! " kata Bagas dengan jelas dan tegas.
" Dek. Kami ini sayang sama kamu, kami perduli dengan kamu, kami bicara seperti ini, agar kamu paham dan berhati-hati. Kamu adik kami, sudah sepatutnya kami menasehati, mengerti kan...!!! " sambung Wika.
" Kami hanya berteman, Mbak, Kak ( menatap bergantian ). Aku... gak ada perasaan ke arah sana " kata Winda dengan nada bicara pelan.
" Sekarang memang gak ada. Lebih tepatnya belum, tapi ke depannya ? Belum tentu. Anggap lah kamu gak punya perasaan ke arah sana, tapi bagaimana dengan mereka ? " kata Bagas.
" Kami perduli loh Dek...!!! " Wika menegaskan lagi.
" Iya Mbak Wika, Kak Bagas. Insyaallah Wiwin akan hati-hati " jawab Winda menerima nasehat mereka berdua.
" Mbak gak jahat kan ??? " Wika menggoda sang adik perempuan.
" Kalau mau jujur, ada sih jahat sedikit ( melihat bergantian ). Mbak dan Kakak lupa, gak beli kan Wiwin cokelat " Winda balik menggoda.
" Isshh... kamu ya ( sambil mencubit pipi ) Cokelat terus diminta, sudah dapat banyak cokelat kan ??? " kata Wika.
" Ya beda dong !!! Mana bisa disamakan " kata Winda.
Ketika waktunya tidur, Winda terus merenungkan nasehat dari sang Kakak perempuan dan suaminya. Perkataan keduanya selalu terngiang-ngiang di telinga, hingga membuat Winda sampai tak bisa tidur dan gelisah. Nasehat yang mereka sampaikan memang benar dan cukup beralasan, kalau mereka ada kekhawatiran.
__ADS_1
Winda merebahkan badannya, menatap langit-langit kamar yang hanya ada lampu, Winda tersentak kala teringat sesuatu. Kakak perempuannya sudah pernah bertemu dengan Niko. Pasti karena hari itu ? Makanya dirinya diberi nasehat seperti itu.
Kepala Winda semakin sakit memikirkannya, belum apa-apa saja sudah mendapatkan nasehat. Bagaimana, kalau sampai mereka tau ? Bahwa adiknya ini, sudah mendapatkan pernyataan cinta. Sudah pasti, bakalan diberi nasehat panjang lebar berkali-kali lipat, langsung disuruh jaga jarak dan bisa disuruh menjauhinya.
Flash back on
" Dari dulu, yang aku sukai itu kamu Winda. Aku menyukaimu dari awal kita ketemu, dari pertemuan kita, aku terus menyukaimu, hingga saat ini. Aku masih menyukaimu " Niko mengungkapkan perasaannya.
Keduanya terdiam saling menatap untuk beberapa saat, Niko mengeluarkan sebuah bingkisan dan menyuruh Winda untuk membuka, melihat isinya.
" Jilbab ??? " kata Winda langsung tau saat baru membukanya.
" Iya. Aku ingin melihatmu memakainya ? Sekarang ? Bisa kan ? Tenang saja, di dalam sudah lengkap dengan pernak pernik yang dibutuhkan " kata Niko.
Saat Winda mengeluarkan semua isi di dalamnya, benar dong lengkap, ada dalaman untuk jilbab, aneka jarum peniti dan tak lupa beberapa model bros. Melihat semua itu, Winda tersenyum lebar, ini sih niat banget, sampai disiapkan dengan lengkap dan bahkan ada juga kaca walau berukuran kecil.
" Aku pernah melihatmu di mushollah sekolah, kamu keluar dengan memakai kerudung putih besar dan saat itu kamu terlihat sangat cantik. Jadi aku penasaran, kalau kamu pakai kerudung kecil, apa masih sama ? " kata Niko menyampaikan alasannya.
" Kak Niko, beli sendiri ? " tanya Winda.
" Hem ( mengangguk ) Aku tanya-tanya sama mbak yang jaga tokonya, trus aku minta lengkap dengan semua pernak perniknya, tapi karena bingung, kamu bakalan suka yang mana ? Akhirnya aku ambil beberapa model yang menurutku cocok saja. Awalnya aku mau cari kerudung putih tapi kata mbak penjaganya, terlalu resmi. Lalu aku ingat, kamu suka cokelat, aku pilih kan warna cokelat susu " Niko bercerita menjelaskan.
Winda hanya bisa tersenyum mendengarkan cerita seniornya satu ini, bercerita dengan menggebu-gebu dan bahkan gak ada sungkan-sungkan untuk mengakui kalau dirinya bertanya untuk mendapatkan bantuan atas niatannya tersebut.
Untuk menghargai usaha dan pemberian tersebut. Winda segera merapikan rambutnya, melihat ke arah cermin yang dipegang oleh Niko. Pandangan mata Niko terus tertuju pada setiap gerakan tangan Winda, melihat dengan seksama setiap tahapan dalam memakai kerudung, setelah semua tahapan selesai dan akhirnya pandangan mata kembali takjub.
Niko begitu terpana dengan penampilan Winda saat ini, pandangan mata terus tertuju ke wajah Winda, serasa tidak mau berkedip, agar tak terlewatkan momen ini sedetik pun.
" Aneh ya Kak ??? " Winda sedikit malu karena Niko terus menatapnya seperti itu.
" Cantik. Kamu cantik banget " kata Niko.
" Aku gak terlalu pintar pakai jilbab segiempat, cuma bisa yang standar begini " kata Winda.
" Mbaknya bilang, kalau untuk cewek bagusnya model begini. Cuma pakai kerudung, tapi kenapa bisa tambah cantik begini ? " Niko terus memuji.
" Hentikan...!!! Aku malu " kata Winda hendak membuka kembali jilbab yang dipakainya.
" Ehhh...!!! ( menarik tangan Winda ). Jangan dilepas, aku masih mau lihat, jarang-jarang aku lihat kamu begini. Aku mau lihat sampai aku puas " kata Niko.
Niko terus memegang tangan, sesekali mengusap punggung tangan Winda, namun pandangan mata tetap terus tertuju ke wajah Winda. Seperti melihat sisi lain dari seorang Niko, hari ini Winda menyaksikan banyak sekali senyuman dari bibir Niko.
__ADS_1
" Bagaimana ini ??? Aku jadi tambah menyukaimu " kata Niko.
Entah kenapa dalam sekejap mata, senyuman itu tiba-tiba hilang begitu saja, tatapan mata Niko juga berubah, ekspresinya berubah, bola matanya mulai bergerak ke kanan kiri, dari gerak geriknya seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi mungkin ada sedikit keraguan untuk mengatakannya.
" Win, aku menyukaimu, sangat menyukaimu " kata Niko.
" Tadi kan, Kakak sudah bilang " kata Winda menanggapi santai.
" Aku sungguh menyukaimu, aku ingin menjadikan kamu milikku, seandainya aku bisa, tapi sayangnya gak bisa. Setidaknya sekarang kamu tau, aku menyukaimu, tapi aku tidak akan memintamu untuk jadi pacarku. Karena aku tau, keyakinanmu dan keyakinanku, ada larangan untuk itu " kata Niko dengan jelas.
Suasana kembali hening, saling menatap dengan pikiran masing-masing, dalam hati Winda cukup terkesan, Niko tau dan paham sampai sejauh itu. Jadi ini alasannya ??? Kenapa seorang Niko lebih memilih diam ??? Tidak mengutarakannya ??? Lebih memilih memendam.
" Untuk saat ini aku terhenti oleh dinding itu dan sangat tidak adil jika aku menarikmu hanya untuk bersamaku. Jadi... bisakah kita tetap seperti ini ? Aku mohon ? " kata Niko.
Winda masih terdiam, mencerna, berfikir, mencari jawaban apa yang harus dirinya berikan. Situasi ini, sedikit membingungkan ? Pernyataan cinta yang cukup aneh bin unik.
" Hem ( mengangguk ). Setelah ini kita tetap berteman, tidak ada yang akan berubah. Kata orang sih ? Kalau jodoh gak akan kemana, sejauh apa pun kaki melangkah, tetap akan ketemu lagi. Begitu kata orang-orang tua zaman dulu " kata Winda mencairkan suasana.
" Kamu tidak marah ? " tanya Niko.
" Enggak ( menggelengkan kepala ). Lagian nih ya, jadi pacar Kak Niko itu berat banget, fansnya Kakak itu banyak juga loh. Aku juga lebih nyaman begini saja, kita tunggu saja, kita jodoh apa enggak ? Iya kan ? "Winda berbicara sesantai mungkin agar suasana kembali mencair.
" Hem " Niko mengangguk.
" Boleh buka jilbab gak Kak ? Gerah loh ini ? Mulai keringetan di dalam, harap maklum gak biasa pakai. Boleh ya ? Panas...!!! " kata Winda dengan nada memohon selembut mungkin.
" Aku mau ambil foto dulu, buat kenang-kenangan " kata Niko.
Winda pun terpaksa mengikuti keinginan Niko, foto buat kenang-kenangan tapi pindah-pindah tempat, mencari posisi pemandangan yang lebih terlihat cocok dan cantik.
Kelakuan mereka berdua sudah hampir sama dengan model dan fotografer, tapi yang amatiran. Entah sudah berapa banyak foto yang diambil, dari foto sendirian dan juga foto berdua.
Flash back off
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.