Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 29 Cepat bertindak


__ADS_3

Setelah mendapatkan laporan, Hadi segera menuju ke tempat wudhu, mengamati dengan seksama, siapa tahu saja ada benda jatuh dari pelakunya.


Namun nihil, tidak menemukan petunjuk apapun, saat Hadi kembali menuju ruangannya, berpapasan dengan Niko.


" Selamat siang Pak " Niko menyapa Hadi.


" Selamat siang. Niko, kamu tidak ke kelas mu ? " tanya Hadi.


" Saya habis bertemu Ibu Yanti di dapur Pak. Bapak ? Kenapa Pak ? " tanya Niko menyadari raut wajah gurunya.


" Bantu Bapak Niko memecahkan masalah " kata Hadi.


" Masalah ? Apa ya Pak ? " tanya Niko.


" Mulai besok, mendekati waktu sholat, kamu pantau tempat wudhu dekat mushollah. Kamu perhatikan kalau-kalau ada yang mencurigakan " kata Hadi.


" Ada yang melapor kasus mengintip ya Pak ?" kata Niko.


" Dari mana kamu tau ? " Hadi menatap dengan heran.


" Eee... itu Pak. Tadi... saya memergoki beberapa anak melakukan itu di dekat mushollah " kata Niko.


" KENAPA KAMU BARU BILANG SEKARANG NIKO " Hadi menekan suaranya.


" Karena saya keburu dipanggil Ibu Yanti, sebelum saya laporan ke Bapak, Bapak sudah duluan bicara " kata Niko.


" Siapa anak-anak itu ? Ada berapa orang ? " tanya Hadi.


" Jevi dan dua orang temannya Pak " kata Niko.


" Lalu, kamu apakan mereka ? " tanya Hadi.


" Kamu hanya memperingatkan mereka saja Pak " kata Niko.


" Kami ??? " tanya Hadi.


" Iya Pak, saya dan Noel. Noel duluan yang rada curiga dengan gerak gerik mereka, jadi kami memutuskan untuk mengikuti mereka bertiga, karena jarak kami lumayan, kami sedikit terlambat bertindak dan tau-tau ada yang berteriak " Niko menjelaskan.


" Kamu ada interogasi mereka ? " tanya Hadi.


" Iya Pak, mereka mengaku, baru pertama kali melakukannya " jawab Niko.


" Alasannya apa ? " tanya Hadi.


" Alasannya... mereka ingin melihat rambut para cewek yang pakai kerudung " jawab Niko.


Hadi menarik napas panjang dan menghembuskan secara berlahan.


" Panggil mereka semua, bawa menghadap ke ruangan Bapak, sekalian dengan Noel, kamu mengerti ! " kata Hadi.


" Baik Pak " jawab Niko.


" Tunggu apalagi ? Sekarang Niko ! " kata Hadi memerintah.


" Iya Pak " jawab Niko.


Niko segera bergegas pergi, sementara Hadi dilanda sakit kepala mendadak karena kelakuan anak didiknya.


{ Hanya ingin melihat rambut mereka ? Sampai segitunya ? Apa yang ada dipikiran mereka ? } batin Hadi.


Beberapa saat kemudian sudah berkumpul Niko, Noel, Jevi dan kedua temannya di dalam ruangan pribadi Hadi.


Jevi dan kedua temannya hanya diam tertunduk menatap lantai, karena mereka sadar bahwa telah melakukan kesalahan.


" Bapak tanya pada kalian. Kenapa kalian melakukan itu ? " tanya Hadi.


Mereka tidak langsung menjawab, namun justru saling pandang.


" Bicara saja, seperti yang kalian sampaikan pada kami " kata Noel.


" Kalau kalian tidak jujur, kalian akan mendapat hukuman yang lebih berat lagi, MAU...??? " kata Niko.


" Kami... penasaran seberapa panjang rambut mereka " kata Jevi pelan.


" Sudah berapa kali, kalian melakukannya ? " tanya Hadi.


" Baru sekali ini Pak "


" Iya Pak, sungguh kami tidak bohong "


" Benar baru kali ini ? " tanya Hadi menegaskan.


" Iya Pak " menjawab serentak.

__ADS_1


" Dan kalian berdua. Kenapa tidak segera melaporkan pada Bapak ? Kalian mau mengabaikannya ? " Hadi menatap Niko dan Noel.


" Bukan begitu Pak " kata Noel.


" Kami sudah memperingatkan mereka dan membuat mereka berjanji untuk tidak mengulanginya lagi " kata Niko.


" Iya Pak, kami janji tidak akan mengulanginya lagi "


" Iya Pak "


" Jangan skors kami "


" Mereka baru pertama kali Pak, melakukannya, mereka tidak mungkin berani berbohong " kata Noel.


" Baik, Bapak percaya pada kalian tapi kalian janji tidak akan mengulanginya lagi " kata Hadi.


" Iya Pak, kami janji " serentak.


" Tapi setiap kesalahan harus ada hukumannya. Lari mengelilingi lapangan lima puluh kali " kata Hadi.


" Baik Pak "


Tidak ada bantahan keberatan, Jevi dan kedua temannya keluar terlebih dahulu dan langsung menuju lapangan untuk melaksanakan hukuman mereka.


" Pak, boleh tanya ? " tanya Niko.


" Silahkan " kata Hadi.


" Siapa yang lapor ke Bapak ? " tanya Niko.


" Kalian ingin tau ? " Hadi bertanya balik.


" Iya Pak " Niko dan Noel serentak.


" Yang lapor Shanti dan Winda, lalu ada temannya lagi tiga orang, ada Nirmala, Echa dan Vera, totalnya ada lima orang, mereka semua Tata Busana kelas satu " jawab Hadi.


{ Di dalam ada Winda ? } batin Niko.


{ Winda kan, gak pakai kerudung ? } batin Noel.


{ Harus ditambah hukuman mereka } itulah yang ada dalam benak Niko dan Noel setelah mendengar nama Winda disebutkan.


" Kalian ke lapangan, pastikan mereka bertiga menjalankan hukumannya sampai selesai. Tenang saja nanti, Bapak akan jelaskan alasan kalian tidak mengikuti pelajaran. Sudah sana awasi mereka ! " kata Hadi.


" Dan ingat, pastikan kejadian ini tidak tersebar di kalangan murid yang lainnya. Kalian paham " kata Hadi.


" Paham Pak " Niko dan Noel serentak.


Hadi hanya menggerakkan tangannya, memberi kode untuk keluar dari ruangan tersebut.


" Awalnya ingin disembunyikan " kata Noel.


" Pasti dilaporkan, tidak mungkin kalau tidak. Kita juga dengarkan teriakannya cukup kencang, pastilah cukup heboh " kata Niko.


" Kok pas banget ada Winda di dalam " kata Noel.


" Jam nya ibadah kan " kata Niko.


" Kita tambah hukuman mereka ? Bagaimana ? " usul Noel.


" Boleh...!!! " Niko tersenyum sinis.


" Jangan lari lapangan, kita buat mereka bersih-bersih bagaimana ? " kata Noel memberi ide.


" Setiap pulang sekolah mereka membuang sampah ke belakang " kata Niko.


" Semua tempat sampah yang ada di ruang kelas " kata Noel.


" Setuju...!!! " kata Niko.


" Selama seminggu penuh, aku rasa itu cukup" kata Noel.


" Boleh lah " Niko setuju.


Saat jam pelajaran sudah usai Winda, Shanti, Vera, Echa dan Nirmala dipanggil menghadap Hadi di ruangan khususnya. Di dalam ruangan mereka diberitahu kalau pelakunya sudah ditemukan dan dipastikan tidak akan ada lagi kejadian yang sama terulang kembali.


" Sungguh Pak ? " kata Shanti.


" Kalian tenang saja, kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi " kata Hadi menyakinkan mereka.


" Siapa mereka Pak ? " tanya Shanti.


" Bapak minta maaf. Bapak tidak akan memberitahu kalian siapa pelakunya, demi kebaikan bersama. Kalian tidak keberatan kan ? kata Hadi.

__ADS_1


" Boleh kami tau Pak, alasan mereka melakukan itu ? " tanya Winda.


" Alasannya ( terdiam sejenak ). Mereka ingin melihat seberapa panjang rambut kalian " kata Hadi.


" HAH...??? " serentak mereka berlima kaget.


" Alasannya itu saja Pak ? " tanya Nirmala.


" Iya, mereka bilang seperti itu " kata Hadi.


Mereka berlima saling pandang satu sama lainnya, sedikitpun tidak mempercayai alasan mereka melakukannya.


" Kalian bisa tenang sekarang. Jadi... Bapak harap kejadian ini, tidak sampai keluar dari sekolah, kalian paham maksud Bapak kan ?" kata Hadi.


" Iya Pak " menjawab serentak.


" Baiklah, kalian boleh pulang " kata Hadi.


" Kami permisi Pak " mereka berpamitan.


Saat mereka sudah berada di luar ruangan.


" Pak Hadi cepet bertindak ya ? " kata Shanti.


" Cepet banget menemukan pelakunya " kata Vera.


" Kira-kira siapa ya ? " kata Echa.


" Tapi... alasannya mereka... sedikit..." kata Nirmala.


" Tidak masuk diakal, tapi... wajar sih kalau mereka penasaran. Padahal kalau mau lihat, tinggal ketemuan di luar jam sekolah " kata Winda.


" Meledek kamu ya...!!! " kata Vera.


" Loh...??? Emang iya kan ? " kata Winda.


" Aku rasa bukan deh " Shanti masih curiga.


" Gak mungkin lah, Pak Hadi bohong sama kita " kata Nirmala.


" Kenapa pelukannya gak dikasih tau saja ? " kata Shanti.


" Sudah dijawab tadi kan. Untuk kepentingan bersama. Alkhamdulillah ini tidak membesar dan sudah ditangani dengan cepat. Bayangkan, kalau masalah ini sampai melebar kemana-mana ? apalagi sampai keluar sekolah, lalu kenyataannya kalian di luar sekolah malah gak pakai jilbab, kira-kira siapa yang kena jeleknya ? Sekolah yang kena! " Winda menjelaskan.


Mereka berempat terdiam dengan pikiran masing-masing.


" Sudahlah, yang penting masalah ini sudah selesai kan ? Biar lah kita gak tau pelakunya, paling saat ini pelakunya dapat hukuman dari Pak Hadi, iyakan ? " sambung Winda.


" Iya juga ya " kata Echa.


" Sudahlah Shan, jangan curiga lagi, Pak Hadi sudah cepat bertindak loh, kurang apalagi coba ? " kata Nirmala.


" Iya nih, kamu sendiri di luar sekolah juga gak pakai jilbab " kata Echa.


" Shanti juga...??? " tanya Winda terkejut.


" Sebelas sebelas, sama saja " kata Vera.


" Kamu saja yang belum lihat " kata Nirmala.


" Penasaran aku Shan ? Sumpah ! " kata Winda


" Apaan sih, berlebihan ! " jawab Shanti.


" Winda serius Shan, pertama kali Winda lihat kita gak pakai jilbab, tampangnya kayak orang o'on " kata Vera.


" Lihat kita dari ujung rambut sampai ke kaki " kata Echa.


" Dengan tatapan anehnya " sambung Nirmala.


" Kok jadi aku yang kena mental ini ? " kata Winda.


" Sesuai kenyataan " ucap Vera tersenyum.


Mereka berlima pun terus mengobrol sambil berjalan, mata Winda sempat melirik Niko dan Noel sedang memberi perintah pada Jevi dan teman-temannya. Winda mengabaikannya, tidak berfikiran macam-macam, mungkin sedang menjalankan tugas dari guru.


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Begitulah penasaran pada awalnya tapi setelah tau di luar gak pakai jilbab ya jadi biasa saja. Bukan maksud menjelekkan ya teman-teman, mohon maaf jika ada yang tersinggung 🙏. Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.


__ADS_2