
Keesokan harinya, saat di sekolah, baru saja datang, si Vera sudah membuat keributan, dengan banyak pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Kemarin sampai rumah jam berapa ? Langsung pulang kah ? Jalan dulu ? Singgah dulu gak ? Gimana perasaanmu ? Dan banyak lagi.
" Aduuhh Ver, mulutmu itu, banyak betul pertanyaannya " kata Winda malas menjawab semua pertanyaan dari Vera.
" Ya kan, aku penasaran Win " kata Vera.
" Emangnya, ini semua gara-gara siapa ? HAH ? Kan, karena kamu ! " Winda mengingatkan.
" Ya maaf kan, di luar rencana " kata Vera.
" Heboh bener, cerita apa sih ? " Nansi yang baru datang langsung bergabung bicara.
" Cerita kemarin di air terjun " kata Vera.
" Kalian kemarin ke air terjun ? " Nansi terkejut.
Vera dan Winda menganggukkan kepalanya, yang langsung disambut muka masam oleh Nansi, sebab mereka berdua pergi jalan-jalan dan tidak mengajak dirinya ikut serta. Winda memandang Vera agar mau menjelaskan, tapi Vera malah asyik pamer, sengaja membuat Nansi bertambah marah.
{ Haduchh anak ini, malah cari perkara ? } batin Winda.
" Kalian ini benar-benar tega ya, jalan aku gak diajak " kata Nansi dengan ekspresi sedihnya.
" Maaf deh Nansi, aku cuma diajak Vera, lagian kita naik motor, masa iya mau bonceng tiga ? Lagi pula, minggu kan, kamu harus ibadah " kata Winda.
" Ya kan, bisa habis dari ibadah " kata Nansi.
" Kapan-kapan lagi deh, kita jalan bareng " kata Vera.
" Bener ya ? Kapan ? " Nansi langsung berubah ekspresi.
" Ya kapan-kapan " jawab Vera.
Seketika Nansi menjadi manyun dong, sudah berharap, malah dikasih jawaban yang tidak pasti dan Vera santai aja gitu, malah menikmati momen manyun si Nansi.
Karena ini adalah hari senin, seperti biasa diadakan upacara bendera di lapangan sekolah, para murid berbondong-bondong datang berkumpul di lapangan, mulai berbaris sesuai dengan urutan kelas seperti biasanya.
Saat Winda memasuki barisan, terlihat tatapan kurang mengenakkan, mulai terdengar suara bisik-bisik, namun saat Winda memperhatikan, mereka pura-pura berpaling, sengaja menghindari tatapan Winda langsung, tapi saat Winda tidak melihat ke arah mereka, mereka mulai lagi lirik-lirik sambil berbisik-bisik.
Winda memperhatikan penampilannya, mengamati sepatu, rok, baju, menengok ke belakang, kalau-kalau ada yang aneh, menempel pada badannya, tapi tidak ada yang aneh ? Pakaian rapi, lengkap dan tidak ada sesuatu yang menempel di badan ? Lalu apa ? Mereka bicarakan apa ? Mereka lihat apa ? Winda pun terus berfikir.
Bahkan sampai upacara selesai, Winda masih merasa, seperti ada sesuatu yang salah ? Ada yang ia tidak tau ? Tapi apa ? Winda mulai sedikit gelisah dengan tatapan para murid, bukan hanya satu dua saja, tapi hampir setiap murid yang berpapasan dengan dirinya, menatap sambil berbisik-bisik.
Benar ! Pasti ada sesuatu ? Ini sudah bukan hanya perasaan saja, pasti ada yang gak bener ? Winda sempat berfikir untuk bertanya langsung pada murid lainnya, tapi niatannya diurungkan, karena pasti mereka tidak akan memberitahunya.
Kira-kira Nansi tau gak ya ? Winda mulai berfikir, kalau Nansi tau, pasti Nansi sudah memberitahu dirinya, tapi ini Nansi diam saja, tidak menceritakan apa-apa tentang kejadian yang dia tau di sekolah.
__ADS_1
Sebelum tau cerita sebenarnya, Winda mencoba berfikir positif, mungkin hanya perasaannya saja yang terlalu memikirkan. Tapi, semua itu langsung terjawab, kala Winda tidak sengaja mendengarkan sebuah percakapan yang menyebutkan namanya. Winda sangat ingin tau, sehingga dirinya memutuskan untuk mendengar percakapan mereka hingga selesai.
Winda hanya diam, tak bereaksi apa-apa, saat mendengar percakapan para murid yang menjelek-jelekkan namanya. Marah, kesal, itu sudah pasti, tapi tidak ada gunanya meluapkan amarah untuk sekarang ini. Winda harus bersabar, mereka itu jurusan lain, tapi cerita mereka sangat detail, pasti sumber awal berasal dari kelas Winda sendiri.
Winda kembali menuju kelas dengan terus berfikir, dari mana mereka dapat cerita itu ? Dari siapa kira-kira ? Kenapa ceritanya banyak tambahannya ? Pasti ada yang sengaja ini, mengarang cerita ? Untuk apa ? Tujuannya apa ? Harus bertanya ? Mungkin Nansi atau Vera tau ? Semua pertanyaan tersebut berputar dalam kepala Winda.
Sialnya saat sampai kelas, pelajaran sudah akan dimulai, Winda pun mengurungkan niatnya bertanya pada Nansi, memilih fokus dulu untuk belajar, pengennya fokus tapi tetap saja sambil memikirkannya.
*
Saat jam istirahat tiba, Winda dan Nansi pergi ke kantin sekolah untuk membeli makanan ringan dan minuman kemasan. Seperti tadi pagi, setiap murid yang berpapasan dengan Winda, mulai melirik-lirik dan berbisik-bisik, namun Winda bersikap biasa, pura-pura tidak tau apa-apa.
Setelah membeli yang mereka mau, Winda dengan cepat mengajak Nansi untuk menjauh dari kantin, serasa mengerti Nansi mengiyakannya, karena biasanya mereka akan duduk, bicara sebentar di kantin sekolah.
" Winda, ke pohon jambu belakang yuk ? " ajak Nansi tiba-tiba.
" Kamu gak takut dengan penunggunya ? " Winda mengingatkan cerita tentang pohon jambu.
" Itu kan, cuma karangan Kak Rey saja " kata Nansi.
Mereka berdua tersenyum, tertawa kecil dan segera berjalan menuju pohon jambu belakang, sesampainya di tempat tujuan, mereka sengaja duduk di bawah pohon jambu, membuka makanan yang tadi dibelinya, menikmati secara bersama-sama. Winda terus menyumpal mulutnya dengan makanan tanpa jeda, tidak membiarkan mulutnya sampai kosong total.
Nansi memperhatikan Winda, sepertinya Winda sudah mendengar gosip tentang dirinya ? Tapi kenapa diam saja ? Winda tau atau hanya pura-pura gak tau ? Atau tidak perduli ? Nansi menjadi dilema, ingin memberitahu Winda tentang gosip tersebut, tapi Nansi bingung mulai bicara dari mana ?
Pasti akan marah, kalau mendengarnya ? Tapi kalau diam saja ? Nansi juga merasa bersalah, kalau tidak memberitahu Winda kalau dirinya tau tentang gosip yang menyebar tersebut tentang Winda.
" Apa kamu juga percaya cerita itu Nansi ? Kalau aku sengaja melakukannya itu, agar aku disanjung guru dan kalian semua, aku jatuh kan dengan cara yang tidak baik " Winda bicara sambil menatap Nansi.
" Kalau aku percaya, sekarang ini, aku gak akan di depan mu " Nansi menjawab dengan tegas.
Nansi menatap Winda dengan serius, kemudian Nansi menceritakan kalau dirinya sudah lebih dulu mendengar gosip tersebut. Nansi menjelaskan panjang lebar, menceritakan semua yang dia dengar, tak ada satu pun yang terlewatkan.
Winda menyimak cerita Nansi dengan perasaan yang sangat bersyukur banget, Nansi masih memilih untuk mempercayai dirinya.
" Kamu mau tau, siapa pelakunya ? " kata Nansi.
" Siapa ? " tanya Winda.
" Karin dan Jessi. Mereka pelakunya. Mereka tidak suka melihat keakraban kita, mereka meragukan pertemanan kita, karena kita berbeda keyakinan. Sebelumnya aku juga pernah mendapat pertanyaan yang sama. Kenapa aku mau berteman dengan mu ? Jika itu, aku tanyakan ke kamu, apa jawaban mu ?" kata Nansi.
" Aku suka berteman dengan mu, aku merasa nyaman bicara sama kamu dan aku merasa, kamu baik " jawab Winda.
" Ohhh TUHAN. Bahkan jawaban yang kita berikan sama " kata Nansi.
" Benarkah ? " tanya Winda girang.
__ADS_1
Nansi menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar, keduanya tertawa, kok bisa sama gitu ya ? Winda begitu senang, sampai tidak sadar kalau minuman yang diraihnya saat ini adalah minuman Nansi.
" Winda, kamu salah ambil minum, itu punyaku " kata Nansi.
" Oh iya kah ? Ya sudah gak apa-apa, sudah terlanjur " kata Winda yang bukannya berhenti, malah terus meminumnya.
Nansi menatap dengan heran, Winda gak jijik kah ? Itu kan bekas ? Sudah diminum setengah ? Gak salah ?
" Apa sih, lihatinnya begitu ? Gak ridho minuman mu aku minum ? Tuh punyaku, belum aku minum, masih utuh, baru dibuka aja " kata Winda.
" Winda, kamu gak jijik ? Itu kan bekasku ? " tanya Nansi.
" Trus kenapa ? Kamu punya penyakit menular gitu ? Enggak kan ? " Winda malah bertanya balik, yang membuat Nansi menggelengkan kepalanya dan bertambah bingung, tidak mengerti.
" Ya sudah, berarti aman " sambung Winda.
" Tapi kan...??? " Nansi masih rada gak srek.
" Tapi apa lagi ? Pacarmu gak ridho gitu ? Kan aku gak cium bibir mu secara langsung, cuma bekas bibir mu aja ! " kata Winda.
" Kayak kamu pernah ciuman aja " Nansi balas meledek.
Seketika Winda langsung tersedak minuman yang sedang diminumnya, bahkan sampai sedikit menyembur dari dalam mulutnya, sangking kaget tiba-tiba Nansi berkata demikian. Winda terbatuk-batuk dan berdeham beberapa kali agar tenggorokannya membaik.
Sementara Nansi hanya tersenyum sambil menertawakan Winda, ledekannya tepat sasaran, itulah yang ada dipikirannya. Winda mengambil napas panjang dan menghembuskan secara berlahan.
" Terima kasih Nansi, kamu sudah percaya sama aku dan makasih juga, sudah mau menjadi temanku " kata Winda.
" Aku tidak perduli, orang lain menilai bagaimana, tentang pertemanan kita, karena yang menjalani adalah kita, bukan mereka. Aku benar kan ? " kata Nansi.
" Nansi, seandainya kamu cowok, aku mau jadi pacarmu " kata Winda dengan nada manja.
" Kamu saja yang berubah jadi cowok sana ! aku sih gak mau " kata Nansi.
" Padahal kan, aku imut gini, kenapa kamu gak mau sih ? " kata Winda dengan PD.
Nansi menyipitkan bola matanya, mengkerutkan dahinya, seolah-olah berkata, ihs narsis betul jadi orang, mereka pun saling memandang dan tertawa terbahak-bahak.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.