Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 28 Keributan di tempat wudhu


__ADS_3

Saat jam istirahat kedua waktunya memang lebih panjang dikarenakan bertepatan dengan waktunya sholat dhuhur bagi murid-murid yang akan. melaksanakan sholat.


Sebelum sholat ya harus wudhu dulu dong, bergantian para murid cewek mengambil air wudhu, harap maklum cewek kalau setelah bersentuhan dengan air pasti akan lama baru keluar.


Apalagi murid-murid cewek yang pakai jilbab, berhubung Winda enggak pakai jilbab, otomatis ya cepet gak pakai lama.


" Ver, aku duluan ya " kata Winda.


" OK " jawab Vera.


Winda sudah setengah jalan menuju musholah sekolah, tiba-tiba terdengar teriakan yang kenceng banget, dari suaranya sih seperti suara Shanti.


Bergegas Winda, kembali ke tempat wudhu, mencari tau ada apa ?


" Ada apa ? Kenapa teriak ? " tanya Winda.


" Shanti tuh... kaget. Katanya lihat seseorang " kata Nirmala.


" Lihat siapa ? " tanya Winda.


" Gak tau siapa, katanya sih lagi ngintip " kata Vera.


" Ngintip...??? Cowok...??? " tanya Winda.


" Iya. Disitu tadi...!!! " Shanti sambil menunjuk ke arah atas ventilasi udara tempat wudhu.


" Ini tinggi loh Shan..." kata Winda.


" Beneran, aku gak bohong, tadi aku lihat. Sudah pasti cowok kelihatan rambutnya kok " kata Shanti.


" Coba aku cek belakang. Kalian cepat selesaikan " kata Winda.


" Yakin Shan, kamu gak salah lihat ? " tanya Echa.


" Enggak Cha, aku yakin gak salah lihat " jawab Shanti.


" Kalau ini bener orang mengintip, niatnya gak bagus ini " kata Nirmala.


" Kira-kira siapa ya ? " tanya Vera.


" Kamu ngenalin mukanya Shan ? " tanya Nirmala.


" Enggak, soalnya lihatnya cuma sekilas saja " jawab Shanti.


Winda berjalan menuju belakang bangunan tempat wudhu, Winda melihat sekeliling seperti dugaannya pasti sudah tidak ada siapa-siapa.


Namun Winda mendapati beberapa tumpukan batu sebagai tempat untuk pijakan. Winda kembali melihat ke sekitar dan melihat beberapa anak sekilas tapi karena sudah jauh, jadi tidak terlalu jelas.


Beberapa saat kemudian Winda kembali menemui teman-temannya.


" Gimana Win ? " tanya Vera.


" Gak ada siapa-siapa di belakang " jawab Winda.


" Tuh... kan Shan, salah lihat kamu " kata Echa.


" Shanti gak salah lihat. Sepertinya memang ada yang mengintip, soalnya ada tumpukan batu di belakang, mungkin itu yang dipakai pijakan " kata Winda menjelaskan.


" Benarkan...!!! Aku gak salah lihat " kata Shanti.


" Kamu gak lihat, siapa gitu pas di belakang ?" tanya Nirmala.


" Ada sih lihat sepintas tapi aku gak tau itu siapa ? soalnya sudah jauh, jadi gak terlalu jelas " kata Winda.


" Apa maksudnya coba ? " kata Vera.


" Harus dilaporkan ini " kata Nirmala.


" Bener, setuju. Bisa jadi kan, sebelumnya mereka sudah melakukanya tapi kita nya saja yang gak sadar " kata Shanti.


" Ih serem, jadi takut aku " kata Vera.


" Kita lapor saja sama guru agama " kata Shanti.


" JANGAN...!!! Kita lapor sama Pak Hadi saja " kata Winda.


" Loh kok ? Kenapa lapor Pak Hadi ? Mending ke guru agama kan ? " kata Shanti.

__ADS_1


" Kalau ke guru agama, urusannya bakalan panjang dan bakalan susah menemukan pelakunya. Tapi, kalau ke Pak Hadi, pelakunya bisa ketahuan dan yang paling penting urusannya gak ribet " kata Winda.


" Aku setuju dengan ucapan Winda, Pak Hadi itu kan, Wakasek Kesiswaan pasti punya cara aman menemukannya " kata Nirmala.


" Iya juga ya. Kalau guru agama pasti pada langsung dikumpulkan semua anak cowok terus ditanyain satu-satu " kata Echa.


" Dan pasti, gak akan ada yang ngaku, iyakan?" sambung Vera.


" BINGGO. TEPAT BANGET " jawab Winda.


" Yakin nih ke Pak Hadi saja ? " tanya Shanti masih ragu.


Mereka saling berpandangan satu sama lain bergantian.


" Baiklah kita lapor ke Pak Hadi, trus siapa yang mau lapor ke Pak Hadi ? " tanya Shanti.


Spontan Nirmala, Echa dan Vera menunjuk ke arah Winda.


" Baik kalau gitu, kamu Win yang lapor ke Pak Hadi " kata Shanti.


" Loh...??? Kok aku...??? " Winda keluar logat medoknya.


" Iyalah, kamu, kan, kamu yang punya ide lapor ke Pak Hadi " kata Vera.


" Kan, yang lihat pelakunya Shanti " Winda sambil menunjuk Shanti.


" Kalau begitu, kalian berdua saja " kata Nirmala.


" Gimana Shan ? " tanya Echa.


" Iya deh, aku dan Winda yang akan lapor ke Pak Hadi " kata Shanti.


" Nanti kalau diperlukan, pasti kalian bertiga juga bakalan ditanyain tentang kejadian ini " kata Winda


" Ya gak apa-apa, intinya kalian berdua dulu lapor ke Pak Hadi. Deal ya kalian berdua " kata Nirmala.


" Hem " kata Winda.


" Sudah yuk sholat, keburu masuk " kata Nirmala.


Mereka pun segera masuk ke dalam mushollah. Selesai dari mushollah, Winda mengajak Shanti untuk menemui Pak Hadi dan kebetulan banget ketemu Pak Hadi sebelum masuk ruangannya.


" Kalian ? Ada perlu apa ? " tanya Pak Hadi.


" Kami mau melaporkan sesuatu Pak " kata Winda.


" Sepertinya penting ? Ayo ikuti Bapak " kata Pak Hadi.


Tanpa bertanya, mereka berdua mengikuti Pak Hadi. Mereka mengikuti Pak Hadi memasuki ruangan kecil di dekat perpustakaan, bersebelahan tepat dengan ruang UKS.


" Kalian mau melaporkan apa ? " tanya Pak Hadi memulai pembicaraan.


Winda dan Shanti saling menatap, siapa yang akan memberitahukan.


" Gini Pak, tadi waktu kami sedang di tempat wudhu, ada yang mengintip " kata Winda.


" Iya Pak. Saya yang melihatnya tapi... tidak terlalu jelas itu siapa ? yang pasti itu cowok" kata Shanti.


" Kalian tidak mengarang cerita kan ? " Pak Hadi memastikan.


" Tidak Pak. Saya beneran lihat " kata Shanti.


" Saya sudah cek ke belakang bangunan tempat wudhu Pak, di sana ada tumpukan batu, yang digunakan untuk pijakan. Saya juga sempat lihat sekilas, tapi saya gak tau itu siapa, soalnya jauh " Winda menjelaskan.


" Ini pertama kalinya kalian tau ? " tanya Pak Hadi.


" Iya Pak " jawab Shanti.


" Yang kami takutkan, sebelumnya juga sudah pernah terjadi, hanya saja baru kali ini kami menyadarinya " sambung Shanti.


" Siapa saja yang tau kejadian ini ? " tanya Pak Hadi.


" Saya, Shanti, Nirmala, Echa dan Vera. Tapi waktu kejadian yang di dalam tinggal Shanti, Nirmala, Echa dan Vera, karena saya sudah duluan keluar Pak " Winda menjelaskan.


" Dan yang melihat pelakunya, siapa saja ? " tanya Pak Hadi.


" Hanya saya Pak, karena kaget saya langsung teriak " kata Shanti.

__ADS_1


" Mungkin karena sudah ketahuan pelakunya langsung lari Pak " kata Winda.


" Winda, saat kamu memeriksa ke belakang, kamu ada menemukan sesuatu ? benda terjatuh atau apa gitu yang bisa dijadikan bukti tambahan ? " tanya Pak Hadi.


" Gak ada Pak, hanya lihat tumpukan batu saja" jawab Winda.


" Kalian ada cerita ke guru lain, tentang kejadian ini ? " tanya Pak Hadi.


" Tidak ada Pak, kami memutuskan untuk bicara ke Bapak saja, bahkan kami tidak memberitahu guru agama " kata Winda.


" Kami sudah sepakat Pak, takutnya kalau melibatkan guru agama urusannya bakalan panjang dan pelakunya tidak tertangkap " kata Shanti.


" Paling tidak Pak, pelakunya ketahuan dan kejadian ini tidak terulang kembali, itu sudah cukup " kata Winda.


" Kalau bisa dihukum yang berat Pak " kata Shanti.


" Shanti...!!! " kata Winda menyenggol Shanti.


" Hukuman itu sudah pasti, tapi disesuaikan. Kalian tenang saja, Bapak akan cari tau siapa pelakunya dan Bapak pastikan kejadian ini tidak akan. terulang kembali. Kalian percaya sama Bapak kan ? " kata Pak Hadi.


" Iya Pak " jawab Winda.


" Sekarang, kalian kembali ke kelas, Bapak akan urus semuanya, kalian mengerti ! " kata Pak Hadi.


" Baik Pak, kami permisi " kata Winda.


Mereka berdua segera keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan sedikit tenang.


" Kamu yakin Win ? " tanya Shanti.


" Kenapa tidak yakin ? kamu kan juga tau Pak Hadi itu Wakasek Kesiswaan, sudah jadi tugas beliau kan, menangani murid-muridnya" kata Winda menyakinkan Shanti.


" Hanya saja..." kata Shanti.


" Beliau kan, guru, percaya deh " kata Winda.


Saat sampai di dalam kelas, mereka berdua sudah ditunggu.


" Bagaimana ? sudah ? " tanya Nirmala.


" Sudah " jawab Shanti.


" Trus tanggapan Pak Hadi, bagaimana ? " tanya Echa.


" Pak Hadi akan cari tau pelakunya, di pastikan kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi " kata Winda.


" Baguslah...!!! " kata Vera.


" Tapi... tadi Pak sempat meragukan " kata Shanti.


" Meragukan ? bagaimana ? " tanya Nirmala.


" Menganggap kita mengarang cerita ini " kata Shanti.


" Shanti...!!! ( memotong pembicaraan ). Itu bukan meragukan tapi, Pak hanya memastikan cerita itu benar, bukan karangan, Pak tidak bisa mempercayai satu pihak saja kan ? Makanya aku tadi Pak juga tanya, kalau-kalau ada bukti tambahan " kata Winda.


" Bukti tambahan ? " tanya Vera.


" Iya. Benda jatuh atau apapun itu selain tumpukan batu di belakang bangunan tempat wudhu " kata Winda.


" Memangnya ada ? " tanya Echa.


" Gak ada " jawab Winda.


" Hemmm iya juga ya, kalau ada bukti pasti lebih bagus lagi " kata Nirmala.


" Percaya saja, pasti sekarang Pak Hadi sedang menyelidikinya " kata Winda.


" Semoga cepat ketemu pelakunya " kata Shanti.


" Jadi rada was-was, iya gak sih ? " kata Vera.


Mereka berlima hanya manggut-manggut saja.


.


.

__ADS_1


.


( bersambung )


__ADS_2