Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 12 Cerita


__ADS_3

Pada saat jam istirahat tiba, Winda mengajak Nansi ke belakang sekolah yang jarang sekali dilewati murid-murid yang lainnya.


" Harus ya ? ke tempat sunyi seperti ini ? " tanya Nansi.


" Mau dengar gak ? " tanya Winda.


" Dengar apa ? " Nansi sedikit bingung.


" Cerita yang kemarin, cewek yang kemarin " Winda mengingatkan.


" Oohh...!!! " Nansi baru ingat.


" Ya sudah deh, kalau gitu gak jadi cerita " kata Winda meraju.


" Ehhh...!!! Maaf. Ya sudah cerita, aku pengen tau " kata Nansi.


Winda mencari tempat duduk agar lebih nyaman saat bercerita.


" Cewek itu namanya Amelia, sering dipanggil Amel. Dia itu satu SMP denganku, tapi kamu beda kelas. Kami tidak berteman baik, hanya kenal-kenal saja. Hingga suatu saat, dia mulai mendekati ku. Pada awalnya aku gak curiga, tapi... lama-lama ada yang gak bener " Winda mulai bercerita.


" Dia ada niatan tertentu ? " Nansi menebak.


" Iya ( menganggukkan kepalanya ). Amel mengincar Mas Widi, kakakku. Seperti yang aku bilang, awalnya tidak ada yang mencurigakan. Hingga suatu hari, aku lihat Mas Widi mengantar Amel, aku masih tidak berfikir aneh-aneh, tapi... semakin hari jadi semakin sering, bahkan aku harus sampai menunggu untuk waktu yang lama " kata Winda.


Winda berhenti sejenak mengambil napas panjang.


" Pernah satu kali, aku nunggu Mas Widi lama banget, gerbang sekolah sampai di kunci. Aku jadi semakin khawatir, karena saat itu mendung mau turun hujan. Aku telepon Mas Widi, yang angkat Amel dan kamu tau Nansi, pesanku gak disampaikan ke Mas Widi " kata Winda.


" Seriusan...? " tanya Nansi.


" Iya, dia bilang tunggu saja, segera di jemput. Begonya aku percaya dan tetap nungguin Mas Widi, menyakinkan diri bakalan dijemput. Bahkan sampai hujan turun, aku masih nungguin di depan pintu gerbang, basah kuyup, semua buku ku basah " kata Winda.


" Kenapa kamu tetap menunggu ? " tanya Nansi.


" Karena Bapakku akan marah, jika aku pulang tidak dijemput Mas Widi. Asal kamu tau, Bapakku sangat disiplin. Peraturannya sangat tegas dan hukumannya tidak main-main " kata Winda.


" Lalu...??? " tanya Nansi.


" Mas Widi menjemputku, walau sangat terlambat. Aku tidak sempat bertanya ke Mas Widi karena keesokannya aku sakit selama tiga hari. Saat aku akan bertanya ke Mas Widi, aku... sudah keduluan dapat kabar kalau mereka sudah pacaran " kata Winda.


" Dia... maksudku... si...A..." kata Nansi.


" Amel " Winda membenarkan.


" Iya si Amel. Dia tidak mengatakan apa-apa setelah kejadian itu ? " tanya Nansi.


" Dia bilang lupa " jawab Winda.


" LUPA...??? " Nansi meninggikan suaranya.


" Iya, lupa. Dia bilang tidak sengaja melakukannya " kata Winda.


" GAK MUNGKIN...!!! " Nansi menjadi kesal.


" Jujur, waktu itu aku masih berusaha untuk mempercayai ucapannya, jadi... aku tidak bertanya lebih lanjut tentang hubungan mereka. Tapi setelah beberapa hari sekolah, aku mengetahuinya, bahwa itu memang disengaja. Kamu tau dari siapa ? " kata Winda.


" Amel " Nansi menebak.


" Iya. Dari mulut Amel sendiri. Pengen rasanya datangi Amel dan aku jambak jilbabnya, tapi anehnya gak aku lakukan. Aku hanya diam dan mendengarkannya " kata Winda.

__ADS_1


" KAMU BEGO, kenapa tidak kamu lakukan " kata Nansi emosi.


" Bukan itu yang buat kesal " kata Winda.


" Lalu apa ? " tanya Nansi.


" Aku memberitahu kepada Mas Widi, tapi di tetap tidak percaya. Dia percaya kalau itu merupakan ketidaksengajaan dan menganggap aku hanya salah paham saja " kata Winda.


" Serius...??? " tanya Nansi heran.


" Iya. Seriusan. Ngapain juga aku bohong. Bahkan nih ya, setelah kejadian itu, belakangan aku tau. Kalau Amel terlibat dalam kasus tawuran " kata Winda.


" Tawuran...? " tanya Nansi.


" Iya, tawuran. Dulu beberapa anak di sekolah SMP ku, pernah terlibat kasus tawuran, gak jelas gara-gara apa, tapi... rumor yang beredar Amel terlibat " kata Winda.


" Wahhh.... !!! Keren juga anak SMP tawuran" kata Nansi kagum.


" Nansi...!!! Malah ngatain keren...!!! " kata Winda.


" Cukup keren tau. Masa... kakakmu gak naruh sedikit curiga pada Amel, sama sekali " kata Nansi heran.


" Gak sama sekali. Buktinya sampai sekarang masih pacaran, iyakan...! " kata Winda.


" Iya juga sih. Pantesan kemarin, kamu cuek gitu " kata Nansi.


" Seandainya Amel datang padaku dan minta maaf, aku akan memaafkannya. Hanya saja Amel tidak melakukannya, malahan dia semakin NGELUNJAK " kata Winda.


" Ngelunjak gimana ??? " tanya Nansi.


" Minta antar jemput kesana kemari, laporan ini itu, mau ini itu, mungkin bagi orang yang pacaran itu merupakan hal wajar tapi bagiku ENGGAK. Terkesan memanfaatkan " kata Winda.


Nansi terkejut mendengarnya.


Nansi diam memikirkan perkataan Winda.


" Beda cerita, kalau kakakku itu sudah kerja, sudah ada penghasilan sendiri, itu terserah dia mau dikemanakan, mau dipakai apa, suka-suka dia tapi ini kan, enggak. Semua kebutuhan aja masih minta dari ortu, sok-sokan mendanai anaknya orang, status juga masih pacar. Iya kalau jodoh, kalau gak ? " kata Winda.


Nansi masih diam berfikir.


" Logis saja deh. Apa iya, ada orang mau mengeluarkan uang, memberi ini itu, melakukan ini itu, secara cuma-cuma tanpa ada tujuan niatan timbal baliknya ? Ceweknya kasih apa menurutmu ke cowoknya ? " kata Winda.


" Memberi hadiah balik " jawab Nansi spontan.


" OH... AYOLAH NANSI. Kamu yang sudah punya pacar, pacarmu juga sudah kerja, sudah dewasa. Memang benar memberi hadiah balik, tapi... bukan berupa barang yang bisa dibeli di toko. Jangan bilang kamu gak paham apa jawabannya " kata Winda.


Nansi kembali terdiam, memikirkan perkataan Winda.


" Iyakan...??? Pahamkan...??? " kata Winda.


Nansi hanya menganggukkan kepalanya, tanda sepemikiran.


" Sudah pasti, itu tujuannya. Ya... walaupun gak semua cowok seperti itu, tapi... rata-rata seperti itu, kebanyakannya begitu. Jadi sebagai cewek harus hati-hati, waspada, iyakan ? " kata Winda.


" Kamu berfikir jauh ya...??? " kata Nansi.


" Gak juga, tapi... hanya berjaga-jaga kalau mengalami momen terburuk saja " kata Winda.


" Mendengar perkataan mu. Ada benarnya juga sih " kata Nansi.

__ADS_1


" Tentu saja benar. Coba aku tanya padamu. Apa tujuan mu cari pacar ? Untuk memenuhi kebutuhan mu ? untuk menyenangkan hatimu ? untuk ojek gratisan mu ? untuk bahagia ? " kata Winda.


" Eemmm..." Nansi berfikir.


" Kalau untuk menyenangkan mu, memenuhi kebutuhan mu, ojek gratisan mu, agar kamu selalu bahagia. Kamu cari pacar, mesin ATM atau pembantu ? " kata Winda.


" SADIS omonganmu...!!! " kata Nansi.


" Aku hanya mengeluarkan pemikiran ku saja Nansi. Itu pandangan pribadiku saja. Bahkan orang tua kita, yang sudah menikah bertahun-tahun tetap ada hubungan timbal balik " kata Winda.


" Orang tua...??? " Nansi tidak paham.


" Iya. Bapak bekerja mencari nafkah untuk keluarga, memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Sebagai gantinya Ibu mengurusi semua pekerjaan rumah, mengasuh anak dan lain sebagainya. Masa iya, kita sebagai anak, tega mengkhianati orang tua kita sendiri " kata Winda.


" Orang tua, pasti akan sedih jika anak sampai salah dalam memilih pasangan hidup. Begitu kan...??? " kata Nansi.


" Wahh...Nansi...!!! Kamu dewasa...!!! " puji Winda.


" Apaan sih...!!! " Nansi merasa malu.


" Habisnya perkataanmu menyentuh hatiku " kata Winda.


Winda tersenyum lebar seraya menyentuh dadanya.


" Pantas saja kamu sedikit sensi saat membicarakan pacar, waktu dengan Lovely, jadi ini..." Nansi mengingatkan.


" Gak juga. Lovely di sekolah terus berkirim pesan dengan pacarnya, bahkan saat jam pelajaran, Lovely bela-belain membagi fokusnya antara pelajaran dan pacar. Itu bukan sayang namanya, tapi itu egois, tidak mau mengerti dan memahami pasangan " kata Winda.


" Begitu memang kalau orang jatuh cinta. Pemikirannya tidak rasional, yang di kepalanya hanya cinta " kata Nansi.


" CINTA...!!! Kamu kira cinta membuatmu kenyang ? Kalau iya, ngapain repot-repot bekerja, banting tulang untuk menghasilkan uang ? Jika hanya cinta cukup, kenapa ada istilah mahar ? " kata Winda.


" Eemmm..." Nansi tak bisa menjawab.


" Nah... gak bisa jawab kan...??? Cinta itu tidak bisa membeli apa-apa. Kita bisa menyebut cinta, tapi selama ini kita, gak tau bentuk cinta bagaimana ? rupanya bagaimana ? warnanya apa ? iyakan ? Benar ada simbol cinta, tapi itu kan hanya simbol saja " kata Winda.


" Aku jadi tambah bingung dengan perkataanmu Winda. Tapi... iya juga ya...?? Kenapa aku baru kepikiran ? " kata Nansi.


" Karena kamu sedang jatuh cinta, makanya kepalamu tidak bisa berfikir rasional, karena isinya hanya cinta " kata Winda.


" Ehhh... tunggu...!!! Perkataanmu kok...??? " kata Nansi.


" Kamu tadi yang bilang, aku hanya menirukannya " ledek Winda.


" Pintar kamu ya..." kata Nansi.


" APA...? ( tersenyum ) kan, kamu yang ngajarin " Winda membela dirinya.


Winda dan Nansi tersenyum lebar, pas banget bel tanda masuk berbunyi. Mereka pun segera bergegas kembali ke ruang kelas.


.


.


.


( bersambung )


**Cinta ??? jika dibahas maka tidak akan ada habisnya dan setiap orang memiliki pemikiran dan jawaban yang berbeda pula.

__ADS_1


Jadi kalau ada yang tidak sependapat dengan Winda, silahkan komentar dibawah ya teman-teman.


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗**


__ADS_2