
Saat ini Winda dan Reza sedang berkeliling mencari hadiah yang sekiranya cocok buat Lovely. Begitu lah Reza, gak ada momen apa pun, tiba-tiba pengen kasih hadiah, dari tadi sudah pindah beberapa toko tapi terus keluar dengan tangan kosong.
" Sebenarnya kamu itu mau kasih hadiah apa sih Za ? " Winda mulai kesal mengikuti Reza.
" Pengennya sih, boneka. Tapi dari tadi gak ada yang lucu, gak ada yang spesial, pasaran semua " kata Reza.
" Ya ellah Za. Trus ngapain, aku ikut ? " Winda tambah kesal.
" Ya... untuk dimintai pendapat lah kan. Kamu kan, temannya Lovely, pasti tau dong, kesukaannya apa ? Bagaimana ? Warna apa ?" kata Reza.
" Kamu kira aku ini pembantunya ( menendang kaki Reza ) Lagian dari tadi aku kasih saran, kamu tolak semua " kata Winda.
" Ini toko terakhir. Semoga ada yang cocok. Ayo cepat masuk " Reza menarik tangan Winda.
Segera masuk toko, langsung menuju bagian aneka boneka, melihat deretan boneka yang terpajang dengan rapi, terdapat beragam ukuran boneka dari yang kecil sampai yang segede badan Winda juga ada dan banyak sekali pilihannya.
Dari semua deretan boneka yang tersusun, pandangan mata Winda tertuju pada boneka beruang cokelat yang imut banget, semakin lucu karena memegang love merah di tangannya. Winda meraihnya, mengamati setiap detail boneka, bergegas menunjukkan pada Reza.
" Za...!!! Lihat dech ( menunjukkan ) Gimana ? cocok kan ? Beruangnya pegang love kecil, sesuai namanya Lovely " Winda menunjukkan dengan antusias.
" Eemmm boleh juga nih, bagus. Tapi ukurannya ( terdiam sesaat ) Apa gak terlalu kecil ? " kata Reza.
" Coba tanya sama mbak yang jaga, siapa tau ada ukuran yang sedikit lebih besar dari ini " usul Winda.
Reza pun pergi menemui penjaga toko, sementara Winda kembali melihat-lihat barang apa saja yang dijual di toko ini. Lagi-lagi pandangan mata menemukan barang yang menarik, menemukan sebuah gantungan yang cantik.
Terlintas lah ide dalam kepala untuk menggabungkan dengan gantungan bunga matahari milik Niko. Winda pun memilih dua buah gantungan yang sekiranya cocok bila digabungkan. Bersamaan dengan itu Reza kembali dengan sebuah boneka di tangannya.
" Bagaimana ? Bagus yang kecil ini atau yang rada gede dikit ini ? Keduanya bagus, aku jadi bimbang " kata Reza.
" Aku rasa bagus yang kecil ini deh, terlihat lebih imut " kata Winda.
" Iya juga sih. Ya udah ambil pilihanmu saja, feeling cewek biasanya lebih akurat. Kamu mau beli gantungan itu ? " tanya Reza mengarah pada tangan Winda.
" He'eh. Lihatnya kok bagus, jadi pengen beli. Kayaknya bagus digantung di hp " kata Winda.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua segera membayar dan bagusnya lagi, malah ditraktir Reza dong. Bukan hanya dapat gantungan gratis, saat perjalanan pulang, ditraktir jajanan juga dong, benar-benar rejeki ini, gak sia-sia dari tadi muter-muter ke sana kemari.
__ADS_1
Duduk di sebuah meja, menikmati makanan dan minuman dengan lahap. Capek habis muter-muter setelah itu makan minum, benar-benar pasangan yang klop, cocok banget. Tanpa sungkan Winda memesan apa pun yang dia inginkan dan tentu saja atas izin Reza.
" Makasih ya Win, sudah bantuin aku " kata Reza.
" Hemmm... tumben bilang makasih ? ( nada meledek ) Santai saja kali...!!! Lagian aku untung kok " Winda tersenyum girang.
" Semoga saja suka " kata Reza menatap boneka beruang.
" Insyaallah. Feelingku sih, dia bakalan suka. Beruang ini diibaratkan kamu yang memegang erat cinta ini " kata Winda.
" Barusan kamu ngarang ya ? " kata Reza.
" He'eh. Aku asal bicara ' Winda tertawa kecil.
" Sialan. Hampir aku percaya " Reza menonyol kepala Winda.
Pembicaraan kedua sahabat terlihat sangat akrab, sayangnya justru ada yang beranggapan mereka memiliki hubungan lainnya. Sepasang mata menyaksikan pemandangan tersebut, sambil bertanya-tanya.
***
Keesokan harinya Winda sudah tidak sabar menemui Niko, untuk memberikan gantungan yang baru, dirinya sudah membayangkan reaksi dari Niko nanti. Pengennya sih cepat-cepat diberikan, tapi kok susah betul.
{ Masa diberikan besok sih ? ) batin Winda.
Saat berjalan menuju gerbang sekolah, tatapan mata Winda tertuju pada arah parkiran, terlintas lah ide spontan. Segera bergegas menuju parkiran, mengamati sekeliling, mencari motor Niko dan meletakkan gantungan tersebut di gagang stang motor.
Tak lupa Winda mengambil foto dan mengirimkannya pada Niko, agar Niko tau kalau itu darinya. Saat Winda keluar gerbang sekolah, sudah ada dua sejoli yang dengan senyum girang. Siapa lagi, kalau bukan Lovely dan si Reza. Winda males nyapa, jadi memutuskan berlalu begitu saja.
Pengennya...!!! Tapi...???
" Winda ...!!! " Lovely memanggil.
" Apa...??? " Winda menjawab dengan malas-malasan.
Lovely mengerakkan tangannya memberi kode untuk mendekat, males tapi karena sudah dipanggil, mau gak mau harus mendekat, menghampiri mereka berdua. Winda berjalan dengan santai, nampak juga boneka yang semalam Reza beli, sudah diberikan pada Lovely.
" Apa...??? " saat Winda sudah di dekat mereka.
__ADS_1
" Nansi mana ? tumben jalan sendirian ? " tanya Lovely.
" Duluan dia, dijemput pacarnya, kenapa ? Mau pamer kah ? " kata Winda.
" Ngapain pamer. Bukannya belinya dengan kamu " kata Lovely.
Seketika Winda menatap Reza, dasar lagi kasmaran, apa pun itu, pakai laporan segala. Karena Lovely tau, sekalian saja Winda menceritakan proses pencarian boneka, harus keliling, keluar masuk beberapa toko sampai mendapatkan boneka tersebut.
Mereka bertiga pun asyik bercerita di pinggir jalan, bahkan sampai rada sepi, karena murid-murid sudah pada pulang, hanya tinggal beberapa dan setelah beberapa lama bercerita. Mereka pun jalan duluan, tinggal lah Winda seorang, jalan kaki sambil menunggu ojek lewat.
Baru berjalan beberapa meter dari gerbang sekolah, tiba-tiba Winda dihadang seseorang dengan memakai motor.
" Win...!!! Cepat naik...!!! " Niko membuka kaca helmnya.
" Loh....??? Kak, bukannya...??? " Winda masih bingung.
" Cepat naik....!!! " Niko sedikit meninggikan nada suaranya.
Saat Winda baru saja duduk, Niko menarik tangan Winda, mengisyaratkan untuk pegangan dan benar saja setelah itu Niko langsung tancap gas. Spontan Winda memeluk Niko erat-erat, saat Niko memacu motornya dengan sangat laju.
Niko terus melaju, tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun, terus berkendara, menyusuri jalan dan setelah beberapa lama berkendara, Niko pun menghentikan motornya di pinggir jalan. Winda bernapas lega saat kakinya kembali menyentuh tanah, untuk sesaat serasa nyawa ini melayang.
" Kakak, beneran gak sayang nyawa " kata Winda.
Bukannya menjawab perkataan Winda, Niko justru mengangkat tubuh Winda dan mendudukkannya kembali di atas motor. Merapikan rambut Winda yang berantakan dengan jari jemari secara berlahan.dan kemudian tersenyum lebar.
" Sudah rapi " kata Niko.
Winda menatap dengan malu-malu, ada apa sih ??? kok tiba-tiba jadi sok romantisan ???
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.