
Hari ini Winda sudah berada di salah satu pusat belanja yang sangat besar, bukan hanya pusat belanja saja tapi di dalamnya ada pusat permainan, tempat makan dan juga tempat nonton film. Dari awal masuk gedung, tangan Winda terus digandeng oleh Noel, katanya sih biar gak hilang.
Harap maklum ini adalah pertama kalinya Winda datang di pusat belanja moderen seperti ini, sehingga pandangan mata Winda terus melihat ke segala penjuru, benar-benar menikmati pemandangan yang berbeda dan sedikit terkesan katrok.
" Kamu, beneran baru ini ke sini ? " tanya Noel.
" He'eh. Aku orang pasar sih, jadi kalau ada apa-apa ya ke pasar. Tempatnya bagus ya, ada permainannya juga " kata Winda terus memperhatikan sekeliling.
" Kita lihat-lihat dulu. Yuk...!!! " kata Noel.
Noel dan Winda berjalan-jalan santai, melihat-lihat setiap tempat yang menarik mata mereka, mengunjungi dari satu toko ke toko lainnya, keluar masuk toko tanpa membeli, karena memang tujuannya hanya melihat-lihat saja sih dan belum ada yang minat di hati juga untuk dibeli.
Sebenarnya setiap masuk toko Noel selalu menawarkan Winda memilih barang yang diinginkannya, tapi ya itu dia, belum ada yang menarik, sehingga Winda hanya berkeliling melihat-lihat saja dan menolak setiap tawaran Noel dengan halus.
Setelah lama berkeliling, entah sudah berapa lama mereka jalan, capek sih enggak, tapi perut kok, gak bisa diajak kompromi, tiba-tiba saja lapar melanda dan tanpa permisi perut Winda bunyi. Noel tersenyum kala mendengarnya, sementara Winda menatap ke arah lain karena merasa malu.
" Ayo, kita cari makan...!!! " kata Noel.
Winda pun segera menyambut ajakan Noel dengan anggukkan kepala, perasaan malu barusan seketika menghilang dalam sekejap, perut lapar trus diajak makan, ya ayo, stu kalau gak mau.
Berjalan beberapa saat mencari tempat makan, entah takdir atau apa, mereka berdua berpapasan dengan beberapa teman Noel dan Winda juga mengenali wajah-wajah mereka. Mereka adalah teman-teman Noel dari kalangan atas, namanya juga dari kalangan atas, tentu saja penampilan mereka sangatlah berbeda dari kalangan biasa dan karena hal tersebut, Winda jadi tertunduk memperhatikan penampilannya.
Karena sudah berpapasan, Noel berbasa basi menyapa, berbicara sejenak dengan mereka, memperkenalkan tanpa menyebutkan nama, selama berbicara Noel terus menggandeng tangan Winda dan menjaga posisi badan untuk tetap dekat dengan dirinya.
Setelah berbasa basi sebentar, Noel mengakhiri pembicaraan, berpamitan pergi, Winda hanya tersenyum dan kemudian mereka pun pergi berjalan ke arah yang berlawanan dengan mereka. Winda sempat berbalik, menengok sebentar, disambut senyuman dan lambaian tangan dari salah satu cewek dari mereka, Winda pun membalas tersenyum dan juga balik melambaikan tangan.
" Kamu ngapain ? " tanya Noel saat melihat tingkah Winda.
" Cewek tadi senyum dan melambaikan tangan, ya aku balas dong, apa salahnya ? " kata Winda.
" Yang mana ? Yang pakai rok mini ? " kata Noel menebak.
" He'eh. Cewek itu kan, yang di samping Kak Noel malam itu kan ? Dilihat dari dekat, lebih cantik ternyata, modis lagi " kata Winda memuji penampilan cewek tersebut.
" Dia tunangan ku " kata Noel lirih.
" Ohhh... tunangan. Eh...??? ( sadar sesuatu ) tunangan Kak Noel ??? " Winda sedikit meninggikan suaranya karena terkejut.
" Hem " kata Noel seraya menganggukkan kepalanya berlahan.
WHAT ???
__ADS_1
TUNANGAN ???
Winda menatap Noel, kemudian tertunduk mengarah pada genggaman tangannya, melihat beberapa detik sambil berfikir, saat Winda tersadar, mulai menarik, mencoba melepaskan genggaman tangannya, namun Noel justru menahan dan menggenggam lebih kuat lagi. Seketika rasa bersalah melanda diri Winda, tapi hal sebaliknya ditunjukkan Noel, dirinya santai saja, seperti tidak ada apa-apa.
" Kenapa ? Heran ? " tanya Noel, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Winda.
Noel tidak segera menjawab, mereka memasuki sebuah tempat makan terlebih dahulu, memesan makanan dan disaat sambil menunggu makanan itu lah Noel baru bercerita.
Noel menjelaskan, dirinya memang sudah bertunangan dengan gadis tersebut, namun pertunangan mereka diatur oleh orang tua mereka, mereka tidak ada pilihan selain menerima pertunangan tersebut, karena ada maksud dan tujuan tertentu yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak keluarga.
Mereka memang saling menerima pertunangan tersebut tapi itu hanya berlaku dihadapan kedua keluarga saja, untuk kehidupan pribadi, mereka berdua sepakat untuk tidak ikut campur atau pun mengurusi, selama tidak menimbulkan masalah bagi keduanya.
Winda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dirinya jadi bertambah bingung dengan penjelasan yang Noel berikan. Sudah tunangan tapi kehidupan pribadi, gak boleh ikut campur ? Itu... bagaimana ceritanya ? Kalangan atas ini, aneh-aneh saja ?
Semakin mumet lah kepala Winda memikirkannya, benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran keduanya. Ada ya, orang tua yang begitu ? Memaksakan suatu hubungan, untuk tujuan tertentu ? Mengorbankan anak sebagai jalan jembatannya ?
" Orang tua Kakak, cukup tega ya ? Dan kalian yang lebih aneh lagi " kata Winda mengutarakan isi kepalanya.
" Kami aneh ? " tanya Noel.
" He'eh. Kalian kan, sama-sama tidak mau, kenapa harus menerima pertunangan itu ? Akhir dari pertunangan pasti lah pernikahan, masa iya, ntar sudah menikah, tapi masih ada kehidupan pribadi ? Kan aneh ? Ditambah lagi, kasihan dong, yang jadi pacar kalian, dicap orang ketiga " Winda bicara panjang lebar.
" Untuk sekarang ini, hanya itu yang aku pikirkan, untuk kedepannya dilihat saja nanti bagaimana. Kamu sih, gak mau jadi pacarku, coba mau, pasti ada alasan buatku kan ? " kata Noel malah menggoda.
" Lah ??? Kok jadi aku ? " kata Winda.
" Iya lah, karena cuma kamu yang aku ajak pacaran " kata Noel.
{ Kenapa, berasa aku yang paling jahat di sini ? } batin Winda.
Selesai makan, pas banget memasuki waktu sholat ashar, mencari mushollah terdekat, selama Winda menunaikan sholat ashar, tentu saja Noel setia menunggu di luar, dengan posisi sedikit menjauh dan beberapa saat kemudian Winda pun keluar.
Entah kenapa secara tiba-tiba, Noel mengusap pipi Winda dengan dua jarinya, mengamati dan mengusap-usap kedua jarinya. Tentu saja menimbulkan rasa heran di hati Winda, namun dirinya hanya diam tak bertanya.
" Kamu, sama sekali gak pakai riasan ya ? " kata Noel.
" Siapa bilang. Aku pakai kok. Nih ( mengangkat poni dan menunjuk ke arah alis nya ). Alis ku tipis, gimana ? lumayan kan bentuknya ? Belajarnya lumayan susah loh " kata Winda sambil kembali merapikan poni rambutnya.
" Alis dan lipblam ? cuma itu yang kamu pakai ? " tanya Noel.
Winda menganggukkan kepala, Noel melihat ke arah mushollah, kemudian melihat ke arah Winda, diperhatikannya tas Winda kecil, tidak kelihatan gembung juga. Noel pun mulai penasaran.
__ADS_1
" Winda, kalau kamu sholat pakai kerudung besar kan ? Bisa dilipat sampai kecil kah ? Tas mu gak keliatan gembung ? padahal kan kecil ? " tanya Noel yang malah disambut tawa oleh Winda.
" Mukena. Aku gak bawa, biasanya di mushollah atau masjid, sudah disediain. Di mushollah sekolah juga ada Kak " kata Winda.
Mereka berdua kembali jalan, melanjutkan lihat-lihat dari toko satu ke toko lainnya, namun kali ini mata Winda tertarik pada sebuah jaket dan Winda langsung mundur, kala melihat label harga yang tergolong mahal bagi dirinya.
Kembali keluar toko tanpa membeli, semakin sore suasananya semakin ramai dan mereka tertarik pada bagian pusat permainan. Mereka pun mencoba beberapa permainan yang ada, mengumpulkan beberapa tiket dan setelah ditukarkan, dapat gantungan kunci.
Tanpa pikir panjang, Winda memasang gantungan tersebut di tas kecil yang dibawanya dan saat itu lah dirinya teringat cokelat yang hendak diberikan pada Noel.
" Nah, Kak, cokelat yang aku janjikan " Winda memberikan sebungkus cokelat Chunky Bar.
Noel menerima, segera membuka, tapi malah disodorkan kembali ke Winda. Noel memberi isyarat agar Winda membuka mulutnya, menyuruh agar Winda menggigit cokelat tersebut dan Winda pun hanya mengikutinya.
Winda menggigit satu blok kecil cokelat tersebut, kemudian baru lah Noel menggigit satu blok kecil bekas gigitan Winda. Winda menggelengkan kepala, rupanya ini tujuannya ? Mereka berdua tersenyum dan kemudian tertawa kecil.
Sesaat kemudian Noel izin untuk pergi ke toilet sebentar dan menyuruh Winda menunggu di tempat tersebut. Sebenarnya hanya alasan Noel saja pergi ke toilet, karena dirinya justru kembali ke salah satu toko dan membeli suatu barang.
" Ini hadiah dariku " Noel menyerahkan barang yang dibelinya tadi kepada Winda.
Mata Winda terbuka lebar saat membuka bungkusan tersebut yang berisikan jaket, Winda menatap Noel. Bagaimana bisa tau ? Itu lah yang ada di kepala Winda.
" Tentu saja aku tau dan bagusnya adalah harga jaket, bisa lebih murah kalau membeli dua. Jaket kita couple " Noel menunjukkan jaket miliknya.
" Terima kasih Kak Noel " kata Winda.
" Lepas labelnya. Ayo langsung pakai, kita abadikan dulu " Noel memberi perintah.
Winda pun mengikuti perkataan Noel, Winda tau harga tersebut bukan lah masalah bagi Noel, mungkin tergolong murah, namun cukup mahal bagi Winda, awalnya sungkan tapi kalau ditolak, kok rada gak enak juga ? Mana yang memberi sudah tersenyum lebar. Diterima saja lah, ini kan termasuk rejeki.
Mereka berdua memposisikan badan, sesuai gaya yang mereka inginkan, mengabadikan momen couple mereka dan entah sudah berapa kali jepretan ???
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.
__ADS_1