
Hargailah setiap waktu kebersamaan kita dengan orang lain, karena kita tidak akan tau, sampai kapan orang tersebut bisa selalu sama kita, bukannya apa ? Karena waktu bisa hilang secara mendadak tanpa suatu tanda-tanda pemberitahuan.
Karena sibuk dengan serangkaian persiapan ujian, dilanjutkan dengan serangkaian urutan ujian-ujian, sebagaimana anak kelas tiga, sudah tentu punya kesibukan yang luar biasa padat. Winda sih paham saja, namanya juga sudah kelas tiga sebentar lagi akan lulus sekolah, tapi karena itulah Winda jadi bingung sendiri menghadapinya.
Ketika para senior sudah selesai dengan rangkaian ujiannya, kini gantian bagi para adik kelas yang menjalani ujian kenaikan kelas. Sebelum ujian kelas dimulai sudah tentu pada rajin belajar termasuk juga Winda.
" Win, pulangnya aku antar ya ? " kata Niko.
" Gak bisa ( menyela ) Winda, sudah janjian pulang denganku. Iya kan Win ? " kata Noel.
" Aku gak percaya, kemarin kamu juga bilang begitu " kata Niko.
Winda benar-benar bingung menghadapi kedua seniornya ini, entah kenapa mereka jadi sering ribut, bahkan terkadang hanya untuk urusan yang sangat sepele. Gak tau kenapa ? Sikap mereka jadi berubah terang-terangan menunjukkan kedekatan dengan Winda, padahal kemarin-kemarin sikapnya biasa saja, tapi ini ???
Winda menyentuh keningnya, memijit-mijit secara perlahan-lahan, kepalanya selalu dilanda sakit kepala mendadak saat melihat perdebatan kedua seniornya ini bila sudah dimulai. Gak mau lagi melayani mereka berdua, Winda memilih berbalik begitu saja.
" Eeettss ...!!! ( menahan ) mau kemana ? "
Kedua seniornya kompak menahan dan menanyakan hal yang sama, Winda mengambil napas panjang, menatap mereka bergantian.
" Menemui Kak Rey " kata Winda.
Winda segera memberi isyarat kepada keduanya, sehingga menghentikan mereka berdua. Winda melebarkan bola matanya, kembali memberi gerakan agar mereka mau mendengarkan perkataan Winda.
" Mulai hari ini, aku akan belajar dengan Kak Rey untuk persiapan ulangan kenaikan kelas dan gak boleh ganggu. Tau kan kenapa ??? JA ... DI ... berhenti ribut " kata Winda.
Kedua seniornya mengangguk tanda mengerti, tapi bukan berarti mereka akan mematuhi perkataan Winda. Di dalam perpustakaan, mereka berlima duduk dalam satu meja, mengawasi Winda dalam belajar, memang mereka diam, tidak ribut, tidak membuat ulah apa pun, tapi kenapa Juan jadi ikutan juga ... ???
Winda sempat melirik Juan yang tertunduk menghadap ke meja, bukan baca buku atau sedang sibuk, ternyata Juan tertidur dengan posisi bersandarkan satu tangan. Hebatnya lagi, tidurnya pulas banget, posisinya juga terlihat nyaman banget dan membuat Winda merasa heran, Kok bisa ya ... ???
Rey sengaja berdeham, menyadarkan Winda agar kembali fokus pada soal latihan yang sedang ia kerjakan. Bukan hanya dapat peringatan dari Rey saja, tapi ia juga mendapatkan sorotan tajam dari Niko dan Noel. Apaan sih, cuma lihat juga ???
*
Karena perubahan sikap seniornya tersebut, maka timbul lah gosip-gosip, rumor beredar yang aneh-aneh, spekulasi, opini pendapat dari para murid yang lainnya. Karena dari awal mereka banyak fansnya, jadi wajar saja selalu ada mata yang melihat ke arah mereka. Untungnya tidak ada efek negatif yang tertuju pada Winda, jadi semuanya aman, hanya kuping saja terkadang panas mendengarnya.
" Win, kamu kasih pelet apa sih ? Kok mereka itu bisa lengket banget sama kamu ? Heran aku ! Mana akhir-akhir ini makin jelas banget nempel-nempel ke kamu, terutama Kak Niko dan Kak Noel. Iya kan, Nansi " kata Vera.
" Pelet, keningmu lebar ... !!! Ngaco aja kalau ngomong " bantah Winda kesal dikatain pakai pelet.
" Ya gak salah sih ... !!! Mereka memang semakin nempel ke kamu " sambung Lovely.
" Kamu lagi, ikut-ikutan ... !!! " kata Winda makin tambah kesal.
" Kalian ini bagaimana sih ? Dari awal masuk, Winda memang dekat dengan mereka, wajar dong. Mungkin karena efek sudah mau tamat, mereka kan, sebentar lagi lulus, tinggal tunggu pengumumannya saja, tinggal menghitung hari " kata Nansi.
" Menghitung hari .... " Echa menyambung dengan menyanyikan sebuah lagu.
" Ini lagi, datang-datang nyambung dengan lagu " kata Lovely.
" Bicarakan apa sih ? serius betul " kata Echa.
" Anak kelas tiga sebentar lagi lulus " kata Vera.
" Dan sebentar lagi, kita juga akan naik kelas dua. Keren kan, bakalan ada adik kelas " kata Nirmala.
Senyuman Nirmala begitu menyimpan sejuta makna tersembunyi, sebagai bagian anggota OSIS inti, pasti lah Nirmala sudah memiliki rencana tersendiri. Begitu juga dengan para teman-teman yang lainnya, pasti mereka juga ada target untuk para adik kelasnya nanti.
" Senyuman kalian benar-benar mencurigakan ? Ada dua tanduk dibalik lingkaran bercahaya kalian ... !!! " kata Winda meledek mereka semua.
" Dan ada yang bersedih, karena harus berpisah dengan para senior GANTENGNYA " Vera membalas dengan telak.
" Ya gak apa-apa. Aku bisa ketemuan di luar sekolah, malah bagus cuma berduaan tanpa gangguan dari kalian semua " kata Winda.
__ADS_1
" Nah ... ketahuan sekarang ... !!! Haayoo ... berduaan dengan siapa ini ... ??? " goda Lovely.
" Kemarin aku jalan berdua dengan Reza ( sengaja berbohong ) Enggak ada laporan ke kamu ... ? " kata Winda.
Seketika raut wajah Lovely jadi manyun karena nama Reza disebutkan, menatap Winda, pada awalnya tatapan meremehkan tidak percaya namun sedetik kemudian, menjadi serius dan langsung meraih hp nya.
" Dia gak akan jawab, hp nya Reza disita " kata Winda.
" Dari mana kamu tau ? " Lovely gak percaya ucapan Winda.
" Ya tau lah kan " kata Winda dengan nada dibuat-buat.
Semakin manyun lah wajah Lovely mendengar ucapan Winda, yang malah disambut gelak tawa dari teman-teman yang lainnya.
" Bercanda Lovely. Bercanda ... !!! " Winda tertawa kecil.
" S*alan ... !!! " Lovely mengumpat.
" Oh ya. OSIS sudah ada rencana kan, untuk MOS nanti ? " tanya Vera pada Nirmala.
" Tentu saja sudah ada. Di jamin beda " kata Nirmala.
" Tinggal tunggu di musyawarahkan bareng dengan semua anggota OSIS dan guru yang bertanggung jawab. Jangan lupa hadir Winda" sambung Echa.
" Aku hanya anggota OSIS biasa, kalian sajalah " kata Winda.
" Semua anggota OSIS, dengar kan ... ??? " Nirmala menaikkan nada bicaranya.
" Iya iya " akhirnya Winda mengalah.
*
Bukan hanya para teman dekat yang kepo ingin tau, bahkan si jutek pun tak kalah melontarkan pertanyaan yang selalu bikin telinga meradang. Siapa lagi kalau bukan Shanti.
" Haduchh Shan, sebenarnya kamu itu ada masalah apa sih sama aku ? Perasaan aku gak pernah cari gara-gara sama kamu ? Dan kalau aku tamak ? Memangnya kenapa ? Masalah ? Curiga, kamu ini fans yang gak ridho, kalau aku dekat dengan mereka ? " kata Winda.
" Enggak lah, mereka bukan tipeku " bantah Shanti.
" Ya, trus apa dong ? Sikapmu sok misterius betul, atau jangan-jangan dugaanku bener nih ? Tentang kamu ? " kata Winda.
" APPA ... ??? " bentak Shanti.
Winda mendekatkan badan ke arah Shanti, menoleh kanan kiri memastikan situasi aman, setelah dirasa aman, Winda mendekat ke telinga Shanti, bicara berbisik dengan sangat pelan.
" Kamu simpanan papanya Kak Noel " kata Winda.
Shanti berbalik menatap lurus tepat mata ketemu mata, Shanti memang tampak terkejut tapi ekspresi wajahnya tak banyak menunjukkan kalau dirinya kaget. Dengan gerakan super cepat, tangan Shanti menjitak kening Winda dengan sangat kuat.
ADDUUUHHH
Winda seketika mundur menjauh dari Shanti, sambil menggosok-gosok keningnya yang benar-benar terasa sangat sakit. Sesekali keluar suara rintihan kesakitan dari mulut Winda, bekas jitakan di kening juga terasa nyutt nyutt nyutt.
" Ngasal saja kalau ngomong " kata Shanti.
" HEH ... !!! Bukan asal ya ! ( tidak terima ) Aku pernah melihatmu jalan sama papanya Kak Noel trus masuk ke dalam cl*b malam lagi. Bukan hanya sekali, tapi sudah dua kali, apa coba namanya ? Hayoo ... !!! " kata Winda.
" Emang kamu pernah ketemu papanya Kak Noel ? Kapan ? " tanya Shanti.
" Ketemu langsung sih belum pernah, tapi aku sudah lihat fotonya, waktu berkunjung ke rumah Kak Noel yang di pinggir pantai, ada foto keluarga gede dipajang di dinding rumah. Nah ... disitu sudah aku sadar, kalau ternyata itu adalah papanya Kak Noel " kata Winda menjelaskan.
Lagi-lagi secepat kilat Shanti kembali menjitak kening Winda, terasa lebih sakit dari sebelumnya, karena entah kebetulan atau apa, Shanti menjitak di tempat yang sama.
" SAKIT SHAN ... !!! " teriak Winda.
__ADS_1
" Itu hukuman buatmu, karena sudah menuduhku sebagai simpanan " kata Shanti.
" Kalau gitu ya jelas kan dong. Apa hubungan kalian ? ( menantang ). Gak mungkin hubungan bapak dan anak kan ? Mana ada orang tua, ketemuan dengan anak, di ajak ke cl*b malam " kata Winda.
" Bukan urusanmu ... !!! " kata Shanti gak mau menjelaskan.
" Kalau gitu sama. BUKAN URUSANMU ... !!! " kata Winda.
Sangking kesalnya Winda segera berbalik dan pergi meninggalkan Shanti begitu saja, sambil melangkah menjauh Winda masih bergumam mengeluarkan semua unek-unek kekesalannya, akibat ulah Shanti.
*
Pada saat ini Winda, Niko, Noel, Rey dan Juan, mereka berlima duduk bareng mengelilingi meja yang sudah penuh dengan hidangan makanan, buatan para koki senior ganteng. Melihat hidangan tersebut, Winda menjadi teringat pertama kali mereka makan bareng, hidangan yang sama dan tempat yang sama yaitu kosan Niko.
" Kalian buat tantangan lagi ? " tanya Winda.
" Coba tebak, telur dadar ini buatan siapa saja ? " kata Rey menyodorkan empat piring berisikan telur dadar yang berbeda.
Winda pun mulai mencicipi satu per satu, mengambil sepotong dari setiap piring yang ada, mulai berfikir, karena masih merasa ragu Winda mengulanginya lagi, mengunyah dengan perlahan, merasakan betul-betul untuk mencari perbedaannya.
" Bagaimana ? Sudah ?? " tanya Rey.
" Kalian mengerjaiku ya ? ( sadar sesuatu ). Semua dadar ini rasanya sama, dibuat oleh satu orang, hanya saja digoreng oleh orang yang berbeda. Yang ini digoreng Kak Niko ( menunjuk ), yang ini Kak Noel ( menunjuk ), kalau yang dua ini, aku gak tau antara kalian berdua saja kan ? " kata Winda.
" Kenapa bisa, kamu berfikir demikian ? " tanya Juan.
" Coba jelaskan ? " sambung Noel.
" Aku masih ingat rasanya, teksturnya, karena aku sudah belajar resep telur dadar buatan Kak Niko. Kalau buatan Kak Noel ini ( menunjuk ) kelihatan banget ciri khas dari Kak Noel, Kak Noel menggunakan margarin, yang dulu Kak Noel juga pakai margarin " kata Winda menjelaskan.
Keempat seniornya menatap Winda dengan pandangan takjub, spontan mereka memberikan tepuk tangan, memuji daya ingat rasa, padahal itu sudah lama tapi masih juga mengingatnya.
" Sudah aku bilang, Winda dapat membedakannya " kata Niko.
" Aku cukup tersanjung, kamu masih ingat, dulu aku juga menggunakan margarin " kata Noel.
" Sialnya kita berdua, masakannya gak dikenali " kata Juan.
" Bukan gak dikenali Kak, tapi susah dibedakan itu saja " Winda memberi alasan.
" Sama saja !!! Cuma beda bahasa penyebutannya " kata Juan.
" Aku pecat kamu jadi muridku " kata Rey.
" Eh ... jangan dong Kak Rey, semua ilmu belum Kakak transfer, repot aku " kata Winda.
" Pecat saja, nanti aku carikan guru private yang baru " kata Noel.
" Kak Noel yang bayarin ? Mau ... !!! " Winda langsung semangat.
" Win ... !!! Kok jadi matre gitu sih ? " kata Niko.
" Cewek matre wajar dong, bukannya begitu cewek yang kalian suka ? Iya kan ? Biar kelihatan bergantung pada kalian ... ??? " kata Winda.
Seketika suara tawa mereka pun pecah secara bersamaan, sebab sindiran Winda benar-benar tepat sasaran.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.