Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 34 Bertemu Aril


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Winda sudah berdiri dipinggir jalan menunggu tukang ojek lewat dan saat menunggu, mata melihat seseorang keluar dari rumah dengan kantong plastik ditangannya.


{ Ihs... mamaknya Ajeng keluar, malesnya aku ketemu Tante resek pagi-pagi gini } batin Winda.


Winda menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan sambil berharap ada tukang ojek lewat. Pas banget, ada sebuah motor dari kejauhan, mata Winda langsung berbinar, bibir tersenyum lebar, yang diharapkan akhirnya tiba tepat waktu.


Winda segera melambaikan tangan menghentikan motor tersebut.


" Mas, cepat jalan " Winda segera naik saat motor baru saja berhenti.


" Tapi mbak..."


" Sudah cepat jalan dulu...!!! " Winda memberi perintah.


Motor pun segera melaju, beberapa meter berjalan Winda melihat ke arah belakang, dirinya benar-benar lega tidak berjumpa dengan Mamaknya Ajeng.


" Mbak pakai dulu helmnya "


Perkataan dari pengemudi ojek, menyadarkan Winda, pengemudi ojek memberikan helm dengan posisi motor terus berjalan, tanpa bicara Winda segera mengambil dan memakai helm tersebut.


" Ke SMK NEGERI 2 ya Mas " kata Winda.


Saat Winda sedang mengancingkan helmnya, pandangan matanya melihat ke spion motor, baru menyadari sepertinya tidak asing, Winda mulai memperhatikan keadaan motor, menyakinkan diri, kalau dirinya pernah bertemu sebelumnya.


Winda mulai mengingat-ingat dimana dan kapan, dirinya pernah bertemu dengan tukang ojek tersebut. Winda terus berfikir dan mencoba untuk mengingat, lalu muncul lah bayang-bayang saat bertemu sebelumnya.


" Mas, pernah antar aku sebelumnya kan ? Yang sore-sore itu " kata Winda memberanikan diri untuk bertanya.


" Iya Mbak aku pernah antar Mbak sebelumnya "


" Jadi benar, pantas gak asing, jangan panggil Mbak, panggil saja Winda ( memperkenalkan diri ) kalau Mas namanya siapa ? " tanya Winda.


" Namaku Syahril, panggil saja Aril, Mbak " Aril memperkenalkan diri.


" Winda ( membenarkan ) Mas Aril ini, setiap hari ngojek kah ? " tanya Winda.


" Hanya pagi dan sore, hari libur kadang-kadang saja, kalau mau " kata Aril.


" Ohh hanya kerja sambilan ya ! Hebat juga kerja double " kata Winda menganggukkan kepala.


" Bukan kerja double, tapi aku kuliah " kata Aril.


Mendengar jawaban Aril kalau dirinya kuliah, Winda benar-benar terkejut mendengarnya. Tak menyangka seorang mahasiswa, mau kerja sambilan menjadi tukang ojek ? Jarang-jarang ada mahasiswa seperti itu benar-benar langka, mungkin hanya ada seribu satu.

__ADS_1


" Hebat ya Mas Aril, kuliah sambil kerja, gak malu Mas jadi tukang ojek ? " tanya Winda.


" Kenapa harus malu ? Kan, bagus dapat penghasilan " kata Aril.


" Ya, karena tukang ojek itu dipandang sebelah mata, apa lagi anak muda, seperti Mas Aril ini, jarang-jarang loh yang mau " kata Winda.


" Awalnya hanya iseng, tapi jadi keterusan dan senang " kata Aril.


" Pelanggan Mas Aril pasti banyak cewek-cewek ini ? " kata Winda mulai melontarkan candaan.


" Gak juga, tapi iya sih, kalau pagi-pagi banyak antar anak-anak sekolahan, biasanya di gang tadi, aku antar Ibu-ibu ke pasar " kata Aril mulai nyaman bicara terbuka dengan Winda.


" Ohh, tadi Ibu berangkat dengan Bapak, karena barang bawaannya gak banyak " kata Winda.


Terlihat dari kaca spion, Aril nampak terkejut mendengar perkataan Winda, mungkin dirinya tak menyangka kalau Winda adalah putri dari Ibu yang dimaksud tersebut.


" Ibu-ibu yang ke pasar pagi-pagi di gang tadi, ya cuma Ibu ku " kata Winda.


" Kebetulan ya " kata Aril tersipu malu.


" Bagaimana kalau Mas Aril jemput aku tiap pagi ? " Winda memberi tawaran.


Mendengar tawaran dari Winda yang mendadak, Aril terdiam sesaat tak langsung menjawab, terlihat ekspresi terkejut, berfikir kira-kira akan memberi jawaban apa pada Winda.


" Mau...!!! " Aril memotong pembicaraan Winda.


Seketika Winda tersenyum mendengar jawaban Aril yang bersedia menjemput dirinya setiap pagi mengantarkan ke sekolah.


" Baik lah, mulai besok Mas Aril yang jemput ya " kata Winda.


" Iya " jawab Aril.


Aril tersenyum lebar, bahagia dapat pelanggan tetap.


{ Baguslah dapat ojek langganan, enak aku gak usah repot-repot tunggu ojek yang gak pasti } batin Winda.


{ Mimpi apa aku semalam ? Pagi-pagi dapat rejeki } batin Aril.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya tiba di depan gerbang sekolah SMK NEGERI 2, Winda pun segera turun dan melepaskan helmnya.


Winda memberikan helm dan uang sebagai pembayaran ongkos mengantar, dengan jumlah uang seperti biasanya yang Winda bayarkan.


" Terima kasih " jawab Aril.

__ADS_1


" Eeiittss, jangan pergi dulu ( Winda menarik tangan Aril ). Mas Aril harus kasih nomor hp ke aku, jadi kita bisa saling kasih kabar. Gimana kalau mendadak Mas Aril gak bisa jemput, repot kan ngabarin nya " kata Winda.


" Nomornya ..." kata Aril.


" Sini hp nya Mas Aril, aku misscall nomorku " pinta Winda.


Winda mengambil hp dari tangan Aril, mengetik nomornya sendiri dan membuat panggilan.


" OK, sudah. Untuk pulang sekolah gak usah jemput Mas. Kan, Mas Aril kuliah, takutnya jadwalnya tabrakan " kata Winda mengembalikan hp pada Aril.


" Kalau tidak tabrakan ? Bagaimana ? " tanya Aril.


" Kalau Mas mau jemput, gak apa-apa juga sih, kabari saja dulu, biasanya aku pulang jam dua, bisa lambat kalau pas praktek " kata Winda.


" Gitu ya, OK " jawab Aril.


" Ya sudah, aku mau masuk. Bye Mas Aril " Winda berpamitan, Winda berbalik dan segera masuk ke dalam sekolah.


{ Dikasih nomornya sebelum diminta dong } batin Aril sambil tersenyum.


Winda berjalan menuju kelasnya dengan langkah santai, Winda melihat Noel dan sialnya tatapan mata mereka saling bertemu.


{ Aduh, kak Noel, dia lihat lagi } batin Winda mulai khawatir.


Winda terpaksa tersenyum senatural mungkin, sambil berdoa dalam hati, jangan ke sini, jangan ke sini. Noel balas tersenyum dan malah berjalan ke arah Winda dong.


{ Lah...kok...??? Malah jalan ke sini ? } Winda melebarkan bola matanya.


Winda segera melihat ke kanan kiri, mencari seseorang yang bisa dijadikan alasan untuk melarikan diri.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, pas banget lihat Echa dan Nirmala dari kejauhan.


" Echa...!!! Nirmala...!!! " teriak Winda memanggil.


Seketika Winda berbelok menuju ke arah Echa dan Nirmala berada. Selamat selamat, Winda bersyukur dalam hati.


Untuk sekarang ini, Winda belum siap hati menghadapi Noel, apa lagi kalau teringat kejadian tempo hari itu, dirinya benar-benar masih sangat canggung.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


__ADS_2