
Hari minggu siang, Winda sudah berada dalam kosan Niko, mengeluarkan semua barang bawaannya, dari telur, daun bawang, cabai, tomat, garam, bumbu penyedap, minyak goreng dan lain sebagainya. Niko hanya menggelengkan kepalanya melihat semua barang belanjaan yang Winda keluarkan dari dalam keranjang.
" Kamu mau masak untuk berapa orang ? Banyak benar belanjaannya ? " tanya Niko.
" Tadi aku cuma asal ambil, sekiranya diperlukan. Kalau ada sisa, bisa disimpan dalam kulkas, lagi pula semua bahan ini ada di rumah, jadi aku gak perlu keluar uang pribadi " kata Winda.
Hari ini sesuai dengan janjian sebelumnya, Niko akan mengajari Winda membuat telur dadar, resep ala Niko, tapi karena Winda suka telur dadar yang dicampur daun bawang, sekalian aja dibawa, siapa tau aja Niko bisa ngajarin resep olahan telur yang lainnya. NGELUNJAK CERITANYA.
Winda pun menyiapkan semua yang diperlukan sesuai dengan arahan dari Niko, satu per satu, Winda tersenyum, saat melihat Niko memotong dengan cepat dan rapi, sangat beda jauh dengan hasil potongan miliknya, memang ya beda tangan, beda hasil.
Cuma masak menu sederhana tapi saat Winda yang melakukannya, kenapa serasa lama banget ya ? Dapur juga terlihat lebih berantakan ? Banyak sampah berserakan, peralatan kotor juga, jadi lebih banyak dan hasil masakan juga cuma dua piring saja.
" Yeee... berhasil. Akhirnya selesai juga " kata Winda sambil meletakkan hasil masakannya ke atas piring.
" Gampang kan ? " tanya Niko.
" Gampang buat Kak Niko, aku yang masak, rasanya gak jamin, bisa seenak buatan Kakak. Baik lah sambil tunggu dingin, bereskan dulu kekacauan di dapur ini " kata Winda.
Tanpa bicara lagi Winda segera mengumpulkan sampah, menyimpan sisa bahan ke dalam kulkas, menyapu lantai dan mengumpulkan semua peralatan kotor di wastafel.
Setelah semuanya beres, mereka berdua menikmati hasil masakan yang Winda buat, ya emang gak sama persis seperti buatan sang guru, tapi lumayan lah untuk pertama kalinya, gak buruk-buruk amat, rasanya juga cukup enak, masih bisa dimakan.
" Rasanya enak, untuk pertama kali buat " kata Niko saat mencicipi masakan Winda.
" Benarkah ? Yee... gak sia-sia berantakin dapur " kata Winda tersenyum girang karena dapat pujian.
" Ayo makan dulu " ajak Niko.
Sambil makan Winda mengamati ruang tamu, penasaran ? Apa Niko tinggal sendirian di kosan ini ? Kalau iya, berarti apa-apa selalu dilakukan sendiri dong ? Dari masak, nyuci dan bersih-bersih rumah ? Wahhh... jadi anak kosan, harus rajin ya ? Gak boleh malas-malasan !
Seketika Winda jadi merasa bersyukur tinggal bareng dengan orang tua, itu pun kalau dimintain tolong, terkadang masih malas-malas melakukannya dan terkadang malah minta upah.
" Emmm Kak, boleh tanya ? " Winda mulai penasaran.
" Apa ? " kata Niko.
__ADS_1
" Orang tua Kak Niko dimana ? Kok bisa ? Kak Niko ngekos sendirian ? " tanya Winda.
Niko terdiam mendengar pertanyaan Winda, Niko menghela napas panjang dan mulai menceritakannya. Ternyata Niko datang ke kota ini hanya khusus untuk sekolah saja, orang tuanya berada di daerah lain dan sesekali saja datang berkunjung.
Di tempat Niko berasal, sekolah sebenarnya juga ada, hanya saja Niko ingin sekolah sesuai dengan pilihannya dan orang tua mendukung pilihan Niko dengan memfasilitasi semua kebutuhan. Walau pun jauh dari orang tua dan keluarga tapi Niko tidak menyesali keputusannya, karena itu adalah pilihan yang ditempuhnya dan Niko senang dengan jalan hidupnya sekarang ini.
Winda menganggukkan kepalanya, sungguh orang tua yang baik ya ? Mendukung sepenuhnya keinginan anaknya ? Percaya gitu melepaskan anak untuk mandiri ? Pemikiran Niko juga dewasa, beda jauh dengan sang Kakak. Eh... malah jadi bandingkan dengan Mas Widi ?.
" Masih penasaran dengan keluargaku ? " tanya Niko.
" Sudah gak. Pasti kangen ya, soalnya jarang ketemu keluarga ? " kata Winda.
" Gak juga, malah enak bisa bebas ke sana kemari " Niko tersenyum.
" Hemm, iya juga ya " Winda baru sadar.
Selesai menikmati masakan, mereka mencuci semua peralatan, juga berdua, supaya cepat selesai dan setelah semuanya beres. Mereka berdua menonton TV di ruang tamu, sambil menikmati makanan ringan, menonton sepuluh menit, tiga puluh menit dan rasa kantuk pun datang melanda.
Habis makan, perut kenyang, duduk diam sambil bersandar, tentu saja tak lama kemudian dilanda kantuk, semakin lama semakin berat, mata ini sudah gak tertahankan lagi dan akhirnya mata pun terpejam.
Niko merasakan pundaknya sedikit berat, saat melirik rupanya kepala Winda bersandar pada bahunya. Awalnya Niko hanya biasa saja, membiarkannya, tapi entah kenapa tangan Winda meraih memeluk Niko, seperti mencari posisi yang nyaman.
Niko memandangi wajah Winda yang tertidur, ini kali kedua, dirinya melihat wajah tidur Winda, masih saja imut dan cantik, tidak berubah sama sekali. Jantung Niko kembali deg degan, entah kenapa pandangan Niko terfokus pada bibir mungil Winda, seperti memanggil untuk dinikmati.
Niko mulai mendekatkan wajahnya, namun segera buru-buru berpaling, segera sadar dan menahan keinginannya tersebut. Menggelengkan kepalanya, menarik napas panjang, beruntung Niko dapat menahan keinginannya itu, karena tak lama kemudian, Winda menggeliat dan mulai membuka matanya.
Winda berkedip beberapa kali, sadar diri kalau sudah bersandar di bahu Niko, ia pun segera membenarkan posisi duduknya dan menutup mulutnya saat menguap.
" Maaf Kak, aku ketiduran. Jam berapa sekarang ? " kata Winda sambil mencari hp nya.
Melihat layar hp, waktu menunjukkan hampir jam empat sore, Winda pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, setelah itu bersiap-siap untuk pulang. Niat hati pulang akan dijemput oleh Aril, namun tentu saja Niko menawarkan diri untuk mengantar.
Winda sudah berusaha untuk menolak, karena nantinya Niko akan bolak balik, tapi Niko nya juga ngeyel, ya sudah, iya kan saja. Saat sampai di rumah Winda, ternyata ada Wika, duduk di teras rumah, seperti sedang menunggu dirinya.
Melihat Winda yang dibonceng cowok, tentu saja jiwa penasaran seorang Kakak muncul. Wika berdiri menyambut Winda dengan senyuman ramah di bibirnya.
__ADS_1
" Assalamualaikum " Winda mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam. Dari mana dek ? Jam segini baru pulang ? " tanya Wika.
" Habis main Mbak. Kak Niko mau singgah sebentar ? " Winda menghadap ke arah Niko, basa basi mengajak singgah.
" Aku langsung pulang saja, sudah sore. Mari Mbak, permisi...!!! " Niko berpamitan pada Wika.
Wika hanya tersenyum, menganggukkan kepalanya, setelah Niko pergi, Wika langsung berubah ekspresi, menatap tajam Winda, tanda-tanda bakalan diintrogasi habis-habisan ini.
" Kak Niko, itu siapa dek ? Kok, gak ngucapin salam ? Trus tadi, kalian main kemana ? " tanya Wika.
" Salam yang bagaimana, yang Mbak mau ? Assalamualaikum ? Ya sudah pasti, gak Mbak Wika, Kak Niko itu Kristen " kata Winda.
" Oohh pantesan " kata Wika.
" Aku habis belajar masak sama dia " Winda pamer.
" Kamu ??? Masak ??? " Wika gak percaya.
Wika memandang remeh sang adik perempuan, tentu saja gak percaya kalau dirinya bisa masak, karena Winda sangat malas kalau disuruh bantu-bantu di dapur, dia itu taunya hanya makanan matang, datang makan dan selesai cuci piring.
" Kalau Mbak sampai malam, aku masakin yang tadi aku pelajari deh, di jamin, walau gak enak pakai banget, tetap bisa ditelan kok, aman gak keracunan " kata Winda.
" Hemm...!!! " Wika memandang dengan tatapan curiga.
" Hiiisss... gak percaya betul lah Mbak ini..." kata Winda.
Wika mencubit kedua pipi Winda dan tersenyum padanya. Wika menepuk kepala adik perempuannya yang kini sudah mulai beranjak dewasa, gak dirasa waktu sudah berlalu begitu cepat, bahkan sang adik mulai tau tentang lawan jenis.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗