
Saat ini Winda dan Niko sudah berada di depan rumah Winda, karena tak enak hati sudah diantar sampai rumah, Winda menawarkan Niko untuk singgah sebentar.
Dan pas banget bertepatan dengan jadwal pengiriman barang ke rumah, al hasil Niko disuruh bantu angkat ke dalam dong sama Ibu, karena kebetulan gak ada laki-laki lainnya di rumah.
" Terima kasih ya Nak Niko, maaf Ibu jadi ngerepotin " kata Ibu.
" Sama-sama Bu, senang bisa membantu " jawab Niko.
" Ibu...!!! " Winda sedikit malu karena ulah sang Ibu.
" Untung ada teman mu datang Win, kalau gak, tunggu sampai malam ini telur baru masuk ke dalam rumah " kata Ibu.
" Ibu ini, tamu malah disuruh angkat barang" gumam Winda.
" Nak Niko ini, teman sekelasnya Wiwin ?" tanya Ibu.
" Wiwin ? " Niko bingung.
" Bukan Bu, Kak Niko ini sudah kelas tiga, dia jurusan Tata Boga " Winda menjelaskan.
" Wehhh jurusan masak toh ( Ibu terkejut mendengarnya ). Pasti Wiwin sering usil, datang gangguin kamu masak di dapur ya Nak Niko ? " tanya Ibu.
" Enggak Bu ( membantah ) Wiwin gak gitu ya" kata Winda spontan meninggikan suaranya.
" Helleh, dari gelagat mu iya tuh " kata Ibu.
Entah kenapa Ibu justru menceritakan awal mula Winda masuk SMK NEGERI 2, awal jurusan pilihannya apa ? dilarang Bapak, akhirnya pilih jurusan Tata Busana.
Ibu bercerita dengan menggebu-gebu, sampai sangat susah bagi Winda untuk menyela pembicaraan sang Ibu, Winda sedikit tunduk karena malu, sedangkan Niko justru tersenyum mendengar cerita sang Ibu.
Beruntung cerita dari sang Ibu tidak berlangsung lama, karena teringat harus kembali ke pasar.
" Ibu pergi dulu ya, Assalamualaikum " Ibu berpamitan.
" Waalaikumsalam " balas Winda.
Ibu segera pergi berjalan ke depan, meninggalkan Winda dan Niko berdua di teras rumah, Winda mengarahkan pandangan ke tempat lain, dirinya benar-benar malu saat ini, karena ulah sang Ibu.
" Wiwin...!!! " panggil Niko.
" Ya " spontan Winda menjawab.
" Jadi, itu panggilanmu, Wiwin " kata Niko.
Winda menganggukkan kepalanya, karena Niko penasaran dengan nama panggilan tersebut, pada akhirnya Winda pun menceritakan asal mula nama Wiwin.
Wiwin merupakan nama panggilan dari simbah yang berada di Jawa, karena sudah kebiasaan sedari kecil dan hanya orang-orang tertentu saja yang tau, Winda menyetujui saat Niko ingin memanggil nama Wiwin, dengan syarat hanya saat sedang berdua saja.
" OK, terkesan lebih spesial ya " kata Niko.
Mendengar kata spesial, Winda tersenyum malu-malu jadi GR sendiri karena merasa sedang dipuji.
" Baiklah, kalau begitu, aku izin pamit pulang " kata Niko.
" Hem, terima kasih ya Kak sudah antar aku pulang dan terima kasih juga atas bantuannya " kata Winda.
" Sama-sama, aku pulang dulu " Niko berpamitan.
__ADS_1
" Ok, hati-hati ya Kak " kata Winda.
Niko segera menyalakan motornya, melambaikan tangan sesaat Ndan segera melaju di jalan raya, tak berapa lama Niko pergi, datang lah sang kakak.
Widi memarkirkan motornya, mematikan mesin, membuka helm dan segera turun dari motor, belum bicara apa-apa sudah disambut wajah masam oleh Winda.
" Kenapa Dek ? manyun gitu ? Telurnya belum datang kah ? " tanya Widi karena melihat tak ada apa-apa di teras rumah.
" Mas Widi telat, sudah diangkat ke dalam rumah " kata Winda.
Winda pun menceritakan kepada sang kakak, saat telur datang, secara kebetulan ada teman sekolah yang datang berkunjung dan tanpa sungkan Ibu meminta tolong untuk di masukkan ke dalam rumah, bukan sebagian melainkan semuanya.
Winda bercerita dengan perasaan kesal, sementara Widi hanya menganggukkan kepalanya saja, sedikit senang karena pekerjaannya selesai.
" Ibu mana ? " tanya Widi.
" Sudah balik ke pasar " kata Winda.
" Loh kok ? gak nungguin ? " kata Widi.
" Nunggu Mas Widi, kelamaan, sampai tumbuh jamur, juga gak datang-datang " kata Winda.
Winda segera pergi dan masuk ke dalam kamar, merebahkan badannya ke atas kasur, meraih hp, memandangi foto barusan saat di pinggir jalan.
Winda tersenyum lebar, begitu juga dengan Niko. Winda langsung membayangkan, bagaimana kira-kira reaksi teman-temannya jika melihat dirinya berfoto berdua dengan Niko, pasti mereka bakalan menghujani dengan banyak sekali pertanyaan.
Winda bergeser melihat foto bersama dengan Rey, seketika Winda tak bisa menahan tawanya saat melihatnya rambut Rey yang sama persis dengan rambut jagung.
Seandainya yang antar ke rumah tadi itu Kak Rey, kira-kira reaksi Ibu bakalan sama gak ya ? Atau sebaliknya ? atau Ibu ?. Winda jadi membayangkan yang bukan-bukan.
Tangan Winda menggeser foto dan muncul lah foto dirinya dengan Noel, sangking kagetnya hp sampai terjatuh ke atas kasur.
{ Kenapa ada foto ini, di hp ku ? } batin Winda.
Winda mengingat-ingat dan baru tersadar, saat di sekolah tadi ada pesan masuk dari Noel, namun dirinya hanya membuka tanpa memperhatikan apa isinya, karena bertepatan pelajaran suka akan dimulai, jadi buru-buru kembali di simpan di dalam tas.
{ Astaga, kenapa tadi aku gak lihat baik-baik) batin Winda.
Foto tersebut ada dua, satu foto hanya foto bersebelahan dan yang satu lagi saat Noel mencium dirinya. Tanpa pikir dua kali, Winda menghapus satu foto, dari pada ke depannya timbul hal-hal yang tak di inginkan, lebih baik di hapus, tidak usah di simpan.
" Kalau foto ini kesebar, bisa tamat riwayat aku " gumam Winda.
*
Pada malam harinya, entah ada angin badai dari mana ? Reza datang ke rumah, bawa gorengan dan minuman kemasan dong. Winda menatap dengan curiga, sementara Reza santai saja sudah duduk makan di teras rumah duluan.
" Tumben-tumbenan Za, kamu datang ke rumah ngapelin aku ? nabrak tembok ya ? makanya amnesia ? " kata Winda.
" Mana ada orang ngapelin di malam Jum'at ? Mau cari nomor ? Dah duduk makan, banyak nih aku bawa " kata Reza.
" Beneran rejeki nih, sering-sering ya " kata Winda.
" Win, di sekolah mu itu, beneran boleh pirang ya ? " tanya Reza penasaran.
" Boleh, gak ada larangan, kenapa ? Di sekolah mu gak boleh ya ? Makanya pindah ! " kata Winda meledek.
" BENAR-BENAR KEREN SEKOLAH MU ( memuji ), bisa buat iri sekolah yang lainnya ini " kata Reza.
__ADS_1
" Bagaimana mau dilarang, sekolah ku kan, ada jurusan Kecantikan, tentu ada praktek mewarnai rambut kan ? ditambah lagi kepsek juga pirang dan guru juga ada yang pirang " kata Winda menjelaskan.
" KEREN NYA benar-benar bikin iri " kata Reza.
" Ya, makanya pindah ( bisikkan syaiton ) tapi kalau kamu pindah ke SMK, gak bisa deh ( mematahkan ) kamu gak bakalan bisa mengikuti pelajarannya, apalagi sekarang kamu sudah kelas dua, gak bakalan diterima" kata Winda.
" ASTAGFIRULLAH... mulut mu itu ya Win, paling pinter buat orang naik darah. SINI BALIKIN MAKANANKU...!!! " Reza menarik plastik gorengan.
Penjelasan panjang lebar guru Winda.
Anak SMA kalau pindah ke SMK, biasanya akan gak bisa, karena jurusan yang berbeda, kecuali anak SMK pindah ke SMA, nah itu masih bisa diterima, karena pelajaran di sekolah SMA, dipelajari juga di SMK, tapi kalau pelajaran di SMK, tidak dipelajari di SMA, terutama bagian jurusannya, iyakan ?
Coba bayangkan, kalau anak SMA kelas dua pindah ke sekolah SMK ? Emangnya bisa dia mengejar materi di tahun pertama sebelumnya ? Lalu, mau ambil jurusan apa dia di SMK ? gak ada yang sesuaikan ?
" Yang mau pindah itu juga siapa ? " bantah Reza.
" Ya, siapa tau saja " goda Winda.
" Tadi itu, aku benar-benar kaget lihat Lovely keluar dengan rambut pirangnya " kata Reza.
" Ohhh... " Winda pura-pura gak tau.
Reza pun menceritakan, cerita dari Lovely, kalau hari ini di sekolah Lovely ada praktek di kelas kecantikan, makanya boleh mewarnai rambut, lalu Reza juga mempertanyakan, bagaimana kalau gak ada praktek di kelas kecantikan ? apakah masih boleh mewarnai rambut ?
Winda pun hanya bisa memberi jawaban, mungkin bisa ? Alasannya adalah dari pada bayar salon di luar sekolah, lebih baik salon di sekolah sendiri kan ?. Apalagi, kalau pas praktek, bisa gratis gak bayar, dua-duanya dapat untung, seperti hubungan simbiosis mutualisme.
" Pelajaran IPA juga kalian pelajari ? " tanya Reza.
" Bukan hanya IPA saja, IPS juga kami pelajari, bahkan ada kabar beredar sekolah ku akan menambah pelajaran bahasa Jepang dan bahasa Mandarin, Hebat gak tuh " kata Winda.
" Untuk apa ? " tanya Reza.
" Untuk menambah ilmu pengetahuan lah kan. Jadi... kalau sekolah mu, mau sombong, pamer, bisa bahasa luar beberapa bahasa sekaligus, siap-siap kalah telak kalian, karena kami pelajari lebih banyak dari pada kalian, teori iya, praktek juga iya dan kelas dua nanti ada praktek lapangan, komplit kan " Winda benar-benar pamer.
" Mampu juga eee... kamu sekolah di SMK ?" ledek Reza.
" SIALAN, dikira aku ini stu... kali ya " Winda gak terima.
" Ya, soalnya nilaimu waktu SMP itu kan standar, gak pintar-pintar amat, gak pernah masuk sepuluh besar juga, harus belajar super ekstra dong, dengan pelajaran di SMK yang komplit itu " kata Reza.
" Bukan hanya tentang pelajarannya yang super ekstra, tapi juga duitnya harus ekstra tebal, apalagi kalau praktek harus beli bahan dan kalau dihitung-hitung lumayan totalnya " kata Winda.
" Sekolah mu anaknya cantik-cantik, aku suka datang ke sekolah mu, benar-benar cuci mata, langsung bening mataku " kata Reza.
" Suka-suka kamu sajalah Za...!!! " Winda malas berkomentar.
Winda sudah hafal betul bagaimana selera Reza itu, cewek yang bagaimana ? seperti apa ? Body nya ? Wajahnya ? Sudah gak heran, kalau gak bisa tahan terhadap cewek cantik.
.
.
.
( bersambung )
Maaf ya teman-teman, gak ada maksud sedikitpun membandingkan sekolah satu dengan yang lainnya, karena semua itu tergantung dari kita minatnya dimana. Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1