Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 89 Pembicaraan Kakak Adik.


__ADS_3

Pas banget saat sampai di rumah, bertepatan ada Widi yang bersiap-siap hendak keluar pergi. Niko memarkirkan motornya tak jauh dari motor Widi, ketiganya saling memandang, terdiam sesaat dan Winda bergegas turun, langsung menghampiri sang kakak.


" Mas Widi mau pergi ? " tanya Winda.


" Iya. Ini siapa lagi dek ? Kok beda dengan yang aku temui di sekolahmu kemarin ? " tanya Widi.


" Lupakan...!!! Mas putus dengan Amel kan ? " Winda sudah tidak tahan lagi.


" Kok kamu...??? " Widi sedikit heran.


" TENTU SAJA TAU...!!! NICH...!!! lihat...!!! ( menunjuk bekas goresan ). Ini bekas kukunya Amel, dia tadi labrak aku, dia gak terima Mas putusin dan dia tuduh aku dalangnya. Mas kalau mau putus, selesaikan baik-baik dong, jangan ninggalkan masalah, aku yang kena tau gak...!!!


Dia main datang ke sekolahku, langsung marah-marah, ngomel-ngomel gak jelas, di depan banyak orang lagi, padahal kan, aku gak tau apa-apa " Winda mengomel tanpa jeda sangking kesalnya.


" Bagai...." kata Widi.


" Kan, aku sudah bilang dari awal, jangan pernah pacaran sama teman sekolahku, ribet urusannya, aku selalu kebawa-bawa, kena kan, aku dampaknya. Sakit sih gak seberapa, tapi malunya itu loh Mas...!!! Main marah-marah, main jambak aja " kata Winda.


" Dia... yang jambak duluan ? " tanya Widi.


" IYA. Aku balas lah, aku tarik jilbabnya, SEPERTI INI " Winda menarik rambut sang kakak dengan perasaan kesal.


" A...a...a....a... (merintih ) kok rambutku ditarik Dek...!!! " kata Widi.


" BIAR mas rasa, bagaimana sakitnya, perbuatan dia padaku. Nahhh sakitkan ??? Ini belum seberapa, yang aku rasakan lebih sakit lagi " Winda terus menari rambut sang Kakak , melampiaskan semua kekesalannya.


Terjadilah keributan antara kakak beradik , Winda terus melampiaskan kekesalannya, sementara Widi hanya merintih kesakitan tanpa membalas perlakuan sang adik. Niko tidak dapat berbuat apa-apa, dirinya hanya diam menyaksikan semuanya terjadi. Ingin melerai tapi...??? Bingung.... !!!


Selang beberapa saat keluarlah Kakak perempuan dari dalam rumah tanpa bicara apa pun, mendekati kakak beradik yang sedang ribut dan seketika langsung menjewer telinga keduanya.


" Kalian berdua ini, ribut apa sih ??? Dari tadi ribut saja, Mbak dengar kok semakin jadi...!!! " kata Wika, terus menjewer telinga kedua sang adik.


" Ampun... Mbak..." rintihan keduanya.


" Sudah besar, masih saja berantem ( mengomeli keduanya ). Maaf ya dek, kakak beradik ini memang selalu ribut, pasti kaget ya " kata Wika dengan nada sopan terhadap Niko, tanpa melepaskan tangan dari kedua sang adik.


" Sedikit Mbak " jawab Niko rada gugup.


" Terima kasih ya, sudah mengantar Winda " kata Wika.


" Sama-sama Mbak. Emmm... Mbak bisa di lepaskan, telinga mereka sudah merah " kata Niko.


" Ampun Mbak. Sakit nih..." rintih Winda.


" Ampun Mbak, tolong lepas... " rintih Widi.


" BIAR...!!! Kalau gak begini, kalian akan terus ribut. Jabat tangan dulu, baru Mbak lepaskan...!!! Ayo, saling minta maaf " kata Wika.


Wika melepaskan tangan, saat keduanya sudah saling menjabat tangan, saling meminta maaf dan memaafkan. Baik Winda atau pun Widi sama-sama mengusap telinganya yang terasa panas.


Wika menatap Winda memberikan kode mengarah pada Niko, Winda pun paham, apa yang dimaksud sang kakak perempuan.

__ADS_1


" Terima kasih Kak Niko, sudah antar aku pulang. Maaf Kakak harus lihat insiden barusan. Nanti aku kabari lagi " kata Winda, kalimat terakhir dengan nada berbisik.


" Kalau begitu aku izin pulang. Mari Mbak, mari Mas, selamat siang, saya permisi " Niko pun berpamitan untuk segera pulang.


" Bye Kak, hati-hati ya...!!! " kata Winda.


Wika dan Widi hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Niko pergi, Wika kembali menarik telinga kedua adiknya, menuntun keduanya masuk ke dalam rumah, yang diiringi suara rintihan kedua adiknya.


Mendudukkan keduanya di kursi ruang tamu, menanyai satu per satu secara bergantian, ada masalah apa ? Siapa yang mulai duluan ? Tapi hasilnya, keduanya malah terlibat keributan lagi, saling membantah, menyalahkan, saling menunjuk, melemparkan kesalahan dan tidak ada yang mau mengakui kesalahan.


" Mas Widi tuh Mbak, putus dengan pacarnya, trus pacarnya marah-marah ke aku. Lihat nih sampai ada bekas goresan kena kuku tangannya " kata Winda menunjukkan dagunya.


" Widi...!!! " kata Wika menatap adik laki-lakinya.


" Aku gak tau Mbak, kalau dia bakalan melabrak Wiwin. Kita putusnya memang sedikit ribut sih " kata Widi mengakuinya.


" Itu karena Mas Widi dekatnya dengan teman dari sekolahku, satu kelas pula. Makanya dia marah, dia nuduh aku, kalau aku sengaja kenalkan kalian berdua. Padahal kan, enggak " kata Winda.


" Sudah kamu jelaskan ? " tanya Wika.


" Sudah Mbak. Tapi dia gak percaya, malah tambah marah, nuduh aku bohong trus jambak aku, ya... aku balas lah. Karena masih kesal, aku lampiaskan sama Mas Widi, semua itu kan, gara-gara Mas Widi " kata Winda.


" Kalian berdua ini...!!! Dek Win, sudah dinasehati dari kecil, tidak boleh menyentuh kepala orang yang lebih tua, kalau ada masalah dibicarakan dulu, tidak boleh langsung marah-marah.


Kamu juga Wid, kalau putus dengan anak orang, selesaikan baik-baik, dimulai dengan cara yang baik, diakhiri juga dengan cara yang baik.


Mbak gak mau dengar lagi, kalian ribut kayak tadi. Selesaikan, berbicara dengan baik. MENGERTI...!!! " Wika memperingatkan kedua adiknya.


" Mengerti Mbak " kompak menjawab.


Wika pun berbalik pergi, meninggalkan kedua adiknya, memberi ruang agar dapat bicara, menyelesaikan masalah yang mereka ciptakan sendiri. Kakak beradik bernapas lega, untung tidak diceramahi lebih panjang lagi, saling menatap serius, sebenarnya masih kesal tapi Winda menahannya, tidak boleh sampai marah-marah seperti tadi.


" Sakit kah dek ?? " Widi memulai pembicaraan.


" Gak seberapa. Jadi beneran Mas, sudah putus dengan Amel ? " kata Winda.


" Iya " Widi mengangguk.


" Tapi kenapa ? Kenapa harus teman sekolahku ? Gak ada yang lainnya ? " tanya Winda.


" Siapa yang kamu maksud ? " Widi bertanya balik.


"Shanti...!!! Dia teman sekelasku " kata Winda.


Seketika mata Widi terbelalak, tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Bagaimana bisa ??? Di lihat dari reaksinya, Widi yang begitu terkejut, pastilah Widi juga baru mengetahuinya.


" Aku pikir anak itu sudah kuliah, ternyata masih SMK ? " kata Widi.


" Mas beneran gak tau ? " Winda malah tanya balik.


Widi pun menceritakan baru bertemu beberapa kali, sehingga belum terlalu banyak mengetahui perihal, bagaimana tentang Shanti. Kalau masalah putus dengan Amel, memang sudah terjadi masalah yang tak kunjung selesai sebelumnya, gak bisa dipertahankan lagi dan memilih untuk mengakhiri saja.

__ADS_1


Karena Amel tak terima, sehingga mencari orang untuk bisa disalahkan dan bertepatan saja waktunya sesuai dengan kedekatannya dengan Shanti. Semuanya serba kebetulan dan sialnya mengarah pada Winda juga.


Tambah manyun lah Winda mendengar penjelasan sang Kakak, kok bisa sih kebetulan gini ??? Senang juga akhirnya putus, tapi kalau begini ceritanya ? Bukannya bersyukur, malah datang masalah yang baru lagi dan membuat sakit kepala Winda.


" Ini, biar dijelaskan berulang-ulang, pasti Amel gak bakalan mau percaya. Kenapa kebetulan banget sih ?? Harus gitu, Shanti ?" Winda benar-benar masih heran tak habis pikir.


" Aku akui, Shanti memang cantik, penampilannya sudah kelihatan dewasa, gak sangka dia masih SMK " Widi malah senyam senyum.


" Cantik sih cantik, tapi mulutnya bar bar, kalau ngomong gak pakai rem, gak peka situasi dan kondisi. Padahal kalau sekolah pakai jilbab, kelihatan alim, terkadang gak sesuai dengan penampilannya " Winda malah curhat mengeluh tentang Shanti.


" Jadi sekolahnya pakai jilbab. Hemmm jadi penasaran " kata Widi malah menghayal bagaimana penampilan Shanti pakai jilbab.


" Pokoknya. Selama aku masih sekolah di SMK NEGERI 2, Mas Widi gak boleh pacaran dengan temanku, entah itu teman sekelasku atau pun dari kelas yang lainnya. TITIK " Winda memberi peringatan.


" Kok jadi kamu yang ngatur dek ??? Terserah Mas dong " bantah Widi.


" Mas yang pacaran tapi aku ikutan kena imbasnya. Pokoknya enggak boleh. Tuch... SANA cari saja anak SMANSA, SMANDU, SMANTIG atau gak SMANPAT. Satu hal lagi, kalau Amel masih cari gara-gara sama aku, jangan salahkan aku, kalau nanti aku kelewat batas " kata Winda.


Winda segera bangkit dari duduknya menuju kamar, meninggalkan Widi begitu saja. Widi menatap sambil menghela nafas panjang, dirinya paham betul bagaimana sang adik kalau kalap saat marah.


{ Harus dibicarakan lagi ini } batin Widi.


Selesai berganti pakaian, Winda segera ke dapur menghampiri sang kakak perempuan, langsung ikutan duduk membantu memetik sayur mayur dan justru mendapat tatapan curiga dari sang kakak perempuan.


" Dek...!!! " panggil Wika.


" Ya...!!! " jawab Winda.


" Sepertinya, kamu cukup dekat dengan seniormu itu ? " Wika memulai pembicaraan.


" Begitulah. Tenang saja Mbak, aku masih ingat kok nasehatnya Mbak dengan Kak Bagas. Lagian, Kak Niko juga paham tentang itu " kata Winda.


" Mbak cuma tanya saja " kata Wika.


" Tapi aku paham arah pembicaraannya. Mbak sampai malam di sini ? " Winda mengalihkan pembicaraan.


" Iya, sampai malam. Nanti Kak Bagas, makan malam di sini. Siap-siap kena ceramah kalian berdua " Wika menakut-nakuti.


" Mbak ngadu ini ke Kak Bagas ??? " kata Winda.


" Memang iya ( tertawa kecil ). Selesaikan, habis itu bantu Mbak masak " kata Wika.


" OK " jawab Winda.


Keduanya pun fokus menyiapkan bahan masakan bersama-sama, begitulah hubungan kakak beradik, kadang berantem, kadang akur, saling menasehati, saling menyayangi, dengan cara masing-masing pribadi.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.


__ADS_2