Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 46 Tugas


__ADS_3

Pada keesokan paginya, seperti biasa Winda selalu datang pagi, saat berjalan menuju ruang kelas, dirinya berpapasan dengan wali kelas yaitu Ibu Ana. Sebagai murid yang baik, tentu saja Winda harus menyapa, memberi salam dan tak lupa meraih tangan lalu mencium punggung tangan beliau.


" Hari ini ada mata pelajaran Ibu di kelas mu kan ? " tanya Ibu Ana.


" Iya Bu ada, mata pelajaran setelah jam istirahat pertama " jawab Winda.


" Tugas dari Ibu, Minggu kemarin sudah dikerjakan ? " tanya Ibu Ana.


" Sudah Bu " jawab Winda.


" Keluar kan buku tugasmu, Ibu mau lihat " kata Ibu Ana.


Tanpa bertanya lagi, Winda segera membuka tas punggungnya, mengambil buku tugas mata pelajaran Ibu Ana dan menyerahkan kepada Ibu Ana.


Ibu Ana setelah menerima buku tersebut, segera membuka buku tugas Winda tersebut, mengamati, membaca, sesekali menganggukkan kepala, melihat hal tersebut Winda hanya diam memperhatikan.


" Bagus sudah selesai semuanya, buku tugasmu Ibu ambil, kamu boleh pergi sekarang " kata Ibu Ana sambil menutup buku.


HAH ? Diambil sekarang ? Winda hanya bertanya dalam hati, tidak berani bertanya langsung kepada Ibu Ana, apa alasannya. Ibu Ana menatap tajam Winda, karena masih diam dan tak beranjak pergi.


" Apa yang kamu tunggu ? sana ke kelas mu " kata Ibu Ana menyadarkan lamunan Winda.


" Baik Bu, saya permisi " Winda berpamitan.


Winda segera melangkah pergi, berjalan menuju ruang kelasnya dengan perasaan sedikit heran, ada apa dengan Ibu Ana ? sebab bersikap tidak seperti biasanya, ditambah lagi jam pelajaran Ibu Ana masih lama, tapi kenapa sudah diminta sekarang ?


Winda hanya bisa berfikir sendiri, menerka kira-kira ada apa ? namun pikiran Winda segera berubah positif, mungkin hanya perasaannya saja yang berlebihan.


Sesampainya di depan pintu kelas, Winda menyapa, mengucapkan selamat pagi kepada teman-teman yang sudah berada di dalam kelas, yang malah disambut ledekan oleh Nansi.


" Tumben rada telat datang ? " Nansi meledek karena dirinya datang terlebih dahulu.


" Yang benar itu, tumben dirimu datang kecepatan, biasanya dirimu lima menit sebelum lonceng baru datang " Winda balas meledek.


" Bener banget, itu sudah, tadi aku juga bilang begitu " kata Vera sepakat dengan Winda.


" Kalian ini, datang cepat dikatain, datang lambat dikatain juga, apa sih maunya ? " Nansi jadi kesal.


" Duuhh ngambek, cantiknya luntur loh " goda Winda.


" Bedak, luntur...!!! " jawab Nansi.


" Oh ya, kalian sudah...." kata Winda.


BRUUUKKK


Terdengar suara yang cukup keras, seperti suara benda terjatuh, asal suara tersebut terdengar dari luar kelas, para murid pun segera bergegas melihat keluar kelas, untuk mengetahui apa yang terjadi ?


Ternyata suara tersebut berasal dari tong sampah yang terjatuh dari tangan seorang murid yang hendak membuang sampah tersebut ke belakang, al hasil sampah jatuh berserakan di koridor depan kelas satu Tata Busana.

__ADS_1


*


Saat jam pelajaran Ibu Ana tiba, dengan langkah santai Ibu Ana memasuki ruang kelas satu Tata Busana dan tanpa basa basi langsung menanyakan tentang tugas minggu kemarin.


" Kumpulkan tugas minggu kemarin " Ibu Ana berbicara dengan lantang dan jelas.


Aneh bin ajaib, tidak ada satu pun murid yang menjawab atau pun bergerak mengeluarkan buku dari dalam tas mereka. Semua hanya diam sambil menundukkan kepalanya, hal tersebut sontak membuat Winda dilanda kekhawatiran yang luar biasa.


Winda melihat secara bergantian ke arah teman-teman sekelasnya, mereka semua hanya diam, begitu juga dengan Nansi, seketika Winda ikutan menundukkan kepalanya, benar-benar celaka ini, akan terjadi kekacauan begini ceritanya, Ibu Ana akan murka, begitu lah dalam benak Winda saat ini.


Benar saja dugaan Winda, tak lama kemudian Ibu Ana membanting satu buku ke atas meja.


BRAAKKK


Yang seketika suasana kelas menjadi lebih mencekam dari sebelumnya.


" JADI... tidak ada yang mengerjakan tugas dari Ibu ? " Ibu Ana meninggikan suaranya.


Semua murid di kelas hanya diam, tak ada yang menjawab, tetap menunduk, tidak berani mengangkat wajah apalagi melihat Ibu Ana. Entah kenapa tiba-tiba Ibu Ana berjalan ke arah Winda duduk, hal tersebut membuat Winda bertambah khawatir lagi.


" Hebat sekali kalian ( menyilangkan kedua tangan ) dari satu kelas ini hanya Winda yang mengerjakan tugas. Sekarang kalian semua PERGI KE PERPUSTAKAAN DAN SELESAIKAN tugas kalian, HARI INI JUGA " kata Ibu Ana.


Saat nama Winda disebut, seketika semua pandangan mata langsung tertuju ke arah Winda. Semua murid pun bergegas pergi ke perpustakaan termasuk juga dengan Winda.


Belum apa-apa sudah mulai terdengar suara bisik-bisik diantara teman-teman sekelas sambil melirik ke arah Winda, suasana bertambah parah, saat Ibu Ana melarang Winda ikut ke perpustakaan.


Awalnya Winda memaksa untuk ikut ke perpustakaan dengan alasan sendirian di dalam kelas, namun usahanya tetap sia-sia tidak berhasil, Ibu Ana tetap tidak mengizinkan Winda ikut ke perpustakaan.


Karena malas sendirian di dalam kelas, Winda menyusul ke perpustakaan, namun saat akan masuk, baru saja mau membuka pintu, dirinya sudah di hadang oleh Ibu Ana.


Winda kembali memohon agar diizinkan ikut masuk, tapi tetap tidak diperbolehkan, bahkan berujung dengan pengusiran oleh Ibu Ana, dengan menutup pintu perpustakaan rapat-rapat.


Winda kembali merasa kecewa, Ibu Ana hari ini benar-benar sangat galak dan tegas. Siapa yang salah ? siapa yang dihukum ? Winda benar-benar merasa tak enak hati dengan taman-taman sekelasnya, terlintas dalam benaknya teman-teman akan marah gara-gara kejadian ini.


Winda mengambil napas panjang, menghembuskan secara berlahan, karena bingung mau ngapain, akhirnya Winda memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah. Suasana kantin benar-benar sangat sepi, Winda membeli beberapa makanan ringan dan sebotol minuman kemasan.


Winda duduk sendirian, menikmati makanan sendirian, benar-benar tidak menyenangkan dan tiba-tiba muncul Pak Hadi duduk di depan Winda.


" Ehhh Pak " ucap Winda menyadari kehadiran Hadi.


" Kenapa kamu di sini ? teman-teman mu pada di perpustakaan " tanya Hadi.


Winda kembali tertunduk lesu, menarik napas panjang, di dadanya benar-benar terasa sesak, seperti ada duri-duri kecil sedang menusuk dirinya. Winda benar-benar merasa sangat buruk, Hadi yang melihat reaksi tersebut menyadari, kalau sedang terjadi masalah dengan anak didiknya ini.


" Kenapa ? coba cerita ? mungkin Bapak bisa bantu ? " kata Hadi.


Winda akhirnya menceritakan dari awal tentang masalah yang terjadi dengan dirinya dan teman-teman sekelasnya, dimulai dari tugas yang diminta Ibu Ana dari pagi, teman-teman tidak mengerjakan PR dan berakhir dengan menyelesaikan tugas di perpustakaan.


Tak lupa Winda juga menceritakan tentang dirinya yang diusir Ibu Ana, tidak boleh ikut masuk ke dalam perpustakaan. Di momen itu Winda menceritakan, kekhawatiran dirinya tentang penilaian teman-teman sekelasnya nanti setelah tugas selesai.

__ADS_1


Winda khawatir teman-teman akan menilai jelek, beranggapan kalau Winda sengaja melakukannya untuk menyanjung diri sendiri dan menjatuhkan teman-teman yang lainnya, supaya Winda di nilai sebagai murid yang baik dan mendapat pujian untuknya sendiri.


" Harusnya, kamu jangan mengerjakan tugas Ibu Ana " kata Hadi.


Mendengar hal itu seketika Winda menatap ke arah sang guru dengan tatapan yang terkejut, apa maksudnya coba ? masa iya, malah kasih saran seperti itu ? itu kan saran yang tidak bagus ?


" Mana bisa begitu Pak ? ( menjawab tegas ) setiap tugas harus dikerjakan, namanya juga sekolah, sudah menjadi kewajiban setiap murid " kata Winda.


" Itu kamu paham " kata Hadi.


Winda terdiam mencerna kalimat dari sang guru, dirinya benar-benar bertambah bingung, kemudian Hadi menjelaskan kepada Winda, teman-temannya itu sedang dihukum karena tidak mengerjakan PR dan harusnya teman-teman merasa iri dengan Winda, yang dapat santai karena sudah mengerjakan tugas dari Ibu Ana.


Mendengar penjelasan, Winda bukan tenang, namun justru bertambah khawatir, karena pasti akan ada kebencian di hati teman-teman sekelasnya, kesannya tetap saja Winda seolah-olah sengaja melakukan hal tersebut untuk mendapatkan pujian Ibu Ana.


" Tetap saja, mereka pasti akan benci saya, seandainya saya tau Pak, maka saya akan berbohong saja belum mengerjakan tugas " kata Winda.


Perkataan Winda justru membuat Hadi berbicara panjang lebar, menerangkan solidaritas itu bagus tapi tidak untuk hal yang buruk. Semua murid harusnya menjalankan tugas dan kewajiban, namun pada kenyataannya ada beberapa murid yang memberontak, seperti teman-temannya saat ini.


" Kalau mereka benci saya, bagaimana Pak ?" tanya Winda.


" Ya itu urusanmu " jawab Hadi.


" Paaakkk..." Winda cemberut mendengarnya.


Hadi tertawa kecil, melihat tingkah cemberut Winda, lalu kembali menasehati Winda. Tidak masalah jika ada teman yang marah tapi pasti akan ada teman yang dapat mengerti dan memahami dengan sikap Winda tersebut.


Hadi mengusap kepala Winda dengan perlahan, meraih tangan dan meletakkan sebungkus permen di tangan Winda.


" Bapak pergi dulu ya " kata Hadi.


" Baik Pak, terima kasih " ucap Winda.


Hadi segera pergi meninggalkan kantin sekolah dengan langkah santai, Winda memperhatikan permen di tangannya lalu tersenyum saat membaca tulisannya. Winda kembali melihat ke arah Hadi yang sudah menjauh dari kantin.


{ Ternyata Pak Hadi terkena demam permen juga ya } batin Winda.


SEMANGAT


Itulah tulisan yang tertera di bungkus permen tersebut, tanpa menunggu Winda segera membuka dan memakannya, rasa manis langsung menyebar di dalam mulut, ada perasaan sedikit lega setelah bercerita.


Winda kembali menarik napas panjang, sambil berdoa semoga saja teman-teman tidak membenci dirinya, walau pun ada, setidaknya tidak semuanya.


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2