
Niko terus menggenggam tangan Winda, menuju tempat yang dimaksud, sementara
Winda dengan patuh mengikuti Niko tanpa bertanya sedikit pun.
" Dapur ini kan ? " tanya Winda saat memasuki sebuah dapur yang kemarin dipakai untuk menghias kue pengantin.
" Ayo masuk...!!! " kata Niko menarik Winda.
Sesampainya di dalam dapur, Niko membuka sebuah pintu lagi yang merupakan tempat penyimpanan, yang juga terhubung dengan ruangan sebelahnya.
Dalam ruangan penyimpanan terdapat dua kulkas yang berukuran cukup besar dan rak-rak penyimpanan barang-barang untuk keperluan praktek.
" Wahhh... seperti ruang rahasia " kata Winda.
" Duduklah di bangku itu " kata Niko sambil menunjuk.
Niko berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan beberapa potongan kue yang terpotong tidak beraturan.
" Kue...??? " kata Winda saat melihatnya.
" Terpotong tidak teratur. Jangan lihat bentuk potongannya, rasanya enak loh, dijamin " kata Niko.
" Apa kue ini...??? " Winda tak melanjutkannya.
" Iya. Ini potongan-potongan kue pengantin kemarin. Waktu pemanggangan bentuknya rada tidak sesuai jadi sebagian harus dipotong. Ada banyak, karena kemarin sempat salah potong, jadi harus buat lagi " kata Niko menjelaskan.
" Wahh berat juga ya. Ini buatku kak ? " tanya Winda sudah tidak sabar.
" Iya. Cobalah...!!! " kata Niko.
Tanpa sungkan Winda mengambil sepotong kue yang cukup besar dan memasukkannya ke dalam mulut. Winda melebarkan matanya, saat mengunyah kue tersebut, rasanya benar-benar lembut dan enak.
" Enak banget kak, kakak yang buat ? " tanya Winda.
" Lebih tepatnya, kami yang buat " kata Niko.
" Pada gak mau makan ya kak ? Padahal enak gini loh " kata Winda sambil terus makan kue.
" Sudah dimakan sebagian, kalau gak, lebih banyak lagi di dalam kulkas " kata Niki sambil duduk di sebelah Winda.
" Enak ya kalau praktek di jurusan Boga. Habis praktek trus dimakan sendiri atau gak rame-rame, saling mencicipi masakan satu sama lainnya " kata Winda.
" Iya kalau masakannya enak, kalau gagal. Siapa yang mau makan ? Ujung-ujungnya ya masuk tong sampah " kata Niko.
" Kakak pernah gagal ? " tanya Winda.
" Tentu saja pernah dan sering malahan " jawab Niko.
" Seriusan kak ? " Winda tak percaya.
" Iya. Waktu awal-awal masuk sekolah. Awal-awal praktek banyak yang berakhir di buang, gak bisa dimakan sama sekali " kata Niko.
" Parah kah ? " tanya Winda.
" Kalau dibuang, ya parah. Gosong, keasinan, masih mentah, salah masukkan bumbu, ya gitulah kesalahan waktu masak " kata Niko menjelaskan.
" Wahh... berarti prosesnya panjang ya. Aku pikir... dari awal kak Niko memang pintar masak " kata Winda.
" Mana ada yang seperti itu. Semua ada prosesnya, perlu rajin belajar dan berusaha, tidak boleh putus asa " kata Niko.
" Kalau aku... tidak menjamin bisa buat kue seenak ini kak. Diriku ini hanya tau makan saja " kata Winda tersenyum.
" Kamu suka ? " tanya Niko.
" Suka. Kuenya enak banget " kata Winda.
" Kalau begitu, ini semua untukmu " kata Niko.
" Seriusan ? " Winda tidak percaya.
" Serius " jawab Niko.
" Beneran ? " Winda belum percaya.
" Benar " kata Niko.
__ADS_1
" Kakak bosan makan ya ? " tanya Winda.
" Aku senang lihat kamu makan " kata Niko.
" Hemm, ketahuan rakus ya kak " Winda malu-malu.
" Bukan begitu. Hanya saja kalau melihat orang makan masakan ku, rasanya seperti dihargai " kata Niko.
" Karena memang enak kak. Rugi kalau ditolak. Sini aku habiskan, mumpung dapat gratis, kapan lagi bisa makan kue buatan kak Niko " kata Winda.
Winda tidak pakai sungkan-sungkan lagi melahap setiap potongan kue yang ada dihadapannya. Tidak menunggu sampai habis, Winda segera memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya lagi, lagi dan lagi.
Saat sedang menikmati kue, tiba-tiba terdengar suara pintu dapur sebelah dibuka. Sayup-sayup terdengar suara, seperti suaranya Noel dan Juan sedang berbincang.
Seketika Niko menarik tangan Winda sambil memberi isyarat untuk tidak bersuara. Niko menarik ke arah pintu masuk, mendudukkan Winda di lantai dan mengunci pintu dari dalam secara berlahan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Winda menatap Niko, mempertanyakan tanpa suara, tentang sikap Niko. Namun Niko hanya memberi isyarat untuk tetap diam.
{ Kenapa harus sembunyi ? } batin Winda.
Sementara itu pembicaraan di ruang sebelah.
" Juan, aku mau tanya nih " kata Noel.
" Apaan ? " kata Juan.
" Winda. Menurutmu gimana anaknya ? " tanya Noel.
{ Eh... kok aku...??? } batin Winda, karena yang diomongin kebetulan dengar.
" Winda. Oh... adik kelas satu Tata Busana itu ? Kenapa memangnya ? " kata Juan memandang Noel.
" Tadi aku memergoki dia sedang mengintip Niko " kata Noel.
" Di kamar mandi ? " kata Juan.
" Enggaklah ( meninggikan suara ). Di belakang dekat pohon jambu, sampai kaget dia aku sapa " kata Noel.
" Mungkin suka Niko, sama seperti fans lainnya " Juan jawab asal.
" Ya bisa saja. Winda kan cewek, wajar dong kalau suka Niko. Kenapa jadi kamu yang merasa aneh ? " kata Juan.
" Enggak. Hanya... ingin tau pendapatmu saja" kata Noel.
" Winda... anaknya cukup manis, enak diajak ngobrol, mungkin kalau dia junior jurusan kita akan lebih seru lagi. Bisa digodain tiap praktek " kata Juan.
" Kamu perhatikan gak sih ? sikapnya Niko ke Winda itu berbeda ? " kata Noel.
" Iya sih, memang sedikit berbeda " kata Juan mengiyakan.
" Apa mungkin ? " Noel mengira-ngira.
" Entahlah. Gak ada yang bisa menebak jalan pikiran Niko " kata Juan.
Sementara yang sedang dibicarakan, mendengar semua percakapan dari balik dinding.
" Bagus kalau Niko suka Winda, tandanya dia move on. Sudah lah aku mau ambil kue di kulkas " kata Juan.
Juan berjalan menuju ruang penyimpanan.
" Ehh... pintunya terkunci ? " kata Juan.
" Masa sih ? tumben ? " kata Noel tidak percaya, Noel mencoba membuka tapi sama tetap tidak bisa dibuka.
" Aneh...? tidak biasanya di kunci ? " kata Noel heran.
" Gagal sudah makan kue " gumam Juan.
" Sudahlah, ayo keluar " kata Noel.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan, setelah sunyi sepi tidak terdengar suara apapun lagi.
" Akhirnya mereka pergi " kata Niko merasa lega.
" Kenapa, kita sembunyi kak ? " tanya Winda.
__ADS_1
" Kalau gak gitu, kita tidak bisa mendengar percakapan mereka berdua tentang kita " jawab Niko.
" Harus ya kak ? " tanya Winda.
" Aku tidak mau diganggu mereka saja " jawab Niko.
" Diganggu bagaimana kak ? " Winda tambah bingung.
" Hanya malas menjelaskan. Kalau mereka lihat kita berduaan, otomatis mereka bakalan tanya-tanya, apalagi Noel. Pasti Noel penasaran tujuanmu mengintip aku tadi " kata Niko mengingatkan kejadian di dekat pohon jambu.
" Ih... bukan mengintip, hanya nungguin ( membantah ). Aku pikir, kakak bakalan gengsi kalau ketahuan meroxxx di sekolah, apalagi sama aku yang notabene adik kelas kak Niko " Winda mengungkapkan alasannya.
" Kenapa bisa berfikir seperti itu ? " tanya Niko.
" Ya... karena ini di sekolah. Mungkin kalau lihatnya di luar sekolah akan terasa biasa saja. Aku gak kaget sih, aku sudah biasa lihat orang meroxxx, soalnya Bapak dan kakak ku juga meroxxx " kata Winda.
" Begitu ya...!!! " kata Niko.
" He'eh. Lagian wajar kalau kak Niko meroxxx. Teman cowokku waktu di SMP, dia meroxxx sudah dari kelas satu SMP, lebih parah kan " kata Winda.
" Kamu suka sama cowok yang meroxxx ? " tanya Niko.
" Aku sih gak masalah. Hanya saja jangan di depan ku, kalau Bapak atau kakak ku meroxxx, biasanya aku sedikit menjauh " kata Winda.
" Begitu ya " kata Niko.
" Kak...!!! Kuenya beneran habis " kata Winda menunjukkan kotak yang sudah kosong.
" Enak ya...? " tanya Niko.
" Banget. Aku terus makan walau kita tadi sembunyi " kata Winda tersenyum.
" Kalau kamu suka, lain kali aku buatkan lagi. Mau ??? " kata Niko.
" Tentu saja mau kak. Bener ya...? Janji...? " kata Winda sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada Niko.
" Iya janji " Niko melingkarkan jari kelingkingnya di jari Winda.
" Kak Niko sudah janji, gak boleh ingkar " kata Winda.
Winda mengambil hp nya dan mengamati jam, ternyata sudah jam nya pulang sekolah.
" Kak, keluar yuk ! Sudah jam nya pulang " kata Winda.
" Baiklah. Ayo keluar " kata Niko.
Saat Winda dan Niko keluar dari ruang penyimpanan, bertepatan dengan Rey membuka pintu dapur.
" Kalian di sini ? " tanya Rey.
" Hai kak ( menyapa ). Kak Niko ajak makan kue, tentu saja tidak aku tolak, tapi maaf sudah habis " kata Winda.
" Pintunya bisa dibuka ? " tanya Rey.
" Bisa, kenapa tidak " jawab Niko.
" Tadi kata Juan, pintunya di kunci " kata Rey bingung.
" Kan aku ada pegangan satu " kata Niko.
" Oo... iya, kamu kan pegang satu kemarin. LUPA..." kata Rey.
Niko menatap Winda, mengisyaratkan untuk diam, entah kenapa Winda patuh mengikuti perintah dari Niko.
.
.
.
( bersambung )
Keuntungan waktu praktek Tata Boga, habis praktek ya makan-makan, kalau masakannya enak tapi kalau sebaliknya ya sabar coba lagi.
Terima kasih sudah mampir membaca, silahkan beri kritik, saran dan dukungan dengan like dan komen 🙏🤗
__ADS_1