Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 71 Menemukan yang terlupakan.


__ADS_3

Niko, Noel, Rey dan Juan, empat senior yang sengaja ngikutin kepergian Winda dari belakang, karena mereka mau makan bersama, kenapa gak sekalian makan di warung milik orang tua Winda ? Semua itu tentu saja atas dasar ide dari Rey, yang mengatakan bakso buatan orang tua Winda enak, karena dirinya pernah memakannya.


Mereka berempat sudah duduk manis, dikhususkan satu meja buat mereka berempat, di meja juga sudah ada sajian menu bakso komplit, lengkap dengan semua tambahannya dan Ibu memperlakukan mereka berempat dengan sangat baik.


" Jadi Nak Niko, Nak Noel, Nak Juan dan Nak Rey, kalian berempat itu satu kelas, jurusan masak ? " tanya Ibu.


" Tata Boga Ibu " Winda membenarkan.


" Podo wae ( sama saja ). Trus yang ngajarin Winda les siapa ? " tanya Ibu menghadap mereka berempat.


" Saya Tante " jawab Rey.


" Ohh jadi Nak Rey, makasih ya sudah ngajarin Wiwin. Pasti buat jengkel ya pas les, Wiwin gak ngerti-ngerti dijelasin " kata Ibu.


" Sama-sama Tante. Ya lumayan sih, awalnya harus dijelasin berulang-ulang baru ngerti " kata Rey.


" Rambutmu diwarnai gitu ? Gak dimarah ? " tanya Ibu.


" Ibu...!!! " Winda menarik lengan sang Ibu agar berhenti bertanya.


" Monggo didahar, silahkan dinikmati mumpung masih panas " kata Ibu mempersilahkan.


" Iya Tante " menjawab serentak.


Mereka berempat pun mulai meracik makanan mereka masing-masing, sementara Winda hanya duduk diam menatap mereka secara bergantian dengan tatapan antara kesal dan juga malu. Bukan malu karena profesi kedua orang tuanya, tapi malu saja entah kenapa ?


" Kamu gak ikutan makan Win ? " tanya Noel.


" Wiwin bisa makan bakso setiap hari, pasti sudah bosan-bosan malahan " Niko yang menjawab.


" Eh... beneran enak loh " kata Juan.


" Kan, aku sudah bilang. Gak rugi kan, kita ngikutin Winda " kata Rey.


" Sudah aku duga, pasti idenya Kak Rey kan ini ? " kata Winda.


" Ya gak apa-apa, kita juga, jadi tau warung orang tuamu " kata Noel.


" Tapi kenapa ya ? Kok mereka pada ngelihatin kita ? " kata Juan lirih, sambil mengarahkan pandangan pada beberapa orang yang berbisik-bisik sambil melihat ke arah mereka.


" Ya wajar lah. Ada empat orang ganteng, makan bakso di pasar dan salah satunya mencolok banget " Winda mengarahkan pandangan pada Rey.


" Aku memang ganteng, wajar banyak fans " Rey berkata dengan sangat bangga.


Seketika mereka memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada makanan mereka masing-masing.


" Nduk Win " panggil Bapak.


" Dalem Pak ( iya Pak ) " spontan Winda menjawab dengan bahasa yang sama.


" Bapak Ibu arep nyang mburi, enteni ya. Engko nek kancamu mbayar, ora usah di tompo ( Bapak Ibu mau ke belakang, tunggu ya. Nanti kalau temanmu bayar, gak usah diterima ) " pesan Bapak.


" Injeh Pak ( Iya Pak ) " jawab Winda.


" Dihabiskan ya, Ibu tinggal dulu " Ibu berpamitan pada keempat tamunya.

__ADS_1


Setelah kedua orang tuanya pergi, Winda menatap tajam ke arah para karyawan yang membantu di pasar, melebarkan bola mata, memberi kode untuk bubar dan kembali ke tugas masing-masing.


Winda pun kembali duduk menemani para seniornya, sambil makan sambil bercerita dan sesekali saling melontarkan candaan. Serasa didukung, pas banget keadaan yang lagi sepi pengunjung, karena memang belum waktunya jam makan siang.


Setelah beberapa saat, ketika para senior sudah selesai makan, tanpa berlama-lama mereka segera berdiri keluar dan ketika Noel hendak membayar, ditolak dengan halus oleh Winda.


Sebelum mereka pergi, Noel membisikkan sesuatu di telinga Winda yang disambut anggukkan kepala. Setelah kepergian para seniornya, tatapan Winda mengarah pada bangunan pasar yang lantai dua dan dirinya teringat sesuatu, yang masih mengusik pikirannya.


Winda berjalan menuju lantai dua, langsung menuju ke arah salon Mbak Yu, mengamati sekeliling, mencari posisi tempat foto dan terlintas bayangan-bayangan dalam kepala Winda.


Foto


Jaket hitam


Luka lebam


Bayangan-bayangan tersebut terlintas di kepala Winda bergantian, masih ada yang mengganjal, ada yang terlupakan dan itu benar-benar mengusik pikiran Winda. Kembali mengarahkan pandangan ke sekeliling, mengamati sekeliling, mencari dan pandangan Winda mengarah pada tangga.


Tangga


Tangga...???


Suatu bayangan-bayangan kembali terlintas di kepala Winda


Tangga


Jaket hitam


Luka lebam


Seorang pemuda


Membalut luka


Kue


Foto


" Kakak.... ??? " gumam Winda lirih.


Saat seperti mendapatkan potongan puzzle yang hilang, Winda mengingat yang terlupakan, tapi dirinya ragu dengan ingatannya barusan. Apa benar dia ??? Bagaimana kalau bukan ? Hanya mirip ? Suatu kebetulan ? Atau memang dia ???


Winda berjalan mendekati tangga, mengingat kembali pertemuan tersebut, kembali duduk di tempat yang sama, Winda tersenyum mengingat sesuatu. Pertemuan pertama kita.


Jika tebakan Winda semuanya benar, maka di tempat dirinya duduk ini lah, tempat pertama kali mereka bertemu dan bukan saat di sekolah. Kalau benar ??? Bisa saja hanya kebetulan rada mirip ? Harus cari tau dulu, memastikan semuanya.


Disaat duduk diam, Winda dikejutkan suara sapaan yang cukup akrab, namun saat Winda berbalik dia gak sendirian. Untuk beberapa saat mereka bertiga, hanya diam saling memandang satu sama lainnya dan begini lah akhirnya ketahuan juga kan ?


" Kamu ngapain Win ? Duduk sendirian di sini, kesambet penghuni pasar tak kasat mata, repot loh urusannya " kata Reza.


" Berisik ahhh...!!! " balas Winda setengah membentak.


Winda mengarahkan pandangan pada Lovely, mengambil napas panjang dan mulai tersenyum. Spontan Lovely membalas tersenyum.


" Kalian ....??? " kata Winda mengarah pada Reza dan Lovely.

__ADS_1


Tidak ada kata yang terucap, hanya ada anggukkan kepala dari Reza, seolah mengerti dan mengiyakan dari yang akan Winda ucapkan selanjutnya. Winda pun tersenyum lebar sembari mengucapkan selamat kepada keduanya.


" Cie...( menggoda keduanya ) traktirannya mana nih ...??? " kata Winda.


" Kapan-kapan dech...!!! " kata Reza.


" Maaf ya Lovely, aku tidak bermaksud untuk menipu mu. Sebenarnya aku sudah mengenal Reza dari lama, iya kan Za " kata Winda.


" Bisa dibilang dari kecil. Dari pertama kali Wiwin pindah ke lingkungan tempat tinggalku" kata Reza menjelaskan.


" Wiwin ??? " tanya Lovely.


" Nama kecilnya Winda " kata Reza.


" Ohhh...!!! " kata Lovely.


" Kamu juga nipu aku Win ! Kamu gak bilang padaku, kalau Lovely satu jurusan dan satu kelas denganmu " Reza mulai kesal.


" Ya ngapain ??? Kalian kenalan bukan aku yang kenal kan dan aku gak mau ikut campur, dalam urusan cinta kalian ( berkata lirih ). Aku gak mau ikutan ribet ! " kata Winda rada ngegas di kalimat terakhir.


" Yang mau ngeribetin kamu itu juga siapa sih ? GR betul jadi orang ! " Reza gak mau kalah.


" Kalau aku bilang, pasti kamu bakalan tanya-tanya tentang Lovely, terus nanti aku, kamu jadi kan tukang pos, nitip-nitip barang ini itu, karena sebelumnya kamu pernah begitu " kata Winda.


" Jadi Reza begitu Win ??? " tanya Lovely.


" He'eh, dia ini rada parah kalau dekatin cewek, jadi kadang bikin aku kesel, apa lagi kalau...." kata Winda.


Kalimat ucapan Winda tak dilanjutkan, sebab tangan Reza buru-buru membekap mulut Winda, memberi tatapan mata lebar dan mulut tersenyum dengan paksa. Bukannya menaruh rasa curiga, Lovely justru tertawa kecil melihat tingkah keduanya.


" Jadi itu alasannya, kamu diam saja ? Pura-pura gak kenal ? " tanya Lovely.


" Lihat hasilnya sekarang. Kalian pacaran. Jadi kedepannya, JANGAN NGEREPOTIN AKU, PAHAM KAN !!! " kata Winda mengarah bergantian pada keduanya.


" Iya bawel " kata Reza.


" Ayo, mampir makan bakso di warung orang tuaku ( menggandeng Lovely ) Tenang saja, Reza yang bayar " kata Winda.


" Gak gratis kah ??? " goda Reza.


" Gratis...!!! Nanti lebaran " kata Winda.


Winda menarik tangan Lovely, menjauh meninggalkan tempat tersebut dengan diikuti Reza dari belakang. Kembali menyusuri jalan yang tadi Winda lalui saat datang.


Sepanjang jalan Winda dan Lovely terus berbincang-bincang mengenai Reza, Lovely bertanya banyak hal dan sedang dibicarakan hanya bisa diam mendengarkan sambil manyun, karena dicuekin.


Sesekali Lovely tertawa mendengar cerita dari Winda, dalam hati Winda merasa lega. Lovely tidak marah atau pun kesal, Lovely menerima alasan Winda dengan baik dan mengerti, mengapa sampai melakukan hal tersebut. Semoga saja benar-benar tidak kesal ???


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗 maaf baru update 🙏🙏


__ADS_2