Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 60 Telur dadar


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Winda segera membaringkan badannya di atas kasur, kepalanya serasa berat, pengen tidur tapi sadar, hari sudah sore dan dirinya belum mandi. Dengan malas Winda segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai ritual dari kamar mandi, Winda memasuki kamarnya dengan kepala yang terlilit handuk. Ingin membaringkan badannya lagi, namun pandangan mata malah tertuju pada baju kaos milik Niko. Baju yang sengaja, terus dipakai sampai rumah dan akan dikembalikan setelah dicuci bersih.


Winda menarik napas panjang, kejadian di kosan Niko benar-benar sangat membuat Winda menjadi salah tingkah, terutama menghadapi tatapan Noel, beruntungnya ada Rey yang mencairkan suasana, sehingga tidak terlalu canggung-canggung amat.


Flash back on


" Loh ? Winda, kamu di sini juga ? Eh...! Kenapa kamu pakai baju Niko ? " kata Juan saat melihat Winda.


" Kita mau masak bareng. Iya kan, Win ? " Niko menjawab dari arah dapur.


" He'eh. Kita mau masak, ganti baju, takut baju seragam kotor " jawab Winda.


" Besok kan pakai batik Win " kata Noel mengingatkan.


" Emmm ( berfikir ) sayang kalau baju putih kena noda " Winda menjawab asal.


" OK ( menepuk tangan dengan keras ). Kita masak bareng, tapi... Winda gak boleh ikutan ( berhenti sejenak ) Winda akan jadi jurinya " kata Rey melontarkan ide spontan.


Pada akhirnya, hanya para cowok yang sibuk memasak di dapur, sementara Winda malah duduk manis di ruang tamu menonton TV. Saat Winda akan menuju dapur, langsung di halangi tidak boleh masuk, disuruh kembali duduk, tidak boleh mengintip.


Satu lawan empat suara, Winda kalah telak, mau tidak mau mengikuti ide dari Rey. Gayanya ganti baju, mau masak, ujung-ujungnya cuma diam saja, tidak melakukan apa-apa. Winda menunggu dengan harap-harap cemas, ide apa lagi yang Rey miliki ?


Beberapa saat kemudian, setelah para chef SMK NEGERI 2 sibuk di dapur, keluar lah mereka, dengan piring-piring berisi nasi putih dan telur dadar.


Nasi putih dan telur dadar ?


Winda memandangi makanan yang sudah tersaji di atas meja ruang tamu, satu piring berisikan empat potong telur dadar, khusus buat Winda seorang. Winda melihat telur dadar, lalu melihat ke para cowok secara bergantian.


" Sekarang kamu cicipi dan pilih salah satu, yang paling kamu suka, ingat pilih satu, tidak boleh bilang semuanya enak. HARUS PILIH SATU " kata Rey menekan kan untuk memilih satu.


Winda segera mencicipi satu-satu dari telur dadar yang tersedia di piringnya, semuanya terasa enak di lidah Winda, sangat berbeda jauh dengan telur dadar buatannya.


Winda mengamati kembali ke arah piring, harus pilih salah satu dan dengan yakin Winda menunjuk salah satunya. Seketika terdengar keluhan dari mulut Juan dan Rey, sementara Noel menghembuskan napas dengan kasar.


" YAAHHH kalah dech...!!! " kata Juan.


" Selalu saja...!!! " kata Rey.


" Memangnya, yang aku tunjuk, masakan siapa ? " tanya Winda.


Seketika mereka bertiga kompak menunjuk ke arah Niko. Niko hanya tersenyum kecil ke arah Winda.

__ADS_1


" Kak Niko ? sungguh ? " Winda memastikan lagi.


" Apa yang membuat mu suka ? " tanya Juan.


" Coba bilang, aku ingin tau ? " sambung Rey.


" Semuanya enak, tapi yang ini ( menunjuk ) teksturnya lembut, tidak terlalu garing. Sangat beda jauh dengan buatan ku " kata Winda.


" Urutannya bagaimana ? " tanya Rey.


Winda pun menunjukkan urutannya dari yang paling dia suka, seketika Juan dan Rey kembali menggerutu, tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa mereka.


" Urutannya, Niko, Noel, Juan dan aku " kata Rey sedikit cemberut.


" Ya sudah. Ayo makan, sayang kan, cuma dilihatin " Winda mengalihkan pembicaraan.


Tanpa banyak bicara lagi, mereka menikmati hidangan di piring masing-masing, menu sederhana tapi terasa sangat nikmat, mungkin karena kebersamaannya. Winda melirik ke arah Noel, masih bersikap cuek dan tidak banyak bicara.


Selesai makan, Winda sengaja mencuci semua peralatan kotornya atas inisiatif sendiri, dirinya tak enak hati, dari tadi sudah duduk diam, tak membantu apa pun. Ketika Winda sibuk mencuci piring, Niko berdiri di samping, hendak membantu, tapi langsung ditolak Winda.


" Kakak ke depan saja, sebentar lagi selesai kok " kata Winda.


" Win, kamu mau, aku ajari buat telur dadar nya ? " tanya Niko.


" Hem " kata Niko sambil tersenyum.


" Tentu saja mau. Dah sana ke depan, cuci piring adalah keahlian ku " kata Winda.


" OK " Niko berbalik dan menuju ke ruang tamu.


Winda kembali fokus pada cucian piring, Winda sedikit melirik ke samping ada seseorang yang berdiri d belakanganya, tanpa menoleh Winda pun bercakap asal tebak.


" Kenapa Kak Niko ? ada yang mau diambil ? " tanya Winda.


" Niko...??? " ucap Noel.


Waduh Noel dong ? Winda terdiam sesaat, merasa sedikit malu karena sudah salah menebak.


" Maaf Kak, aku pikir.... " kata Winda.


Tidak melanjutkan perkataan, Noel tiba-tiba memeluk Winda dari belakang, melingkarkan tangan di perut Winda, meletakkan dagu di atas bahu Winda, seperti sebuah ritual, Noel mulai mencium dengan berlahan dan menghirup dalam-dalam beberapa kali.


" Kak...!!! Tolong lepas...!!! " ucap Winda lirih.

__ADS_1


" Aku, kangen bau mu, sebentar lagi " ucap Noel.


" Kak...!!! " ucap Winda sedikit meninggi dari yang pertama.


" Iya...!!! " Noel terpaksa menuruti perkataan Winda.


Winda kembali fokus dengan cucian piringnya, dalam hatinya ingin sekali menanyakan alasannya, kenapa dirinya dicuekin ? Apakah dirinya juga terhasut dan percaya dengan gosip yang beredar ? Tidak kah ingin tau, cerita yang sebenarnya.


Winda menghela napas panjang, semua pertanyaannya hanya bisa di simpan dalam hati, untuk saat ini, serasa berat banget keluar dari mulutnya, Winda ragu-ragu untuk bertanya, tapi penasaran juga dan ingin tau alasan di balik sikap Noel.


" Kak, a......." ucap Winda.


Baru saja nekad mau memberanikan diri bertanya, tapi gak jadi, karena Juan tiba-tiba berlari menuju kamar mandi. Gagal deh, mau tanya ?


Flash back off


Lamunan Winda buyar, kala mendengar suara sang Kakak memanggil namanya, dari luar kamar, Winda bergegas keluar kamar.


" Kenapa ? " kata Winda.


" Ini dek, buat kamu " Widi menyerahkan dua biji mangga yang masih muda.


" Mangga muda ? Emangnya aku nyidam ? " kata Winda sambil menerima mangga tersebut.


" Ini, mangga orang sebelah " kata Widi berbisik.


Orang sebelah ? Orang sebelah yang punya pohon mangga kan, cuma rumahnya Ajeng ? Berarti ini, mangga dari rumahnya Ajeng ? Winda melebarkan pandangannya, serasa gak percaya dan Widi balas dengan tersenyum lebar, menyatakan iya.


" Seriusan Mas ? " tanya Winda.


" Tadi malam, rame-rame kita sikat buah mangga nya, kita sisain sebiji, itu pun yang kecil banget " kata Widi bangga diri dong, sudah nyolong mangga tetangga sebelah.


" Harusnya Mas ajak aku " kata Winda.


Begini sudah kalau kakak dan adik, pas lagi sefrekwensi, cocok banget bisa nyambung, biasanya konslet mulu.


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2