Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 51 Menikmati


__ADS_3

Winda mengambil dua bungkus kue, beberapa bungkus permen, sebotol teh kemasan, menenteng tas kecilnya dan secara berlahan pergi menjauh meninggalkan Vera dan Jevi. Winda melihat sekeliling, ada beberapa orang yang naik ke atas lagi, Winda pun jadi penasaran, lalu memutuskan ikut naik ke atas, berjalan lewat pinggiran aliran air dan nyeker dong, karena lupa bawa sandalnya.


Sesampainya di atas, ternyata ada beberapa orang yang sudah duduk secara berpasangan, jangan ditanya lagi ? sudahlah pasti mereka pacaran. Winda terus berjalan naik ke atas lagi, sebab tak ingin mengganggu, biar pun gak kenal, tapi gak enak juga rasanya, gimana gitu ?


Winda begitu takjub dengan pemandangan yang ada dihadapannya ini, ke depan ada aliran air terjun yang cantik di lihat dari atas, di belakang ada aliran air yang tidak terlalu deras, di bagian atas terdapat kolam-kolam kecil yang cocok banget untuk berendam.


Winda mencari tempat duduk yang pas untuk meletakkan barang bawaannya, setelah mengamati beberapa saat, dirinya mendekati sebuah batu yang cocok, meletakkan barang bawaan, duduk sebentar sambil merendamkan kaki.


Posisi duduk Winda rada jauh dari para pengunjung lainnya, mungkin hanya dirinya di tempat tersebut, suasananya benar-benar nyaman, suara aliran air, pepohonan tertiup angin dan sayup-sayup terdengar suara pengunjung yang di bawah sana.


Melihat kolam-kolam bulat tersebut, membuat Winda jadi ingin berendam, bangkit dari duduknya, mencari kolam yang sesuai, tidak terlalu dalam, memasukkan kaki mengecek kedalamannya, setelah beberapa kolam diperiksa akhirnya menemukan satu kolam yang pas untuk berendam.


Winda duduk di dalam kolam, melepaskan ikat rambutnya, memasukkan ke pergelangan tangan supaya tidak hilang, mulai membungkukkan badan, membasahi wajah dan rambutnya, sesekali Winda membenamkan seluruh badan dan menahan napas beberapa detik.


Winda mulai menggosok-gosokkan tangannya secara bergantian, mengeluarkan daki-daki yang menempel di permukaan kulit, coba bawa sabun, sekalian mandi deh. Winda mengeluarkan sisir kecil dari saku celananya, mulai menyisir rambut basahnya dengan perlahan, sesekali mencelupkan sisir ke dalam air untuk menghilangkan rambut rontok yang menempel.


Winda begitu menikmati waktu kesendiriannya ini, sesekali dirinya bersenandung dengan suara lirih. Semua pergerakan Winda berendam, diamati oleh seseorang dari pinggir aliran sungai, pandangan mata selalu tertuju pada Winda, menikmati setiap pergerakan, pemandangan yang benar-benar langka.


Sayangnya semua itu tidak berlangsung lama, Winda berbalik dan menyadari keberadaan orang tersebut. Untuk sesaat mereka berdua terdiam, hanya saling memandang dan sesaat kemudian, keduanya tersenyum.


Winda terdiam untuk memastikan dulu, kalau dirinya tidak salah lihat dan ternyata memang tidak salah lihat. Winda segera berdiri, keluar dari dalam air, nampak butiran air menetes dari baju dan rambut Winda.


" Apa aku mengganggu ? " tanya Noel.


Winda hanya menggelengkan kepalanya, kalau boleh jujur, bukan mengganggu, namun lebih ke arah terkejut, Winda berjalan berlahan ke arah batu tempat dirinya meletakkan barang bawaannya, begitu juga dengan Noel, setelah melepaskan sepatunya terlebih dahulu.


" Jevi tidak bilang, kalau datang dengan Kakak " kata Winda.


" Dia tidak tau, kalau aku mengikutinya " kata Noel tanpa dosa.


Winda menyipitkan pandangan matanya, lalu duduk di atas batu, saat Noel hendak duduk di sebelahnya, Winda memperingatkan, jangan dekat-dekat karena bajunya basah, namun Noel tidak menghiraukannya dan tetap duduk di sebelah Winda, TEPAT.

__ADS_1


" Memangnya, kenapa kalau basah ? cuma basah air kan ? " kata Noel malah menempel.


" Basah ya air lah Kak, emang ada yang lainnya ? " kata Winda sambil menyibakkan rambutnya ke arah lain, memeras rambut supaya tetesannya tidak mengenai baju Noel.


" Winda " panggil Noel.


" Ya " spontan Winda mengarahkan pandangan ke Noel.


" Bibirmu sedikit membiru, seperti pakai lipstik " kata Noel.


" Mungkin, karena kelamaan di dalam air. Oh ya, Kak Noel mau kue ? " Winda menawarkan kue yang dibawanya tadi.


Menikmati kue, masing-masing dapat satu, Winda jadi sedikit menyesal, kalau tau ada Noel, ngambil rada banyak tadi, melirik minuman juga cuma bawa satu botol, mana sudah diminum seperempat, masa iya ditawarin bekas ? gak sopan dong ?


Winda terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, kalau dirinya minum ? trus Noel gak minum ? kok gak sopan ? Mau ditawarin tapi bekas ? gak sopan juga ? Jadi bingung kan ?


Noel meraih kedua tangan Winda dan menggenggamnya, terasa dingin dan sedikit keriput.


" Tanganmu dingin ! " kata Noel.


" Kamu, tidak merasakan dingin ? " tanya Noel.


" Mulai dingin sih, tapi gak apa-apa, aku suka suasananya, bikin nyaman " kata Winda sambil menarik kedua tangannya.


Mereka berdua pun duduk bercerita, membicarakan alasan Winda naik ke atas, meninggalkan Jevi dan Vera berduaan, agar Jevi mendapatkan peluang lebih dekat lagi sama pujaan hatinya, sebenarnya alasan penting adalah Winda tak ingin menjadi obat nyamuk mereka.


" Kalau Kak Noel bagaimana ? Gak mungkin kan ? jauh-jauh ke sini, cuma ngikutin Jevi aja ? Pasti ada sesuatu kan ? ketemu seseorang misalnya ? " kata Winda.


" Iya, menemuimu " jawab Noel tegas.


Winda tertawa kecil karena tak mempercayai ucapan Noel, namun seketika Winda terdiam, kala Noel menatap dengan serius. TIDAK , tidak mungkin ? Masih mencoba untuk tidak percaya.

__ADS_1


" Winda, aku...." ucap Noel.


Nada dering dari Hp Winda terdengar sangat nyaring, dengan cepat Winda mengambil Hp nya, tertera Vera memanggil, baru saja diangkat, langsung terdengar suara teriakan Vera, menanyakan dirinya ada di mana ? dan menyuruhnya cepat kembali.


Winda menggosok-gosok telinganya yang sedikit berdengung karena mendengar teriakkan Vera di Hp, menghembuskan napas dan segera menyimpan kembali ke dalam tas kecilnya.


" Harus turun sekarang, Vera sudah sadar aku gak ada " kata Winda.


" Tunggu " Noel menahan, melepaskan jaketnya dan mengenakannya pada Winda.


" Kak, nanti jaketnya basah " Winda menolaknya.


Walau pun alasan Winda tepat, namun Noel tetap memaksa, memakaikan jaket di badan Winda.


" Cukup aku yang lihat, orang lain, GAK BOLEH " kata Noel.


Winda memiringkan kepalanya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung, tidak paham, maksud dari perkataan Noel. Mereka berdua segera berdiri, berjalan menepi ke pinggir aliran sungai.


Awalnya Noel hendak memakai sepatunya kembali, tapi saat melihat Winda bertelanjang kaki, dirinya mengurungkan niatnya. Noel berjalan di depan, tangan kanannya menggandeng tangan Winda, sementara tangan kirinya menenteng sepatunya.


Selama berjalan ke bawah, Noel terus menggenggam tangan Winda, tak pernah dilepaskan sedikit pun, saat ada yang memperhatikan mereka, Noel langsung menunjukkan wajah juteknya, seolah-olah berkata, APA LIHAT-LIHAT ?


Winda menjadi sedikit heran, ada apa dengan Kak Noel ?. Heran, bingung dan sekaligus deg degan, jantungnya terus berdebar-debar, kenapa ya selalu begini ?


Winda menggelengkan kepalanya membuang semua pikiran yang aneh-aneh, gak mungkin, itu gak mungkin.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2