
Saat jam istirahat tiba, Winda dan Nansi memutuskan untuk makan di kantin sekolah, tapi saat di kantin sekolah, Winda langsung menghembuskan napas panjang dengan kasar.
" Ramenya " gerutu Winda.
" Namanya jam istirahat, ya rame lah " ucap Nansi.
Melihat kerumunan para murid yang antri membeli makanan Winda dan Nansi memutuskan untuk membagi tugas saja. Winda pergi antri untuk memesan makanan, sementara Nansi mencari tempat duduk kosong untuk mereka berdua.
Setelah antrian yang lumayan, beberapa saat kemudian, Winda datang menghampiri Nansi dengan pesanan makanan Nansi terlebih dahulu, setelah meletakkan mie goreng dan es teh manis di atas meja, Winda bergegas kembali lagi untuk mengambil pesanannya sendiri, sekaligus membayar makanan yang ia pesan.
Pada saat membayar makanan, masih ada kembalian sebesar seribu rupiah, namun Winda memutuskan untuk menukarkan kembalian dalam wujud permen saja. Penjual pun memberi beberapa bungkus kecil permen di tangan Winda.
" Terima kasih " Winda menerima beberapa bungkus kecil permen.
Saat Winda hendak memasukkan permen ke dalam kantong, tangannya dicegah oleh Nevan yang kebetulan berdiri di sampingnya.
" Winda, tunggu. Boleh lihat permennya gak ?" Nevan menarik tangan Winda.
" Itu di toples ada banyak Van, beli saja sendiri " Winda menarik tangannya supaya lepas.
" Siapa yang mau minta permen mu " Nevan kesal.
" Lah ? Trus, ngapain dong ? " tanya Winda.
" Cuma mau lihat, sebentar saja " Nevan memaksa.
" Ya udah, nih lihat " Winda membuka genggaman tangannya.
Nevan mengamati bungkusan permen satu per satu, dipegang, dibalik dan setelah itu, ia pun tersenyum lebar. Melihat hal tersebut Winda benar-benar sangat heran dan bertanya-tanya untuk apa ?
" Satu permen ini, buat aku ya ? " kata Nevan.
" Tadi katanya gak minta ? gimana sih ? GAK BOLEH " kata Winda.
" Yaellah Win, satu saja juga, boleh ya " Nevan membujuk.
" Beli tuh sendiri, gak punya uang apa ? " kata Winda.
" Menghina ya...!!! tentu saja punya " Nevan tidak terima dikatain.
" Trus, kenapa minta permenku ? " Winda masih protes.
" Permen ini aku minta ( memasukkan permen di saku bajunya ) dan...( merogoh saku celananya ) semua permen ini buatmu" kata Nevan.
Mata Winda benar-benar terbelalak melihat tangannya penuh dengan bungkusan kecil permen dari Nevan.
" Baik kan aku. Terima kasih Winda " Nevan langsung cabut pergi.
Winda menatap kepergian Nevan dengan penuh keheranan, satu bungkus permen diganti dengan setumpuk permen ? Mungkin Nevan salah makan ? makanya bersikap aneh, itulah yang ada di benak Winda.
Winda segera memasukkan semua permen ke dalam saku bajunya, sangking banyaknya permen, saku bajunya sampai membengkak.
" Kenapa dada mu, jadi besar sebelah Win ?" tanya Nansi.
" Apaan sih, ini tadi di kasih permen sama Nevan " kata Winda.
" Nevan ? kasih kamu permen ? tumben ? " Nansi heran.
__ADS_1
Winda pun menjelaskan, kalau Nevan meminta satu permen miliknya, sebagai gantinya Nevan memberikan Winda segenggam permen miliknya, cukup aneh memang ?
Hal tersebut membuat Nansi penasaran dan ingin tau, permen apa yang diminta Nevan ? Winda mengambil beberapa bungkus permen dari saku bajunya dan menunjukkan pada Nansi.
Saat melihat permen tersebut, Nansi langsung bisa menebak kenapa Nevan menginginkan permen tersebut, itu karena tulisan dibalik kemasan.
Winda membaca beberapa bungkus permen, kini Winda menyadari di setiap bungkusnya memiliki tulisan yang berbeda. Mata Winda tertuju pada tulisan yang bagus dan menyodorkannya pada Nansi, yang membuat Nansi tersenyum lebar. Tulisannya adalah Best friend.
*
Sementara itu Nevan berlari kesana kemari mencari seseorang, dirinya sudah tidak sabar untuk memberikannya.
Sorot mata Nevan seketika berubah saat melihat orang yang dicarinya berada dihadapannya, bibirnya tersenyum dengan lebar. Nevan berjalan mendekat dengan perlahan, langkah kakinya tidak seirama dengan degup jantungnya.
" Vera " Nevan memanggil.
" Ada apa ? " jawab Vera.
" Ulurkan tanganmu " pinta Nevan.
" Mau ngapain ? " kata Vera sedikit jutek.
" Ulurkan saja, ayo lah... " kata Nevan.
Karena malas berdebat Vera mengikuti, apa yang diminta oleh Nevan, saat Vera mengulurkan tangannya.
" Buka telapak tanganmu " pinta Nevan.
Vera membuka telapak tangannya dan Nevan meletakkan sebungkus permen di telapak tangan Vera. Vera hanya menatap heran, saat melihat permen tersebut.
" Ini untukmu, jangan lupa dimakan ya, aku pergi dulu. Bye Vera " Nevan segera buru-buru pergi meninggalkan Vera yang masih kebingungan.
*
Selesai dari kantin, Winda dan Nansi kembali ke kelas, dalam perjalanan mereka berdua bertemu dengan Vera, seperti biasa mereka akan saling bercerita tentang apa saja yang mereka ingin bicarakan.
Saat sedang asyik berbicara, pandangan mata Winda tidak sengaja mengarah pada sesuatu yang di tangan Vera. Winda penasaran namun, tidak bertanya, justru tanpa ditanya pun, justru Vera sendiri yang bercerita, kalau barusan dirinya dapat permen, tapi anehnya cuma dikasih sebiji saja dan pesan dari pemberi permen, jangan lupa dimakan.
" Coba lihat permennya ? " Winda mulai penasaran.
Vera pun memperlihatkan permen di tangannya, Winda mengamati permen tersebut, dari merek dan warnanya bungkusan, mirip banget dengan yang dibelinya tadi di kantin dan yang diminta oleh Nevan, kira-kira tulisannya apa ya ?
Winda membalikkan permen tersebut dan mendapati tulisan I LOVE YOU di belakangnya.
{ Jadi tulisan ini yang dia cari ? } batin Winda sambil tersenyum saat membacanya.
" Kamu kenapa Win ? " tanya Vera.
" Ahh enggak, gak apa-apa kok, lucu aja " kata Winda.
" Coba lihat, emangnya tulisannya apa ? " Nansi mengambil dari tangan Winda.
Saat Nansi membacanya langsung menyadari maksud dan tujuannya.
" Permen ini, tadi dari siapa ? " tanya Nansi.
" Dari Nevan " jawab Vera.
__ADS_1
" Kamu tidak baca tulisan di belakangnya ? " tanya Nansi.
" Emang apa tulisannya ? ( mengambil dari tangan Nansi ). I LOVE YOU ( membaca ) bagus juga tulisannya " Vera dengan santai.
" HAH ? KAMU GAK PAHAM apa maksudnya ini ? " kata Nansi.
" Mana mungkin ada maksudnya, ini cuma kebetulan saja " bantah Vera.
" Bagaimana kalau bukan kebetulan ? " kata Winda.
Winda dan Nansi menatap Vera dengan begitu serius, memberikan kode kalau itu bukan kebetulan, namun merupakan pernyataan cinta.
" Haaiiss, bagaimana mungkin Nevan..." kata Vera masih menyangkal, setelah itu, Vera terdiam, dia tidak melanjutkan kalimatnya.
" Nah lohh, berfikir juga kan dirimu " Nansi menggoda Vera.
" Apa iya begitu ? " tanya Vera.
" Bisa jadi... " kata Nansi.
Vera kembali terdiam, mengingat saat Nevan memberikan permen tersebut, kalau ini bukan suatu kebetulan ? dengan tulisan I LOVE YOU itu tandanya, berarti Nevan ?. Seketika Vera melebarkan bola matanya karena benar-benar terkejut.
Nansi hanya menggelengkan kepala, atas sikap Vera, malas berkomentar, Nansi menarik tangan Winda, menjauh dan meninggalkan Vera begitu saja.
" Kalian ini, tidak membantu " kata Vera menyusul.
" Itu masalah mu, kamu nya saja yang tidak peka " kata Nansi.
" Cie... Vera...." Winda menggoda Vera.
Winda terus menerus melontarkan candaan kepada Vera, yang membuat Vera merasa malu, sampai meminta Winda untuk menghentikan candaannya, namun Winda terus menggoda, sampai dititik kesalnya, Vera mencubit lengan Winda dengan sekuat tenaganya, kemudian Vera berjalan duluan, meninggalkan kedua temannya itu, Nansi hanya tersenyum melihat hal tersebut.
" Itu permen yang Nevan minta dari mu kan ?" tanya Nansi.
" Iya, aku rasa Nevan sengaja mencari permen yang ada tulisannya I LOVE YOU, jadi menurutku Nevan beneran suka sama Vera " kata Winda.
" Kayaknya sih begitu " kata Nansi.
" Kasihan " gumam Winda.
" Kasihan ? Siapa yang kasihan ? " tanya Nansi.
" Kasihan si Nevan, sudah susah payah cari permennya, giliran dikasih ke orangnya, malah si Vera gak peka. Kasihan kan ? " kata Winda.
" Iya juga ya ( menganggukkan kepalanya ) gimana kira-kira kelanjutannya ? bagaimana menurutmu ? " kata Nansi.
" Entahlah ( mengangkat bahunya ) aku bukan ahlinya " kata Winda.
Winda pun jadi teringat dengan Jevi, karena Jevi juga menyukai Vera, kasihan Jevi, memiliki saingan dan saingannya teman sendiri. Winda pun jadi memikirkan, bagaimana kalau Jevi dan Nevan, saling mengetahui, kalau mereka menyukai cewek yang sama ? kira-kira apa reaksi mereka ? bagaimana ? masih berteman ? atau ???
Winda segera menggelengkan kepala, membuang pikiran negatif tersebut jauh-jauh.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗