Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 15 Bunga mawar fondant.


__ADS_3

Winda begitu senang melihat bunga fondant di tangannya, bunganya benar-benar cantik tampak seperti bunga asli.


" Bunga yang cantik " kata Nansi.


" Iya, bunganya cantik. Seperti bunga asli kan ? " kata Winda.


" Ini, bukan bunga mawar ? " Nansi bertanya.


" Bukan. Ini fondant, kak Noel yang buat. Cantik kan...!!! " Winda memamerkannya.


" Aku pikir, tadi bunga asli " kata Nansi.


" Apa itu Win ? Bunga ? " tanya Vera.


" Iya, dari kak Noel " kata Winda menunjukkan pada Vera.


" Dibuat dari fondant, mirip asli ya ? " kata Nansi.


" Bisa dimakan berarti ? " tanya Vera.


" Tentu saja bisa, rasanya manis. Mau coba ?" kata Winda.


Winda melepaskan satu kelopak dengan hati-hati dan membagikan pada Vera dan Nansi.


" Lovely, kamu mau coba ? " tanya Winda.


" Boleh " kata Lovely.


" Eh... iya manis " kata Vera.


" Kak Noel yang buat ini ? " Nansi masih tidak percaya.


" Iiihhh bener, kak Noel yang buat " kata Winda menyakinkan.


" Kamu beneran keliling dapur Boga ? " tanya Vera.


" Iya. Trus aku ketemu kak Rey, dia ajak aku lihat kue pengatinnya. Kuenya cantik susun tiga. Sayangnya gak boleh sembarangan masuk harus pakai baju khusus. Pintu dapur juga selalu tertutup dan terpisah dari yang lainnya " kata Winda.


" Tapi kenapa kamu boleh masuk ? ' tanya Nansi.


" Aku pakai seragamnya kak Rey " jawab Winda.


" Seriusan ? " tanya Lovely.


" Iya benar. Awalnya aku pikir, aku dikerjain sama kak Rey. Tapi... setelah aku pikir lagi, sepertinya memang harus steril, tidak boleh sembarangan orang masuk, karena kue tart harus bersih kan, gak boleh sampai kotor, apalagi rambut nempel " kata Winda.


" Mungkin juga sih, kan rawan kena debu " kata Vera.


" Siapa saja dalam ruangan itu ? " tanya Lovely.


" Kak Noel, kak Rey, kak Juan dan kak Niko " kata Winda.


" Kak NIKO...??? " Lovely dan Vera serentak.


" Iya, kak Niko " kata Winda.


" Seriusan...??? " Lovely dan Vera masih tidak percaya.


" Iya...!!! Kenapa...??? " Winda bingung.


" Yakin kak Niko ? " Lovely masih mempertanyakannya.


" He'eh kak Niko. Malahan kak Niko dan kak Juan menghias kuenya dengan but... butter cream, ya butter cream " kata Winda.


" Jadi penasaran aku...??? " kata Nansi.


" Kenapa gak ambil foto Winda, biar kita tau " kata Vera.


" Gak kepikiran. Lagipula hp ada di tas " kata Winda.


" Coba bayangin, kak Niko lagi hias kue ? ( menghayal ). Hemm... rada susah..." kata Lovely.


" Kamu sih Nansi, tadi diajak gak mau. Coba mau kan, bisa lihat " kata Winda.


" Kue pengantin ya...? Berarti terima catering pernikahan ya ? " tanya Nansi melihat ke arah Winda.


" Kata kak Rey sih gitu. Sekolah ini benar-benar keren, aku bangga telah menjadi murid di sekolah ini " Winda menatap sisa bunga fondant di tangannya.


" Sampai kapan, mau kamu lihatin terus...? " tanya Nansi.


" Sudah di potek pun masih cantik " kata Winda tersenyum.

__ADS_1


Sesaat kemudian Winda memasukkan bunga fondant ke dalam mulutnya, seketika rasa manis menyebar di dalam mulut Winda, yang membuat dirinya tersenyum lebar karena bahagia.


" Seperti dapat dari pacar saja...!!! " ledek Nansi.


" Bagaimana bisa tau, Winda kan belum pernah pacaran " ledek Vera.


" Benar saja, daripada kalian dapat dari pacar bunga yang bisa layu, ujung-ujungnya di buang juga " Winda membalas dengan telak.


" Hahahaha ( Lovely tertawa ). Kalian kena telak " kata Lovely.


Winda tersenyum lebar, sementara Nansi dan Vera berwajah masam karena balasan balik dari Winda.


***


Bel panjang berbunyi tanda pelajaran sudah usai, dengan cepat Winda membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tasnya.


" Aku pergi duluan y Nansi, aku ada janji. Sampai ketemu besok, bye... Nansi...!!! " kata Winda melambaikan tangan.


Tanpa menunggu jawaban balasan, Winda segera pergi meninggalkan ruang kelas, sementara Nansi hanya menatap kepergian Winda.


{ Itu anak semangat bener, janjian dengan siapa ? } batin Nansi.


Dengan langkah cepat Winda berjalan menuju dapur Boga, sesampainya di depan pintu, Winda berhenti sejenak. Dilihatnya pintu dapur masih tertutup rapat, ada sedikit keraguan untuk langsung masuk ke dalam.


{Tunggu di sini dulu sajalah, tunggu kakak Rey atau yang lainnya, gak enak juga main masuk } batin Winda.


Pada akhirnya Winda menunggu di depan pintu, mengurungkan niatnya untuk langsung masuk. Sadar diri juga, Winda bukan jurusan Tata Boga. Masa iya, mentang-mentang kenal, ngelunjak sok akrab.


Sekitar sepuluh menit Winda berdiri menunggu, akhirnya ada Niko berjalan dari arah dapur lainnya. Niko mempercepatnya langkahnya saat melihat Winda sudah menunggu.


" Dari tadi ? " tanya Niko.


" Belum lama kak " jawab Winda berbohong.


" Mau lihat sekarang...??? " tanya Niko.


" Iyalah. Sudah selesai kak ? " kata Winda.


" Sudah. Sebelum masuk pakai penutup kepala dulu. Sini... aku pakai kan " kata Niko.


Sebenarnya penutup kepala yang Niko pakaikan pada Winda, hanyalah kain lebar seperti sapu tangan. Mungkin untuk mencegah agar rambut tidak jatuh dan mengenai kue.


Entah kenapa, Winda hanya diam saat Niko dengan teliti menutup rambut Winda dengan kain.


" Baik kak " jawab Winda.


Winda berjalan mengikuti Niko dari belakang, sesampainya di dalam ruangan. Mata Winda benar-benar dimanjakan dengan pemandangan kue pengantin yang dihias dengan begitu cantiknya.


" Wahhh...!!! Cantiknya...!!! " seru Winda kegirangan.


Winda berjalan mendekati, mengamati dari dekat, memperhatikan setiap hiasan dari tingkat paling bawah , tengah, sampai atas.


" Kalau secantik ini, siapa yang tega memakannya kak ? " kata Winda memuji.


" Kalau gak dimakan, basi dong " kata Niko.


" Iya juga sih, malah mubazir. Bunga yang kak Noel buat, benar-benar cantik, mirip aslinya " kata Winda.


Mata Winda terus tertuju pada kue pengantinnya.


" Emmm... Winda..." kata Niko.


" NIKO...!!! Dicariin, sudah di sini duluan " kata Juan masuk ruangan.


" Ehh... Winda sudah di sini. Gimana menurutmu kuenya cantik ? " tanya Rey.


" Cantik kak, cantik banget. Keren...!!! " kata Winda mengacungkan kedua jempolnya.


" Ada apa nyariin ? " tanya Niko.


" Ohhh itu, tadi Ibu Yanti pesan, kita berempat harus ikut antar kuenya ke gedung pernikahan. Untuk memastikan kuenya aman sampai tujuan, takutnya kenapa-kenapa di jalan " kata Juan.


" OK. Noel mana ? " tanya Niko.


" Masih bicara dengan Ibu Yanti " kata Juan.


" Ibu Yanti di luar kak ? " tanya Winda.


" Iya. Mungkin perjalanan ke sini, mengecek kuenya " kata Rey.


" Gawat...!!! Aku harus sembunyi " kata Winda.

__ADS_1


" Kenapa...??? " Niko, Rey dan Juan serentak.


" Tadi... aku sudah diperingatkan, boleh lihat tapi tidak boleh masuk. Kalau Ibu Yanti lihat aku di sini, ke depannya aku tidak bisa lihat lagi " kata Winda menjelaskan.


" Emmm... sembunyi di..." Rey melihat sekeliling mencari tempat sembunyi.


" Di bawah meja saja, kamu kan kecil " kata Juan memberi ide.


" Di bawah meja kue ??? " tanya Winda.


Tak ada waktu berdebat, karena pintu tiba-tiba terbuka. Dengan cepat Niko menarik Winda dan menyembunyikannya di bawah meja. Niko memberi isyarat untuk tenang, Winda hanya menganggukkan kepalanya.


" Kalian bertiga sudah di sini ? " Noel masuk ruangan.


" Hem...( melihat kue ) bagus...!!! Kuenya cantik. Ibu puas dengan hasilnya, kalian benar-benar bisa diandalkan " kata Ibu Yanti memuji.


" Iya dong Bu. Muridnya siapa dulu..." kata Rey.


" Muridnya Ibu Yanti " sambung Juan.


" Semoga saja customer kita puas dengan hasilnya " kata Noel.


" Kalian siapkan kuenya di troli agar mudah membawanya, sebentar lagi mobil akan siap di depan dan ingat berempat harus ikut, pastikan kuenya aman sampai tujuan, MENGERTI...!!! " kata Ibu Yanti memberi perintah.


" Siap Bu, mengerti...!!! kompak menjawab.


" Siapkan kuenya, Ibu mau mengecek yang lainnya " kata Ibu Yanti.


" Baik Bu...!!! " kompak menjawab.


Setelah Ibu Yanti keluar dari ruangan, dengan berlahan Winda keluar dari tempat persembunyian.


" Winda...!!! " Noel terkejut melihat Winda keluar dari bawah meja.


" Hai... kak Noel...!!! " Winda menyapa.


" Kenapa sembunyi ? " tanya Noel.


" Takut dimarah Ibu Yanti " jawab Winda malu-malu.


" Baiklah, ayo...!!! Kita siapkan kuenya di troli " kata Juan.


Mereka berempat pun, sibuk mengangkat kuenya dengan hati-hati, sementara Winda hanya mengamati saja tanpa melakukannya apa-apa.


" Kalian bawa keluar duluan, aku akan menyusul " kata Niko.


" OK. Bye Winda " kata Noel.


" HEI... REY... pegang yang benar, hati-hati " kata Juan memperingatkan.


" IYA... ini juga dipegang " kata Rey.


Setelah Noel, Rey dan Juan keluar ruangan.


" Baiklah, aku juga akan pulang " kata Winda berpamitan.


"Winda...!!! Ini untukmu " Niko memberikan setangkai bunga mawar dari fondant.


" Bunga mawar fondant. Untukku ? " Winda tak percaya.


" Hem ( menganggukkan kepalanya ). Masih ada sisa sedikit, aku buatkan untukmu. Kamu kan suka " kata Niko.


" Terima kasih kak Niko. Wahh... benar-benar cantik, orang akan tertipu ini mirip aslinya " Winda terus mengamati bunga di tangannya.


Niko tersenyum melihat Winda menyukainya.


" Oh iya, kak Niko harus cepat menyusul yang lainnya, tidak boleh terlalu lama di sini " Winda cepat sadar.


" Jangan lupa dimakan. Duluan ya... bye...!!! " Niko berpamitan.


" Terima kasih ya kak...!!! " kata Winda tersenyum.


Niko hanya menganggukkan kepalanya dan segera pergi menyusul teman-teman yang lainnya. Winda masih diam, tersenyum lebar mengamati bunga mawar fondant di tangannya.


{ Bunganya cantik } batin Winda dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca teman-teman 🙏🤗


__ADS_2