
Winda terus memeluk Noel dengan erat, entah sengaja atau kebiasaan, Noel terus memacu kendaraannya dengan cepat, serasa gak injak rem. Winda mengamati jalan yang dilalui, sedikit berfikir, karena jalanan yang dilalui sekarang ini berbeda dengan jalan yang dilalui saat dengan Vera pas berangkat tadi.
Winda ingin bertanya untuk memastikan, tapi niatnya diurungkan karena Noel terus memacu kendaraannya dengan cepat. Biar lah mungkin ini jalan yang lainnya, itu yang Winda pikirkan.
Selama perjalanan tidak ada obrolan apa pun, hanya diam saja, awal perjalanan hanya melewati hutan-hutan, pepohonan tanaman kebun, lalu berganti suasana laut, terus berjalan semakin lama semakin terlihat ada pantai dan tak lama kemudian Noel menghentikan kendaraannya.
" Singgah sebentar ya ? " ucap Noel.
" Boleh " jawab Winda.
Noel memarkirkan motornya di pinggir jalan, kemudian mereka berdua berjalan ke arah pantai yang tak jauh dari jalan, duduk di dahan pohon yang condong, rambut Winda terus berkibar terkena hembusan angin pantai, membuat sedikit risih, namun saat akan mengikat rambut tangannya di cegah oleh Noel.
" Jangan diikat, rambutmu masih basah " kata Noel.
" Tapi jadi berantakan lah Kak " ucap Winda.
" Gak apa, tetap cantik kok " kata Noel.
" Tentu saja, kan, aku cewek, kalau ganteng itu Kakak " kata Winda.
" Hei...!!! Kebalik lah...!!! Malah kamu yang gombalin aku " Noel mencubit pipi Winda.
" Eh... siapa yang gombalin sih ? Sebutannya bener lah, mana mungkin bisa terbalik " kata Winda.
Keduanya tertawa kecil, menatap ke arah pantai, suasana pantai benar-benar sepi, hanya ada mereka berdua, jauh juga dari pemukiman penduduk, pantainya cukup bersih, masih alami dan tidak ada bekas-bekas sampah plastik jejak dari para pengunjung.
Winda jadi teringat, pertama kali Noel mengajak ke atas gunung, lihat pemandangan kota dari jarak jauh dan sekarang ke pantai, sepertinya Noel menyukai tempat yang jauh dari keramaian kegiatan manusia. Tanpa sadar Winda jadi tersenyum sendiri.
" Kamu suka pantai ? " tanya Noel.
" Suka, tapi hanya duduk di pantainya saja, untuk berenang, tidak terlalu suka " kata Winda.
" Kenapa ? " tanya Noel.
" Air laut membuat badan rada lengket, sedikit risih saja, lagi pula, aku gak bisa berenang. Kalau Kakak, bagaimana ? " kata Winda.
" Tergantung, dengan siapa aku pergi ? Untuk saat ini aku suka, karena dengan mu " kata Noel sambil menatap Winda.
__ADS_1
Seketika jantung Winda kembali berdebar-debar, Winda memalingkan wajahnya ke arah lain, ada perasaan malu, entah sudah berapa kali, Winda selalu merasakan perasaan ini, canggung dan was-was selalu datang bersamaan, kala Noel melakukan atau berkata suatu hal yang tak terduga.
" Hei...!!! " ucap Noel menyentuh dagu Winda dan menghadapkan ke dirinya.
Winda belum bereaksi apa-apa, namun dirinya sudah dikejutkan oleh tindakan Noel selanjutnya. Mata Winda melebar dengan sempurna, kala bibir mereka bersentuhan, tidak puas hanya ci*man biasa, tangan Noel meraba tengkuk leher Winda, membuat gerakan untuk mer***sang agar Winda membuka mulutnya dan berhasil.
Noel semakin menjadi, dirinya terus, menc**m, *******, mengh***p dan memainkan li***nya. Winda yang baru pertama kali merasakannya, tidak melakukan perlawanan yang berarti, sebab perasaannya saat ini bercampur aduk, tak dapat dijelaskan.
Noel menghentikannya, kala Winda menggeliatkan badannya, mendorong tubuh Noel, yang membuat dahan pohon yang mereka duduki bergoyang sehingga membuat mereka sedikit tidak seimbang.
Kini mereka berdua saling menatap dengan napas yang tidak beraturan, sesaat kemudian Winda berpaling dengan menutup mulutnya dengan punggung tangannya, dirinya masih diam, tidak dapat berkata apa-apa, masih bingung, otaknya serasa bleng, kosong tiba-tiba, tidak dapat memikirkan apa pun.
Belum juga sadar dengan kejadian barusan, kini Noel memeluk tubuh Winda, meletakkan dagunya di pundak Winda, terdiam beberapa detik dan beberapa detik selanjutnya, benar-benar membuat Winda, sangat, sangat, sangat, sangat terkejut. Tidak disangka-sangka. Tidak terduga. Tidak dapat dipercaya. Tidak mungkin. Serasa mimpi.
Flash back on
Saat sampai di air terjun, Noel dan Jevi sudah sepakat untuk berpisah, Jevi tidak boleh memberitahu, kalau dirinya juga ada di air terjun, anggap saja Noel tidak ikut. Karena Jevi tunduk dengan Noel, tentu saja semua perkataan Noel selalu dituruti, tidak berani membantahnya.
Jevi pergi menemui Winda dan Vera, sementara Noel hanya mengamati dari kejauhan, ingin sekali menghampiri Winda, namun dirinya menunggu, menunggu saat Winda sendirian, menunggu dengan sedikit gelisah, sedikit cemburu, kala melihat mereka bertiga bermain bersama.
Setelah dengan sabar menunggu, akhirnya kesempatan itu tiba juga, kala Winda dengan perlahan pergi naik ke bagian atas, Noel mengikuti Winda dari jarak aman, dirinya tidak ingin terburu-buru muncul dihadapan Winda, ingin memberi kejutan, ceritanya.
Inginnya memberi kejutan, tapi justru Noel yang diberi kejutan. Saat Noel sampai di atas, dirinya mendapati Winda sedang duduk di dalam air, melepaskan ikat rambut, membasahi wajah, membasahi rambut, menyelam dan pemandangan sangat bagus ketika Winda muncul dari dalam air.
Pandangan mata Noel selalu tertuju mengarah pada Winda, tak ingin kehilangan momen langka, Noel mengabadikan lewat hp nya, merekam Winda yang menggosok permukaan kulitnya, menyisir rambutnya dan mendengarkan senandung suara nyanyian Winda.
Noel begitu terpaku menyaksikan semua itu, dirinya menelan air liurnya beberapa kali, menggigit bibir bawahnya, gejolak dalam dirinya berlahan mulai timbul, Noel tersadar saat Winda tiba-tiba berbalik dan melihat ke arahnya.
Dengan cepat Noel menyembunyikan hp nya, tatapan mereka saling bertemu, saling memandang dan kemudian Winda tersenyum. Debaran jantung Noel semakin deg degan, kala Winda keluar dari dalam air, baju yang basah kuyup, menempel lekat di badan, memperlihatkan dengan jelas, bagaimana bentuk tubuh Winda yang sebenarnya.
Semakin menggoda kala Winda menyibakkan rambut dan memerasnya, gerakan gestur tubuh Winda menambah gejolak dalam diri Noel, seperti sengaja menggoda, senyuman bibir Winda yang sedikit mulai membiru, serasa memanggil untuk dinikmati.
{ Waktu yang bagus, kami hanya berdua } batin Noel.
Noel kembali kecewa kala Winda mendapatkan panggilan dari Vera dan harus segera turun, merasa kehilangan kesempatan yang bagus. Namun Noel tidak putus asa, dirinya memutuskan menemani Winda, menutup tubuh Winda dengan jaket, karena dirinya gak rela, orang lain memandangnya dan sengaja memberi wajah jutek pada setiap orang yang memandang Winda.
Senyuman Noel kembali merekah, kala mendengar percakapan, ada masalah antara Vera dan Winda. Serasa mendapatkan kesempatan lagi, tak akan disia-siakan, Noel langsung menawarkan diri untuk mengantar Winda pulang ke rumahnya dan Vera menyetujui usulan tersebut, karena dianggap paling pas.
__ADS_1
{ Keberuntungan benar-benar berpihak padaku } batin Noel.
Noel tersenyum bahagia, saat Winda memeluk dirinya dengan erat, saat-saat inilah yang Noel sukai. Noel sengaja mengambil jalur yang lainnya, jalur yang lebih panjang, sehingga jarang dilewati oleh para pengendara lainnya, sehingga akan sepi dan kebetulan jalannya melewati pinggiran pantai.
Terlihat pantai yang cukup sepi, tidak ada pengunjung, ditambah jauh dari pemukiman, Noel memutuskan untuk berhenti, menikmati pemandangan laut, pasti akan menjadi suasana yang cocok dan terkesan.
" Singgah sebentar ya ? " ucap Noel.
" Boleh " jawab Winda.
Seketika Noel tersenyum, mendengar jawaban Winda yang tidak keberatan, duduk di tepi pantai, melihat wajah Winda yang terkena sinar matahari sore dan ditambah rambut yang berkibar terkena angin. Menambah pesona tersendiri, membuat Noel semakin tidak tahan dan sudah sampai pada batasnya.
{ Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini } batin Noel.
Noel meraih dagu, sudah tidak tahan lagi dan menci**m bibir Winda, kala bibir sudah saling bersentuhan, gejolak dalam diri Noel tidak puas, menginginkan yang lebih lagi, dari hanya sekedar c**man yang biasa.
Noel terus menc**m Winda, begitu menikmati, sengaja memberi rang**ngan agar bisa mendapatkan lebih, sesuai keinginannya, tidak boleh melewatkan kesempatan ini, harus dimanfaatkan dengan baik, karena momen ini bagus, hanya berdua, tidak ada gangguan apa pun itu.
Noel terpaksa menghentikan, saat melihat Winda tidak bisa mengimbangi dirinya, saling menatap, napas Winda naik turun dengan cepat dan kemudian berpaling.
{ Apa dia marah ? } batin Noel.
Melihat hal tersebut, Noel sedikit dilanda kekhawatiran, takut kalau Winda marah, sehingga Noel memutuskan untuk memeluk dan menyatakan perasaannya.
" Aku menyukaimu, Winda " kata Noel.
Mendengar pernyataan cinta yang begitu tiba-tiba, Winda terlihat begitu terkejut, hanya diam, kini keduanya saling menatap satu sama lainnya.
Flash back off
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗 mohon dukungannya teman-teman.