
Pagi-pagi sekali, Winda sudah berdiri di pinggir jalan, menunggu jemputan, melihat ke kanan dan kiri, memperhatikan setiap motor yang lewat, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba.
" Selamat pagi Mas Aril " Winda langsung menyapa saat Aril berhenti tepat di depannya.
" Pagi Winda, nih pakai helm dulu " kata Aril.
" Mas, pagi-pagi gini yang jual kue, selain di pasar, di mana ya ? Mas Aril tau gak ? " tanya Winda.
" Mau beli kue apa ? " tanya Aril.
" Biasa lah, kue donat atau kue lapis gitu, tiba-tiba pengen makan, kalau ke pasar kan kejauhan " kata Winda.
" Ada, tapi... nanti kita lewati jalan yang bukan biasanya, jalan tembusan dan sedikit rusak, gak apa ? " kata Aril.
" Boleh deh gak apa-apa, yang penting bisa beli kue " kata Winda.
Beberapa saat kemudian, Winda sampai di tempat orang jual kue, setelah membeli beberapa kue, mereka pun melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sesuai yang Aril bilang sebelumnya, mereka akan melewati jalan tembusan dan benar saja jalannya rusak, gak rata dan berbatu-batu.
Beberapa kali Winda membetulkan posisi duduknya, karena terus maju akibat jalanan yang tidak rata, untung saja Winda memakai baju olahraga dan duduk seperti laki-laki.
Entah kenapa Aril mengerem mendadak dan spontan Winda langsung menabrak badan Aril, bahkan terdengar suara helm yang tabrakan.
Duuukkk
Winda membenarkan helmnya karena tabrakan barusan, Winda melihat ke depan, ternyata ada kucing yang menyebrang secara mendadak, beruntung ngerem tepat waktu dan tidak sampai terjatuh, karena jalanan yang dilewati ini benar-benar rusak parah, banyak lubang, banyak batu-batu bekas timbunan, Winda kembali bergeser ke belakang, walau pun kejadian barusan dapat dimaklumi, namun Winda tetap saja sungkan.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, akhirnya beberapa saat perjalanan sampai juga di depan gerbang sekolah, Winda segera turun dari motor, namun saat hendak membuka helm, Winda kesulitan membuka kancing helm.
" Mas Aril, ini kenapa kancing helmnya susah dibuka ya ? " kata Winda meminta bantuan.
" Coba sini " kata Aril.
Aril membantu melepaskan kancing helm, namun karena rada susah, Aril menarik sedikit lebih kuat, tanpa sengaja rambut Winda ikut tertarik beberapa helai.
" Aauuww...!!! " rintih Winda.
" Maaf Win, sepertinya rambutmu nyangkut makanya rada susah di buka, maaf rada aku tarik " kata Aril sambil membuka helm yang dikenakan Winda.
Winda sedikit menundukkan kepalanya saat Aril membuka helm yang Winda kenakan, Winda mengambil uang pas dari saku bajunya lalu memberikan pada Aril, bersamaan dengan sekantong kecil plastik berisikan beberapa potong kue.
Aril sedikit heran karena Winda memberinya kue, karena masih ragu, Aril tidak segera menerima kue tersebut.
" Ini untukku ? " tanya Aril.
" Iya, nih buat sarapan " Winda meletakkan di gantungan motor, karena Aril sungkan menerimanya.
" Makasih ya Win " kata Aril.
" Sama-sama, jangan lupa, besok jemput lagi, aku masuk dulu, bye bye Mas Aril " kata Winda.
Winda segera berbalik dan masuk ke dalam sekolah, ternyata sudah ada yang menunggu dirinya.
" Pagi Wiwin...!!! " Niko mengucapkan salam.
" Selamat pagi Kak Niko " Winda balas menyapa.
Niko sempat melihat ke arah motor yang mengantar Winda barusan, sepertinya nampak akrab, dalam hati Niko mulai bertanya-tanya dan ingin tau, siapa ? dan ada hubungan apa dengan Winda ?. Namun Niko hanya bisa bertanya dalam hati saja, mana mungkin langsung main tanya, sadar diri bukan siapa-siapanya Winda.
__ADS_1
Tanpa Niko sangka-sangka, Winda mengajak Niko untuk sarapan makan kue bareng dan tentu saja Niko menerima tawaran tersebut. Winda mengajak Niko, makan di belakang, tempat awal mereka bertemu.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka pun duduk menyandar di tembok dengan posisi duduk bersebelahan. Winda segera membuka kantong plastik yang berisi beraneka kue, ada kue lapis, kue donat, onde-onde dan bolu kukus.
" Banyaknya kue kamu beli ? " kata Niko mengamati aneka kue.
" Kalap mata, gak bisa pilih satu saja, Nah... ambil lah yang mana Kakak suka " kata Winda.
Winda mengambil satu kue donat meses dan segera memakannya, Niko memandang dengan tersenyum, dirinya ingat saat pertama kali bertemu, Winda juga memberinya sekantong plastik berisi aneka macam kue.
{ Kue yang sama } batin Niko.
" Kak Niko ( memanggil ), ayo makan, jangan dilihatin saja " kata Winda.
{ Bahkan ucapanmu pun sama } batin Niko, sambil mengambil kue dari kantong plastik.
Niko terus memandangi Winda yang sedang asyik makan dengan begitu lahapnya, sampai tidak menyadari ada meses nempel di sudut bibirnya. Tanpa komando tangan Niko bergerak, menyeka bibir Winda, seketika Winda terdiam dengan mata yang melebar karena terkejut.
" Ada yang nempel " kata Niko lirih, yang hanya disambut senyuman oleh Winda.
Seketika wajah Winda memerah merona karena malu. Niko memandangi meses yang ditangannya, tersenyum dan segera memasukkan ke dalam mulutnya, hanya sebiji meses tapi rasa manis menyebar ke seluruh mulut.
" Kak...??? itu...??? " Winda benar-benar kaget.
" Manis " kata Niko.
Winda memaksakan senyumnya senatural mungkin, berpaling sejenak dan kembali makan kue untuk menghilangkan rasa canggungnya.
" Aku sudah janji, akan membuat kan kamu kue, tapi lihat sekarang, justru kamu yang memberi aku kue " kata Niko.
" Win..." kata Niko.
Niko tak melanjutkan perkataannya, karena datang Noel dengan nada bicara seperti sedang marah-marah.
" Sudah aku katakan, aku tidak mau, berapa kali harus aku bilang AKU TIDAK TERTARIK " kata Noel.
Noel mematikan panggilan teleponnya dan saat berbalik, dirinya baru menyadari keberadaan Niko dan Winda. Mereka bertiga pun diam dan hanya saling pandang untuk sesaat.
" Kalian...??? " Noel memandang bergantian ke arah Niko dan Winda.
" Mari Kak, sarapan kue bareng " ajak Winda spontan.
" Winda yang traktir " sambung Niko.
Tanpa menjawab Noel segera duduk di samping Winda dan langsung menggigit kue yang berada di tangan Winda.
" Hem... enak...!!! " kata Noel sambil mengunyah.
Winda melebarkan bola matanya dengan tindakan tersebut, bukannya apa, karena kue tersebut sudah Winda gigit sebagian, tidak mungkin kalau Noel tidak melihat bekas gigitan di kue barusan.
Winda yang masih sedikit terkejut, hanya diam menutupi rasa canggungnya, benar-benar sangat sungkan.
Niko menyadari rasa canggung dalam diri Winda, terlihat jelas dari gerakan badannya yang sedikit bergeser menjauh saat Noel mendekati dirinya.
" Winda, aku mau kue lapisnya dong " kata Niko.
" Oh iya Kak ( mengambil ) ini Kak " kata Winda memberi sebungkus kue lapis.
__ADS_1
Saat Winda memberikan kue lapis pada Niko, Niko bertanya dengan gerakan bibirnya tanpa suara • kenapa ? • karena Winda paham ia pun membalas dengan cara yang sama • canggung •
" Kalian janjian sarapan bareng ? " tanya Noel.
" Eee...." kata Winda bingung.
" Begitulah ( berbohong ). Winda balas traktir, karena kemarin aku mengantarnya pulang, iya kan Win ? " kata Niko memberi kode.
" Ah... iya ( ikut berbohong ). Gak enak hati lah Kak, kemarin pas sampai rumah, Kak Niko disuruh Ibu angkat telur ke dalam rumah, lucu kan ? bukannya terima kasih malah tambah dimintai tolong " kata Winda.
" Ibu mu ? " tanya Noel mengarah pada Winda.
Winda tak menjawab, hanya menganggukkan kepala dengan perlahan, anggukkan kepala Winda seketika menimbulkan rasa sakit di hati Noel.
" Membantu orang tua, dapat pahala kan ? " kata Niko.
" Iya lah, dapat pahala " jawab Winda.
" Aku benar-benar tidak beruntung ya " gumam Noel lirih.
" Kenapa Noel ? masih bad mood ? " tanya Niko.
" Tidak, tidak apa-apa, kuenya enak " Noel mengalihkan pembicaraan.
{ Sial, benar-benar kehilangan kesempatan bagus } batin Noel.
Mereka terdiam menikmati setiap gigitan kue, pas terakhir tinggal tiga potong kue, dengan jenis yang berbeda, satu onde-onde, satu kue lapis dan satu bolu kukus.
" Pas banget, terakhir, tinggal tiga, pilih satu-satu, Kak Niko dan Kak Noel, mau makan yang mana ? " kata Winda.
Winda menyodorkan kepada Noel terlebih dahulu, Noel pun mengambil satu kue lapis, setelah itu baru ke arah Niko.
" Aku pilih onde-onde saja ( mengambil kue ), kamu kan, paling suka bolu kukus " kata Niko.
" Dari mana Kak Niko tau ? kalau aku suka bolu kukus ? perasaan aku gak pernah bilang deh " kata Winda.
" Eee... hanya menebak " jawab Niko.
" Tebakan Kak Niko benar, aku sangat suka bolu kukus, tapi bolu kukus ini buat Kak Niko saja, soalnya dari tadi Kak Niko belum makan bolu kukusnya. Nih... tukar " kata Winda.
{ Kamu benar-benar perhatian Winda, makanya aku selalu mengingatmu } batin Niko.
Dengan cepat Winda melahap onde-onde hanya dengan dua gigitan saja, sementara Noel hanya menatap Winda seraya tetap tersenyum.
{ Tidak salah lagi, Niko menyukai Winda } batin Noel.
Noel menatap ke arah Niko yang nampak senang memakan kue bolu kukus pemberian Winda dan hal tersebut benar-benar membuat Noel merasa tambah kesal.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.
__ADS_1