Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 95 Pembalasan.


__ADS_3

Winda, Niko, Noel, Rey dan Juan, mereka berlima berkendara menuju suatu tempat yang cukup jauh dari pemukiman penduduk, walau pun ada jarak setiap rumah juga jauh-jauh, Winda duduk dengan perasaan gelisah, dirinya tidak tenang, rada khawatir tapi entah apa yang membuatnya demikian.


Dari awal berangkat para seniornya tidak menjelaskan apa pun, hanya mengatakan Mari kita selesaikan . Selesaikan ? Bagaimana cara mereka menyelesaikannya ?.


Sampai di tempat tujuan, mereka memasuki sebuah bangunan yang cukup tua, walau pun sedikit berantakan tapi sepertinya ada yang menempati. Pandangan mata Winda terus mem perhatikan sekeliling, dirinya selalu berjalan di tengah, di depan ada Noel dan Juan, di belakang dirinya ada Niko dan Rey.


Alangkah terkejutnya Winda, saat memasuki sebuah ruangan, di dalam ruangan tersebut sudah ada Amel dan kedua temannya, dengan posisi duduk terikat di kursi, mulut tertutup lakban dan mata juga ditutup kain.


Dengan sengaja Noel menghentakkan sebuah kursi dengan sangat keras, sehingga bunyinya menggema ke seluruh ruangan.


BRAAAKKK


Suara yang menggema cukup membuat telinga berdengung, Amel dan kedua temannya, tampak sangat terkejut, menggeliatkan badannya, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, mereka ketakutan. Winda tersentak ketika Niko menyentuh bahunya, ia tersenyum dan berbicara tanpa suara tidak apa-apa.


Dengan kasar Noel membuka penutup lakban mereka satu per satu, terdengar rintihan kesakitan keluar dari mulut mereka, terus menggeliat mencoba, berusaha melepaskan diri, tapi semua usahanya sia-sia.


" Siapa ... ??? "


" Kamu mau apa ... ??? "


Terlihat jelas dari raut wajah mereka, ada mimik ketakutan, bahkan suara mereka bergetar dan air keringat juga membasahi wajah mereka. Winda kembali menatap seniornya bergantian, mereka semua melakukan ini ? Hanya untuknya ???


" Kalian akan segera tau, alasan kalian di bawa ke sini " kata Noel.


Noel membuka penutup mata mereka, mereka bertiga nampak terkejut saat tatapan mereka tertuju pada Winda, terutama Amel, pandangan mata selalu mengarah pada Winda.


" Winda ... !!! " kata Amel.


Noel menarik sebuah kursi, diletakkan tepatnya dihadapan ketiganya, kemudian menarik Winda dan mendudukkannya di kursi tersebut. Sementara Noel, Niko, Rey dan Juan, berdiri tegak berbaris di belakang Winda.


" Kalian mau apa ??? "


" Lepaskan kami .... !!! "


" Melepaskan kalian ??? Enak saja ... !!! Kalian harusnya sudah tau, alasan kalian berada di sini. Atau perlu aku beri pelajaran dulu, supaya kalian ingat " kata Noel.


Juan mengeluarkan laptopnya, memutar rekaman video, menunjukkan pada mereka bertiga, seketika mereka bertiga diam terpaku, tidak mengucapkan sepatah kata pun.


" Rekaman tersebut, sangat jelas menunjukkan wajah kalian bertiga dan aku juga ada rekaman kalian berdua memasukkan sesuatu ke dalam minuman Winda. Masih mau mengelak ??? " kata Juan.


" Lebih baik, sekarang kalian jujur, mengatakan yang sebenarnya " kata Rey.


" Tindakan kalian ini termasuk tindakan kriminal dan kalian bisa di penjara untuk waktu yang lama " kata Niko.


" Memangnya kami melakukan apa ? "


" Kami tidak melakukan apa pun ... !!! "


Mereka berdua masih mengelak, membuat alasan, tidak mengakui perbuatan mereka, walau pun mereka ada rasa ketakutan tapi tidak terlihat rasa penyesalan sama sekali pada mereka.


" Keluar kan, mereka berdua " kata Noel.

__ADS_1


Entah Noel memberi perintah pada siapa ? Tak berapa lama terdengar suara pintu dibuka, namun Noel segera menutup mata Winda rapat-rapat menggunakan kedua tangannya. Entah apa yang masuk dari pintu tersebut, membuat ketiganya berteriak dengan sangat histeris, ketakutan mereka semakin menjadi.


Dalam hati Winda bertanya-tanya, apa yang mereka lihat ? Kenapa mereka terdengar begitu ketakutan ? Ada apa ?. Saat mata Winda terbuka, melihat sekeliling, merasa heran karena sudah tidak ada apa-apa, hanya ada mereka saja. Pasti sudah pergi.


" Win ... !!! Aku gak tau apa-apa, aku gak tau kalau ada sesuatu dalam minumanmu. Semua itu rencana mereka berdua, aku beneran gak tau " Amel membuat pengakuan.


" S*alan. Ini semua buat kamu ... !!! "


" Kamu bilang, mau balas dendam "


" Tapi gak sampai menjual dia segala. Yang punya ide, itu kan kalian berdua " bantah Amel.


" Kamu juga terima uangnya ... !!! "


Terjadilah keributan lagi diantara mereka bertiga, saling membela diri masing-masing, saling melemparkan kesalahan, tidak ada yang mau mengakui kesalahan dan keributan mereka benar-benar membuat jengkel bagi yang mendengarnya.


" DIAM ... !!! " bentak Noel.


Seketika sepi sunyi terdiam semua, tidak ada suara-suara terdengar dari mulut mereka lagi, namun hanya berlaku sebentar, sesaat kemudian Amel kembali mengatakan dirinya benar-benar tidak terlibat, tidak tau apa-apa, masih saja membela diri, tidak mau mengakui perbuatannya.


" Aku tau Mel, kamu tidak mungkin memiliki ide setega itu padaku, tapi kenyataannya kamu diam saja, padahal kamu bisa mencegahnya, tapi kamu memilih tidak melakukan apa-apa " Winda angkat bicara.


" Win, aku beneran gak taruh obat itu, bukan aku. Aku beneran gak tau. Sungguh " Amel tetap membela dirinya.


PLAAAKKK


Winda mendaratkan sebuah tamparan di pipi Amel.


PLAAAKKK


PLAAAKKK


" Ayo pergi Kak, sebelum tangan kalian berempat kotor karena menyentuh mereka bertiga " kata Winda.


" Win, kamu yakin ... ? " tanya Noel.


Winda menganggukkan kepalanya, dirinya begitu marah, sampai malas untuk berlama-lama di dekat mereka bertiga. Niko membimbing Winda meninggalkan ruangan tersebut, diikuti Rey dan Juan di belakang mereka. Sementara Noel masih tinggal dengan alasan, ada urusan yang harus diselesaikan.


Mereka berempat menunggu di dekat mobil yang terparkir, pandangan mata Winda terus berbalik mengarah rumah, dirinya khawatir kalau Noel sampai melakukan hal yang lebih kepada mereka bertiga.


" Tenang saja, Noel tidak mungkin menghajar seorang cewek " kata Juan menenangkan Winda.


" Noel tidak setega itu " sambung Niko.


" Noel memang tidak, tapi kalau bawahannya gak tau " kata Rey.


" Rey ... !!! " Niko dan Juan kompak memperingatkan.


" Aku gak yakin, kalian bertiga saja, tadi sudah mengepalkan tangan, kalau aku tidak duluan menampar Amel, tangan kalian yang duluan maju. Aku benar kan ... ??? " kata Winda.


Ketiganya tidak menjawab, hanya tersenyum malu-malu karena Winda dapat menebak dengan benar jalan pikiran mereka.

__ADS_1


" Habisnya, kamu lebih banyak diam, tidak menunjukkan amarahmu " kata Rey.


" Atau kamu, memang tipe orang yang hanya diam kalau sedang marah ? " kata Juan.


" Gak juga sih, hanya saja, terkadang gak ada gunanya marah-marah, ngomel-ngomel, meledak, gak di dengar juga, serasa buang-buang energi tapi gak guna, malah capek sendiri " kata Winda.


Sementara itu di dalam ruangan, Noel kembali menutup mulut mereka bertiga dengan lakban, duduk dihadapan ketiganya dengan tatapan sinisnya dan membuat ketiganya benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa.


" Tenang saja, aku tidak akan mengotori tanganku dengan menyentuh kalian, karena Winda sudah melarangku. Sayangnya aku tidak sebaik Winda. Kalian sudah berani mengusik milikku, itu berarti kalian juga berurusan denganku. Anggap saja ini mimpi buruk yang harus kalian jalani " kata Noel.


Noel segera bangkit dari duduknya, sebelum keluar ruangan berhenti sejenak berbicara pada beberapa orang.


" Lakukan apa yang kalian mau dan bereskan semuanya " kata Noel memberi perintah.


Kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah santai. Tak berapa lama dirinya bergabung dengan yang lainnya dan bersikap biasa saja.


" Kak Noel melakukan apa ? " tanya Winda.


" Tidak ada, hanya bicara saja " jawab Noel.


" Ini semua, kalian berempat yang merencanakannya ? " tanya Winda.


Kembali terdiam, tidak ada yang menjawab, mereka sengaja mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindar tatapan mata Winda. Yang membuat Winda teringat, kalau mereka mendapat julukan preman di sekolah dan julukan tersebut pasti diberikan karena suatu alasan, bukan hanya sekedar julukan asal ucap saja.


" Terima kasih sudah membantuku " ucap Winda.


" Setelah ini, kamu harus bersikap sangat baik" kata Rey.


" Aku selalu bersikap baik, kapan aku bersikap tidak sopan ? Gak pernah kan ? " kata Winda.


" Bukannya kamu pernah meledek Rey, rambut jagung ya " Juan mengingatkan kejadian tersebut.


" Kamu juga selalu memintaku, petikan buah jambu " sambung Niko.


" Perbaiki lagi sikapmu adik kecil " sambung Noel mengusap kepala Winda.


" Hemmm. Baiklah. Ke depannya aku akan bersikap lebih baik lagi " Winda tak bisa mengelak lagi.


" Mari pergi dari sini, kita cari makan dulu " ajak Noel.


Satu per satu mereka masuk ke dalam mobil, Winda sempat berbalik menatap ke arah rumah, ada perasaan khawatir, tapi tak dipungkiri juga, ada perasaan puas dalam hati Winda.


Sehabis kejadian ini, dijamin mereka tidak akan berani lagi macam-macam dengan Winda. Untuk ke depannya Winda juga tidak mau lagi berurusan, berhadapan, bertemu mereka lagi, seandainya bertemu ia akan pura-pura tidak mengenal mereka. Itu lebih baik.


Seperti sebuah istilah, Pembalasan itu lebih menyakitkan.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2