
Winda hanya menggelengkan kepalanya sambil memandang kepergian Jevi, dirinya benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Jevi, hanya demi melihat seberapa panjang rambut Vera ? Suka Vera ya ?.
Tiba-tiba saja mulut Winda dibekap dari belakang, Winda melakukan perlawanan dan saat berbalik, ternyata ? Winda melihat wajah Noel dengan senyum lebar dari bibirnya.
" Dirimu tidak waspada, kalau tadi penculikan bagaimana ? " kata Noel sambil tertawa kecil.
" Gak lucu...!!! Ini di sekolah lah " Winda melepaskan diri dari bekapan Noel.
" Ya, siapa tau. Kalau tidak begini, kamu pasti menghindari aku lagi " kata Noel menatap serius Winda.
" A...ku ? Ti...dak. Perasaan kakak aja kali, a...ku em... aku harus kembali ke kelas " kata Winda beralasan.
" Eeiittss ( menahan ) Nah...!!! Menghidar lagi kan ? AYO IKUT...!!! " kata Noel sambil menarik tangan Winda.
{ Haduchh... kemana, kak Noel membawaku ?} batin Winda.
Noel terus berjalan, sambil terus menggenggam tangan Winda dengan erat, tak ada pilihan lain bagi Winda, selain terus melangkah mengikuti Noel akan membawanya.
Terlintas pikiran yang aneh di kepala Winda, saat Noel membawa dirinya ke tempat yang cukup sepi, tak ada murid-murid yang melintasi tempat tersebut. Winda semakin deg degan saat Noel mendorong tubuh Winda ke arah tembok, serta menghalangi dengan kedua tangannya.
" Kakak mau apa ? " tanya Winda sangat lirih.
" Bicara apa saja sama Jevi ? " tanya Noel.
Seketika pikiran aneh yang barusan muncul langsung hilang lenyap dari kepala Winda.
" Ohh yang tadi ( melepaskan diri ). Iya aku bicara dengan Jevi, dia tanya kenapa aku gak pakai kerudung tapi sebenarnya dia..." seketika Winda diam karena teringat tidak boleh kasih tau orang lain.
Winda mengatupkan bibirnya, hampir saja dirinya kelepasan berbicara.
" Sebenarnya dia apa...? " tanya Noel.
" Emm...( tidak berani memandang ) gak bisa bilang " kata Winda sangat pelan.
" Ohh... gak bisa bilang ( melangkah mendekat ) jadi ada rahasia ( semakin mendekat ) HEMMM...!!! " Noel mendekatkan wajahnya.
" JEVI SUKA VERA...!!! " seketika Winda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, terlintas rasa bersalah dalam hati Winda kepada Jevi karena sudah melanggarnya.
" Jevi suka Vera ? " Noel menegakkan badannya.
" Iya, begitu tadi dia bilang " Winda bergeser sedikit menjauh dari badan Noel.
__ADS_1
" Tapi, kenapa malah bicara sama kamu ? Bukannya ke Vera ? " Noel berfikir apa yang janggal.
Akhirnya Winda pun menceritakan kepada Noel dari awal mula pembicaraan, segala macam pertanyaan dari Jevi, jawaban yang Winda berikan kembali, alasan Jevi melakukan hal tersebut dan berujung dengan pengakuan Jevi suka pada Vera, lalu Winda yang bersedia membantu Jevi.
" Kenapa kamu bersedia membantu Jevi ?" tanya Noel.
" Apa salahnya ? " jawab Winda.
" Kalau Vera tau, tentang kejadian kemarin ? bagaimana menurutmu tanggapan Vera ? " tanya Noel.
" Vera sudah pasti akan marah, tindakan Jevi kemarin itu memang tidak bisa dibenarkan tapi, Jevi sepertinya benar-benar suka sama Vera " kata Winda.
" Yang jadi pertanyaan, kenapa kamu mau bantu Jevi ? " tanya Noel mengulangi perbuatannya lagi.
" Jevi layak diberi kesempatan, dia sudah mendapatkan hukumannya, walau sebenarnya aku juga tidak terlalu mengerti dengan jalan pikiran Jevi, sampai nekad gitu. Rasa suka yang bagaimana ? " kata Winda.
Noel tidak terlalu fokus dengan apa yang Winda bicarakan, pandangan Noel hanya fokus pada wajah Winda saja, berdekatan dengan Winda benar-benar membuat Noel tidak tahan.
" Winda " panggil Noel.
" Hem ? " Winda melihat ke arah Noel.
" Kenapa kamu menghindari aku ? " Noel menatap serius.
" Kenapa menjauh ? " tanya Noel pelan.
" Ntar kakak cium aku lagi, seperti di perpus. Ops..." Winda tersadar dan langsung menutup mulutnya.
Noel justru tertawa kecil mendengar perkataan Winda.
" Jadi karena itu ? " tanya Noel tersenyum.
Winda hanya diam tak menjawab dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Apa aku yang pertama ? " tanya Noel menggoda.
Lagi-lagi Winda hanya diam membisu, gak mungkin kan, bilang iya.
" Di lihat dari reaksi mu, sepertinya iya " Noel kembali menggoda lagi.
Suasana benar-benar menjadi sangat canggung terutama bagi Winda, tiba-tiba hp Winda bergetar, beruntung diselamatkan oleh pesan masuk, dengan cepat Winda segera memeriksa pesan yang ternyata dari Jevi.
__ADS_1
Winda segera membuka isi pesan dari Jevi, namun hanya pesan kosong tidak ada tulisan apa pun di dalamnya, Winda menatap layar hp dengan heran, apa maksud dari pesan kosong tersebut.
Noel nampak tidak suka dan dengan cepat mengambil hp tersebut dari tangan Winda.
" Ehh... Kak...!!!" Winda terkejut.
" Ssstt...!!! " Noel menyuruh diam.
Noel melihat layar hp Winda, mengetik sesuatu dan tak lama berselang Noel mengeluarkan hp miliknya dengan tersenyum lebar.
" Nih, sudah aku save nomorku " Noel mengembalikan hp Winda.
Winda membaca nama yang tertera dalam kontak • Noel Ganteng • , tersenyum-senyum sendiri, ada ya orang dengan bangga memuji diri sendiri.
" Gak boleh diganti " Noel mengingatkan.
{ Baca pikiran ku lah Kak Noel ini ? } batin Winda.
" Jangan diganti pokoknya " Noel mengulangi.
{ Beneran bisa baca pikiran ku lah ? } batin Winda memandang heran.
" Winda lihat ke sini ? " perintah Noel.
CEKREK. Terdengar suara kamera saat Winda berbalik, dirinya tidak bereaksi apa-apa karena masih terkejut sebab mendadak. Noel mendekatkan dirinya, namun Winda malah sedikit mundur, karena hal itulah Noel menarik badan Winda untuk lebih dekat lagi dengan dirinya.
Wajar saja jika Winda menjadi sedikit was-was, takut kalau Noel melakukan hal yang tak terduga lagi. Pengambilan foto pertama, pengambilan foto kedua, dan pengambilan foto ketiga, Noel mencium tepat di bibir Winda.
Walaupun hanya sekedar menempelkan bibir saja, hal tersebut sungguh membuat Winda melebarkan bola matanya dengan sempurna. Pas banget terdengar bunyi bel masuk, tanpa berpamitan Winda segera pergi begitu saja, Noel tersenyum dengan menyentuh sudut bibirnya, benar-benar menyenangkan.
Dengan langkah setengah berlari, Winda menuju ruang kelasnya, perasannya benar-benar campur aduk, jantungnya berdegup kencang tidak teratur, ada sesuatu yang dirasakan Winda, namun dirinya tidak bisa menjelaskan perasaan seperti apa ? bagaimana ? yang dia rasakan saat ini.
Perasaan ini benar-benar baru dia rasakan, entah bagaimana ?, dia sendiri tidak bisa mengungkapkan lewat kata-kata, yang Winda bisa katakan, sekarang ini hanya MALU, benar-benar malu, sangat malu.
.
.
.
( bersambung )
__ADS_1
Maaf jadi tidak beraturan update 🙏, terima kasih sudah mampir membaca, tinggal kritik dan saran, dengan komen di bawah, agar tulisan saya lebih baik lagi kedepannya 🙏🤗