
" Baiklah anak-anak kerjakan tugas kelompok berdasarkan kelompok yang sudah dibagi dan ingat minggu depan harus sudah selesai " kata Ibu Arni.
" Baik Bu..." menjawab serentak.
Setelah Ibu Arni keluar dari ruangan kelas.
" Sayang Nansi. Kita tidak satu kelompok " kata Winda.
" Ya gak apa-apa. Pemilihannya kan, secara acak " kata Nansi.
" Jangan iri Nansi. Aku satu kelompok dengan Winda, pas banget Winda, kelompok kita rumahnya gak terlalu jauh-jauh " kata Vera.
" Benarkah ? " tanya Winda.
" Trus ini mau ngerjain di rumah siapa ? kapan ? dan jam berapa ? " tanya Echa.
" Emm... kita ambil waktu yang pas. Gimana kalau sabtu sore ? " kata Nirmala.
" Tapi... aku gak bisa kalau pulang sekolah langsung. Aku harus pulang dulu ke rumah, orang tua ku bisa marah " kata Vera.
" Kalau di rumahku gak bisa. Ada kakakku, dia rada rusuh " Winda beralasan.
" Rumahmu dimana Win ? " tanya Echa.
" Di jalan Jawa " jawab Winda.
" Jalan Jawa di pusat kota ? " tanya Nirmala.
" Iya " jawab Winda.
" Dari sekolah SMANSA, jauh gak ? " tanya Echa.
" Di belakangnya berjarak tiga rumah dan jalan aspal " jawab Vera.
" Seriusan...??? " Echa dan Nirmala bersamaan.
" Begitulah " jawab Winda.
" Jalan Jawa, gak terlalu jauh dari rumahmu kan Ver ? " kata Echa melihat ke Vera.
" Iya, gak terlalu jauh " jawab Vera.
" Gimana kalau di rumahmu saja Ver ? " usul Echa.
" Ide bagus. Kalau di rumahku, Winda kejauhan " kata Nirmala.
" Bener banget, yang ditengah-tengah rumahnya Vera " kata Echa.
" Kapan kamu ke rumahku Cha ? " tanya Vera.
" Rumahmu kan, di jalan Irian. Kalau persisnya aku juga belum tau " kata Echa tersenyum.
" Ya sudah kalau begitu, kita putuskan ya. Kerjakan tugas kelompoknya di rumah Vera, sabtu sore jam tiga sudah kumpul. Setuju ? " kata Nirmala.
" OK " jawab Winda.
" Gimana Ver ? Setuju gak kalau di rumahmu ?" tanya Echa.
" Setuju saja. Malah enak aku gak jauh-jauh pergi keluar rumah. Nanti aku kirim alamatnya lewat pesan hp, biar kalian gak nyasar " kata Vera.
" OK. Deal ya...!!! " kata Nirmala.
" Iya...!!! " jawab Vera.
" Dengan begini, jadi tau rumahmu Ver " kata Winda.
" Ya baguslah, nanti gantian. Kapan-kapan aku main ke rumahmu " kata Vera tersenyum.
" Enak ya, rumah kalian dekatan " kata Nansi.
" Gak dekat juga Nansi " kata Winda.
" Kenapa ? Iri ? Kalau gitu, kamu pindah rumah saja " ledek Vera.
" Vera...!!! Sudah ah...!!! " kata Winda.
" Gak iri kok. Hanya... " kata Nansi.
" Apa yang di iri kan ? Rumah yang kita tempati itu milik orang tua kita, bukan milik kita. Ya dilihat nanti, siapa tau ke depannya kita jadi tetangga, saat kita punya rumah sendiri " kata Winda.
" Wahh... mikirmu terlalu jauh " kata Vera.
" Di amin kan dong. Barusan doa yang baik loh " kata Winda.
__ADS_1
" Nansi hanya kecewa saja, karena tidak satu kelompok dengan Winda. Iyakan Nansi ? " kata Nirmala.
" Sedikit " Nansi mengakuinya.
" Untung kita satu kelompok, iyakan " kata Echa melihat Nirmala.
" Keberuntungan " jawab Nirmala.
" Katanya gak apa-apa ? " kata Winda.
" Ya gak apa-apa, tapi... kan bagus kalau satu kelompok, kita bisa ketemuan di luar jam sekolah " kata Nansi.
" Em... iya juga ya. Selama ini kita belum pernah ketemuan di luar jam sekolah " kata Winda baru menyadari.
" Apa Istimewanya ? Sama saja kan ? " kata Vera.
" Bagiku sih beda " kata Nansi.
" Beda dari mana coba ? " kata Vera.
" Beda tempat dan suasananya " jawab Nansi datar.
Seperti ada suara jangkrik krik... krik... krik...
" Nansi, kamu tidak serius kan ? " tanya Winda.
" Aku serius. Kenapa ? Ada yang salah ? " tanya Nansi.
" Emmm tidak ada. Iya kamu benar, beda tempat dan suasananya " Winda mengiyakannya.
" Kalau hanya ingin ketemu di luar jam sekolah. Ya gampang, tinggal janjian main bareng, bereskan. Gak perlu alasan belajar " kata Echa.
" Akan susah bagiku " kata Nansi.
"Kenapa ? " tanya Winda.
" Kalau aku keluar, harus ada alasan yang tepat. Kalau tidak, aku tidak di kasih izin " kata Nansi menjelaskan.
" Sama ortu mu ? " Vera menebak.
" Bukan, tapi kakakku " kata Nansi.
" Kakakmu cewek atau cowok ? " tanya Echa.
" Ohhh pantas. Biasalah kalau kakak cewek, apa-apa memang harus detail dan jelas " kata Nirmala.
" Iyakah...??? Kakakku gak tuh " kata Winda.
" Kakakmu kan cowok " kata Nansi.
" Aku juga punya, kakak cewek tapi dia sudah merrid, gak tinggal serumah " kata Winda.
" Itu lain cerita Winda, coba kamu tinggal serumah dengan kakakmu yang cewek, pasti juga ditanyain detail " kata Nirmala.
" Perasaan gak deh, santai aja kakakku " jawab Winda.
" Kakakmu yang sering jemput itu ya Win ? " tanya Vera.
" Iya yang cowok. Pernah lihat ? " kata Winda.
" Ya pernah lah. Kemarin aku juga lihat kamu boncengan dengan kakakmu, kalian akrab ya, jadi iri " kata Vera.
" Akrab dari mana ? Aku itu sering berantem dengan Mas Widi, biar kakak antar jemput dibayar tau gak " kata Winda.
" Jadi namanya Mas Widi " Nirmala, Echa dan Vera serentak.
Seketika Winda menyipitkan pandangan matanya, menatap ketiga temannya secara bergantian.
" Kalian gak boleh naksir kakakku. MENGERTI...!!! " Winda menatap dengan tatapan serius.
" Kenapa ? " tanya Vera.
" Dia sudah pacar, anak tetangga sekolah kita" kata Nansi.
" Seriusan ? Anak SMK N 1 ? " tanya Echa.
" Nansi...!!! " kata Winda lirih.
" Sorry keceplosan " kata Nansi.
" Begitulah " Winda malas mengakuinya.
" Wahh... bakalan ribet nih urusannya " kata Echa.
__ADS_1
" Kenapa ? " tanya Winda.
" Kamu pasti pernah dengar kan, rumornya bagaimana ? Sekolah kita ini rada gak akur dengan tetangga kita itu. Gak tau siapa yang mulai, tapi rumornya begitu " kata Echa menjelaskan.
" Trus kenapa ? Itu kan gak ada hubungannya, yang pacaran kan, bukan aku ? " kata Winda.
" Ya memang sih. Tapi biasanya ada beberapa orang yang manfaatin untuk kepentingan pribadinya. Apalagi kalau hubunganmu gak baik dengan pacar kakakmu itu, bisa saja dimanfaatkan " kata Echa.
Winda langsung menatap Nansi.
" Itu kan hanya kalau. Semoga saja gak ada orang yang seperti itu. Jangan sampai lah ribut-ribut gak jelas gitu " kata Nirmala.
" Ada yang tau gak sih, awal ribut dulu itu bagaimana ? " tanya Winda penasaran.
" Aku pernah dengar. Kalau gak salah sih...!!! Em... saingan ya saingan " kata Vera.
" Saingan apa ? " tanya Winda.
" Saingan dalam segala hal " jawab Vera.
" Ya gitu deh " kata Echa.
" Aku heran, perasaan obrolan kita tadi tentang tugas kelompok deh. Kenapa berubah bahas tentang tetangga sekolah " kata Nirmala mencairkan suasana.
" Ya gara-gara bahas kakaknya Winda kan ?" sambung Echa.
" Coba aku duluan kenal Mas Widi, aku kali ya jadi pacarnya " kata Vera yang langsung disambut mata lebar oleh Winda.
" Nahh lohh...!!! Adeknya gak terima " ledek Echa.
" Hayoo Ver... dikasih lampu merah tuh " sambung Nirmala.
" Bercanda Win...!!! Bercanda...!!! " kata Vera menyakinkan Winda.
" Kalau bisa jangan deh, jangan sampai terulang lagi. Teman satu sekolah jadi pacarnya Mas Widi " kata Winda.
" Jangan sampai terulang lagi ? Berarti pernah ya ? " tanya Nirmala.
" Iya pernah dan itu sangat tidak nyaman. Sumpah...!!! " kata Winda tidak mau mengingatnya lagi.
" Ya gak salah sih. Soalnya Mas Widi ganteng" kata Vera.
" VERA...!!! " teriak Winda.
" Jadi penasehat. Seriusan ganteng Ver ? " tanya Echa.
" Belum lihat kah ? " kata Vera.
" Pernah sih, tapi cuma sekilas, jadi... belum terlalu jelas " kata Echa.
" Kalau pengen lihat jelas. Belajar kelompoknya di rumah Winda saja, bagaimana ? " Vera memberi usul.
" TIDAK BOLEH " jawab Nirmala.
" Eh... kenapa ? Itu ide bagus " kata Echa.
" TIDAK BOLEH. Nanti kalian bukannya fokus belajar tapi fokus ke lainnya " kata Nirmala.
" Terima kasih Mala, dirimu yang terbaik " ucap Winda memeluk Nirmala.
" Memang ya saudara kembar, selalu sehati " kata Echa.
" Baru tau kah ? Darah itu lebih kental dari pada air " kata Nirmala.
" Kapan jadi sedarah ? " kata Nansi.
" Kemarin habis transfusi " jawab Winda.
Meraka berlima pun tertawa.
.
.
.
( bersambung )
**Bagaimana teman-teman ada yang punya pengalaman sama dengan Winda ???
Mohon dukungannya teman-teman tinggalkan like dan komen biar rada rame βΊοΈ.
Terima kasih sudah mampir membaca ππ€**
__ADS_1