
Untuk sesaat keduanya saling menatap, tersenyum dan segera berpaling ke arah lain karena malu. Ada apa sih ? Kok tiba-tiba jadi kayak sok romantisan. Winda berdeham, padahal tenggorokannya baik-baik saja.
" Oh ya, Kak Niko bukannya ada les tambahan ya ? " Winda mengalihkan pembicaraan.
" Ya makanya, tadi harus cepat, supaya gak ketahuan. Aku langsung melarikan diri setelah membaca pesan darimu. Kenapa tidak diberikan secara langsung ? " kata Niko mengeluarkan gantungan dari saku celananya.
" Jadi Kakak mangkir ? Hanya karena gantungan ini ? " Winda menggelengkan kepala karena heran.
" Tolong pasangkan...!!! " Niko menyodorkan gantungan beserta hp miliknya, dengan senyum lebar yang dibuat-buat.
Winda tertawa kecil, ada apa sih ? Winda segera meraih dan memasang gantungan tersebut. Saat sudah selesai Niko tersenyum lebar sembari memandangi gantungan bunga matahari yang sudah direnovasi sedikit.
Winda pun merasa senang, syukur lah orangnya suka, tak sia-sia dirinya semalam begadang menyelesaikan gantungan tersebut. Serasa perjuangannya dihargai.
" Waktu aku menemukannya, bunga mataharinya sedikit pecah, mungkin karena keinjak, trus aku akali dech. Kak Niko suka ?" kata Winda.
" Jadi ini...??? Bunga yang...??? " tanya Niko menatap Winda.
Niko terlihat sedikit terkejut saat Winda menganggukkan kepalanya, membenarkan maksud dari pertanyaan Niko. Mungkin Niko pikir itu adalah gantungan baru.
" Di mana kamu menemukannya ? " tanya Niko.
" Di lapangan. Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu aku temukan, tapi... ya itu dia, ada sedikit...." Winda rada enggan menceritakan seluruh cerita yang sebenarnya.
" Apa, di hari kamu pingsan ? karena kena bola ? " Niko menebak hari kejadiannya.
Seketika Niko memeluk Winda, saat Winda menganggukkan kepalanya, membenarkan dugaan Niko. Memeluk dengan erat, perasaan Niko saat ini bercampur aduk, senang, bahagia, merasa bersalah, NANO NANO.
Hp Winda berdering ada telepon masuk dari Aril.
Percakapan di telepon.
Winda : Assalamualaikum.
Aril : Waalaikumsalam. Winda, mau aku jemput ?.
Winda : Gak usah Mas Aril. Aku ( melirik Niko ) pulang dengan temanku.
Aril : Oh ya sudah. Sekalian aku mau ngabarin, untuk dua hari ke depan, aku gak bisa jemput, aku ada urusan.
Winda : Ok. Cuma dua hari kan ?
Aril : Iya. Sudah dulu ya. Assalamualaikum.
Winda : Waalaikumsalam.
__ADS_1
Mengakhiri percakapan dan segera memasukkan hp kembali ke dalam tas punggung. Winda berdecak rada kesal, membayangkan besok pagi harus susah payah bangun kan, sang kakak untuk mengantarnya ke sekolah, bakalan ribut lagi ini.
" Kenapa ? " Niko menyadari perubahan sikap Winda.
" Yang biasa antar ke sekolah, untuk dua hari ke depan libur dan aku paling gak sabaran kalau harus bangunin Mas Widi minta antar. Apa boleh buat, Mas Aril ada urusan " kata Winda.
" Yang biasa antar itu ? Mas Widi ? " tanya Niko.
" Bukan tapi Mas Aril, kalau Mas Widi sih Kakakku. Kak Noel pernah ketemu Mas Widi, waktu jemput aku, pas kejadian aku pingsan " kata Winda menjelaskan.
{ Noel ??? Jadi hari itu, dia izin jagain Winda } batin Niko.
Flash back on
Niko teringat kembali waktu kejadian itu, Noel juga lah yang menolong membawa Winda ke ruang UKS, sementara dirinya baru mendengar setelah beberapa saat, itu pun tidak sengaja mendengarkan percakapan dari beberapa murid yang lewat.
Niko segera bergegas menuju ruang UKS dan saat dirinya masuk, mendapati Winda masih terbaring di ranjang UKS. Winda terlihat tertidur dengan pulas, Niko hanya bisa mengamati, memperhatikan kening Winda yang terlihat memerah.
Melihat wajah imut Winda, jantung Niko deg degan gak karuan, menelan air liurnya, mencoba untuk menahan, namun godaannya terlalu sangat mendukung. Niko menundukkan kepalanya mengecup bibir Winda dengan perlahan, mengusap kening dan mendaratkan kecupan lagi.
Niko tersenyum melihat Winda tidak merasa terganggu tidurnya, ia pun memutuskan untuk segera pergi keluar ruang UKS, agar Winda istirahat dengan nyaman.
" Habis lihat Winda ? " Noel bertanya saat berpapasan di luar ruang UKS.
" Enggak. Aku ada urusan dengan Pak Hadi " kata Noel.
" Oh. Aku duluan " Niko berpamitan pergi.
Flash back off.
" Kak, sepertinya kita harus cepat pulang deh. Lihat ( menunjuk ke atas ) awan mendung menyebar dengan cepat, sebentar lagi pasti akan turun hujan " kata Winda.
" Kenapa tiba-tiba mau turun hujan ? ( mengamati ). Ayo naik ! " kata Niko.
" Aku sudah di atas motor Kak. Kan, Kakak yang angkat aku " Winda mengingatkan Niko.
Mereka pun segera melaju di jalanan, berkendara dengan cepat, tapi alam memang sudah waktunya turun hujan, rintik-rintik hujan mulai jatuh, semakin lama semakin bertambah deras. Niko terus memacu motornya sampai dirinya menemukan sebuah warung yang sedang tutup sebagai tempat berteduh.
Segera masuk memarkirkan motornya, bertepatan dengan lebatnya air hujan, keduanya segera turun dari motor dan mengibaskan kedua tangan, membersihkan tetesan air hujan yang menempel di tubuh mereka masing-masing. Dari tanda-tandanya hujan akan berlangsung lama, karena langit benar-benar terlihat begitu gelap dan sesekali terlihat kilatan cahaya tanpa guntur.
" Untung dapat tempat berteduh, setidaknya kita gak kehujanan " kata Niko.
" Kayaknya bakalan lama hujannya. Lebih baik aku kabari orang rumah, biar gak khawatir " kata Winda.
Winda menatap layar hp, mengirim pesan untuk orang rumahnya agar tidak khawatir. Winda bergeser mendekat ke arah Niko, saat merasakan tampias air hujan, mereka berdua pun duduk berdampingan dengan sangat dekat, bahkan lengan keduanya saling menempel.
__ADS_1
Terdiam beberapa saat hanya menatap tetesan air hujan, untuk menghilangkan rasa kantuk yang mulai melanda, Winda mengeluarkan handset, memasang di telinga Niko dan mendengarkan sebuah lagu bersama-sama.
Ketika alunan musik mulai terdengar, Niko memandangi Winda dengan ekspresi terkejutnya, seolah tak percaya dengan selera musik Winda. Winda hanya tersenyum kecil, sesekali menggoyangkan kepalanya, menikmati alunan musik.
" Selera musikmu, cukup unik ya ? " kata Niko.
" Iya kah ? Gak sengaja dengar, kok enak di telinga, ya sudah aku cari lagunya, walau pun aku sendiri gak paham apa maksud dan artinya. Nikmati aja lah, karya orang " kata Winda.
" Ini lagu bergenre RnB kontemporer atau lebih dikenal dengan RnB " Niko menjelaskan.
" Kak Niko malah lebih paham. Aku sih gak ngerti genre musik, yang penting enak aku dengar, aku nyaman, aku suka, gak perduli genrenya apa. Sesimpel itu !!! " kata Winda.
" Sepertinya,aku masih kurang banyak tau tentang kamu " kata Niko.
" Emangnya aku paham Kak Niko ? Enggak juga Kak ? Setiap orang kan, diciptakan berbeda-beda, jadi sudah tentu memiliki kesukaan yang berbeda-beda juga, kalau semua orang itu sama, bukannya malah membosankan ? Iya kan ??? " kata Winda.
Menatap Winda berbicara, begitu menyenangkan mata Niko, tidak terlalu fokus mendengarkan perkataan Winda, pikirannya sudah jauh melayang kemana-mana. Hujan deras, hawa dingin, cuma berdua, baik situasi atau pun kondisi benar-benar sangat...???
Langit begitu mendung tertutup awan hitam, tapi entah datang dari mana ? Di seputar wajah Winda, seperti ada cahaya bling bling kelap kelip mengelilingi, berputar, seolah-olah menambah kesan sedang menggoda diri Niko.
Seketika Niko berpaling, menghentikan semua khayalan dalam kepalanya. JANGAN DITERUSKAN....!!! Memejamkan mata, mengatur napas, mencoba menghilangkan semua pikiran-pikiran yang mengganggu.
Winda menatap heran sikap dan tingkah Niko yang berubah secara tiba-tiba, menduga-duga dalam hati. Mungkin gejala mau sakit karena efek cuaca ini ??? Tadi kan, sempat kena air hujan.
" Kak Niko. Kak Niko kena..." kata Winda.
Ucapan Winda terhenti seketika, kala Niko membalikkan wajahnya. Keduanya saling melebarkan bola mata, keduanya sama-sama terkejut dan segera berpaling kembali.
Detak jantung Winda berpacu dengan sangat cepat, hawa panas mulai menjalar ke seluruh wajah Winda, walau pun barusan adalah merupakan ketidaksengajaan, tapi tetap saja bisa dibilang ciuman.
" Maaf Kak, aku gak..." kata Winda.
Winda kembali melebarkan bola matanya, tapi kali ini, bukan lah suatu ketidaksengajaan. Kali ini Niko benar-benar melakukannya dengan sengaja, awalnya Winda terkejut, tapi kini justru menutup matanya, ada perasaan hangat dan bisa dibilang mencoba menikmati.
Keduanya saling menatap dengan malu-malu, tersenyum dan kemudian tertawa kecil bersamaan. Niko kembali memeluk Winda.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1