
Duduk di tepi pantai, mendengarkan deburan ombak, angin berhembus menerpa dan tidak ada pengunjung lainnya. Hanya ada Winda dan Noel, hanya berdua saja, terdiam menatap laut, mendengarkan suara alam, benar-benar ketenangan yang sangat nyaman.
Awalnya mereka berdua duduk berdampingan, namun Noel merebahkan kepalanya di pangkuan Winda, tak bereaksi apa-apa, karena sudah biasa dan secara refleks tangan Winda mengusap rambut Noel.
" Aku ingin sekali, kita terus seperti ini. Hanya berdua " kata Noel.
" Apa Kak Noel juga merasakan ? Tanda-tanda Kak Niko, sebelum pergi meninggalkan kita ? Akhir-akhir ini aku baru menyadarinya ? Selalu menghabiskan waktu bersama menyiapkan makanan, selalu mengabadikan lewat foto dan ada saja yang dibicarakan, seolah-olah ingin terus berinteraksi dengan kita semua.
Kenapa selalu seperti itu ? Kita menyadari tanda-tanda itu, setelah orang itu pergi ? Bodohnya aku ? Atau tidak pekanya kita ? " kata Winda.
Noel mengusap pipi Winda, tak dipungkiri Noel sendiri juga sedih dengan kepergian Niko, mereka berteman lebih lama dari Winda, selalu bersaing dalam pelajaran di sekolah dan bahkan bersaing karena menyukai gadis yang sama. Tidak bisa senang, walau pun saingannya pergi, justru merasa sedih dan serasa ada ruang kosong.
" Bukan hanya kamu yang sedih dan kehilangan ( menarik ikat rambut Winda ) Kita semua merasakan hal sama untuk Niko. Harusnya aku senang, sekarang tidak ada yang bersaing denganku, tapi aku juga sedih, sebentar lagi aku juga harus pergi untuk melanjutkan kuliah, itu artinya aku tidak bisa seperti ini dan mencium baumu lagi " kata Noel.
" Kakak lanjut kuliah di luar pulau ? " tanya Winda.
" Hemm, rencana awal bareng Niko tapi sekarang Niko digantikan oleh Juan, masuk universitas lewat jalur beasiswa prestasi " kata Noel.
" Oohh jadi Kak Juan yang gantikan, benar juga, sayang kalau gak diambil, hangus sia-sia. Berarti tinggal Kak Rey saja yang kuliah di dalam kota ? " kata Winda.
" Begitulah. Benar-benar membuat aku kesal, hanya untuk menyenangkan orang tua satu itu " kata Noel menggerutu.
" Orang tua satu itu ? Papanya Kak Noel maksudnya ? " tanya Winda.
" Tentu saja, siapa lagi. Terkadang aku sangat iri dengan Niko, orang tuanya tidak pernah melarang apa pun, memberi kebebasan sepenuhnya, tidak pernah melarang ini itu, percaya semua pilihan anaknya. Sangat berbeda jauh dengan orang tuaku, semuanya harus sesuai dengan perintahnya, kadang aku bertanya-tanya, aku ini anaknya apa bukan ? " kata Noel.
" Menurutku, Kak Noel memang anaknya. Coba aku ingat-ingat, Kak Noel itu banyak maunya, harus sesuai keinginannya, suka rada maksa, tidak menerima sebuah penolakan dan suka seenaknya sendiri. Nahh sifat-sifat barusan cocokkan ? " kata Winda dengan gamblang.
" Kamu ya .... " Noel mencubit pipi Winda.
" Aku bener kan ... ? Kalian cocok, membuktikan ayah dan anak " kata Winda.
Saling menatap, tersenyum dan kemudian tertawa. Noel pun bahagia dapat melihat senyuman dan tawa Winda lagi. Seandainya ? Seandainya tawa dan senyuman itu untuk dirinya ? Seandainya, hatinya juga untuknya ? Sayangnya, hanya bisa berdiri di samping, sebagai temannya.
***
Suasana di sekolah sejak kemarin memang selalu ramai, karena sedang masa MOS untuk penerimaan murid baru, banyak kegiatan yang OSIS buat, untuk menyambut para adik kelas, gaya menyambut, padahal justru dijadikan ajang balas dendam, membuat hal yang aneh-aneh dengan dalih memperkuat mental, tapi perlu di garis bawahi bukan pembullyan.
Dari hiruk pikuk ramai kegiatan di sekolah, Winda memilih menyendiri di dekat pohon jambu, dirinya sangat malas ikutan gabung dengan teman-teman yang lainnya.
" Lagi-lagi, kamu duduk di sini " kata Nansi yang baru datang.
" Pengen menyendiri. Kamu gabung aja sana, aku beneran malas " kata Winda membuat alasan.
" Aku tau kamu masih sedih, tapi kami harus ingat, banyak teman yang juga menyayangimu. Mau sampai kapan ? Nih ... makan, jangan bengong ( menyerahkan dua permen lolipop ) Aku ke aula dulu, bye bye " kata Nansi.
Setelah Nansi pergi, selang beberapa saat muncul di Shanti dengan gaya ciri khasnya yang menyebalkan, langsung duduk di samping Winda, tanpa basa basi mengambil satu permen lolipop dan memakannya tanpa izin.
" WEEIII .... !!! Punyaku itu, main makan saja " kata Winda.
__ADS_1
" Kamu kan, punya dua. PELIT AMAT " kata Shanti tanpa dosa.
" Izin dulu kek, apa kek, ini ... !!! " kata Winda kesal sendiri.
" Kamu sedih ya, ditinggalkan para senior gantengmu ( nada meledek ), makanya duduk di sini terus, Ka-si-han ... gak ada yang nemenin. Untung aku baik hati, makanya datang temani kamu " kata Shanti.
Winda mengangkat alisnya sebelah, benar-benar heran, ada ya manusia super PD tingkat dewa begini ? Memuji diri sendiri baik hati. Baik hati, begini ? Gayanya menemani ? Lebih tepatnya, datang bikin kesal.
" Terharu ya ... ??? Baru sadar aku baik ... ??? " kata Shanti.
" ENGGAK TUH. Kamu masih menyebalkan seperti biasa " kata Winda.
" Aku ceritakan sesuatu. Aku itu bukan simpanan tapi anaknya. Jadi ... Noel itu adalah saudaraku, kami terlahir dari ibu yang berbeda tapi memiliki ayah yang sama " kata Shanti tiba-tiba menjelaskan tanpa ditanya.
Jangan ditanya lagi ?
Reaksi Winda benar-benar sangat terkejut mendengarnya, siapa pun orangnya, tidak akan langsung percaya begitu saja, bagaimana mungkin ? Cerita selanjutnya lebih membuat syok lagi, sangat sedih, membuat siapa pun akan langsung merasa iba dan kasihan.
Saling mencintai tapi benar-benar tidak bisa bersama, satu karena ditentang oleh kedua keluarga, kedua karena perbedaan keyakinan, sempat nekad menjalin hubungan secara backstreet, namun pada akhirnya bubar juga.
" Jadi, aku paham betul, bagaimana perasaanmu saat ini ? Harusnya kamu bersyukur, Allah menunjukkan jalan yang terbaik sebelum kalian melangkah lebih jauh lagi. Allah memberimu waktu lebih banyak, supaya kamu memperbaiki diri " kata Shanti.
" Maksudnya apa nih ? perbaiki diri ? " kata Winda.
" Berhenti jadi orang tamak, pilih satu saja, jangan semuanya kamu embat " kata Shanti segera berdiri dan pergi begitu saja.
Winda terdiam memandangi ke arah pohon jambu, serasa memanggil dirinya untuk memanjat, tapi sadar dirinya sedang memakai rok dan segera membatalkan keinginannya tersebut.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki, pandangan mata keduanya saling bertemu, sama-sama diam karena sama-sama terkejutnya. Winda segera menyadari laki-laki tersebut merupakan murid baru kelas satu. Seketika Winda merasa tidak asing dengan situasi ini. Seperti ... ???
" Wahh ... ada junior baru ? Siapa namamu ? " Winda mengawali pembicaraan.
Laki-laki tersebut tampak rada gugup, sehingga hanya diam. Winda bangkit dari duduknya, berjalan mendekati laki-laki tersebut.
" Navarro, jurusan Tata Boga ( membaca papan nama ) Sudah sesi tanda tangan ya ? Coba aku lihat bukumu ? ( mengambil paksa ) Wahh ... bukumu masih kosong, belum ada tanda tangan satu pun " kata Winda.
" Tidak minta Kak, saya malas, mereka pada nyuruh yang aneh-aneh, suruh nyanyi, joget, cari bunga, ada yang nyuruh gombalin. Ya mending saya mundur " kata Navarro.
Seketika Winda tersenyum tipis, perkataan murid baru ini mengingatkan dirinya pada kejadian satu tahun yang lalu, ucapannya pun sama persis. Ketemu duplikat diri yang versi cowok nih ???.
Winda menarik pena dari kantong baju Navarro, kemudian memberi tanda tangannya di buku tersebut lengkap dengan namanya sekaligus. Tampak sedikit terkejut dengan tindakan Winda, namun hanya diam memperhatikan.
" Aku sudah tanda tangani bukumu, tapi sebagai gantinya. Tolong dong, petikan buah jambu yang di atas sana ( menunjuk ) sebenarnya aku bisa panjat sendiri, tapi gak boleh, karena aku sedang pakai rok. Mau kan ? " kata Winda.
Winda menatap serius ke arah Navarro, memberi kode bahasa isyarat agar segera melaksanakan permintaannya. Navarro tak ada pilihan lain, selain mengikuti permintaan Winda, segera memanjat dan memetik beberapa buah jambu yang sudah matang.
" Ok. Terima kasih. Anggap saja kita barter. Nih ( memberi jambu ) satu buah jambu boleh kamu ambil. Sudah sana kembali ke aula " kata Winda memberi perintah.
" Winda, kamu panjat pohon jambunya ? " tanya Hadi tiba-tiba datang.
__ADS_1
" Enggak Pak, saya tidak panjat kok. Nih murid baru yang panjat " Winda spontan menunjuk.
" Bener ? Kamu yang panjat ? " tanya Hadi ke arah Navarro.
" Iya Pak, tapi disuruh sama Kakak " kata Navarro balik menunjuk.
" Winda. Kamu ini ya, anak baru, main suruh panjat-panjat saja " kata Hadi.
" Ya gak apa-apa dong Pak, dia kan, cowok pakai celana. Bapak mau ? Ini Pak, saya punya dua " Winda menawarkan.
" Nahh ... gitu dong dibagi. Sudah sana balik ke aula, sebentar lagi akan pada kumpul " kata Hadi.
" Baik Pak " menjawab bersamaan.
Hadi pergi melangkah menjauh, Winda tersenyum kecil memandangi dari belakang, mau minta jambu saja, pakai acara berbelit-belit ? Itu lah yang Winda pikirkan.
" Tunggu apa lagi ? Sana kembali ke aula " Winda menyadarkan juniornya.
" Kak Winda gak ikutan ? " tanya Navarro.
" Ngapain ? Yang MOS itu kamu bukan aku. Nah ... tuch dengar ( suara bel ) sudah habis kan, waktunya " kata Winda.
Navarro pun segera melangkah pergi meninggalkan Winda, segera berlari menuju aula agar bisa kumpul dengan teman-temannya tepat waktu.
***
Ketika MOS sudah berakhir, pada hari para murid baru, resmi masuk memakai baju seragam putih abu-abu, wajah-wajah mereka tampak bahagia, begitu pun dengan para teman-teman Winda yang menyandang gelar baru sebagai kakak kelas, berasa rada songong, setiap lewat disapa Kakak.
" Selamat pagi, Kak Winda " Navarro menyapa.
" Pagi " kata Winda.
Tak banyak basa basi Winda segera berlalu begitu saja, karena Winda tak pernah terlibat saat MOS, sehingga para adik kelas banyak yang tidak mengenali Winda, ditambah lagi karena postur badan Winda yang mungil, banyak yang salah mengira kalau Winda juga baru kelas satu.
Winda memandangi ke sekeliling halaman sekolah, semuanya masih tampak sama, hanya para penghuninya saja yang sedikit berbeda, ada yang pergi dan ada juga yang datang. Benar-benar mencerminkan kehidupan, tidak ada yang abadi selamanya, ada saatnya datang dan pergi, ada pertemuan dan perpisahan, hukum alam, berlawanan tapi selalu dipasangkan.
Lika liku kehidupan di masa putih abu-abu, selalu dipandang penuh dengan warna, penuh dengan harapan, penuh dengan tantangan, karena di masa itu, kita mulai mencari jati diri, mulai berfikir ke arah dewasa dan tidak mau dianggap anak kecil lagi.
Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, begitu lah Winda sekarang, menjalani kehidupannya di sekolah.
.
.
.
TAMAT.
Terima kasih sudah membaca dari awal sampai akhir, terima kasih atas dukungan para teman-teman semuanya selama ini, support kalian benar-benar sangat membantu saya dalam menulis, sampai jumpa bye bye 🙏🙏🤗🤗.
__ADS_1